Selasa, 25 November 2014

Sunday, 14 December 2008 (20:15) | Cerpen, Sastra | 20499 pembaca | 122 komentar

Harus diakui, Ahmad Tohari terbilang sastrawan yang cukup produktif. Novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, dan Lintang Kemukus Dini Hari telah diterbitkan ke dalam berbagai bahasa. Apa sebenarnya yang menarik dari teks-teks kreatif Kang Tohari, sehingga mampu “menyihir” imajinasi banyak kalangan?

Dalam penafsiran awam saya, setidaknya sastrawan kelahiran Tinggarjaya, Jatilawang, Purwokerto, Jawa Tengah itu, memiliki tiga kekuatan. Pertama, memiliki gaya bertutur yang jernih, lincah, lugas, cablaka, dan bersahaja dalam meluncurkan ide-ide kreatif. Dia tak mau bertele-tele dengan menggunakan gaya metafor yang mbulet dan membikin kening pembaca berkerut.

Kedua, gigih menyuarakan derita kaum tertindas di tengah hegemoni penguasa yang serakah, hipokrit, dan ambisius. Tanpa kesan menggurui, dia mampu menggiring pembaca berempati terhadap kehidupan kaum paria yang penuh air mata, luka, dan darah.

Ketiga, konsisten mengangkat dunia santri dan budaya Jawa yang diyakini dapat menjadi “roh” kehidupan hakiki di tengah gerusan modernisasi yang mengglobal dan kosmopolitan. Berangkat dari keakraban pada dunia santri dan filsafat Jawa, lewat patron tokoh-tokohnya, Kang Tohari –meminjam istilah Bakdi Sumanto—tapa ngrame. Dia mengembara dalam atmosfer kehidupan yang makin licik; licin, melingkar, sekaligus menjerat.
***

Belantik yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2001). Dalam novel setebal 142 halaman ini, Kang Tohari “menghidupkan” tokoh Lasi. Perempuan kampung Karangsoga yang cantik, eksotis, dan menggairahkan mata lelaki itu gagal membangun rumah tangga karena dikhianati Darsa, sang suami. Lasi menumpang truk pengangkut gula aren dan terdampar di Jakarta yang menaburka bau kemewahan.

Lasi yang cantik dan menggiurkan, menggerakkan naluri bisnis Bu Lanting, mucikari kelas kakap. Dia pun jatuh ke dalam pelukan Handarbeni, lelaki tua kaya raya, tetapi impoten. Lasi hidup di tengah kemanjaan dan gelimang kemewahan, tetapi tidak bahagia. Dia justru gelisah dan kesepian.

Lepas dari Handarbeni, Lasi jatuh dalam cengkeraman Bambung, lelaki berdaya berahi dan pengaruh luar biasa, pelobi ulung, broker politik dan kekuasaan. Bambung cukup disegani kalangan politisi, pejabat, dan konglomerat. Hampir semua proyek besar di Indonesia tak pernah luput dari tangannya. Namun, dengan segenap kepolosannya, Lasi masih mampu mempertahankan kesuciannya.

Daya pikat Jakarta, kota metropolitan yang diserbu kaum urban, tak sanggup membuat Lasi melupakan ketenteraman dan ketenangan Karangsoga, kampung kelahirannya. Dia belum bisa melupakan Darsa. Kepada lelaki itulah dia pernah menghadirkan keutuhan diri sebagai istri sempurna. Sayang, Darsa berkhianat; menghamili gadis sekampung.

Lasi juga teringat Kanjat. Lelaki teman sepermainan waktu kecil yang kini menjadi dosen itu diam-diam bersemayam di hatinya. Lain saat, wajah Mak Wiryaji, emaknya yang jujur dan sederhana, tampil dalam layar benaknya. Demikian juga Eyang Mus, imam surau yang selalu suntuk menyiramkan kesejukan ajaran Illahi.

Kerinduan itu membuat Lasi nekad kabur dari cengkeraman Jakarta. Tiba di Karangsoga, Lasi kembali menemukan dunianya. Apalagi, Kanjat masih seperti dulu; ramah dan penuh pengertian. Namun, Lasi masih dihantui bayangan Bu Lanting dan Bambung. Entah kenapa, seperti mampu menangkap geliat batinnya, Eyang Mus yang arif mengawinkan Lasi dan kanjat secara syariat; sah secara agama, tetapi belum sah secara hukum.

Rupanya permainan belum berakhir. Bambung terus memburu bekisar merah, sebutan bagi perempuan cantik seperti Lasi, miliknya yang kabur. Lewat tangan Bu Lanting dan aparat kepolisian, Bambung “menerbangkan” Lasi kembali ke Jakarta. Seiring dengan itu, Kejaksaan Agung gencar mengusut kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang diduga melibatkan para pejabat dan orang penting. Bambung termasuk salah seorang koruptor yang diincar. Lasi pun diperiksa sebagai saksi.

Kasus yang gencar diberitakan berbagai media massa itu membuat Kanjat merasa perlu menyelamatkan sang istri. Setelah diperiksa secara maraton, Lasi dinyatakan bebas dan bisa kembali ke Karangsoga bersama Kanjat.
***

Secara tematis, novel ini mampu menghadirkan intrik seks dalam lingkaran kekuasaan belantik politik dan kekuasaan; memikat dan menghanyutkan. Lewat gaya ucapnya yang khas, Kang Tihari mampu menumbuhkan empati pembaca terhadap nasib kehidupan Lasi, sekaligus mengutuk perilaku si bebek Manila, Bu Lanting, dan si bajul buntung, Bambung, yang korup, ambisius, dan serakah.

Seperti dalam novel-novel sebelumnya, Kang Tohari menghadirkan “kolaborasi” antara dunia santri dan budaya Jawa sebagai dasar falsafi dalam memahami arus utama peradaban yang makin kapitalistis, konsumtif, dan hedonis. Tak luput, secara pedas dia mengkritik klaim keberhasilan pembangunan yang sesungguhnya menyengsarakan dan membodohi rakyat.

Simak saja penuturan berikut ini!

… Namun bersamaan denga itu berlangsung pembusukan moral berupa pengingkaran terhadap asas-asas bernegara republik serta meluasnya korupsi, kolusi, dan nepotisme ….. Lebih jauh orang bilang, kemajuan yang sering diklaim sebagai hasil usaha pemerintah sesungguhnya hanya sehelai kertas yang menutupi borok-borok besar di bawahnya … Dan, Lasi hanyalah satu di antara hamoir 170 juta manusia yang tidak akan pernah pengerti permainan tingkat tinggi di Indonesia. (hal. 43)

Alhasil, novel ini setidaknya mampu memberikan “katharsis” dan pencerahan kepada pembaca, yakni untuk mendengarkan kejernihan suara hati dalam memahami fenomena hidup dan kehidupan yang makin amburadul oleh “pedang” kekuasaan. Dalam dunia seperti itulah banyak “belantik” bermain mengambil keuntungan. ***

Tulisan berjudul "Kekuasaan dan Seks dalam Novel Belantik" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 December 2008 @ 20:15) pada kategori Cerpen, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Pelajaran Bahasa Indonesia: Antara Sains dan Humaniora (Friday, 20 December 2013, 289537 pembaca, 17 respon) Kurikulum 2013 yang kontroversial itu sudah diberlakukan di sekolah-sekolah sasaran pada tahun pelajaran 2013/2014. Pada tahun pelajaran 2014/2015...

Maman S. Mahayana dan Tanggung Jawab Moralnya sebagai  Seorang Kritikus Sastra (Wednesday, 20 November 2013, 134694 pembaca, 5 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Nama Maman S. Mahayana dalam dunia sastra Indonesia bukanlah sosok yang asing. Kiprahnya dalam ranah kritik sastra Indonesia...

Perempuan yang Menggelisahkan ASA (Thursday, 7 November 2013, 134588 pembaca, 13 respon) Oleh Nailiya Nikmah JKF “Bukankah kau perempuan?” …. “Aku? Perempuan? Pertanyaan apa itu.”   1 Ada dua hal yang menjadi kebutuhan...

Jalan Puisi: Kembalikan Daulat Sungai (Monday, 21 January 2013, 82641 pembaca, 25 respon) Pengantar Diskusi Sastra Malam Sabtu Jalan Puisi: Kembalikan Daulat Sungai “Selamat datang Aruh Sastra Kalsel X di kota Banjarbaru tahun...

Repertoar “Kursi” dalam Pentas Teater Gema IKIP PGRI Semarang (Monday, 5 November 2012, 72793 pembaca, 27 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Jika tak ada aral melintang, Teater Gema IKIP PGRI Semarang akan menggelar pentas teater dengan mengusung repertoar...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

122 komentar pada "Kekuasaan dan Seks dalam Novel Belantik"

  1. khamiL says:

    Wah ini benar2 Novel Kritik Sosial yang hebat. Di mana terkandung pesan moral untuk mengikis tabiat2 bejat. Perlu banyak novel seperti ini

  2. awandragon says:

    Infonya Bagus gan…………….

Leave a Reply