Hijrah Spiritual dan Intelektual Menjelang Pergantian Tahun

Kategori Budaya Oleh

hijrahPada penghujung tahun ini, kita kembali dihadapkan pada dua pergantian tahun yang sama-sama dimaknai sebagai momentum penting dalam dinamika kehidupan umat manusia, yakni pergantian tahun Hijrah dan Masehi. Semangat yang muncul pada setiap pergantian tahun seringkali membawa kita pada imaji sebuah perubahan. Ya, tentu saja, kita memiliki harapan besar di balik perubahan itu agar kehidupan mendatang jauh lebih baik ketimbang kehidupan masa lalu.

Hijrah yang dilakukan oleh teladan umat sepanjang masa, Rasulullah Muhammad SAW, merupakan peristiwa heroik dalam upaya membangun kehidupan umat dari masa-masa yang kelam menuju masa-masa yang penuh pencerahan. Dari situlah semangat perubahan terus terabadikan dari generasi ke generasi. Simbol-simbol lahiriah ketika umat Muhammad berbondong-bondong melakukan “migrasi” akibat situasi chaos yang membuat kehidupan mereka merasa sangat tidak nyaman pun telah mengalami banyak pergeseran.

Dalam konteks keindonesiaan, simbol-simbol lahiriah di balik peristiwa hijrah semacam itu, jelas sudah jauh bergeser maknanya. Hijrah agaknya tak harus dimaknai bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, tetapi justru yang lebih penting adalah bagaimana agar kita mampu berhijrah dan bermigrasi secara spiritual dan intelektual. Spiritual berkaitan dengan fondasi rohaniah secara vertikal sebagai wujud sikap kepasrahan total kepada Sang Pemilik Kehidupan, sedangkan intelektual berkaitan dengan kepekaan akal budi dalam membangun semangat kesetiakawanan sosial secara horisontal di tengah kehidupan nyata.

Jika kedua nilai hijrah ini bisa diimplementasikan dalam kehidupan nyata, bisa jadi tak ada lagi para wakil rakyat yang diuber-uber KPK karena diduga menilap uang negara, penggusuran dan penyingkiran masyarakat miskin, atau berbagai aksi kekerasan yang nyata-nyata telah mengusik keharmonisan dan kedamaian hidup.

Nah, selamat menyongsong Tahun Baru 1430 Hijrah dan 2009 Masehi, semoga kita tetap bersemangat untuk melakukan sebuah perubahan besar pada tahun yang akan datang. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

113 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*