Home » Pendidikan » Menanggalkan Atribut Primordial di Kelas

Menanggalkan Atribut Primordial di Kelas

Andreas Harefa dalam buku Menjadi Manusia Pembelajar (2000) pernah menyatakan bahwa sekolah kita telah lama dipisahkan dari soal-soal nyata sehari-hari. Ia telah berubah menjadi semacam “sekolah militer”, ajang indoktrinasi, dan “kaderisasi” manusia-manusia muda yang harus belajar untuk patuh sepenuhnya kepada “sang komandan”. Tak ada ruang yang cukup untuk bereksperimentasi, mengembangkan kreativitas, dan belajar menggugat kemapanan status quo yang membelenggu dan menjajah jiwa anak-anak muda. Tak ada upaya yang dapat dianggap sebagai upaya membangun jiwa bangsa.

pakeDalam atmosfer pembelajaran yang semacam itu, tidak heran apabila generasi yang lahir dari “rahim” dunia persekolahan kita tak lebih dari manusia-manusia mekanis; menjadi robot-robot penghafal kelas wahid yang disiapkan untuk meraih prestasi tinggi dan lulus ujian. Setiap hari, mereka harus menelan setumpuk teori dan hafalan yang dijejalkan sang guru. Kelas hanya dibatasi empat dinding ruang yang terisolasi dari konteks lingkungan sosial dan budaya masyarakatnya.

Kelas yang sunyi dari hiruk-pikuk dan celoteh murid dianggap sebagai kelas yang kondusif dan ideal. Murid yang baik telah dicitrakan sebagai “anak mami” yang serba patuh dan penurut. Mereka tak lagi diberi kesempatan untuk berpikir merdeka, apalagi mendebat pernyataan sang guru yang suka berpikir “zakelijk” seperti dalam buku paket. Buku paket telah diperlakukan bak “kitab suci” yang pantang dibantah kebenarannya. Kebenaran yang diperoleh di kelas dibangun berdasarkan dogma-dogma, khotbah, indoktrinasi, dan “pemerkosaan” norma berpikir siswa didik.

Generasi “Bebal”
Imbas yang muncul, murid-murid memang tampak cerdas secara intelektual, tetapi sejatinya mereka “bebal” secara emosional, spiritual, dan sosial. Otak kiri dan otak kanan tidak seimbang sehingga orientasi berpikir mereka cenderung searah, monodimensi, dan linear. Ketidakseimbangan semacam ini jelas akan berdampak terhadap upaya pembentukan karakter dan kepribadian murid. Jika kondisi semacam ini terus berlanjut, bukan mustahil kelak mereka akan menjadi pribadi yang besar kepala, hipokrit, mau menang sendiri, bahkan bisa jadi akan gampang terkontaminasi sikap korup. Jika kondisi semacam itu terus berlanjut, bukan mustahil pula negeri besar ini kelak akan dihuni oleh generasi-generasi masa depan yang kehilangan empati dan kepekaan terhadap nasib sesama.

Berbagai perilaku korup dan tidak jujur yang dipertontonkan oleh orang-orang berdasi memang tidak melulu menjadi dosa dunia persekolahan kita yang salah urus. Banyak faktor yang memengaruhinya. Namun, secara jujur mesti diakui, dunia pendidikan kita belum sepenuhnya mampu melahirkan generasi masa depan yang andal, terampil, kreatif, bermoral, beradab, dan berbudaya. Dalam konteks demikian, jelas diperlukan “political will” dari segenap komponen pendidikan, khususnya dari unsur pendidik dan tenaga kependidikan untuk mewujudkan iklim pembelajaran yang efektif, menarik, dan menyenangkan.

Jika selama ini kelas hanya di-setting sebatas empat dinding ruang, maka perlu ada upaya serius dari para guru untuk membangun suasana ruang kelas yang lebih terbuka, interaktif, dialogis, dinamis, dan menarik sehingga memungkinkan terjadinya masyarakat belajar. Dalam konteks demikian, pendekatan kontekstual yang mengakrabkan siswa pada pengalaman dan persoalan-persoalan konkret keseharian akan lebih bermakna ketimbang mencekoki mereka dengan setumpuk teori dan hafalan yang amat jauh nilai aplikatifnya dalam kehidupan nyata.

Kelas yang “hidup” ditandai dengan dinamisnya perilaku siswa dalam proses pembelajaran melalui aktivitas bertanya, berdiskusi, berkarya, berdebat, atau berdialog. Guru memasuki dunia siswa dalam keadaan sadar dan terencana. Guru tidak lagi memosisikan diri sebagai hakim yang mem-vonis benar-salah. Guru lebih banyak memberikan kesempatan kepada sisa untuk menemukan kebenaran melalui pergulatan pemikiran yang sesuai dengan dunia mereka. Ruang kelas pun jadi sarat dengan pajangan hasil karya siswa sebagai arena bersaing untuk memenuhi kebutuhan berkompetisi dan beraktualisasi diri secara fair, jujur, rendah hati, dan apresiatif. Dalam setting ruang yang semacam itu, kelas tidak lagi berada di puncak menara gading yang terasing dari komunitas masyarakat di sekelilingnya.

Kini, sudah saatnya kelas dipermak menjadi masyarakat mini yang memberikan keleluasaan kepada siswa untuk bersosialisasi, berinteraksi, bercurah pikir, dan berprakarsa, dalam suasana yang terbuka dan egaliter, sehingga bisa belajar menanggalkan atribut-atribut primordial, mampu menghargai perbedaan, dan bisa mengembangkan kepribadian dan sekaligus sanggup menemukan kesejatian diri yang demokratis dan toleran. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Menanggalkan Atribut Primordial di Kelas" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (30 Maret 2009 @ 03:34) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 131 komentar dalam “Menanggalkan Atribut Primordial di Kelas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *