Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati
Kategori: Budaya, Refleksi
Peristiwa-peristiwa heroik ketika negeri ini memasuki masa-masa revolusi fisik, sejatinya merupakan fase historis yang bisa digunakan untuk mencerahkan ingatan kolektif bangsa bahwa negeri ini pernah memiliki pahlawan-pahlawan sejati. Secara ragawi, sosok pahlawan sejati yang terlibat dalam konflik dan pertempuran fisik bisa jadi memang sudah tidak ada. Roh, semangat, dan kesejatian nilai kepahlawanan mereka telah diabadikan lewat buku-buku sejarah, museum, monumen, atau nama-nama jalan.
Meski demikian, tidak lantas berarti nilai-nilai kepahlawanan dengan sendirinya ikut terkubur ke dalam kubangan sejarah masa silam. Kesejatian nilai kepahlawanan bisa terus tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika dan konteks zamannya ke dalam bentuk dan wujud yang berbeda. Ini artinya, siapa pun memiliki “talenta” untuk menjadi pahlawan sejati melalui ranah perjuangan yang digelutinya. Pahlawan sejati bisa muncul dari kalangan politisi, penegak hukum, pejabat, pegawai rendahan, bahkan dari kalangan rakyat jelata sekalipun.
Cobalah tengok sejenak perjuangan seorang pemulung yang tak kenal lelah mengumpulkan puing-puing rupiah dari tong-tong sampah dan tempat-tempat kumuh. Mereka bergerak ketika semburat merah matahari pecah di ufuk timur hingga semburat jingga matahari tampak temaram di ufuk barat. Melalui barang-barang bekas yang memberat di punggung, para pemulung kembali ke markas. Lantas, mereka memilah-milah dan mengumpulkan serpihan-serpihan sampah sesuai dengan jenisnya, untuk selanjutnya dijual kepada para penadah.
Untuk mendapatkan rupiah, seorang pemulung mesti melewati beberapa fase perjuangan yang tidak ringan. Mereka mesti menghadapi stigma yang sudah lama ditimpakan oleh para petugas Tibum. Mereka telah dicitrakan sebagai sampah yang mesti disingkirkan. Berkali-kali, mereka harus berhadapan dengan barikade petugas Tibum yang telah diindoktrinasi lewat dogma-dogma ketertiban umum yang menyesatkan. Penggarukan, penggusuran, atau pemaksaan kehendak, sudah merupakan hal yang biasa mereka lakukan kepada orang-orang yang dianggap menyandang masalah sosial. Dengan beban keranjang dan senjata ”pulung” di tangan, para pemulung sering diangkut dengan cara paksa di atas mobil bak terbuka, seperti layaknya kerumunan babi yang barusan jadi korban jagal. Di markas petugas, mereka tak jarang ”diteror” dengan cara-cara fasis. Hujatan, sumpah serapah, dan sikap-sikap tak ramah lainnya seringkali dipertontonkan oleh bapak-bapak petugas yang tengah mempraktikkan kekonyolan-kekonyolan. Marah-marah tanpa memiliki kesanggupan untuk mencarikan solusi mata pencaharian yang lebih baik.
Tak hanya itu. Para pemulung juga harus menghadapi konstruksi sosial dan kultur masyarakat yang telah dihinggapi doktrin-doktrin materialisme dan hedonisme. Para pemulung sering dicitrakan sebagai “orang jahat” alias maling yang pantas dicurigai. Di jalan-jalan dan gang masuk kampung, misalnya, seringkali terpampang tulisan dengan huruf yang sangat mencolok: “PEMULUNG DILARANG MASUK!” dan sejenisnya. Dalam pemahaman awam saya, tulisan semacam itu tak lebih dari sebuah “pembiadaban” berdasarkan cara pandang pemikiran yang sempit dan nihil dari sentuhan nilai kemanusiaan. Mungkin ada beberapa pemulung yang “tersesat” sehingga punya keinginan untuk memiliki sesuatu yang tiba-tiba saja menggoda nafsu dan selera rendahnya. Namun, hal-hal yang bersifat kausistik semacam itu tak bisa dijadikan sebagai sebuah premis bahwa pemulung identik dengan maling.
Jadi pemulung bukanlah harapan dan cita-cita. Tak seorang pun yang menginginkan predikat semacam itu melekat pada dirinya. Namun, situasi kemiskinan struktural yang sudah demikian menggurita di negeri ini, disadari atau tidak, telah melahirkan terciptanya pemulung sebagai mata pencaharian baru. Jangan salahkan mereka jika kehadirannya terpaksa mengganggu kenyamanan pandangan mata para pemuja gaya hidup materialistis dan hedonis.
