Home | Edukasi, Politik, Refleksi | Anak-anak dan Imajinasi tentang Perang

Anak-anak dan Imajinasi tentang Perang

Thursday, 15 January 2009 (17:35) | 595 pembaca | 152 komentar | Print this Article

Perang-perangan termasuk salah satu mainan favorit anak-anak kampung. Dengan menggunakan senjata mainan dari pelepah daun pisang, anak-anak bisa dengan sangat bangga mencitrakan dirinya sebagai pahlawan. Lewat bunyi onomatope ”dor!” dari mulut kecilnya, anak-anak mendadak berubah seperti seorang ksatria dari negeri Antah-berantah yang sanggup menghabisi musuh-musuhnya. Pada saat yang lain, sang anak berubah jadi seorang pecundang, sedangkan teman mainnya yang harus berperan sebagai sosok pahlawan. Sungguh, sebuah permainan yang benar-benar indah dan memukau di waktu kecil.

Namun, bagaimana dengan anak-anak yang tengah berada di daerah konflik? Bisakah mereka merasakan keindahan dan keterpukauan bermain perang-perangan ketika kosakata “perang” bukan lagi sebuah imajinasi, melainkan sebuah kenyataan yang tak terbantahkan? Masih bisakah mereka mengucapkan bunyi onomatope “dor” ketika desingan peluru, martil, atau rudal nyata-nyata telah memekakkan telinga dan mengancam nyawa mereka?

Maka, melayanglah dunia imajiner kita ke jalur Gaza, yang konon hanya berupa sepetak tanah tandus Palestina yang berada di ujung dekat perbatasan Mesir. Sepanjang sejarah peradaban, kawasan itu (nyaris) tak pernah sepi dari konflik dan kekerasan. Pertanyaannya, mengapa penduduk di wilayah perbatasan yang seharusnya bisa menyatu dalam suasana yang kuyup dengan nilai-nilai ukhuwah itu tak henti-hentinya dirundung konflik dan selalu diselubungi kabut berdarah-darah meski sang pengendali wilayah terus mengalami suksesi dari zaman ke zaman? Adakah sesuatu yang salah dari para pengambil kebijakan dalam mengelola konflik kewilayahan sehingga selalu berujung pada perang dan kekerasan?

Kalau kita melakukan sedikit flashback, konon anak-anak sekolah di Israel telah diindoktrinasi melalui bangku sekolah. Mereka juga harus mengalami proses pencucian otak lewat pendidikan secara khusus. Bisa jadi, pola pendidikan semacam itulah yang berhasil menanamkan kebencian bangsa Israel terhadap penduduk Palestina. Tak berlebihan kalau mereka tak pernah bisa hidup berdampingan secara damai. Selalu saja ada alasan untuk menaburkan benih-benih perseteruan dan kebencian sepanjang sejarah peradaban yang mereka lalui.

Atmosfer lingkungan yang keras dipadu dengan proses indoktrinasi dan pencucian otak semacam itu, agaknya sangat memengaruhi karakter dan kepribadian anak. Mereka banyak belajar dari orang tua dan lingkungan, bagaimana mereka harus mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kekerasan yang sudah menjadi peristiwa jamak dalam kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak, telah membuat anak-anak memiliki imaji kekerasan sebagai upaya penyelesaian masalah. Tak berlebihan jika jalan kekerasan menjadi alternatif paling jitu bagi mereka.

Sungguh, dalam situasi seperti itu, kita jadi trenyuh dan tersentuh ketika ingat sindiran Dorothy Law Nolte seperti berikut ini.

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian.

Ya, ya, ya, anak-anak merupakan bagian dari sebuah siklus kehidupan sebelum mereka akrab dengan peradaban yang menyentuhnya. Mereka memiliki sebuah dunia yang “mandiri” dan “otonom”. Mereka memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk mengekspresikan naluri dan dunianya. Ketika kemerdekaan mereka dirampas, sama saja kita telah berbuat “biadab” kepada mereka; anak-anak zaman yang kelak akan menorehkan tinta sejarah yang memfosil dalam labirin kehidupan.

Meminjam teori tabularasa, anak-anak ibarat kertas putih berselaput lilin. Mereka masih polos, putih, dan bersih. Mau jadi apa kelak mereka akan sangat ditentukan oleh peradaban yang membentuknya. Jangan salahkan anak-anak kalau pada akhirnya mereka menjadi tukang jagal, preman, atau bromocorah. Lingkungan, pendidikan, dan tempaan pengalamanlah yang membangun mereka menjadi sosok semacam itu. Oleh karena itu, perlu ada upaya serius dari orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, atau tokoh-tokoh spiritual untuk ikut berkiprah membangun dan menciptakan atmosfer lingkungan yang kondusif. Sindiran Dorothy Law Nolte perlu dijadikan “warning” buat semua pihak yang memiliki kepentingan untuk membangun generasi masa depan yang santun, beradab, dan berbudaya.

Kalau saja anak-anak Palestina itu punya pilihan, pasti mereka akan memilih hidup di sebuah negeri yang merdeka dan bebas dari perang dan kekerasan. Dalam situasi apa pun, perang sesungguhnya sangatlah tidak menguntungkan, baik bagi yang mengklaim diri sebagai pemenang maupun yang dinyatakan telah kalah. “Kalah jadi abu, menang jadi arang!” begitulah ungkapan yang sudah demikian akrab di gendang telinga. Menang maupun kalah dalam sebuah peperangan akan sama-sama merugi.

Maka, beruntunglah anak-anak yang hidup di negeri merdeka seperti di negeri kita. Mereka bisa menikmati dunia dan naluri bermainnya dalam suasana yang bebas dari rasa takut, kecemasan, dan ketakutan. Mereka bisa berimajinasi tentang perang dan kekerasan, tanpa dihantui rasa takut terkena peluru nyasar atau desingan peluru. Mereka juga bisa dengan sangat leluasa mengucapkan bunyi onomatope “dor” sambil melepaskan peluru mainan dari pelepah daun pisang. Sungguh kontras dengan nasib anak-anak Palestina yang saat ini selalu dihantui rasa takut akibat atmosfer lingkungan yang tidak menentu. Ah, anak-anak yang malang itu, kami sungguh berempati pada nasib negerimu. ***

Kategori: Edukasi, Politik, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Anak-anak dan Imajinasi tentang Perang" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Thursday, 15 January 2009 (17:35)) pada kategori Edukasi, Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

152 Responses to "Anak-anak dan Imajinasi tentang Perang"

  1. andreas says:
    Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows XP Windows XP

    Merenungkan dampak kekerasan, praktek dan lingkungan yang penuh kekerasan terhadap anak-anak melalui karya perupa Haris Purnomo dan budayawan Sindhunata

    Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur

    Bagi saya karya-karya Haris Purnomo dalam pameran Kaum Bayi : Alegori Tubuh-tubuh yang Patuh ini merupakan kritik atas peradaban, kekerasan dunia orang dewasa, kekerasan tatanan masyarakat baik di lapangan politik, ekonomi, budaya, teknologi terhadap alam dan sesama manusia. Bumi air tanah tumbuh bayi-bayi mungil dengan tato sekujur tubuh, dalam bedong ber-pisau sangkur. Hangat kepompong dalam proses metamorfosis menjadi bentuk lain, kepribadian lain.

    Mereka Menunggu Aba-aba!!!!

    grekgrek, grekgrek, grengkek, grekgek atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

    grek grek suara motor penggerak pisau sangkur menghipnotis ruang bentara budaya yang temaram mencabik kenyamanan, membuat ngeri, seperti dengkur pasukan perang, tentara pembunuh …… alien, mutan, monster…

    atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

    Mereka Menunggu Aba-aba!!!

    bayi-bayi lelap dan jaga yang menimbulkan sayang dan haru itu, menyembul harap dan bahagia dan kengerian di sekitarnya, kontradiksi pedih, kemanusiaan abad ini….

    silah kunjung ….

    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/menunggu-aba-aba-bayi-bertato-kepompong.html

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (226 queries: 1.158 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP