Home | Negeri Kelelawar, Politik, Refleksi, Sastra | Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4)

Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4)

Monday, 8 December 2008 (21:18) | 464 pembaca | 96 komentar | Print this Article

Kisah ini merupakan bagian ke-4 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), dan Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3)!

kelelawar1Tertembaknya empat kelelawar aktivis yang sedang mengepung gedung wakil rakyat, membuat situasi negeri kelelawar semakin kacau dan tak menentu. Pers memblow-up-nya habis-habisan. Headline surat kabar penuh aroma anyir darah. Layar gelas pun belepotan warna merah darah. Bahkan, para bloger kelelawar yang kebetulan juga seorang aktivis berlomba adu cepat untuk memoting peristiwa tragis itu, lengkap dengan beragam gambar yang dicomot dari sana-sini. Para pendekar demokrasi yang selama ini bertapa di lembah, ngarai, dan goa serentak turun gunung. Mereka menyuarakan kepedihan yang sama, sekaligus mengutuk aksi represif yang nyata-nyata dinilai telah mengingkari nilai-nilai kekelelawaran.

“Sungguh biadab! Tidak seharusnya demostran dilawan dengan senjata! Kalau mereka demo, pasti ada yang ndak beres! Mestinya, mereka yang sedang duduk di kursi kekuasaan mawas diri. Jangan gampang memerintahkan aparat untuk menembaki demostran. Itu bukan cara-cara negeri kelelawar yang dikenal santun dan beradab!” tutur seekor kelelawar berperut buncit yang baru saja bangkit dari pertapaannya. Sesekali kedua bola matanya berkeriyap dari balik kaca mata minusnya yang tebal. Pernyataan kelelawar yang selama ini dikenal sebagai penggagas forum demokrasi itu karuan saja menjadi incaran nyamuk-nyamuk pers. Mereka dengan sigap melontarkan pertanyaan-pertanyaan miris.

“Kira-kira siapa yang berdiri di belakang peristiwa itu, Pak?” cecar seorang wartawan. Berkali-kali jidat kelelawar yang klimis itu tampak mengkilat diterpa cahaya lampu blitz para juru foto.

“Sebagai wartawan, Anda mestinya lebih tahu dong? Saya kan baru saja turun gunung! Saya tak mau berpraduga!”

“Tapi Bapak pasti sudah dengar info akurat dari para pengikut Bapak yang tersebar di berbagai pelosok negeri!”

“Sekali lagi, saya tak mau berpraduga! Jangan paksa saya!”

Para wartawan kecewa. Mereka gagal mengorek berita penting dari seorang tokoh demokrasi yang selama ini dipuja banyak kekelawar karena pandangan-pandangannya yang moderat dan toleran. Kelelawar bertubuh tambun itu juga dikenal sebagai sosok yang gencar melakukan pembelaan terhadap kelompok minoritas.

Belum tuntas mereka mengorek keterangan dari tokoh demokrasi itu, mendadak terdengar suara jerit tangis yang memilukan. Merasa kurang nyaman, kelelawar bertubuh tambun itu bergegas terbang, entah ke mana, diikuti ratusan anak buahnya. Para wartawan serentak membelalakkan bola mata. Suara jeritan tangis yang memilukan itu kian menjadi-jadi. Karena penasaran, para wartawan dan para kelelawar yang lain terbang melintasi kawasan perkotaan yang diselimuti kabut asap. Rupanya, selama ini telah terjadi berbagai peristiwa di luar dugaan. Di sana-sini terlihat ban-ban bekas yang dibakar sepanjang jalan. Tak hanya itu. Gedung, kios, atau toko juga banyak yang hangus terbakar. Agaknya, ruang-ruang bisnis itu telah menjadi sasaran amuk massa. Tak jelas, apa motifnya.

Yang lebih menyedihkan, kelelawar-kelelawar perempuan dari kelompok etnis tertentu jadi korban nafsu yang lebih kejam dan biadab. Mereka dikejar-kejar, lantas diperkosa beramai-ramai secara bergiliran. Sungguh, benar-benar peristiwa memalukan dari sebuah negeri yang selama ini dikenal sangat santun dan beradab.

Melihat situasi yang makin tak terkendali dan desakan dari berbagai lapisan dan komponen masyarakat, wajah Ki Gedhe Padharane yang tampak kuyu dan tua muncul di layar TV. Diikuti para pajabat yang masih setia, Ki Gedhe Padharane dengan suaranya yang berat menyatakan kesediaannya untuk mundur dan lengser keprabon. Senyum khas yang selama ini bertaburan di depan publik seperti lenyap entah ke mana. Untuk melanjutkan kekosongan kekuasaan, Ki Gedhe Padharane menyerahkan tahta dengan segenap kemegahan istana yang selama ini dinikmati bersama keluarga dan kroni-kroninya, kepada wakilnya, Ki Jantur Branjangan.

Serentak, jutaan rakyat negeri kelelawar bersorak. Mereka seperti memasuki dunia baru. Sebuah perubahan besar membayang di setiap kepala. Rezim tirani yang selama ini dikenal kuat dan berpengaruh itu akhirnya tumbang juga. Semua kekelawar dari berbagai lapisan dan sudut-sudut kampung berterik: “Hidup reformasi!”

Ya, ya, ya! Akhirnya, angin reformasi berhembus juga di negeri kelelawar. Namun, sejumlah persoalan yang rumit dan kompleks sudah menghadang di depan mata. Jumlah utang luar negeri yang bejibun, jutaaan rakyat yang terluntas-lunta dalam kubangan lumpur kemiskinan, angka pengangguran yang membengkak, harga-harga kebutuhan pokok yang belum juga terkendali, bahkan krisis moneter yang belum juga berakhir, merupakan tugas dan PR berat buat pemegang amanah reformasi. Belum lagi persoalan hukum, pendidikan, sosial-budaya, atau politik yang masih silang sengkarut.

Akankah negeri kelelawar akan berubah menjadi sebuah negeri yang adil dan makmur setelah kekuasaan beralih ke tangan Ki Jantur Branjangan? Atau justru memicu lahirnya petualang-petualang politik yang ingin memanfaatkan situasi? Aha, agaknya, sang waktu yang akan menjawabnya. (Bersambung) ***

Kategori: Negeri Kelelawar, Politik, Refleksi, Sastra | Tags: ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKIB II dan Pupusnya Kekuatan Oposisi (Friday, 23 October 2009, 429 pembaca, 157 respon) Didampingi Wapres, Budiono, Presiden SBY telah melantik dan mengambil sumpah para menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) di istana negara pada hari Kamis, 22 Oktober 2009. Berikut ini daftar menteri dan pejabat negara dalam kabinet baru yang...
imgSang Togog yang Terkebiri dan Terpinggirkan (Saturday, 30 May 2009, 735 pembaca, 69 respon) Dalam jagad pakeliran wayang purwa, nama Togog sudah cukup dikenal. Dia digambarkan sebagai sosok bermata juling, hidung pesek, mulut lebar dan ndower, tak bergigi, kepala botak, rambut hanya sedikit di tengkuk, bergelang, berkeris, bersuara bass. Pada...
imgPerlukah Pendidikan Politik Masuk Kurikulum? (Thursday, 5 March 2009, 1,610 pembaca, 101 respon) Menjelang Pemilu, atmosfer dunia pendidikan agaknya tak kalah seru. Jenjang pendidikan SMA, SMK, atau MA menjadi target untuk mendulang suara dari pemilih pemula. Naluri politik para politikus negeri ini agaknya telah mencium kalau dunia pendidikan bisa...
imgIsu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7) (Monday, 2 March 2009, 598 pembaca, 68 respon) Kisah ini merupakan bagian ke-7 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah...
imgPolitik, Demokrasi, dan Anarki (Thursday, 12 February 2009, 3,835 pembaca, 169 respon) Dinamika politik dan demokrasi di negeri ini, dengan nada sedih harus dikatakan, (hampir) tak dapat dipisahkan dari anarkisme. Sebagai sebuah aliran, anarkisme merupakan teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4)" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Monday, 8 December 2008 (21:18)) pada kategori Negeri Kelelawar, Politik, Refleksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

96 Responses to "Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4)"

  1. marsudiyanto says:
    Menggunakan Firefox 3.0.5 Firefox 3.0.5 pada Windows XP Windows XP

    Pokoke aku durung marem nek Pak Sawali durung nulis NEGERI GARUDA…

    Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul Saya Pektay?

  2. Gelandangan says:
    Menggunakan Firefox 1.5.0.7 Firefox 1.5.0.7 pada Windows XP Windows XP

    ini part terakhir mengenai negeri kelelawar atau masih ada sambungannya mas ?

  3. Menggunakan Firefox 3.0.4 Firefox 3.0.4 pada Windows Vista Windows Vista

    Wah, rupanya masih panjang cerita negeri antah berantah ini, Pak?
    Reformasi? Aduh, kalau di KBBI sih ada. Tapi di Negeri Kelelawar… Hmm-hmm… Mesti diredefinisi kayaknya… ;)

    Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Seandainya Jakarta Bukan Ibukota Negara

  4. Fikar says:
    Menggunakan Firefox 3.0.4 Firefox 3.0.4 pada Ubuntu 8.10 Ubuntu 8.10

    kyk cerita batman nih, hhe…

    Baca juga tulisan terbaru Fikar berjudul Coltrane

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (170 queries: 0.921 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP