The Dexter, Penganyam Kata, dan Dunia Buku

Dalam jeda yang tak terlalu lama, kami sekeluarga kedatangan dua tamu sahabat bloger yang selama ini baru sebatas saya kenal di dunia maya. Ya, The Dexter dan Penganyam Kata. Siapa yang tak kenal dengan dua sosok bloger yang tersembunyi di balik nickname yang unik itu? Yaps, mereka dikenal sebagai bloger yang cukup akrab dengan dunia perbukuan. The Dexter kini sedang merintis sebuah komunitas nirlaba berlabel ”Taman Baca” dengan mengusung slogan ”Mengikis Kemiskinan Intelektual”.

khika1kika2Perkenalan saya dengan The Dexter memang belum lama. Keterikatan wilayah geografis dan kesamaan minat pada dunia seni yang agaknya membuat jalinan persahabatan kami terasa akrab. Mas Alia Kika, demikian biasa saya memanggilnya, cukup getol memerangi kemiskinan intelektual dengan menyediakan diri untuk menjadi ”bemper” terdepan dalam aktivitas sosial. Suatu ketika, saat sama-sama online di facebook, Mas Kika, mengabarkan hendak pergi ke Yogyakarta, lantas hendak mampir ke Semarang. Tentu saja, ini momen terbaik untuk bisa bertemu dengan bloger asal Batang yang kini bermukim di Bogor itu, sebab jarak Semarang-Kendal bisa ditempuh dengan kendaraan umum tak lebih dari 45 menit.

Kabar itu ternyata benar. Lewat HP, entah hari dan tanggal berapa, saya lupa –maklum sudah kepala 4, hiks—Mas Kika mengabarkan bahwa dia sudah berada di rumah Mas Goenoeng di Banyumanik, Semarang. Berita ini membuat saya tak sabar untuk bisa segera bertemu dengannya. Maka, kontak via HP terus kami lakukan, hingga pada akhirnya sekitar pukul 20.00 WIB, Mas Kika sudah berada di Kendal, di sebuah tempat yang memang sudah kami sepakati. Karena Mas Kika tidak memasang avatar atau gambar di blognya, saya hanya main tebak saja kalau yang berada di seberang tikungan jalan raya itu Mas Kika. Maka, seperti sok sudah lama kenal, saya segara menaburkan senyum dan segera merangkulnya. Sungguh, sebuah pertemuan yang mengharukan.

Setelah sejenak melepas lelah di alun-alun Kendal sembari memesan mie, nasi goreng, dan ngobrol ngalor-ngidul, Mas Kalia segera saya ajak untuk singgah di gubug kami. Obrolan pun kami lanjutkan, mulai soal aktivitas keseharian, dunia blog, dunia sastra dan seni, serta obrolan ringan lainnya. Karena tampak kecapekan setelah melakukan perjalanan panjang, sekitar pukul 23.00 WIB, Mas Kika saya minta untuk istirahat agar esok paginya bisa lebih fresh untuk melanjutkan perjalanan ke Batang dan Bogor. Alhamdulillah, Mas Kika bisa tidur nyenyak, hingga keesokan harinya, saya rela melepaskan keberangkatannya menuju perjalanan berikutnya. Matur nuwun atas silaturahminya, Mas Kika.

***
dm1dm2Yang tak kalah seru adalah pertemuan saya dengan Si Pengayam Kata alias Mas Daniel Mahendra. Wah, bloger yang satu ini pasti sudah tak asing lagi di kompleks blogosphere. Lelaki berwajah bersih yang masih betah membujang ini, kekeke … dikenal sebagai editor dalam sebuah jasa penerbitan buku yang dikenal cermat dan teliti dalam menganyam kata. Postingan-postingannya selalu renyah dan enak dibaca. Penggunaan tanda baca, diksi, struktur kalimat, dan penataan paragraf yang (nyaris) tanpa cacat membuktikan kalau dia benar-benar seorang editor yang piawai.

Persahabatan saya dengan Mas Daniel, meski selama ini baru sebatas di dunia maya, agaknya telah memberikan kesan tersendiri buat saya. Ketertarikannya pada karya-karya Pramudya Ananta Toer dan teks-teks sastra yang lain, membuat ”dunia” saya seolah-olah memiliki pertautan emosional. Apalagi, Mas Daniel sangat getol mengikuti dinamika dan diskusi sastra di ibukota. Hal ini makin menumbuhkan kedekatan emosional saya dengan bloger yang kini bermukim di Bandung itu.

Maka, alangkah terkejutnya saya ketika pada hari Selasa, 10 Maret yang lalu, Mas Daniel mengirimkan pesan pendek via HP kalau saat itu dia sedang berada di Semarang bersama Mas Goenoeng. Karena sudah lama banget saya ingin bertemu darat dengannya, maka via SMS pula saya menyampaikan, ”Kalau sudah tiba di Semarang, hukumnya wajib untuk singgah di Kendal, Mas Daniel, hehe …” Saya tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Mas Daniel ketika membaca pesan pendek saya itu.

