Hari Ibu dan Wajah Peradaban Bangsa
Sunday, 21 December 2008 (15:25) | 1 pembaca | 26 komentar | Print this Article
Sepanjang sejarah peradaban manusia, peran seorang ibu sangat besar dalam mewarnai dan rnembentuk dinamika zaman. Lahirnya generasi-generasi bangsa yang unggul dan pinunjul, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, bervisi kemanusiaan, beretos kerja andal, dan berwawasan luas, tidak luput dari sentuhan peran seorang ibu. Ibulah orang yang pertama kali memperkenalkan, menyosialisasikan, menanamkan, dan mengakarkan nilai-nilai agama, budaya, moral, kemanusiaan. pengetahuan, dan keterampilan dasar, serta nilai-nilai luhur lainnya kepada seorang anak.
Dengan kata lain, peran ibu sebagai pencerah peradaban, ”pusat” pembentukan nilai, atau “pancer” penafsiran makna kehidupan, tak seorang pun menyangsikannya. Hanya Malin Kundang saja yang arogan dan menihilkan peran seorang ibu dalam membesarkan dan “memanusiakan” dirinya.
Namun, seiring gerak roda peradaban, peran ibu sebagai pencerah wajah peradaban bakal menemui tantangan yang semakin berat. Setidaknya ada dua tantangan mendasar yang harus dihadapi oleh seorang ibu di tengah dinamika peradaban global. Pertama, tantangan internal dalam lingkungan keluarga yang harus tetap menjadi sosok feminin yang lembut, penuh perhatian dan kasih sayang, serta sarat sentuhan cinta yang tulus kepada suami dan anak-anak.
Kedua, tantangan eksternal di luar “pagar” rumahtangga seiring tuntutan zaman yang semakin terbuka terhadap masuknya nilai-nilai mondial dan global yang menuntut dirinya untuk bersikap maskulin.
Dalam menyikapi dan menyiasati dua tantangan mendasar itu, seorang ibu jelas dituntut untuk semakin memaksimalkan perannya, memberdayakan potensi dirinya sehingga mampu tampil feminin dan maskulin sekaligus dalam menerjemahkan dan menginternalisasi selera zaman yang mustahil dihindarinya sebagai seorang ibu yang hidup pada era kesejagatan. Ini artinya, fitrah seorang ibu tidak hanya “dicairkan” dalam lingkup domestik, tetapi juga harus ditebarkan pada ranah publik, seiring dengan semakin kompleks dan rumitnya masalah-masalah yang harus diatasi.
Dalam UU No. 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera diungkapkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri dengan anaknya atau ibu dengan anaknya atau ayah dengan anaknya. Dari batasan lersebut, peran seorang ibu dalam lingkup domestik atau dalam lingkup keluarga memiliki entitas pengabdian yang tinggi. Ia menjadi “ruh” keluarga yang akan menjadi penentu ”mati hidupnya” sebuah paguyuban batih (keluarga), menjadi “pelepas anak panah” keluarga sesuai sasaran bidik yang dituju. Tidak jarang keluarga yang gagal dalam membangun fondasi kesejahteraan lantaran kekurangsiapan seorang ibu dalam menjalankan peran domestiknya.
Dalam konteks yang demikian itu, peran seorang ibu dalam memaksimalkan fungsi keluarga menjadi semakin penting untuk mendapatkan perhatian khusus. Yaumil Agus Achir mengungkapkan, setidaknya ada delapan fungsi keluarga, yakni fungsi sosial budaya, cinta kasih, perlindungan/proteksi, reproduksi, sosialisasi, pendidikan, ekonomi, danfungsi pembinaan lingkungan. Meskipun tidak mutlak menjadi tanggung jawab ibu sepenuhuya, kedelapan fungsi keluarga tersebut akan terwujud dalam tataran praktik hidup apabila diimbangi dengan kesiapan, kemampuan, dan kesanggupan seorang ibu dalam menjalankan fitrahnya di lingkup domestik.
Arus modernisasi yang demikian gencar menawarkan pergeseran dan perubahan pranata-pranata hidup dan nilai-nilai luhur buku, agaknya memiliki imbas yang cukup kuat terhadap masyarakat dalam menginternalisasi dan mengapresiasi fungsi keluarga. Keagungan sebuah keluarga sebagai entitas sosial dalam menyosialisasikan nilai-nilai luhur kepada para anggotanya, dinilai mulai semakin luntur. Para anggota masyarakat dalam mengapresiasi fungsi keluarga mengalami pergeseran dan perubahan. Keluarga tidak lagi dipandang sebagai “institusi” dan yang menjadi satu-satunya wadah yang cukup akomodatif dan adaptif terhadap selera dan atmosfer zaman yang sulit diduga.
Kondisi di atas, setidaknya juga dipengaruhi oleh pergeseran peran orangtua, yang semula diyakini sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap upaya pewarisan nilai dan tradisi, kini telah tereduksi sebagai pihak yang secara biologis sekadar menghadirkan seorang anak ke muka bumi. Bahkan, dalam banyak hal, orangtua sekadar dipahami sebagai pihak yang hanya memiliki otoritas ekonomi dalam rentang waktu tertentu hingga anak dinilai dewasa.
Seiring dengan itu, pandangan anak terhadap orangtua pun tidak lagi “sakral” dengan bentuk penghormatan yang optimal dan proporsional. Hubungan anak dengan orangtua melulu sebagai hubungan darah “‘kekerabatan” yang kehilangan basis moral dan spiritualnya. Tidaklah mengherankan kalau generasi masa kini menjadi sulit menerima petuah dan nasihat luhur orangtua. Mereka telah memiliki “referensi” tersendiri yang cocok dengan gejolak naluri purbanya.
“Anak buah” teknologi yang begitu canggih mentransfer berbagai bentuk kemasan informasi dan hiburan, menyebabkan anak menjadi rentan terhadap imaji kekerasan, kemanjaan, kemunafikan, dan hipokrit. Anak menjadi kehilangan kepekaan terhadap makna kearifan hidup. Sikap sabar, tawakal, tabah, telaten, dan tahan uji –yang merupakan entitas moral yang tinggi—telah menjelma ke dalam sikap hidup instan, kehilangan naluri “proses” dalam mendapatkan sesuatu. Kota-kota besar yang sarat gebyar materi akhirnya menjadi “ladang” subur bagi tumbuhnya generasi-generasi zaman yang menanggalkan sikap responsifnya terhadap iklim spiritual. Terjadi proses dereliginasi (pendangkalan agama), pembonsaian nilai-nilai kemanusiaan, dan involusi budaya di kalangan generasi muda. Bukan hal yang mustahil kalau sudah tak terbilang lagi jumlah remaja kita yang terjebak ke dalam lembah seks bebas, pesta “pil setan”, penyalahgunaan obat terlarang, tindak kekerasan, dan kriminal, atau ulah amoral lainnya.
Fenomena yang penuh pengingkaran terhadap ajaran agama dan moral di atas membutuhkan intensitas peran ibu sebagai pencerah peradaban dalam lingkup keluarga, yang pada gilirannya nanti akan benar-benar mampu melahirkan generasi-generasi bangsa yang unggul dan pinunjul, maju, mandiri dan tahan uji, sehingga kelak sanggup menghadapi kerasnya tantangan peradaban di era global.
Persoalannya ialah ketika banyak kaum ibu berbondong-hondong meninggalkan rumah, menggeluti peran publiknya sebagai wanita karier, mampukah sang ibu memaksimalkan perannya di ranah domestik yang mustahil dihindarinya? Sanggupkah sang ibu mengembalikan fungsi keluarga yang ideal di tengah kesibukannya menggeluti profesi? Pertanyaan semacam itu memang tidak mudah untuk dijawab. Peran ganda yang harus diemban kaum ibu masa kini, sering tidak bisa berjalan selaras dan serasi. Artinya, ada salah satu peran yang dikorbankan.
Dalam perspektif agama, kaum wanita (ibu) tidak dilarang untuk bekerja di luar rumah. Dalam Islam, kita mengenal para istri Rasulullah yang terkenal dengan keterampilannya di berbagai bidang. Aisyah sebagai ulama dan perawi hadis yang disegani, Saudah mahir dalam hal kerajinan tangan, bahkan Khadijah sukses dalam menggeluti bisnisnya. Namun, mereka toh tetap mampu mewujudkan keluarga sakinah, tidak mengorbankan peran domestiknya. Hal ini mengisyarakan, peran publik seorang ibu bukan menjadi penghalang untuk memaksimalkan peran ibu sebagai pencerah peradaban melalui lingkungan keluarga.
Yang penting dicermati kaum ibu ialah kejelian untuk memilih profesi yang memungkinkannya untuk tetap mampu menjadi ibu yang lembut bagi anak-anak dan istri yang setia terhadap suami. Artinya, pekerjaan yang bisa melalaikan fungsi ibu sebagai “pusat” pembentukan nilai dan “pancer” budaya keluarga, sebaiknya dihindari.
Huda Khaltab (1995:81-85) menyatakan, setidaknya ada tujuh bidang profesi yang bisa dipilih kaum ibu agar peran domestiknya tidak dikorbankan, yaitu bidang medis (dokter, perawat kesehatan, dan staf rumah sakit), bidang penyuluhan {pekerja sosial dan penasihat), bidang pengajaran (guru/tenaga administrasi), perancang dan penjahit, seni dan keterampilan, kesekretarisan, serta bidang media dan penerbitan.
Proses globalisasi yang setidak-tidaknya menawarkan tiga iklim: perdagangan bebas, hadimya teknologi komunikasi yang mahadahsyat, dan keterbukaan gelombang informasi (Wasari, 1997), memang tidak mungkin lagi memasung kaum ibu dalam kungkungan rumah tangga. Mereka juga dituntut untuk memberdayakan potensi dirinya, mewujudkan kebutuhan akan prestasi (need of achievement), dan mengaktualisasikan motivasi intelektualnya. Dalam keadaan demikian, kaum ibu idealnya menjadi sosok androgini; bisa tampil maskulin di ranah publik dengan capaian prestasi yang seimbang dengan kaum pria, sekaligus tidak menanggalkan sifat femininnya di ranah domestik yang tetap menjaga kelembutan, sikap keibuan, dan ketulusan kasih sayang terhadap suami dan anak-anak. Dengan sosok androgini ini, kaum ibu tetap akan mampu memaksimalkan perannya sebagai pencerah peradaban; peran luhur dan mulia yang sudah teruji lewat sejarah peradaban yang panjang, walaupun sang ibu sibuk meniti karier di panggung publik.
Hanya saja, kaum pria mestinya tidak bersikap “arogan”, mempersempit ruang gerak kaum ibu di sektor publik, serta mau memberikan legitimasi terhadap kemampuan dan “kekuatan” internal kaum ibu. Mitos konco wingking yang memosisikan kaum wanita (ibu) sebagai makhluk kelas dua harus dibebaskan. Perlu keberanian kaum pria untuk mengakui posisi dan martabat kaum wanita sebagai mitra yang benar-benar sejajar dengan dirinya. Sudah bukan saatnya lagi pembagian peran semata-mata didasarkan pada bias gender dan jenis kelamin minded, melainkan pada tingkat kapabilitas dan kredibilitasnya dalam mengakses peran. Nah, dirgahayu Ibu Indonesia! ***









































endar
Unknown dan
Unknown
Sunday, 21 December 2008 @ 20:17
walah malah nggak inget kalau besuk hari ibu. saya juga mengucapkan selamat hari ibu kepada semua ibu di indonesia terutama untuk ibu saya.
surga di bawah telapak kaki ibu
Baca juga tulisan terbaru endar berjudul Penipuan model baru bagi saya
Reply
arifudin
Unknown dan
Unknown
Sunday, 21 December 2008 @ 22:48
wahai ibuku………
engkaulah orang terhebat dalam hidupku……
“selamat hari ibu”
Baca juga tulisan terbaru arifudin berjudul Terima kasih ibu
Reply
tomy
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 07:48
kalau mau jujur dalam segala apapun yang kita kerjakan adalah demi kita sendiri, ‘hanya tentang kita’. demikian pula dalam menghormati orang tua khususnya Ibu. kita tak mengagungkan ibu kita namun lebih kepada ‘Nilai Diri Saya’ :wink:
halah ngomong apa iki :mrgreen:
Baca juga tulisan terbaru tomy berjudul ATUR PANGABEKTI
Reply
harianku
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 10:43
saya ada lagunya mas “Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.., hanya memberi tak harap kembali, soal nya uangnya pas mas, jadi ga ada kembaliannya”
btw hari bapak kapan yah xixixi…
Reply
azaxs
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 16:58
Selamat hari ibu…
Hari bapak ga ada ya pak? :grin:
Baca juga tulisan terbaru azaxs berjudul Trimakasih Ibu
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 21:09
masak lupa sih, mas endar, hehehehe … ya, selamat hari ibu juga, mas endar, semoga kita bisa memberikan persembahan yang terbaik buat ibu kita, amiin.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 21:09
wah, ucapan yang tulus dan mulia, mas arif.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 21:10
hehehe … kok malah tanya pada diri sendiri toh, pak tomy, hehehe … semoga kita tetep bisa memberikan persembahan yang terbaik buat ibu kita, pak.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 21:11
hehehe … dari awal lagunya dah runtut banget, mbak, tapi belakangnya kok seperti waktu kita beli sesuatu di toko, hehehe … walah, sejak jadul kan ndak hari bapak toh, mbak. itu menunjukkan betapa mulianya martabat seorang ibu.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 21:12
hehehe … naggak ada memang, mas azaxs. hari ibu merupakan salah satu upaya utk memuliakan kaum ibu yang demikian besar jasa dan pengorbanannya dalam melahirkan dan mendidik kita.
Reply
genthokelir
Unknown dan
Unknown
Monday, 22 December 2008 @ 22:25
SURGA MASIH TETAP DI TELAPAK KAKI IBU PAK
ibunya anak anak minta di temenin hahaha
Reply
Nyante Aza Lae
Unknown dan
Unknown
Tuesday, 23 December 2008 @ 08:21
Apapun ceritanya..Ibu adalah sosok yang tidak tergantikan..
Slamat Hari Ibu..Jayalah wanita Indonesia!
Baca juga tulisan terbaru Nyante Aza Lae berjudul Sebuah keegoisan!
Reply
Andy MSE
Unknown dan
Unknown
Tuesday, 23 December 2008 @ 16:53
Sebegitu pentingnya peran ibu, namun kok banyak ibu-ibu malah masrahin perannya ke pembantu… Weleh…weleh…
Baca juga tulisan terbaru Andy MSE berjudul Annual Report
Reply
masarif
Unknown dan
Unknown
Tuesday, 23 December 2008 @ 21:40
Alhamdulillah istri masuk diantara yang disebut Huda Khaltab
Baca juga tulisan terbaru masarif berjudul yourdomain.gi.la, domain gratis dari Gi.la
Reply
phil
Unknown dan
Unknown
Wednesday, 24 December 2008 @ 00:03
Ga ada yg bisa diucapkan lg selain “I love u MoM”.
ops:
Baca juga tulisan terbaru phil berjudul New LG Prada II
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Wednesday, 24 December 2008 @ 03:38
hehehe … ungkapan itu tak akan pernah berubah hingga akhir zaman, mas totok, hehehe …. btw, selamat menemani ibunya anak2, mas.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Wednesday, 24 December 2008 @ 03:40
betul sekali, mas kurnia. peran ibu selalu berpengaruh besar pada setiap peradaban.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Wednesday, 24 December 2008 @ 03:41
kekeke … konon idealnya sesibuk apa pun, seorang ibu jangan sampai melepeaskan perannya begitu saja kepada pembantu dalam mendidik anak, mas andy, hehehe ….
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Wednesday, 24 December 2008 @ 03:42
wah, alhamdulillah kalau begitu, mas arif, hehehe ….
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Wednesday, 24 December 2008 @ 03:42
wah, itu ucapan yang sangat menyentuh nurani seorang ibu, mas phil.
Reply
pencerah
Unknown dan
Unknown
Thursday, 25 December 2008 @ 00:18
Ribuan kilo, jalan yang kau tempuh. lewati rintangan demi aku anakmu
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Thursday, 25 December 2008 @ 11:52
bener banget, mas, tak ada sesuatu pun yang bisa menggantikan peran seorang ibu. demikian besar jasa dan pengorbanannya buat buah hati tersayang.
Reply
alifahru
Unknown dan
Unknown
Saturday, 27 December 2008 @ 17:18
Tiada kata untuk mengucapkan betapa besar jasa seorang ibu
Reply
marshmallow
Unknown dan
Unknown
Sunday, 28 December 2008 @ 16:51
membahas sosok ibu dan wanita memang tak ada habisnya, pak.
satu yang pasti, saya bangga menjadi seorang wanita dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
mudah-mudahan saya bisa secepatnya menjadi seorang ibu untuk melengkapi peran sebagai wanita.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 29 December 2008 @ 05:15
betul banget, mbak yulfi. makanya, saya sangat *halah* menghormati kaum perempuan. btw, mudah2an cepet menjadi seorang ibu, mbak, konon, salah satu “fitrah” kaum perempuan terletak di sana, hehehe … mbak yulfi pasti mampu menjadi seorang ibu yang baik dan bijaksana buat putra-putrinya kelak.
Reply
Daniel Mahendra
Unknown dan
Unknown
Monday, 5 January 2009 @ 00:41
Aku pun sangat mengagumi dan menghargai perempuan, Pak Sawali. Tapi kok sampai sekarang belum kebagian satu saja ya? Hehe!
Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Doa untuk Anak-anak Yahudi, Nasrani, dan Muslim di Timur Tengah
Reply