Labirin Sukma: Potret Kepribadian yang Terbelah
Sunday, 30 November 2008 (12:35) | 215 pembaca | 60 komentar | Print this Article
Usai sudah Gelar Budaya 2008 (GB08) itu. Teater Semut (TS) menggelar event itu dengan torehan “tinta budaya” yang manis menjelang berakhirnya tahun 2008 ini. Diawali dengan lomba penulisan cerpen tingkat Kabupaten Kendal dan baca puisi tingkat Jawa Tengah, 23 November, acara berlanjut pementasan teater dengan mengangkat repertoar “Labirin Sukma” yang ditulis dan disutradari sendiri oleh Aslam Kussatyo, sang komandan TS. Bisa jadi, pentas itulah yang paling banyak menguras kreativitas para awak TS dalam GB08 ini. Maklum, TS sudah menjadi “brand image” dalam dunia panggung di kota beribadat ini, bahkan juga di level Jawa Tengah. Sangat tidak berlebihan kalau para pemain suntuk berlatih hampir sebulan lamanya untuk mementaskan lakon berdurasi 45 menit itu.
Walhasil, tidak sia-sia para kru TS menguras kreativitas. Tata panggung, tata lampu, tata rias, dan tata musiknya mampu menyatu bersama karakter pemain sehingga berhasil menyuguhkan sebuah pentas yang cerdas, “liar”, dan menghanyutkan. Tak heran kalau pentas yang berlangsung Sabtu, 29 November 2008 (pukul 20.00-20.45), di aula kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Kendal itu mampu memukau sekaligus mengundang aplaus sekitar 80-an orang yang hadir.










Dalam suasana temaram lampu, dua orang tokoh (A dan B) bertemu dalam sebuah perjumpaan nasib tak terduga yang sama-sama sedang menunggu sebuah kereta. Namun, agaknya mereka sudah saling mengenal. Tokoh A yang bertubuh tambun dan berperut buncit bisa dibilang mewakili sosok kaum elite dengan segenap simbol-simbol kekuasaan yang berada dalam genggaman tangannya. Sedangkan, tokoh B yang bertubuh kerempeng dan kurus identik dengan sosok kaum marginal, tetapi punya pandangan-pandangan kritis, bernyali, dan sekaligus juga cerdas.
Begitulah, dialog antara tokoh A (Nashori) dan B (Sofyan Hadi) terus berlangsung selama pertunjukan. Sesekali ditingkah adegan-adegan kekerasan akibat sentilan-sentilan nakal yang tak henti-hentinya digelontorkan oleh tokoh B.
“Anda memang banyak berkiprah memberikan sumbangan ke panti-panti sosial, membantu anak yatim, menyumbang masjid, atau kegiatan-kegiatan sosial yang lain. Tapi, ufh, semua itu bukan karena ketulusan dan keikhlasan nurani, tapi lebih karena arogansi kekuasaan semata,” teriak si kerempeng. Dituduh semacam itu, si Tambun jelas tak bisa menerima. Dengan argumen-argumen yang kuyup dengan bahasa khas kaum elite, si Tambun menampik bahwa semua tuduhan itu tidak benar.
Si Kerempeng tak mau kalah. Namun, ketika konflik mulai memuncak, tiba-tiba saja terdengar deru kereta di kejauhan. Irama musik perkusi yang rancak membuat suasana jadi ingar-bingar. Si Tambun dan si Kerempeng merasa bahwa kehadiran kereta itu untuk menjemput dirinya. Mereka saling berebut untuk bisa naik ketika kereta itu sudah dekat. Namun, ternyata kereta itu tak pernah berhenti. Kembali mereka harus menelan kekecewaan untuk yang ke sekian kalinya. Setiap kali datang, kereta itu tak pernah mau berhenti. Tak ayal, mereka saling menyalahkan dan kembali terlibat dalam perdebatan seru.
“Anda tak lebih dari seorang antisosial yang bertopeng pada kekuasaan!” teriak si Kerempeng dengan keringat yang berleleran. Si Tambun jelas murka. Dikejarnya si Kerempeng hingga akhirnya mereka berdua terjebak ke dalam sebuah labirin (lorong goa). Mereka tampak kelelahan dan susah-payah untuk bisa keluar dari jebakan labirin itu hingga akhirnya mereka tak memiliki nafsu lagi untuk berdebat.
Namun, agaknya kisah belum selesai. Dalam suasana tensi emosi yang tinggi, mereka gampang sekali tersinggung hanya melalui sentilan kata-kata sepele. Kembali mereka berdua terlibat dalam perbedatan sengit tentang masalah-masalah moral, kemanusiaan, dan sosial. Sesekali ditingkah dengan adegan kekerasan, bahkan sudah menjurus kepada nafsu untuk saling membunuh.
Begitulah, ketika mereka bernafsu untuk saling membunuh, tiba-tiba muncul musibah tak terduga. Prahara –digambarkan dengan layar yang digerakkan dengan kekuatan penuh—memorak-porandakan dan membanting tubuh mereka ke sana kemari. Suasana benar-benar chaos hingga akhirnya mereka berdua benar-benar tak bisa berkutik lagi. Selesai!
Sungguh, lakon ini benar-benar mencerahkan batin penonton. Dalam pemahaman awam saya, tokoh-tokoh yang dihadirkan merupakan tipikal orang yang sedang mengalami kepribadian terbelah (split personality). Baik si Tambun maupun si Kerempeng sama-sama konyolnya. Mereka gampang sekali melakukan justifikasi terhadap kata-kata dan tindakannya sendiri. Padahal, mereka mempunyai tujuan yang sama. Mereka sama-sama menunggu sebuah kereta. Namun, agaknya mereka terlena dan terjebak ke dalam persoalan egoisme hingga meruncing menjadi konflik dan kekerasan. Dalam kondisi semacam itu, mereka jadi lupa esensi dan tujuan yang hendak mereka capai.
Bisa jadi, repertoar ini dimaksudkan sebagai sebuah kritik terhadap kondisi riil masyarakat kita yang gampang sekali terkompori dan rentan terhadap konflik dan kekerasan. Masyarakat kita yang cenderung mengalami kepribadian terbelah atau –meminjam istilah Emile Durkheim—sedang mengalami kondisi anomie pun agaknya tak sanggup menghindar dari jeratan “labirin” semacam itu. Sudah berapa kali konflik dan kekerasan horisontal berbasis sentimen priomordialisme sempit terjadi di negeri ini. Sangat beralasan kalau kita selalu ketinggalan kereta akibat sibuk bertengkar dan cakar-cakaran sendiri. Orang lain sudah melaju mulus di tengah jalan tol peradaban dunia, kita masih berkutat di semak-semak.
Yaps, selamat kepada semua awak TS yang telah sukses menggelar acara Gelar Budaya tahun ini. Semoga makin eksis untuk terus berkiprah dalam merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal melalui event-event budaya. Selamat juga kepada para pemenang lomba tulis cerpen dan baca puisi, semoga menjadi awal yang bagus untuk terus menggali dan mengeksplorasi potensi diri dalam jagad kesastraan Indonesia mutakhir. ***


















marsudiyanto | Sunday, 30 November 2008 @ 12:45
Saya mbaca dari siini aja, selaiin ngapresiasinya gampang juga bebas.
Labirin itu yang seperti petak umpet itu ya. Apa masih ada hubungannya dengan Sobirin?
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 00:57):
hehehe … kok tekan sobirin. *halah* kemarin mau ajak pak mar nonton jadi ragu saya, hehehe ….
Reply
Iwan Awaludin | Sunday, 30 November 2008 @ 13:11
Kita sibuk bertengkar karena mungkin kita lebih suka bicara daripada bekerja.
Baca juga tulisan terbaru Iwan Awaludin berjudul Ubuntu di USB Flash Drive
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 00:58):
bisa jadi begitu, pak iwan. karena kebanyakan ngomong akhirnya tugas dan pekerjaan dilupakan, hiks.
Reply
hendra | Sunday, 30 November 2008 @ 14:00
pak sawali, minta alamat emailnya ntar tak kasih link download themenya., theme yg ini, emang ndak tak sebarkan pak, tolong kasih alamt emailnya ke blogku yah pak, ntar tak kasih link buat download themenya pak, sekalian tak kasih licensi codenya pak :d:d
Baca juga tulisan terbaru hendra berjudul wordpress theme dengan SEO terbaik
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 00:59):
terima kasih, mas hendra. theme sudah berhasil saya unduh. tapi masih bingung nginstalnya, hiks.
Reply
mantan kyai | Sunday, 30 November 2008 @ 14:03
labirin sodaranya sobirin. masih sepupu sama sodikin. *ngelirik pak mar*
eh nuwun sewu pak sawali
Baca juga tulisan terbaru mantan kyai berjudul Berbicara Bahasa
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 01:00):
kekeke … kok dikait-kaitke karo jenenge tanggaku ki piye toh, mas ardy, haks.
Reply
Epat | Sunday, 30 November 2008 @ 16:37
wah ternyata istilahnya plit personality toh…. to be honest saya sering mengalami hal tersebut saat terkadang kehilangan fokus. biasanya saat kondisi-kondisi aneh itu mulai menghinggapi diri, saya ambil langkah kebelakang dulu sesaat, semeleh, meletakkan semua beban dan target. setelah jernih isi kepala dan hati baru kembali memetakan kefokusan.
halah, kok jadi curhat? hahaha sepuntene pak sawali…tapi cerita diatas apik banged
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 01:03):
hehehe … konon orang yang sedang mengalami split personality memang jadi sensitif. serba tidak stabil kondisi batinnya. hal itu tercermin pada kedua tokoh yang dipentaskan itu. walah, solusi yang mas epat ambil bagus juga tuh. kita perlu juga ganti haluan sejenak sebelum kita benar2 kehilangan fokus.
Reply
dtxc | Sunday, 30 November 2008 @ 17:43
wah postingan baru muncul setelah reader saya mendapatkan feed postingan tentang lesbian dari situs ini pak sawali. ada apa gerangan? apakah situs pak sawali kena injection?
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 01:04):
aduh, maaf banget, mas det. saya jadi heran juga, kenapa blog ini jadi rentan dibobol orang, hiks. keyaknya kejadian posting misterius itu berlangsung malam hari, mas det. langsung saja saya del. mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, mas.
Reply
toim | Sunday, 30 November 2008 @ 17:44
mungkin itu jg penyebab negeri “kelelawar” ini gak maju2
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 01:05):
wew…. kok malah dikaitkan dengan negeri “kelelawar”, haks. mas toim ada2 saja nih.
Reply
budi tarihoran | Sunday, 30 November 2008 @ 17:56
labirin !!!
adiknya bang sabirin senior q tah!!
:d/:d/:d/
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 01:06):
walah, sangat beda konteksnya, mas budi, hehehe … kok jadi dikaitkan dg nama tetanggaku itu gimana? hiks.
Reply
endar | Sunday, 30 November 2008 @ 21:01
jadi ingat waktu masih sekolah/kuliah kalau mau pentas musik/teater saya cuma kebagian tugas angkut-angkut properti.
saya besuk juga harus naik kereta nih pak
Baca juga tulisan terbaru endar berjudul Harga blog
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 01:07):
hehehe … sepertinya mas endar pernah juga aktif terlibat dalam pementasan teater. btw, selamat jalan dan selamat menunaikan tugas, mas, semoga lancar, selamat, dan sukses.
Reply
zoel | Sunday, 30 November 2008 @ 23:15
wahhh saya selalu salut liat orang yang ikut teater kek itu… soalnya saya demam panggung… hahahahhahahah
Baca juga tulisan terbaru zoel berjudul I’m In Love
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 01:07):
hehehe … pernah mencoba main teater juga toh, mas zoel?
Reply
aRuL | Monday, 1 December 2008 @ 01:27
panggung teaternya mantap banget..
semoga ada pejabat yang melihatnya dan juga bisa mejadikan pelajaran
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 20:57):
terima kasih, mas arul, apresiasinya. begitulah pentas yang terjadi, mas arul hehehe …..
Reply
antown | Monday, 1 December 2008 @ 05:00
mantap, pak…
gimana kabarnya nih….
Baca juga tulisan terbaru antown berjudul Lari ke Bandung
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 20:57):
alhamdulillah, sehat, mas anto. makasih sudah berkenan mampir.
Reply
Syamsuddin Ideris | Monday, 1 December 2008 @ 06:48
Sebuah pagelaran budaya yang enak untuk dinikmati. Saya senang membaca jalan cerita dari laporan selayang pandang Pak Sawali. Jarang sekali saya menyaksikan pagelaran seni seperti ini di tempat kami.
Penggambaran dan simbolisasi tokoh memang mewakili kalangan elite dan marginal. Sebuah pertaruhan hidup yang ironis dan mengiris hati.
Baca juga tulisan terbaru Syamsuddin Ideris berjudul Diskriminasi Akademis
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 20:58):
terima kasih apresiasinya, pak syam. gelar budaya memang rutin digelar tiap tahun, pak syam. alhamdulillah makin tahun makin banyak diminati. wah, terima kasih juga analisisnya, pak.
Reply
L 34 H | Monday, 1 December 2008 @ 10:25
Dengan membaca postingan pak sawali, saya sudah bisa merasakan sesuatu yang luar biasa dari pertunjukan itu.
Selamt buat TS dan buat pak sawali heueeh
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 20:59):
hehehe … matur nuwun, mbak leah, apresiasinya. insyaallah salam akan saya sampaikan ke teman2 TS.
Reply
okta sihotang | Monday, 1 December 2008 @ 11:35
sekarang orang pada berpikir dangkal mas sawali.
contohnya kayak masalah lapotuak kemarin, jadinya kita saling berburuk sangka kepada sesama cuma gara2 seorang yang “NGGAK JELAS siapa”.
Intinya, marilah sekarang ini kita saling berpikir dewasa dan jangan dengan hati panas. biar damai, karna damai itu indah, ya kan mas
Baca juga tulisan terbaru okta sihotang berjudul 1 Desember 2008
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 21:00):
wah, ajakan yang simpatik, mas okta. saya setuju banget.
Reply
marshmallow | Monday, 1 December 2008 @ 12:04
saya jadi turut menyaksikan pentas teaternya hanya dari membaca laporan pandangan mata pak sawali berikut foto-fotonya yang kronologis sekali.
prejudice memang kejam ya, pak? manusia jadi sering lupa tujuan perjalanannya sendiri karena dibelokkan dan terdistraksi oleh perjalanan orang lain, yang kadang-kadang sebenarnya tak bersinggungan dengan kehidupannya.
hmm… agaknya kita memang musti lebih fokus pada tujuan hidup sendiri sebelum menilai hidup orang lain.
Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Gold Coast Day1: The Three Backpackers
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 21:02):
walah, terima kasih apresiasinya, mbak yulfi. ambil gambarnya hanya sekenanya saja kok, hiks. begitulah, penggambaran karakter manusia di atas panggung, mbak. seringkali orang punya kecenderungan utk merasa bahwa dirinyalah yang paling bener sehingga seringkali pula lupa tujuan utamanya.
Reply
Nyante Aza Lae | Monday, 1 December 2008 @ 12:57
pas banget mas..kita masih picik..slalu aja mempermasalahkan hal2 “khilafiyah”…yg prinsip g kpikir…
Baca juga tulisan terbaru Nyante Aza Lae berjudul RSCD (Rumah Sakit Capek Deh……)
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 21:03):
agaknya begitu, mas kurnia. meski hanya berupa penggambaran karakter manusia di atas panggung, agaknya bisa juga jadi cermin realitas yang sesungguhnya.
Reply
Masenchipz | Monday, 1 December 2008 @ 14:33
he..he.. keretanya gak mo terima orang ribut ya? he..he..
Baca juga tulisan terbaru Masenchipz berjudul Bisnis domain forged
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 21:04):
hehehehe … bisa jadi begitu, mas encips, hiks. makanya kereta ndak pernah mau berhenti.
Reply
icha | Monday, 1 December 2008 @ 19:57
wah sayang gak bisa menonton langsung, pak…
saya suka sekali bahasa teater yang simbolik dan menangkap pesan realitas. membaca teater ini seperti mengembalikan semua pertanyaan ke kita sendiri, dimana kita berdiri sekarang?
satu catatan, dalam dunia realitas tak hanya si tambun dan si kerempeng yang menjadi pemainnya, ada tokoh abu-abu yang kadang bersikap oportunis.iya kan pak?
Baca juga tulisan terbaru icha berjudul Hari AIDS Sedunia
Reply
Sawali Tuhusetya (December 1st, 2008 @ 21:06):
wew… kepinginnya sih ngajak mbak icha nonton, hiks, tapi mustahil itu, weks. btw, begitulah gambaran karakter manusia secara hitam putih di atas panggung, mbak icha. duh, repotnya kalau harus menghadapi tokoh abu2. suka melakukan petualangan dan cari celah utk mencari keuntungan bagi diri sendiri dan kelompoknya. duh!
Reply
Ersis Warmansyah Abbas | Monday, 1 December 2008 @ 21:43
Wow … serasa menyaksikan. Bravo Pak.
Baca juga tulisan terbaru Ersis Warmansyah Abbas berjudul Lingkungan Pembunuh
Reply
Sawali Tuhusetya (December 3rd, 2008 @ 00:38):
makakasih, matur nuwun, pak ersis, hehehe ….
Reply
suwung | Tuesday, 2 December 2008 @ 09:53
jadi inget waiting for godot
Reply
Sawali Tuhusetya (December 3rd, 2008 @ 00:38):
wah, karya samuel becket itukah, mas suwung?
Reply
VENNY ZEGA... (BOCAH SEMUT ) | Tuesday, 2 December 2008 @ 15:12
:”> Ngintip lagi deh KETIKAN PAK SAWALi…
Hihihi….
KEREN deght…, sampe2 TANGANku… UNFORTURABLE buat ngetik lagi. :d
pak, sayangnya… gak ada POTRET ketua panitia yang di pajang di sini.
Wakakakkakaka… ( Just A Joke Boss)
Bravo Buat Semua Tulisan pak sawali dah
Reply
Sawali Tuhusetya (December 3rd, 2008 @ 00:37):
hehhe … mbak venny bisa aja nih. duh kepnapa saya jadi lupa ambail gambar ketua panitianya, yak, kekekeke …..
Reply
Daniel Mahendra | Wednesday, 3 December 2008 @ 04:27
Kalau kuperhatikan, Kabupaten Kendal ini aktif dan rajin sekali menggelar acara berkesenian ya, Pak Sawal. Itu pun tahunya dari postingan Pak Sawal (rupanya tulisan-tulisan Pak Sawal lebih kuat gongnya ketimbang media massa, hehe. Terbukti aku jadi tahu betapa Kendal pun riuh dengan acara kesenian. Tanpa itu, barangkali aku belum pernah tahu).
Di Bandung event seperti ini bisa setiap minggu, Pak Sawal. Sehingga menjadi sesuatu yang biasa serta rutin belaka. Tinggal pilih saja. Tapi menjadi menarik ketika mengetahui Kabupaten Kendal pun tak kalah semarak.
Terima kasih, Pak Sawal. Aku jadi lebih kenal Kabupaten Kendal berkat blog ini.
Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Negeri Sinisme (atawa Annisa Larasati)
Reply
Sawali Tuhusetya (December 5th, 2008 @ 00:41):
wah, salut juga dg gelar budaya yang rutin digelar di bandung, mas daniel. kota sekecil kendal memang tergolong jarang acara semacam itu. yang pedlu masalah budaya biasanya dewan kesenian sama kantong2 seni yang ada di daerah2 pelosok.
Reply
dion | Wednesday, 3 December 2008 @ 19:20
wow….
jadi pengen liat langsung neh :d:d
Baca juga tulisan terbaru dion berjudul penantian panjang
Reply
Sawali Tuhusetya (December 5th, 2008 @ 00:42):
hehehe … dah selesai acaranya, mas dion, hiks. makasih apresiasinya.
Reply
kyai slamet | Wednesday, 3 December 2008 @ 22:44
kirain dalam rangka hari aids pak, soalnya propertinya kayak kondom
Reply
Sawali Tuhusetya (December 5th, 2008 @ 00:42):
walah, kok sampai sedgengitu detilnya, mas kyai bicara masalah kondom? hiks, sering pakai ya mas kyai, kekeke ….
Reply
arifudin | Thursday, 4 December 2008 @ 05:49
wow…….. asli seru nich acaranya
>-
Baca juga tulisan terbaru arifudin berjudul Matikan windows ala bom waktu
Reply
Sawali Tuhusetya (December 5th, 2008 @ 00:43):
betul, mas arif, meski tanpa ada forum diskusinya, hiks.
Reply
achmad sholeh | Thursday, 4 December 2008 @ 17:08
wah bagus sekali pak, suatu saat saya pengen menyaksikan langsung
Baca juga tulisan terbaru achmad sholeh berjudul Hikmah Idhul Qurban Dalam Suasana Krisis Global
Reply
Sawali Tuhusetya (December 5th, 2008 @ 00:44):
bener banget, pak sholeh, mungkin ada baiknya sesekali pak sholeh menyaksikan sendiri. suatu saat kukabari, pask.
Reply
Hejis | Friday, 5 December 2008 @ 15:55
Sudah bertahun2 saya rindu menonton teater tapi tak kesampaian. Beruntunglah warga Kendal bisa memiliki kelompok teater yang kian hari kian langka, rasanya. Di Malang sendiri gairah berteater ada tetapi kurang greget dan kurang publikasi. Salut dan salam hangat Pak Sawali.:d/
Baca juga tulisan terbaru Hejis berjudul REFLEKSI
Reply
Sawali Tuhusetya (December 5th, 2008 @ 18:00):
utk teater semut alhamduillah masih eksis sampai sekarang, mas hejis. selain mengikuti festivak, menjelang akhir tahun selalu menggelar acara budaya.
Reply
Mihael Ellinsworth | Saturday, 6 December 2008 @ 10:29
Itu semacam drama pendek? Sepertinya sependek KAbaret “JAGO” yang pernah saya lihat di STSI Bandung.
Baca juga tulisan terbaru Mihael Ellinsworth berjudul Celebrated the Bloggers Party
Reply
Sawali Tuhusetya (December 7th, 2008 @ 02:33):
bisa juga dibilang drama pendek, mas db. wah, saya malah belum pernah nonton kavaret “jago”, hehehe ….
Reply
Daniel Mahendra | Sunday, 14 December 2008 @ 20:14
Mestinya Pak Sawali ini dirangkul oleh Pemkab Kendal lho…
Kemarin di Rumah Dunia saat acara Ode Kampung, ada juga tamu dari Kendal. Aku dan Qizink sontak saling pandang. Tau apa yang ada di pikiran kami masing-masing? Dari mulut kami sama-sama terucap: “Pak Sawali…” Hehehe.
Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Seandainya Jakarta Bukan Ibukota Negara
Reply
Sawali Tuhusetya (December 15th, 2008 @ 16:48):
ada tamu dari kendal? siapa namanya, mas daniel? kenapa juga kendal kok identik dg saya, haks. ada2 saja. orang kendal yang di jakarta memang banyak kok, mas daniel, seperti mas nung runua, mas f. rahardi, atau mas ahmadun y. herfanda.
Reply