Namun, sungguh mengejutkan sekaligus mengharukan buat saya ketika Rabu siang, 11 Maret 2009, sekitar pukul 14.00, Mas Daniel ternyata sudah tiba di Kendal dan turun di sebuah tempat. Dengan tak sabar, saya yang saat itu masih mengikuti pertemuan di Pendopo Kabupaten Kendal, segera mohon izin dan kabur menuju tempat Mas Daniel berada. Begitu sampai di tempat yang disebutkan, saya segera berseru menyapanya. Mas Daniel serentak melontarkan senyum khasnya. Meski baru pertama kali bertemu, saya merasa tidak kesulitan mengenali Mas Daniel karena tampilan dan posturnya sama persis dengan foto yang terpajang di blognya, hehehe ….

Setelah sejenak menyerutup es teh sambil merokok dan ngobrol ke sana kemari di sebuah warung, saya segera mengajak Mas Daniel singgah ke gubug saya. Maka, obrolan pun kembali tumpah. Topik obrolan pun berganti-ganti, mulai soal aktivitas ngeblog, dunia sastra, menulis, penerbitan buku, hingga soal-soal dinamika hidup lainnya. Meski baru pertama kali bertemu, saya seperti sudah bertahun-tahun lamanya mengenal Mas Daniel. Akrab dan hangat. Tak lupa Mas Daniel menceritakan perjalanan panjangnya. Usai mengikuti sebuah kopdar di Yogya dengan beberapa sahabat bloger, termasuk Mas Totok Kelir, Mas Daniel segera meluncur ke Semarang untuk bertemu dengan Mas Goenoeng hingga akhirnya berkenan singgah ke tempat kami tinggal. Mas Daniel juga menceritakan rencananya untuk meluncur ke Gunung Kelir, sebuah kawasan di Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, yang selama ini menjadi ikon baru kebangkitan sahabat bloger dalam menjalin persahabatan dan silaturahmi yang lebih egaliter dan ”membumi”.

Keesokan harinya, Kamis, 12 Maret, sekitar pukul 07.00 WIB, saya mengantar keberangkatan Mas Daniel menuju jalan raya yang akan melanjutkan perjalanan ke Gunung Kelir. Alhamdulillah, ketika saya kontak, termasuk kepada Mas Totok Kelir, perjalanan berlangsung lancar. Mas Daniel tiba di puncak Gunung Kelir sekitar pukul 13.00 WIB. Terima kasih, Mas Daniel, telah berkenan singgah di gubug kami, semoga jalinan silaturahmi ini membuahkan ”aura” positif bahwa aktivitas ngeblog bisa menjadi jalan untuk membangun semangat persahabatan dan persaudaraan yang mustahil bisa terukur nilainya. Mohon maaf jika kami sekeluarga hanya bisa memberikan sambutan seadanya. ***

Tulisan lain yang berkaitan:

Melanjutkan Tradisi Award di Kompleks Blogosphere (Sunday, 5 February 2012, 414 pembaca, 47 respon) Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan award dari dua sahabat blogger, yaitu dari Mas Adwy dan Pak Mumun Surahman. Award –yang (nyaris)...
Semangat Menuju Hakikat “Kesucian” (Sunday, 28 August 2011, 1,126 pembaca, 82 respon) Alhamdulillah, pekerjaan offline yang sempat tersisa, akhirnya terselesaikan juga. Pertama, Kamis, 25 Agustus 2011, saya didaulat untuk mendampingi...
Menyelesaikan Pekerjaan Offline yang Tersisa (Thursday, 25 August 2011, 857 pembaca, 36 respon) Lebaran tinggal menunggu hitungan hari. Jalan raya sudah mulai padat merayap. Jalanan hampir tanpa sela dan jeda. Para pemudik seperti sudah tak...
Mudik, Kekerabatan Sosial, dan Citra Diri (Tuesday, 23 August 2011, 1,160 pembaca, 59 respon) Mudik telah menjadi semacam “ritual”. Lebaran (nyaris) kurang meriah jika “ritual” mudik hilang dari ruang-ruang sosial di negeri ini....
Final OSI 2010, Buku, dan Kopdar Surabaya (Saturday, 13 November 2010, 1,069 pembaca, 64 respon) Alhamdulillah, rangkaian kegiatan Olimpade Sastra Indonesia (OSI) Siswa SD Tahun 2010 akhirnya usai sudah. Hotel Garden Palace, Surabaya, pada...
tentang blog iniTulisan berjudul "The Dexter, Penganyam Kata, dan Dunia Buku" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 March 2009 @ 02:20) pada kategori Sosial dan telah dikunjungi oleh 1 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: