Home » Opini » Caleg dari Kalangan Artis

Caleg dari Kalangan Artis

Opini

Oleh: Sawali Tuhusetya

Menjelang pesta Pemilu, jagad politik Indonesia makin gegap-gempita dengan munculnya banyak caleg dari kalangan artis. Setiap parpol peserta Pemilu seperti berlomba untuk merekrut artis guna memperkuat barisan caleg. Tujuannya? Bisa jadi untuk menciptakan imaji popularitas di tengah publik. Dengan munculnya kalangan artis, parpol yang mereka usung jadi lebih dikenal dan harapan untuk mendulang suara akan lebih menjanjikan.

Adakah yang salah? Saya kira tidak! Setiap parpol punya hak dan wewenang untuk merekrut siapa saja caleg yang dinilai layak untuk memperkuat barisan politik, termasuk dari kalangan artis. Tentu saja dengan syarat, para elite parpol tetap memiliki fatsun politik dan sanggup memenuhi aturan main yang ada; tidak asal main comot, apalagi hanya sekadar numpang tenar dari artis yang bersangkutan.

Salah jugakah kalau para artis kepencut untuk ikut bermain dalam ranah politik? Saya kira tidak juga. Setiap warga negara –sesuai dengan ketentuan yang berlaku—berhak untuk berpolitik. Parpol mana yang akan dimasuki juga termasuk bagian dari persoalan personal yang tidak bisa diintervensi pihak mana pun.

Yang jadi persoalan, apakah kehadiran artis dalam jajaran parlemen, kalau kelak mereka memang dipilih oleh rakyat, sanggup melakukan perubahan? Sanggupkah mereka meninggalkan pola dan gaya hidup seleb yang selama ini telah mereka nikmati setelah malang-melintang di dunia selebritis? Pertanyaan ini penting dan relevan untuk dijawab, sebab menjadi wakil rakyat tidak sama dan sebangun dengan wilayah keartisan yang selama ini mereka arungi. Kalau selama menjadi artis, mereka bebas melakukan apa saja, tanpa ada beban diawasi oleh konstituennya. Setelah jadi wakil rakyat? Tentu saja mereka tak bisa berbuat semau gue. Rakyat yang telah memilihnya dipastikan akan selalu mengontrol dan mengawasi sepak-terjang kinerja mereka. Ini artinya, perlu ada perubahan gaya dan pola hidup wakil rakyat dari kalangan artis sebelum mereka melakukan perubahan di negeri ini.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa menjadi wakil rakyat tidak dijadikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan nasional, tetapi justru menjadi tujuan itu sendiri. Kalau ini yang terjadi, sungguh repot. Berapa persenkah wakil rakyat kita yang menjadikan kursi parlemen yang mereka duduki sebagai sarana untuk mencapai tujuan?

Yang sering terjadi, justru seperti apa yang pernah disitir oleh Lord Acton bahwa kekuasaan itu cenderung korup. Para wakil rakyat kita justru banyak yang tersandung masalah hukum akibat tak sanggup menahan naluri ”kekuasaan” dengan melakukan tindakan yang berlawanan secara diametral dengan kehendak rakyat.

Kita berharap, kehadiran artis dalam jagad perpolitikan kita bisa menjadi pioner untuk melakukan sebuah perubahan terhadap nasib rakyat yang selama ini masih terabaikan. Rakyat hanya disanjung-puji saat kampanye. Selebihnya, rakyat hanya menjadi objek yang terus terpinggirkan dari masa ke masa. Meski demikian, perubahan juga tidak cukup dilakukan oleh wakil rakyat dari kalangan artis. Semua wakil rakyat yang telah dipercaya untuk mengemban amanat perlu melakukan perjuangan secara kolektif untuk menjadikan rakyat sebagai subjek. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Caleg dari Kalangan Artis" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 Maret 2009 @ 22:57) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 11 komentar dalam “Caleg dari Kalangan Artis

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *