Home | Edukasi, Refleksi | Pendidikan Kemanusiaan, Apa Kabar?

Pendidikan Kemanusiaan, Apa Kabar?

Sunday, 22 March 2009 (17:53) | 615 pembaca | 99 komentar | Print this Article

semutCP Snow, seorang fisikawan yang juga novelis dan esais kondang dari Cambridge University, sebagaimana pernah diuengkapkan oleh Muchtar Buchori, pernah melontarkan kritik terhadap sistem pendidikan Inggris yang dianggapnya sangat elitis, yang pada akhirnya telah melahirkan dua kubu cendekiawan, yakni di bidang humaniora (kemanusiaan) dan IPA murni yang saling terpisah dalam dua budaya yang tidak saling mengenal, bahkan tampak saling bermusuhan.

Orang yang mengerti hukum-hukum alam, tapi tidak peka, dalam pandangan Snow, bukanlah manusia yang utuh dan paripurna. Agar dapat hidup secara utuh dan kreatif, tegasnya, tanpa terkoyak-koyak oleh perubahan yang terjadi di sekelilingnya, setiap insan mesti hidup bersama dalam sebuah “common culture”; sebuah kebudayaan yang mampu memadukan ilmu kemanusiaan dan Iptek sekaligus. Hanya kebudayaan yang berimbang yang sanggup memberikan pedoman bagi manusia modern dalam mengembil keputusan-keputusan yang berwawasan, penuh kearifan, dan kedewasaan dalam mengjhadapi persoalan dan dilema dalam kehidupan sehari-hari.

Kritik Snow, agaknya juga layak dijadikan sebagai bahan refleksi bagi dunia pendidikan kita yang dianggap cuek dan abai terhadap pendidikan kemanusiaan. Dengan dalih demi mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa –setidaknya pada masa rezim Orde Baru—pendidikan kemanusiaan perlahan-lahan digusur, untuk selanjutnya dikubur tanpa nisan dalam ranah pendidikan kita. Pendidikan tidak diarahkan untuk memanusiaan manusia secara utuh, lahir dab batin, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bercorak materialistis, ekonomis, dan teknokratis; kering dari sentuhan nilai moral, kemanusiaan, dan kemuliaan budi. Pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati nurani, emosi, dan spiritual. Imbasnya, apresiasi keluaran pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran dan kemuliaan budi jadi nihil. Mereka jadi kehilangan kepekaan nurani, cenderung bar-bar anarkhis, besar kepala, dan mau menang sendiri.

Iklim pendidikan kita yang kering dari sentuhan nilai kemanusiaan semacam itu, disadari atau tidak, telah melahirkan manusia-manusia berkarakter hedonis, penjilat, hipokrit, arogan, dan miskin kearifan. Tak berlebihan kalau (alm.) Rama Mangunwijaya dengan nada sinis pernah menyatakan baha angkatan sekarang mengalami kemunduran yang sangat parah dalam pendidikan berpikir nalar eksploratif dan kreatif, sehingga menumbuhkan kultur pikir dan cita rasa yang sempit dan dangkal yang memperlambat pendewasaan diri. Padahal, idealnya, rasionalitas harus dikemudikan ke tingkat yang lebih komprehensif, yakni kearifan. Kearifan pun harus memiliki dimensi rasionalitas yang tinggi. Emosi, perasaan, atau pandangan subjektif dalam diri manusia, tegas Rama Mangun, dapat diibaratkan seperti energi yang memberi daya gerak kepada karya manusia. Sedangkan rasio atau nalar ibarat kemudia atau setir, sedangkan kearifan adalah nahkodanya.

Makna pendidikan yang hakiki adalah upaya memberikan ruang kesadaran kepada siswa didik untuk mengembangkan jatidirinya melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Namun, secara jujur mesti diakui, dunia pendidikan kita belum sanggup melahirkan generasi yang utuh jatidirinya. Mereka memang cerdas, tetapi telah kehilangan sikap jujur dan rendah hati. Mereka memang terampil, tetapi nihil apresiasinya terhadap sikap tenggang rasa, santun, dan kesalehan hidup.

Kini setelah negeri ini digoyang krisis multiwajah dan kian terpuruk dalam ”lumpur” kebangkrutan nilai kemanusiaan, perlu ada upaya serius untuk mengokohkan kembali pendidikan kemanusiaan yang telah ”dikarantina” oleh rezim masa lalu. Ini artinya, institusi pendidikan kita mesti menjadi ladang yang subur bagi upaya penumbuhkembangan nilai-nilai kemanusiaan sehingga mampu melahirkan ”generasi baru” yang cerdas, bermoral, beradab, dan berbudaya.

Dalam upaya mewujudkan atmosfer yang kondusif bagi penumbuhkembangan pendidikan kemanusiaan, institusi pendidikan harus berani melakukan perubahan mendasar melalui proses transformasi diri. Pola dan gaya pendidikan yang cenderung instruksional, doktriner, dan otoriter, perlu diubah dengan menggunakan pendekatan yang lebih demokratis, egaliter, dan manusiawi. Misi pendidikan tak semata-mata ”memintarkan anak”, ”membimbing anak menguasai bahan ajar”, atau ”membimbing anak menguasai ilmu pengetahuan”, tetapi benar-benar memosisikan siswa sebagai subjek didik secara utuh sesuai dengan hakikatnya sebagai agen perubahan dan pembaharu peradaban.

Nah, sudah saatnya dunia pendidikan kita dikembalikan kepada ”khittah”-nya sebagai basis dan pusat pendidikan nilai yang menggembleng jutaan anak bangsa menjadi generasi masa depan yang cerdas dan terampil, tanpa kehilangan ”roh” dan spirit kemanusiaan sehingga mampu menghadapi tantangan hidup secara arif, matang, dan dewasa. ***

Kategori: Edukasi, Refleksi | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Pendidikan Kemanusiaan, Apa Kabar?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 22 March 2009 (17:53)) pada kategori Edukasi, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

99 Responses to "Pendidikan Kemanusiaan, Apa Kabar?"

  1. yanti says:
    Menggunakan Firefox 3.0.8 Firefox 3.0.8 pada Windows XP Windows XP

    Assalammualaikum warraahnatullaahi wabarakaatuh.. Untukku Akhlaq ada dalam urutan-urutan penting pendidikan.. bisa jadi merupakan imbas dari pemahaman akan aqidah..atau bisa juga menjadi.. wujud nyata praktek langsung dari pemahaman yang total aqidah..
    Ya Apapun alasannya…. Islam mencapai keberhasil dakwah pada jaman Nabi, salah satu pemicunya adalah sikap nabi yang sangat maantap.. dalam berahlaq… jadi sebaiknya memang pendidikan berakhlqa mulia harus dalam koridor… penting di catatan para pendidik

    Baca juga tulisan terbaru yanti berjudul Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah

  2. Bukan Kyai says:
    Menggunakan Opera Mini 4.2.13918 Opera Mini 4.2.13918 pada J2ME/MIDP Device J2ME/MIDP Device

    Atau nggak usah pada sekolah saja ya?
    Toh…cuma jadi ajang pembodohan saja, otaknya nggan kreatif hatinya pun beku

  3. Bukan Kyai says:
    Menggunakan Opera Mini 4.2.13918 Opera Mini 4.2.13918 pada J2ME/MIDP Device J2ME/MIDP Device

    Sistem pendidikan di indonesia seharusnya di reformasi atau revolusi?

  4. tomy says:
    Menggunakan Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7 pada Windows XP Windows XP

    penerapannya dalam kurikulum bagaimana Pak?
    saya merasa tertohok ketika seorang Kakek berkata Pendidikan sekarang hanya menghasilkan sarjana2 yang goblok, hanya pintar dalam pelajaran mereka saja :neutral:

    Baca juga tulisan terbaru tomy berjudul IBU JENDRA, DIALEKTIKA KEARIFAN LELUHUR NUSANTARA

  5. kenthus says:
    Menggunakan Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7 pada Windows XP Windows XP

    kecerdasan logika dan intelgensi memang di bangun tapi kalo ketimpang dengan kecerdasan emosional yah repot akhirnya yah
    salam kenal pak tapi kalo udah kenal yah nggak popo hahahaha

    Baca juga tulisan terbaru kenthus berjudul Beberapa Penyakit Kambing Etawa

  6. Menggunakan Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7 pada Windows XP Windows XP

    betul banget, mbak ria. saya sepakat.

  7. Menggunakan Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7 pada Windows XP Windows XP

    itulah kenyataan yang terjadi, mas totok. duh, kalau dicari siapa yang salah, pasti muter2 seperti lingkaran setan, mas, hehe ….

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (174 queries: 1.024 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP