Home » Pendidikan » Pendidikan Kemanusiaan, Apa Kabar?

Pendidikan Kemanusiaan, Apa Kabar?

semutCP Snow, seorang fisikawan yang juga novelis dan esais kondang dari Cambridge University, sebagaimana pernah diuengkapkan oleh Muchtar Buchori, pernah melontarkan kritik terhadap sistem pendidikan Inggris yang dianggapnya sangat elitis, yang pada akhirnya telah melahirkan dua kubu cendekiawan, yakni di bidang humaniora (kemanusiaan) dan IPA murni yang saling terpisah dalam dua budaya yang tidak saling mengenal, bahkan tampak saling bermusuhan.

Orang yang mengerti hukum-hukum alam, tapi tidak peka, dalam pandangan Snow, bukanlah manusia yang utuh dan paripurna. Agar dapat hidup secara utuh dan kreatif, tegasnya, tanpa terkoyak-koyak oleh perubahan yang terjadi di sekelilingnya, setiap insan mesti hidup bersama dalam sebuah “common culture”; sebuah kebudayaan yang mampu memadukan ilmu kemanusiaan dan Iptek sekaligus. Hanya kebudayaan yang berimbang yang sanggup memberikan pedoman bagi manusia modern dalam mengembil keputusan-keputusan yang berwawasan, penuh kearifan, dan kedewasaan dalam mengjhadapi persoalan dan dilema dalam kehidupan sehari-hari.

Kritik Snow, agaknya juga layak dijadikan sebagai bahan refleksi bagi dunia pendidikan kita yang dianggap cuek dan abai terhadap pendidikan kemanusiaan. Dengan dalih demi mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa –setidaknya pada masa rezim Orde Baru—pendidikan kemanusiaan perlahan-lahan digusur, untuk selanjutnya dikubur tanpa nisan dalam ranah pendidikan kita. Pendidikan tidak diarahkan untuk memanusiaan manusia secara utuh, lahir dab batin, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bercorak materialistis, ekonomis, dan teknokratis; kering dari sentuhan nilai moral, kemanusiaan, dan kemuliaan budi. Pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati nurani, emosi, dan spiritual. Imbasnya, apresiasi keluaran pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran dan kemuliaan budi jadi nihil. Mereka jadi kehilangan kepekaan nurani, cenderung bar-bar anarkhis, besar kepala, dan mau menang sendiri.

Iklim pendidikan kita yang kering dari sentuhan nilai kemanusiaan semacam itu, disadari atau tidak, telah melahirkan manusia-manusia berkarakter hedonis, penjilat, hipokrit, arogan, dan miskin kearifan. Tak berlebihan kalau (alm.) Rama Mangunwijaya dengan nada sinis pernah menyatakan baha angkatan sekarang mengalami kemunduran yang sangat parah dalam pendidikan berpikir nalar eksploratif dan kreatif, sehingga menumbuhkan kultur pikir dan cita rasa yang sempit dan dangkal yang memperlambat pendewasaan diri. Padahal, idealnya, rasionalitas harus dikemudikan ke tingkat yang lebih komprehensif, yakni kearifan. Kearifan pun harus memiliki dimensi rasionalitas yang tinggi. Emosi, perasaan, atau pandangan subjektif dalam diri manusia, tegas Rama Mangun, dapat diibaratkan seperti energi yang memberi daya gerak kepada karya manusia. Sedangkan rasio atau nalar ibarat kemudia atau setir, sedangkan kearifan adalah nahkodanya.

Makna pendidikan yang hakiki adalah upaya memberikan ruang kesadaran kepada siswa didik untuk mengembangkan jatidirinya melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Namun, secara jujur mesti diakui, dunia pendidikan kita belum sanggup melahirkan generasi yang utuh jatidirinya. Mereka memang cerdas, tetapi telah kehilangan sikap jujur dan rendah hati. Mereka memang terampil, tetapi nihil apresiasinya terhadap sikap tenggang rasa, santun, dan kesalehan hidup.

Kini setelah negeri ini digoyang krisis multiwajah dan kian terpuruk dalam ”lumpur” kebangkrutan nilai kemanusiaan, perlu ada upaya serius untuk mengokohkan kembali pendidikan kemanusiaan yang telah ”dikarantina” oleh rezim masa lalu. Ini artinya, institusi pendidikan kita mesti menjadi ladang yang subur bagi upaya penumbuhkembangan nilai-nilai kemanusiaan sehingga mampu melahirkan ”generasi baru” yang cerdas, bermoral, beradab, dan berbudaya.

Dalam upaya mewujudkan atmosfer yang kondusif bagi penumbuhkembangan pendidikan kemanusiaan, institusi pendidikan harus berani melakukan perubahan mendasar melalui proses transformasi diri. Pola dan gaya pendidikan yang cenderung instruksional, doktriner, dan otoriter, perlu diubah dengan menggunakan pendekatan yang lebih demokratis, egaliter, dan manusiawi. Misi pendidikan tak semata-mata ”memintarkan anak”, ”membimbing anak menguasai bahan ajar”, atau ”membimbing anak menguasai ilmu pengetahuan”, tetapi benar-benar memosisikan siswa sebagai subjek didik secara utuh sesuai dengan hakikatnya sebagai agen perubahan dan pembaharu peradaban.

Nah, sudah saatnya dunia pendidikan kita dikembalikan kepada ”khittah”-nya sebagai basis dan pusat pendidikan nilai yang menggembleng jutaan anak bangsa menjadi generasi masa depan yang cerdas dan terampil, tanpa kehilangan ”roh” dan spirit kemanusiaan sehingga mampu menghadapi tantangan hidup secara arif, matang, dan dewasa. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Pendidikan Kemanusiaan, Apa Kabar?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (22 Maret 2009 @ 17:53) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 99 komentar dalam “Pendidikan Kemanusiaan, Apa Kabar?

  1. Assalammualaikum warraahnatullaahi wabarakaatuh.. Untukku Akhlaq ada dalam urutan-urutan penting pendidikan.. bisa jadi merupakan imbas dari pemahaman akan aqidah..atau bisa juga menjadi.. wujud nyata praktek langsung dari pemahaman yang total aqidah..
    Ya Apapun alasannya…. Islam mencapai keberhasil dakwah pada jaman Nabi, salah satu pemicunya adalah sikap nabi yang sangat maantap.. dalam berahlaq… jadi sebaiknya memang pendidikan berakhlqa mulia harus dalam koridor… penting di catatan para pendidik

    Baca juga tulisan terbaru yanti berjudul Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *