Home | Politik, Refleksi | Bilik TPS, Contrengan, dan Nasib Bangsa

Bilik TPS, Contrengan, dan Nasib Bangsa

Wednesday, 8 April 2009 (21:54) | 263 pembaca | 105 komentar | Print this Article

contrengKamis, 9 April 2009, sudah pasti akan menjadi momen bersejarah. Saat itulah negeri besar berpenduduk lebih dari 220 juta ini telah berkomitmen untuk melakukan sebuah perubahan melalui sebuah hajat demokrasi. Perubahan! Ya, ya, ya, sebuah kosakata yang manis, bertuah, sekaligus sanggup mensugesti banyak orang untuk melakukan aksi. Betapa kosakata ini demikian memiliki daya pesona, daya pikat, dan daya tarik untuk “memaksa” orang memasuki ranah politik. Mereka yang selama ini sudah merasa nyaman dalam sebuah padepokan, pesantren, atau kampus pun perlu repot-repot turun dari puncak menara gading eksklusivitas dan ikut “tapa ngrame”; menahbiskan diri sebagai calon wakil rakyat. Tentu saja, bekal kecerdasan dan kearifan saja tidak cukup. Mereka juga butuh dhuwit sebagai upeti kepada parpol yang telah mengusungnya.

Yang pasti, jangan pernah bermimpi, meski hanya sebatas calon wakil rakyat, jika tak punya dhuwit. Politik sekarang tak jauh berbeda dengan dunia industri. Butuh modal sebagai raw-input, untuk diputar dalam sebuah proses politik guna mendapatkan feed-back, hingga akhirnya menghasilkan out-put seperti yang didambakan. Ini artinya, untung-rugi sudah pasti akan menjadi pertimbangan utama. Agaknya kok masih sulit dipercaya jika ada calon wakil rakyat yang benar-benar mau mengeluarkan banyak dhuwit zonder punya pamrih untuk meraih keuntungan. Hanya mereka yang sudah dikebiri dan dimandulkan dari pamrih keduniaan saja yang mau melakukan tindakan “konyol” seperti itu.

Meski demikian, harus diakui, Pemilu juga telah mengurangi angka kriminalitas. Lihat saja, mereka yang selama ini jadi biangnya kekerasan dan premanisme tak jarang yang berambisi jadi calon wakil rakyat. Secara sosial, sudah pasti mereka harus bisa memaksakan diri untuk berakting secara santun dan berupaya menampilkan citra diri sebagai sosok yang santun dan baik hati sehingga layak untuk dipilih. Persoalan nanti bagaimana endingnya, itu urusan belakangan. Yang pasti, menjelang pesta demokrasi, sebisa-bisanya para calon wakil rakyat yang selama ini sudah sangat akrab dengan dunia kejahatan berbaik hati dengan tetangga dan sanak-kerabat.

Pemilu kali ini merupakan yang ketiga kalinya setelah reformasi. Sudah selayaknya rakyat mesti lebih cerdas dan hati-hati dalam memilih calon wakil rakyat. Pengalaman menunjukkan, dua pemilu sebelumnya, 1999 dan 2004, para wakil rakyat dianggap telah gagal dalam melakukan sebuah perubahan. Amanat rakyat rela digadaikan di Senayan melalui kongkalingkong dan kompromi politik berbasiskan naluri kekuasaan. Perselingkuhan politik antarelite makin terkuak setelah beberapa wakil rakyat diuber-uber KPK dan tersandung persoalan hukum akibat kuatnya tengara perilaku korup yang telah demikian kuat mengakar di gedung wakil rakyat yang terhormat itu. Mereka sering tak tahan godaan terhadap iming-iming segepok dhuwit yang dengan sengaja digelontorkan oleh sejumlah “belantik” dan broker kekuasaan untuk memenangkan tender dan menguasai sejumlah aset milik rakyat.

Pengalaman buruk semacam itu jelas tak boleh terulang. Sudah terlalu banyak kebijakan yang dibuat oleh para anggota dewan yang kurang berpihak dan memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat. Sungguh, ini sebuah taruhan nama besar apabila kita semua gagal memilih wakil rakyat yag amanah dan jujur. Satu contrengan kita akan sangat berpengaruh terhadap dinamika kehidupan bangsa kita di masa depan. Oleh karena itu, besok sudah saatnya bagi yang sudah memiliki hak pilih untuk siap-siap melakukan contrengan dengan niat besar untuk melakukan sebuah perubahan dengan memilih calon wakil rakyat yang dinilai bersih dan memiliki track-record yang bagus, untuk selanjutnya kita kawal bersama-sama agar para anggota dewan tidak lagi berkongalingkong dan melakukan perselingkuhan politik dengan para belantik dan broker kekuasaan.

Yang tidak kalah penting, tentu saja menjaga agar tak terjadi situasi chaos pasca-pemilu. Konon, masa-masa itulah yang dianggap paling rawan dari berbagai tahapan pemilu. Berdasarkan hasil penghitungan suara, melalui quick-count, misalnya, para calon wakil rakyat sudah bisa memprediksi bagaimana nasib perjalanannya menuju kursi dewan. Belum ada jaminan kalau calon anggota dewan yang gagal terpilih –padahal sudah banyak mengeluarkan dhuwit, tenaga, dan pikiran– bakal menerima hasil penghitungan itu dengan sikap lapang dada. Bukan tidak mungkin, mereka akan mencederai hasil pemilu dengan berbagai cara. Semoga saja itu hanya sebatas kekhawatiran yang tidak akan terjadi.

Nah, selamat mencontreng! ***

Kategori: Politik, Refleksi | Tags: ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgBank Century, Unjuk Rasa, dan Pemakzulan (Saturday, 30 January 2010, 613 pembaca, 125 respon) Istilah “pemakzulan” belakangan ini tiba-tiba menyeruak di tengah hiruk-pikuk kerja Pansus Bank Century. Banyak kalangan menilai, istilah tersebut merupakan manifestasi sikap paranoid dan kekhawatiran yang berlebihan dari penguasa. Kalau Pansus...
imgAntara Facebooker dan Wakil Rakyat (Monday, 9 November 2009, 347 pembaca, 213 respon) Siapa bilang Facebooker itu seorang netter yang hanya bisa meng-update status di dinding, tanpa pernah berbuat apa-apa? Siapa pula bilang kalau Facebooker itu hanya berdiri di puncak menara gading dunia maya hingga tercerabut dari akar sosial-budaya dan...
imgApa yang Harus Kami Katakan? (Saturday, 3 October 2009, 296 pembaca, 205 respon) Apa yang harus kami katakan ketika murka alam bersimaharajelala ketika tangan Tuhan yang Maha Perkasa menggerakkan jarum skala richter ke angka 7,6 ketika lempeng raksasa menggeser posisi palung bumi Apa yang harus kami katakan ketika murka alam...
imgIroni di Balik Rencana Pelantikan Wakil Rakyat (Wednesday, 23 September 2009, 396 pembaca, 140 respon) Siapa bilang negara kita itu miskin? Tanya saja kepada KPU. Lembaga yang satu ini agaknya punya lumbung duwit. Sekadar untuk upacara pelantikan wakil rakyat saja, mereka tak segan-segan menggelontorkan dana 11 milyar. Byuh! 1 Oktober 2009, bisa jadi...
imgMembangun Citra Diri (Wednesday, 27 May 2009, 1,505 pembaca, 151 respon) Mari kita sejenak rileks. Perhatikan karikatur menggelitik itu. Ada tiga capres, SBY, Megawati, dan JK, yang diilustrasikan tengah berada di sebuah pasar tradisional sambil menenteng megaphone. Sementara itu, beberapa orang pasar tampak tersentak melihat...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Bilik TPS, Contrengan, dan Nasib Bangsa" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Wednesday, 8 April 2009 (21:54)) pada kategori Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

105 Responses to "Bilik TPS, Contrengan, dan Nasib Bangsa"

  1. Bayi says:
    Menggunakan Firefox 3.0.8 Firefox 3.0.8 pada Windows XP Windows XP

    Hampir aja saya memutuskan untuk Golput, tapi di saat2 terakhir datang juga surat undangan nyontrengnya. Memilih menyontreng, karena tidak ingin menyia2kan uang negara yang telah dihabiskan untuk membiayai pemilu, walaupun sebenarnya tidak ada yang benar2 sreg di hati……..

    Baca juga tulisan terbaru Bayi berjudul Aktivitas Untuk Bayi: 4 sampai 6 Bulan

  2. Menggunakan Firefox 3.0.8 Firefox 3.0.8 pada Windows XP Windows XP

    Wah… saya telat nyontrengnya.

    Hehehe, enggak lah. Saya mencontreng pada waktunya. Baca posting ini saja yang lambat karena selama tiga minggu tidak selalu terhubung ke internet. BIS yang pindah ke XL ternyata nyambungnya nggak terus. Di rumah saya, XL tempo-tempo nyambung, tempo-tempo putus. Akibatnya, nggak bisa selalu daring.

    Baca juga tulisan terbaru Moh Arif Widarto berjudul Pergilah ke TPS pada 9 April 2009

  3. Menggunakan Firefox 3.0.8 Firefox 3.0.8 pada Windows XP Windows XP

    @Ikkyu_san,
    hehehe … mereka agaknya bukan diam, bu imelda, tapi menunggu popularitas “contreng” itu. yang sudah masuk dalam lema kamus, memang centang dan conteng. nah, agaknya “contreng” baru menjadi sebuah istilah yang secara khusus digunakan dalam pemilu. apalagi ini dikaitkan juga dg masalah politil

  4. Menggunakan Firefox 3.0.8 Firefox 3.0.8 pada Windows XP Windows XP

    @attayaya,
    mangga, silakan, mbak atta, matur nuwun.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (178 queries: 0.833 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP