Home | Edukasi, Politik, Refleksi | Golput: Antara Pilihan dan Legitimasi Demokrasi

Golput: Antara Pilihan dan Legitimasi Demokrasi

Friday, 30 January 2009 (04:34) | 1,325 pembaca | 213 komentar | Print this Article

Dalam waktu yang hampir bersamaan, MUI mengeluarkan dua fatwa yang sama-sama memiliki derajat resistensi tinggi dari berbagai kalangan, yakni mengharamkan rokok dan Golput. Dari dua fatwa ini, yang paling banyak menyita perhatian publik adalah pengharaman Golput. Hal ini sangat beralasan, sebab persoalan halal-haram merupakan salah satu dimensi moral-spiritual yang tak bisa begitu saja dijadikan sebagai pisau bedah untuk menguliti persoalan politik yang lebih banyak bersinggungan dengan persoalan duniawi.

golputKita tak tahu persis, apa maunya MUI. Benarkah memang ada upaya untuk “memolitisir” agama atau “mengagamakan” politik? Kalau memang demikian, MUI yang seharusnya bisa menjadi penjaga gawang moral dan spiritual bangsa, justru dikhawatirkan akan kehilangan pamornya sebagai institusi terhormat, tempat bernaungnya para ulama yang memiliki fatsun dan kearifan dalam menyikapi berbagai fenomena kehidupan yang mencuat ke permukaan.

Golput, sebagai salah satu fenomena politik, memang menarik diamati. Pada masa Orde Baru (nyaris) banyak yang tiarap ketika hendak memproklamirkan diri sebagai penganut “mazhab” abstain ini. Maklum, situasi represif yang sengaja diciptakan penguasa amat tidak memungkinkan jargon Golput ini bisa berkembang dengan leluasa di tengah-tengah masyarakat. Stigma sebagai pembangkang, pengkhianat, atau PKI, akan dengan mudah ditimpakan kepada mereka yang tak mau menggunakan hak suaranya dalam sebuah pesta demokrasi. Kesadaran politik semu akibat sikap fasis sang penguasa membuat bangsa kita gagal melakukan sebuah perubahan selama lebih kurang tiga dasa warsa.

Perubahan atmosfer politik itu baru bisa terwujud setelah reformasi bergulir. Seiring dengan itu, kesadaran politik warga masyarakat pun mulai tumbuh. Mereka tak mau lagi tunduk pada upaya penyeragaman dalam melakukan pilihan-pilihan politik. Munculnya banyak partai telah menjadi “euforia” massa dalam menentukan pilihan. Memasuki masa-masa kampanye, sudut-sudut kampung dan kota tak lagi didominasi warna kuning, tetapi sudah memancarkan warna pelangi yang menjanjikan banyak pilihan.

Namun, lagi-lagi sejarah negeri ini mencatat, era multipartai yang menjanjikan banyak pilihan itu ternyata tak kunjung membuat nasib negeri ini menjadi lebih baik. Bahkan, telah menciptakan “petaka baru” dengan munculnya banyak petualang dan “bromocorah” politik yang bisa dengan mudah menyusup ke dalam lingkaran elite kekuasaan sebagai wakil rakyat. Banyaknya wakil rakyat yang terjegal kasus korupsi dan perselingkuhan, bisa jadi bukti, betapa suara rakyat yang terepresentasikan dalam Pemilu benar-benar diabaikan. Para wakil rakyat –meski tidak seluruhnya—justru makin mabuk dan tenggelam dalam aroma kekuasaan yang rentan terhadap penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan.

Bercermin dari hasil Pemilu ke Pemilu yang gagal melahirkan wakil rakyat, tokoh, atau pemimpin yang berkarakter, membuat sebagian rakyat kecewa. Mereka geram, tapi tak sanggup melakukan apa-apa. Satu-satunya aksi politik yang bisa dilakukan adalah bersikap abstain alias Golput ketika Pemilu digelar. Tidak berlebihan apabila angka Golput dalam Pilkada yang digelar di berbagai daerah beberapa waktu yang lalu meningkat tajam. Bisa jadi, lantaran khawatir terhadap meningkatnya jumlah Golput pada Pemilu 2009, ada pihak yang mulai gerah. Meningkatnya jumlah Golput jelas bisa memengaruhi nilai legitimasi demokrasi sehingga perlu ada upaya serius untuk mencegahnya.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa yang gerah mesti MUI? Apakah mereka memang memiliki otoritas dan kelayakan untuk menggiring kesadaran politik rakyat dalam Pemilu lewat ancaman haram dan dosa? Efektifkah fatwa itu, meski secara hukum tidak memiliki kekuatan mengikat, untuk menarik simpati publik agar mau menggunakan hak pilihnya?

Tidak memilih, sejatinya juga termasuk memilih. Jangan salahkan mereka yang Golput kalau kenyataannya memang masih banyak petualang dan “bromocorah” politik yang tak punya rasa malu dan masih terus nekad mencalonkan diri sebagai caleg. Jangan dicap sebagai “pendosa” kalau ada rakyat yang memilih untuk “tidak memilih” dalam Pemilu kalau kenyataannya pesta demokrasi selama ini nyata-nyata telah gagal memberikan yang terbaik buat rakyat.

Fenomena Golput idealnya perlu dijadikan sebagai “warning” bagi para petualang politik agar mereka menghentikan kekonyolannya. Kalau ingin membuat Pemilu di negeri ini memiliki nilai legitimasi demokrasi yang lebih baik, perlu dibuat aturan main yang “mengharamkan” para koruptor dan memiliki “cacat sosial” mencalonkan diri sebagai wakil rakyat atau seorang pemimpin. Dalam konteks demikian, saya akan menunduk takzim dan bersimpuh jika fatwa MUI itu berbunyi, “Haram hukumnya koruptor menjadi Caleg!” Nah, bagaimana? ***

Kategori: Edukasi, Politik, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgRamadhan, Kemerdekaan, dan Kesalehan Sosial (Sunday, 1 August 2010, 1,386 pembaca, 141 respon) Menyaksikan Indonesia tak ubahnya menonton sebuah repertoar tragis di atas panggung teater. Sarat konflik dan (nyaris) tanpa ending. Untuk sebuah lakon teater, pertunjukan seperti itu bisa jadi memiliki “magnet” dan daya tarik yang memikat buat...
imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Golput: Antara Pilihan dan Legitimasi Demokrasi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Friday, 30 January 2009 (04:34)) pada kategori Edukasi, Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

213 Responses to "Golput: Antara Pilihan dan Legitimasi Demokrasi"

  1. cupangkolam says:
    Menggunakan Firefox 3.0.6 Firefox 3.0.6 pada Windows XP Windows XP

    Ya hayuk…kalo punya hak hayuk digunakan…

    Baca juga tulisan terbaru cupangkolam berjudul Trend Kekerasan di Kolam Cupang vs Daun Pepaya

  2. nenyok says:
    Menggunakan Opera 9.63 Opera 9.63 pada Windows XP Windows XP

    Salam
    Agak aneh klo nurut aku Pakde, ini negara demokrasi yang nyatanya hampir sekuler tapi klo ambil keputusan yang dianggap menguntungkan secara politis kok menggunakan dimensi spiritual pdhl jelas-jelas sistemnya ada dalam wacana yang sekuleristik tadi *wealah aku ngomong opo ya Pa de, sotoy sejadi-jadinya gitu loh
    btw aku golput tapi aku ndak merasa berdosa tuh, coz golputnya dipandang dari wacana demokrasi bukan dari wacana agama :)

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (285 queries: 1.094 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP