Home | Budaya, Refleksi | Hijrah Spiritual dan Intelektual Menjelang Pergantian Tahun

Hijrah Spiritual dan Intelektual Menjelang Pergantian Tahun

Saturday, 27 December 2008 (23:46) | 498 pembaca | 111 komentar | Print this Article

hijrahPada penghujung tahun ini, kita kembali dihadapkan pada dua pergantian tahun yang sama-sama dimaknai sebagai momentum penting dalam dinamika kehidupan umat manusia, yakni pergantian tahun Hijrah dan Masehi. Semangat yang muncul pada setiap pergantian tahun seringkali membawa kita pada imaji sebuah perubahan. Ya, tentu saja, kita memiliki harapan besar di balik perubahan itu agar kehidupan mendatang jauh lebih baik ketimbang kehidupan masa lalu.

Hijrah yang dilakukan oleh teladan umat sepanjang masa, Rasulullah Muhammad SAW, merupakan peristiwa heroik dalam upaya membangun kehidupan umat dari masa-masa yang kelam menuju masa-masa yang penuh pencerahan. Dari situlah semangat perubahan terus terabadikan dari generasi ke generasi. Simbol-simbol lahiriah ketika umat Muhammad berbondong-bondong melakukan “migrasi” akibat situasi chaos yang membuat kehidupan mereka merasa sangat tidak nyaman pun telah mengalami banyak pergeseran.

Dalam konteks keindonesiaan, simbol-simbol lahiriah di balik peristiwa hijrah semacam itu, jelas sudah jauh bergeser maknanya. Hijrah agaknya tak harus dimaknai bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, tetapi justru yang lebih penting adalah bagaimana agar kita mampu berhijrah dan bermigrasi secara spiritual dan intelektual. Spiritual berkaitan dengan fondasi rohaniah secara vertikal sebagai wujud sikap kepasrahan total kepada Sang Pemilik Kehidupan, sedangkan intelektual berkaitan dengan kepekaan akal budi dalam membangun semangat kesetiakawanan sosial secara horisontal di tengah kehidupan nyata.

Jika kedua nilai hijrah ini bisa diimplementasikan dalam kehidupan nyata, bisa jadi tak ada lagi para wakil rakyat yang diuber-uber KPK karena diduga menilap uang negara, penggusuran dan penyingkiran masyarakat miskin, atau berbagai aksi kekerasan yang nyata-nyata telah mengusik keharmonisan dan kedamaian hidup.

Nah, selamat menyongsong Tahun Baru 1430 Hijrah dan 2009 Masehi, semoga kita tetap bersemangat untuk melakukan sebuah perubahan besar pada tahun yang akan datang. ***

Kategori: Budaya, Refleksi |

Tulisan lain yang berkaitan:

Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Hijrah Spiritual dan Intelektual Menjelang Pergantian Tahun" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 27 December 2008 (23:46)) pada kategori Budaya, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

111 Responses to "Hijrah Spiritual dan Intelektual Menjelang Pergantian Tahun"

  1. Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows Vista Windows Vista

    Yang namanya hijrah, mestinya dari kondisi ke yang lebih baik. Jangan sampai sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya, hanya “pindah” tahun. Akur, Pak Sawali?

    Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Doa untuk Anak-anak Yahudi, Nasrani, dan Muslim di Timur Tengah

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (172 queries: 0.698 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP