24Dec 2008 59 Comments
Gaya Selebritis Para Wakil Rakyat
Belakangan ini baliho politik bertaburan (hampir) di sepanjang jalan raya. Dengan tampilan foto keren dipadu slogan-slogan politik yang membius, para calon wakil rakyat berusaha menarik simpati publik. Tak jauh berbeda dengan lomba baliho. Semuanya berupaya memberikan citra diri sebagai putra bangsa terbaik. Sungguh konyol kalau ada baliho politik yang mengimajinasikan diri sebagai calon wakil rakyat yang cenderung korup dan antiperubahan. Semangat yang mereka bangun jelas berbasis kerakyatan. Maju bersama rakyat membangun bangsa.
Persoalannya, apakah baliho-baliho politik yang dengan masif mengusung semangat perubahan, antikorupsi, dan berbasiskan kerakyatan semacam itu masih akan mereka ingat dan dijadikan sebagai platform perjuangan politik setelah mereka sukses menduduki kursi bergengsi sebagai wakil rakyat?
Kalau mau jujur, komunikasi yang mereka bangun selama masa-masa kampanye hanyalah komunikasi semu. “Rakyat dirangkul dan dijadikan sebagai subjek perubahan” hanyalah sebuah eufemisme, bahkan cenderung ke gaya pleonastis. Tak banyak wakil rakyat kita yang benar-benar sanggup bersikap istiqomah dan tetap berada dalam bingkai dan platform perjuangan yang pernah gencar mereka gembar-gemborkan. Bahkan, tak sedikit juga wakil rakyat kita yang gagal menahan godaan untuk bertindak korup sebagaimana yang pernah dikemukakan dengan nada pedih oleh Lord Acton. Ya, ya, ya, agaknya benar kalau kekuasaan itu cenderung korup.
Perhatikan saja berita-berita yang tersebar di berbagai media, baik cetak maupun elektronik! Hampir tak pernah sepi dari pemberitaan negatif tentang ulah wakil rakyat kita yang tersandung korupsi. Situasi anomali politik semacam itu jelas makin menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja para wakil rakyat yang terhormat. Persoalan kian rumit dan kompleks ketika mereka dengan sangat vulgar berkongkalingkong dan membangun jaringan-jaringan politik yang abai terhadap nasib rakyat.
Menjadi wakil rakyat sejatinya bukanlah pekerjaan mudah. Mereka menjadi representasi rakyat yang diwakilinya. Mereka harus bicara dan berjuang atas nama rakyat. Amanah yang berat tentu saja. Namun, akibat anomali politik yang demikian lama terbangun melalui proses demokrasi yang sarat “pembusukan”, menjadi wakil rakyat akhirnya jadi sebuah pertaruhan ambisi dan gengsi. Menjadi wakil rakyat bukanlah “kemauan politik” untuk mewujudkan sebuah perubahan, melainkan semata-mata untuk menjadi “selebritis”; penuh glamor dan hedonis. Tak jauh berbeda seperti repertoar “Petruk Dadi Ratu” dalam jagad pewayangan. Mereka bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas-fasilitas serba wah. Mereka pun jadi begitu akrab dengan dunia malam yang memabukkan.
Meski demikian, saya juga percaya, masih ada wakil rakyat kita yang demikian total dan serius mengemban amanat rakyat. Tenaga, pikiran, dan komitmennya untuk membangun bangsa masih sangat diperhitungkan. Sayangnya, jumlah mereka tidak begitu banyak.
Kita sangat merindukan wakil rakyat yang tetap tampil bersahaja dan sanggup menghindar dari godaan untuk bergaya selebritis yang sarat keglamoran dan hedonis. Mereka juga bisa menjadi kekuatan kontrol terhadap ambisi-ambisi yang berkembang di tengah atmosfer politik yang busuk dan sarat anomali. Kalau saja para calon wakil rakyat kita kelak sanggup tampil seperti itu, sungguh, baliho politik yang demikian masif mereka taburkan di sepanjang jalan bukanlah media komunikasi semu. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Gaya Selebritis Para Wakil Rakyat" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (24 December 2008 @ 11:51) pada kategori Politik, Refleksi dan telah dikunjungi oleh . Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Sep 21, 2011 @ 14:31:20
sungguh wakil rakyat yang tak tahu malu,,
memangnya mereka gax menyadari apa,,
sama keadaan masyarakat sekarang yang sedang di rasakan,,..
ini malah berRia-ria..
Aug 24, 2011 @ 09:16:19
seharusnya wakil rakyat itu merakyat,,,
lihatlah di pelosok pelosok desa masih banyak rakyat jelata yang melarat dan kelaparan,,,, eh ni para wakil rakyatnya malah enak enakan liburan keluarnegeri, belanja, dan bersenag senag.
Mar 05, 2010 @ 12:30:27
Emang selebriti indo sekarang uda menjelma jadi wakil rakyat dan sebaliknya para wakil rakyat juga menjelma jadi selebriti…
tanya kenapa?? kayak di iklan ya
.-= Baca juga tulisan terbaru ZTE MF627 berjudul "Modem ZTE MF627" =-.
Mar 05, 2010 @ 11:34:32
sekarang lagi pada ngetrend ya seleb jadi wakil rakyat. gpp yang penting kerja nya bener aja deh
.-= Baca juga tulisan terbaru Sexy Celebrity Wallpapers berjudul "Megan Fox Wallpaper #1 | Megan Fox Beautiful Smile" =-.
Serba Salah [sebuah epigram] « Esensi
Mar 04, 2009 @ 08:36:52
[...] Tak Butuh Pemimpin Paripurna“. 2. Pak Sawali Tuhusetya, atas tulisannya yang berjudul “Gaya Selebritis Para Wakil Rakyat“. 3. Nenda Fadhilah, atas postingannya yang berjudul “Quasi Hereditary Monarchy“. [...]
Jan 06, 2009 @ 16:16:23
yaaaach… begitulah potret wakil kita..!! kalua ada maunya baru mendekat, tapi waktu dah jadi mereka tidur! seolah buta..seolah tuli..nasib rakyat mana pernah dinomor 1 kan.. yang paling penting bagi mereka adalah duduk nyaman menikmati kemenangan. membuat produk hukum yang menikam rakyat. produk hukum yang dibvuat dipoles seolah-olah berpihak padahal berpihaknya pada penguasa yang notabene adalah penganut faham kapitalisme..duni perpolitkan kita memang mengalami FATAMORGANA. dari jauh keliatan, setelah didekati malah gak ada.
Buat para calon.. gambar-gambar yang terpampang dijalan-jalan pada dasarnya tidak memiliki efek terhadap para pemilih. yang paling mengefek itu adalah kinerja ataupun pola interaksi kita di masyarakat.
SALAM PEMBEBASAN UNTUK SEMUA…..!!!
Jan 08, 2009 @ 01:35:21
salam pembebasan juga, mas chan’d. iya nih, mas, baliho2 semacam itu agaknya tak akan berpengaruh terhadap pilihan rakyat. rakyat juga makin cerdas dan kritis, kok.
Jan 02, 2009 @ 22:47:06
bukan sebagai subjek mas sawali…tapi sebagai konsumen, biar rakyat dilayani sebagai raja (konsumen adalah raja) klo sebagai subjek sih sekarang juga lagi…….subjek penderitaan
Dec 30, 2008 @ 17:29:49
Hi Hi Hi, iya nih. Sekarang saatnya wakil rakyat adol bagus. Pasang spanduk besar – berbulan-bulan mringis juga tetep betah. Lha wong mringisnya cuma di spanduk.
Baca juga tulisan terbaru lovepassword berjudul Solidaritas untuk Palestina
Dec 30, 2008 @ 22:54:44
hiks, saya ndak bisa membayangkan kalau itu bukan spanduk, mas love. sanggupkah mereka tabur pesona di sepanjang jalan? kekeke …..
Dec 30, 2008 @ 12:33:53
lha setelah kepilih kok malah mencereng mencereng nyalahin rakyat?
ini salah itu salah… yang salah selalu yang kecil utawa rakyat
Baca juga tulisan terbaru suwung berjudul Ngelmu Soewoeng: Tehnik Merayu
Dec 30, 2008 @ 16:41:21
hehehe … betul banget, mas suwung, kapan ya negera kita bisa memperlakukan rakyat sbg subjek?
Dec 30, 2008 @ 09:26:50
kita tak pernah tahu kontribusi mereka selama ini hanya sekedar wajah yang terpampang dalam poster
Baca juga tulisan terbaru tomy berjudul TRISULAWEDHA
Dec 30, 2008 @ 16:40:44
betul, pak tomy, seperti nonton pajangan barang dalam sebuah etalase toko, hik. hanya yang bagus2 saja yang dipertontonkan, hehehe ….
Dec 30, 2008 @ 08:29:04
Mudah2an dengan adanya fatwa MK tentang suara terbanyak yang akan jadi anggota legislatif, setidaknya kita semua bisa ikut mengcontrol perilaku para caleg itu dan kita semua yang menentukan siapa yang paling layak pergi ke senayan. Kalo memang perilakunya masih seperti itu ya jangan dipilih lagi
Baca juga tulisan terbaru Indra Kurniadi berjudul Berlibur ketika mayoritas orang sedang bekerja
Dec 30, 2008 @ 16:39:30
yaps, perubahan peraturan ttg pemilu itu layak disambut gembira, mas indra. ndak hanya mereka saja yang kebetulan dapat nomor peci. dg aturan baru, caleg yang berada di nomor sepatu pun bisa jadi kalau memang dapat dukungan suara yang signifikan.
Dec 30, 2008 @ 08:11:07
Kalo semua caleg pada pasang baliho besar, habislah jalan-2 raya dipenuhi tampang2 narsis mereka. Kalo saya pasti malu, blm lg kepilih tp sdh pamer sana sini…. keluar uang utk kampanye tdk sedikit, wajar saja klo kepilih lalu korupsi..
Baca juga tulisan terbaru Mami Vaya berjudul 9 bulan, natal, & gulingan berujung jeduk!!
Dec 30, 2008 @ 16:37:54
nah, itu dia persoalannya. berapa saja cost yang keluar utk pasang baliho di mana2, belum lagi nanti buat kampanye. bisa jadi tradisi seperti ini yang membikin para politisi jadi tergiur dg dhuwit, hiks.
Dec 29, 2008 @ 16:24:39
fatwa politik: 1. Banyak partai beranggotakan politisi busuk. Semakin busuk jadinya bila mereka berkuasa. Bila anda percaya ini haram hukumnya memilih. 2. Banyak politisi mengumbar ayat suci saat kampanye pdhal stlh berkuasa sama busuknya dg politisi pertama. Jika anda percaya haram hukumnya memilih 3. Banyak politisi beridealisme tinggi tapi dikhawatirkan mengalami pembusukan pula saat berkuasa. Bila anda percaya makruh hukumnya memilih. Fatwa ini murni kreatif saya bandingkan dg fatwa MUI. Hiks . .
Dec 30, 2008 @ 16:26:30
hehehe … kalau gitu, golput aja, mas roni, hiks. politisi kita kayaknya jarang yang tersentuh nilai2 kearifan.
Dec 29, 2008 @ 08:35:39
Jadi pengen nyanyi lagunya Iwan Fals, Wakil Rakyat.
Posting yang bagus, Pak Sawali..
Saya nantikan tulisan-tulisan seperti ini terlebih menjelang PEMILU 2009 nanti.
Selamat menantikan Tahun Baru!
Dec 30, 2008 @ 16:25:18
walah, biasa saja kok, mas donny, hehehe …. selamat tahun baru juga, mas donny, semoga makin sukses di tahun depan.
Dec 29, 2008 @ 00:22:29
Baligho kampanye sudah menjadi polusi mata ….
) kerabat kita yang duduk di PNS karena mereka bagian dari sistem seutuhnya.
1. Marilah kita mulai komentari(bukan ngajak beranten yah
2. Dan jangan coblos calon dewan/calon presiden yang melakukan kelicikan2 selama kampanye. Belum jadi pejabat ajah dan licik apalagi klo udah jadi pejabat yang banyak akses
Jan 02, 2009 @ 22:01:12
betul banget, mas faizal. kalau baliho yang mereka taburkan diimbangi dg kinerja yang bagus dan berpihak pada rakyat, rasanya masih bisa ditolerir, hiks. tapi umumnya setelah dapat kursi, jadi lupa deh sama rakyat yang telah memilihnya.
Dec 28, 2008 @ 10:31:34
Selibritis dudu, Wakil rakyat yo dudu. Tapi ono uwong sing gayane koyo dua profesi itu. Yang jelas bukan saya…
Kalau toch saya, ya ndak apa2…
Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul Rumah Tangga Adalah Blog Raksasa
Dec 28, 2008 @ 23:15:33
hehehe … komentar pak mar selalu saja bikin saya tertawa ngakak, kekeke … pak mar jujur banget, hehehe ….
Dec 28, 2008 @ 01:45:46
flash back :
soekarno > soeharto > habibie > megawati > gusdur > SBY >
Baca juga tulisan terbaru ariss_ berjudul Blogger dan Ejaan yang Bermasalah
Dec 28, 2008 @ 23:14:51
maksudnya apaan, mas aris? apa mereka bergaya seleb juga? hehe …
Dec 27, 2008 @ 17:22:25
ganti template ya bang
kok kembali ke default???
Dec 27, 2008 @ 17:52:25
duh. lagi error, mas anno, hiks.
Dec 26, 2008 @ 13:02:56
emg gitu tuh…kacang lupa kulitnya..tpi emg biasany byk godaan tuh klo dah ngejabat..
Dec 27, 2008 @ 17:55:38
itulah kenyataan yang sering kita lihat, mas ananto, hiks. kalau dah dapat kursi, ndak mau turun.
Dec 26, 2008 @ 10:29:46
memang… sekarang pada pengen jadi selebriti semua…
pengen terkenal sampe2 narsis pada masang poster dimana2..
padahal berapa efektif sih pemasangan poster dengan perolehan suara belum ada ukurn pastinya.
Baca juga tulisan terbaru ciwir berjudul Forsilatnas PATTIRO Raya
Dec 27, 2008 @ 18:16:54
hehehe … itulah kenyataan yang sering kita lihat, mas santri. mungkin bisa efektif kalau janji2 mereka bisa terwujud.
Dec 26, 2008 @ 01:16:07
dapurhosting.com dapurhosting.com
Dec 25, 2008 @ 16:40:26
ganti template nie?
Dec 27, 2008 @ 18:16:13
sedang error, mas vay, hehehe ….
Dec 25, 2008 @ 09:36:35
namanya juga usaha pak heheheh
Dec 27, 2008 @ 18:15:55
iya, bener juga, mas zoel, tapi nanti ditagih rakyat, loh.
Dec 25, 2008 @ 06:33:35
semoga aja mereka tidak hanya baek waktu kampanye..
ntar klo udah dapet kursi lupa segalanya
Baca juga tulisan terbaru emfajar berjudul Telat
Dec 27, 2008 @ 18:15:30
mudah2an begitu, mas fajar. kalau dah jadi wakil rakyat luma sama yang milih, duh, mudah2an kalau nyalon ndak kepilih lagi.
Dec 25, 2008 @ 02:30:00
lho komentar saya tadi kok tidak masuk.
Dec 25, 2008 @ 02:33:45
saya mau berkomentar
calon wakil rakyat gampang ditemui kalau sedang kampanye malah berusaha menemui kita, kalau sudah jadi boro-boro mau bertemu kita.
saya tersinggung karena mereka bergaya seperti saya.
Dec 27, 2008 @ 18:14:47
kekeke … maksudnya mas endar bergaya nyeleb juga, gitu, hehe …
Dec 27, 2008 @ 18:14:13
memang sedang ada masalah, mas endar, mohon maaf, hiks.
Dec 24, 2008 @ 19:25:08
yah harus dua kali deh
dalam urusan politik yang INI saya memang nggak terlalu respon biarlah karena semua menawarkan janji perubahan ke baikan
tapi nyatanya nggak realistis sama sekali
saya cuman membayangkan jika biaya kampanye dan membuat baliho itu menelan banyak uang trus kalo jadi podo nggolek pulihan
kan gitu kali ya pak
terima saja lah kekalahan kita sebagai rakyat kaliiiii
dan pilihan saya sementara tidak memilih dulu karena memang belum saatnya hahaha
Dec 27, 2008 @ 18:13:53
hehehe …. memang kenyataannya seperti itu, mas totok, hiks. wah, rupanya mas totok golput juga, hiks. duh, dua hari belakangan ini blog lagi error, mas. belum sempat jalan2, hiks.
Jan 02, 2009 @ 21:56:47
saya nggak golput pak karena saat ini memang belum saatnya memilih maka saya belum memilih atau tidak memilih lebih dahulu
hahaha saya jadi ingat gara gara pernyataan ini pas jadi moderator langsung saya di seret ke polres ketika selesai dan harus memberikan penjelasan ” ngakak ”
Baca juga tulisan terbaru genthokelir berjudul Selamat Datang 2009 di Gunung Kelir
Dec 24, 2008 @ 18:03:10
nggilani…
)
ditemukan di: http://artindonesia.org/pawartos_jawi_rembugkithapraja_kejemuanitumenular.htm
Dec 27, 2008 @ 18:12:43
wah, makasih banget tambahan infonya, mas jenang.
Dec 24, 2008 @ 16:51:40
Saya rasa menjadi wakil rakyat dianggap sebuah profesi untuk mencari uang. Kekuasaan besar dan gaji besar karena mereka dapat membuat peraturan-peraturan untuk menambah penghasilan gaji sendiri dengan nama lain “tunjangan”, “insentif”, dan lain-lain.
Demikian pula selebritis yang jadi wakil rakyat. Ada Dede Yusuf, Marissa Haque, Angelina Sondakh, Adjie Masaid dll. Sampai saat ini saya belum mendengar sepak terjang dan kegiatan mereka yang pro rakyat. Entah karena terlalu sibuk dengan urusan di parlemen atau memang sebenarnya tidak memiliki kemampuan menjadi wakil rakyat.
Baca juga tulisan terbaru Syamsuddin Ideris berjudul HSS Go Online!!!
Dec 27, 2008 @ 18:12:22
itulah kenyataan yang sering kita lihat, pak syam. repotnya, para wakil rakyat justru malah bergaya hidup nyeleb, sementara seleb yang jadi wakil rakyat juga belum banyak melakukan aksi2 yang bermanfaat buat rakyat.
Dec 24, 2008 @ 13:35:30
nyindir saya pak sawali?? contreng jenggotna
Dec 27, 2008 @ 10:36:34
walah, kok tersindir, toh, mas ardy. memang mau nyaleg jugakah? hehehe …..
Dec 29, 2008 @ 00:09:44
tulisan membangun koq disebut nyindir
Dec 24, 2008 @ 13:32:22
SEMOGA SAJA
yang memasang baliho besar nanti
bisa amanat
..
bukannya korupsinya yang paling besar
…
semoga
Baca juga tulisan terbaru ILYAS ASIA berjudul 4 kesalahan Eksekutif
Dec 27, 2008 @ 10:25:10
amiiiin, semoga saja mereka bisa istikomah dalam menjalankan amanah, mas ilyas.
Dec 24, 2008 @ 13:14:50
Setuju mas!!
Wakil rakyat memang norak!!
Bisanya cuma ngumbar janji palsu
Psang foto narsis
ma bikin baliho
DASAR!!
Berita? Tips? Unik?
http://kang-adek.blogspot.com
Baca juga tulisan terbaru kang adek berjudul Mematikan Suara Sistem Windows
Dec 26, 2008 @ 10:39:59
itulah kenyataan yang sering kita lihat, kang adek. m,ereka gencar berpromosi dan berkampanye dg bahasa yang berbusa-busa, hiks, tapi apakah kelak akan terbukti melalui kinerjanya yang peduli pada rakyat?