Para pemulung bisa jadi tak paham apa makna pahlawan yang sesungguhnya. Namun, secara riil, mereka telah mengaplikasikan nilai-nilai kepahlawanan sejati ke dalam setiap aliran darah, desahan napas, dan kucuran keringatnya. Mereka rela berkorban untuk direndahkan martabatnya tanpa punya pamrih untuk menggugatnya. Mereka rela diberi stigma sebagai maling tanpa punya pamrih untuk melakukan pemberontakan. Mereka juga merelakan dirinya dipanggang terik matahari demi memenuhi tuntutan perut sanak keluarganya. Sungguh kontras dengan perilaku koruptor yang sudah jelas-jelas terbukti mengemplang harta rakyat, tetapi masih menempuh berbagai cara untuk bisa lolos dari jeratan hukum.
Para pengambil kebijakan seharusnya memiliki kepekaan dalam menangani masalah-masalah sosial yang menghinggapi kaum dhuafa. Jangan gampang melakukan pembiadaban dan menempuh cara-cara fasis untuk menyingkirkan wong cilik yang sedang mencari peruntungan dan perbaikan nasib keluarganya jika tak sanggup memberikan jaminan penghidupan yang layak. Para pahlawan yang sudah berada di alam keabadian bisa jadi akan menangis dan merintih menyaksikan para petugas yang tak henti-hentinya melakukan teror, intimidasi, dan kekerasan terhadap sesamanya. Jangan sampai negeri ini jadi ”Malin Kundang” akibat ingatan kolektif bangsa yang sudah mulai melupakan kiprah para pahlawan sejati. ***


nelangsa saya dibuatnya. Jadi teringat apadong.com/2008/08/19/ming-ming-mengais-harapan-dari-tumpukkan-sampah/
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 09:07
ya, saya baru saja membuka link yang mas arif tunjukkan. sungguh membuat saya salut. seorang pemulung bisa menyelesaikan kuliahnya. pahalwan bener2 kalau ini.
[Reply]
Memang pemulung sebenarnya membantu kita untuk memilah mana sampah yg masih bisa didaur ulang atau ngak gitu.
Sebenarya yg demikian karena ketakutan para orang di sebuah komplek aja..
kalo mau sih, yah pisahkan sampah organik dan nonorganik, ntar di pembuangan akhir si pemulung cukup ke sana aja
Oia pak Sawali di daerah kost saya, malah gini yg terjadi : anaknya 2 orang yang disuruh mulung, dari tempat sampah satu ke tempat sampah yang lain. 2 anak itu jadi itam kelam kulitnya.
sedang bapaknya enak2 ongkang2 kaki di becak menunggu anaknya yg ngumpulin sampah… hmm…
Baca juga tulisan terbaru aRuL berjudul Ulang Tahun Pertama Komunitas Blogger Surabaya http://www.tugupahlawan.com
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 09:09
betul, mas arul, pemulung sudah ikut berjasa dalam menyelamatkan lingkungan. sayangnya, masih ada beberapa pemulung yang yang menjadikan pekerjaannya sebagai kedok, apalagi menyuruh anaknya kerja, sementara si orang tua malah okngkang-ongkang.
[Reply]
ternyata negeri ini masih sarat dengan diskriminasi *sungguh terlalu*
Baca juga tulisan terbaru thimbu berjudul Kenapa Tidak Terpenuhi ?
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 09:10
itulah yang terjadi di negeri ini, mas thimbu. entah kapan akan terjadi sebuah perubahan.
[Reply]
waduh itu warga kampung apa kampung preman ??? ato mereka punya pengalaman buruk sama pemulung??? *ngelus dada ae* *dada saya sendiri lho pak*
Baca juga tulisan terbaru mantan kyai berjudul Menjelang Fajar
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 09:11
saya juga tak tahu, mas ardy. saat blogwalking saya menemukan gambar itu di blog http://arians.staff.ugm.ac.id/wordpress/2008/05/29/pemulung-masuk/
[Reply]
hehe, tapi memang “kebanyakan” pemulung yang masuk daerah saiia di jkt seperti itu pak. kenapa saiia bisa bilang demikian, karena saiia sering memergokinya sendiri, swer ewer ewerrr… :d
Baca juga tulisan terbaru belajarseo berjudul Cara Keyword Stuffing Yg Sedikit Lebih Baik
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 09:12
itulah yang menyedihkan, mas. padahal, saya yakin, masih banyak juga pemulung yang jujur. meulung yang jujur inilah yang layak diberi predikat sebagai pahlawan.
[Reply]
wah betul banget om guru, pemulung itu sangat berjasa bagi kita, seperti para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan. pemulung juga berjuang untuk memerdekakan kita dari sampah da juga pencemaran lingkungan
TAPI
gara-gara pemulung pula saat ini banyak sekali produk recycle yang sebenarnya tidak layak pakai, seperti sedotan (pipet) untuk minuman itu kebanyakan dari plastik bekas yang diolah secara serampangan. kemudian tas kresek, juga banyak yang dari plastik bekas. kualitas dan keamanannya pasti tidak terjamin. baunya tidak enak. kalau diamati akan terlihat partikel2 kotoran. nggak food-grade banget lah
SEMOGA
pemerintah memerhatikan nasib pemulung. berikan mereka edukasi gimana memulung yang baik dan bagaimana mengolahnya kembali menjadi benda-benda bermanfaat namun tidak berbahaya
DAN JANGAN SALAH
banyak pemulung yang hidup bahagia. berangkat kerja di pagi hari bersama istri, mampir di warung pecel, bercanda, terlihat sinar bahagia di wajah mereka. banyak pula yang sukses secara finansial, memiliki rumah dan kendaraan bagus. anak-anak mereka sekolah hingga perguruan tinggi..
ANDAI SAJA
ada pemulung nafsu serakah, nafsu amarah, nafsu korupsi, nafsu selingkuh.. biar dipulung semua isi kotor otak pejabat dan rakyat indonesia. bersih…
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 09:33
wah, ini mungkin ada kesalahan dalam proses daur ulangnya, mas det. mestinya para pengolah barang-barang bekas tetep memperhatikan masalah sanitasi dan dampaknya terhadap kesehatan. pemulung kan hanya sekadar mencari dan mengumpulkan barang bekas. selama pemerintah belum bisa memberikan jaminan kelayakan hidup, masalah2 sosial, termasuk yang dihadapi para pemulung, masih akan terus ada di sekitar kita.
[Reply]
Memang kasihan nasib pemulung. Kehidupan mereka sangat susah dan harus berhadapan dengan stigma negatif dari petugas tibum bahkan stigma negatif dari masyarakat.
Ya..mungkin stigma ini sebagian disebabkan rusaknya citra pemulung karena ulah segelintir oknum pemulung yang berbuat tidak jujur. Saya pernah mengintip dan memperhatikan tingkah laku pemulung di sekitar rumah saya. Barang yang sejatinya tidak termasuk sampah buangan tapi saya letakkan di bawah kolong rumah mereka ambil dengan diam-diam. Padahal sekilas dapat dilihat bahwa barang tersebut masih bagus dan berfungsi dan sengaja disimpan yang punya rumah di bawah kolong bukan untuk dibuang.
Baca juga tulisan terbaru Syamsuddin Ideris berjudul Teknologi Tepat Guna Pendidikan
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 14:38
nah, bisa jadi akibat ulah beberapa gelintir “oknum” itulah yang membuat citra pemulung jadi tidak bagus. tapi masih banyak juga pemulung yang jujur dan bener2 mengandalkan kerja keras, pak syam.
[Reply]
semoga pemerintah lebih arif dalam melihat fenomena ini
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 14:38
amiin, semoga demikian, mas anang.
[Reply]
Sebelumnya maaf karena saya kurang respek sama pemulung rumah ke rumah. kenapa?
mereka mengobrak - abrik sampah hingga keluar dari tempat sampah dan tidak dikembalikan lagi. Akhirnya malah berserakan di depan rumah dan jatuh keselokan. Dan ketika diingatkan malah marah2. Tak jarang juga memanfaatkan kesempatan untuk mengambil lainnya. Di komplek perumahan saya sering kehilangan sandal,sepatu, helm dll. Makanya trus dikasih tulisan pemulung dilarang masuk.
Baca juga tulisan terbaru L 34 H berjudul Deles indah klaten
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 14:39
agaknya kejadian seperti itu tak hanya berlangsung di daerah mbak leah. di mana2 ada kok pemulung yang begituan. tapi tak sedikit juga kok pemulung yang layak dikagumi etos kerjanya. mereka inilah yang telah menjadi pahlawan sejati bagi keluarganya.
[Reply]
Memang ada yang hilang dalam beberapa tahun belakang ini Om,.. rasa toleransi dan tenggang rasa. Rasa curiga-mencurigai dan ketidakpercayaan antar sesama.Ya, memang tidak bisa menutup mata bahwa ada pemulung yan juga mencari “kesempatan”
:)>-
Baca juga tulisan terbaru wongbagoes berjudul Demi SBY semua harus rapi
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 14:41
semoga saja peristiwa semacam itu bisa memberikan hikmah dan pelajaran buat bangsa kita, wongbagoes. sungguh disyangkan kalau bangsa kita yang sudah lama dikenal sbg bangsa yang ramah dan santun akhirnya berubah jadi egois dan suka kekerasan.
[Reply]
itu tanda pemulung dilarang masuknya kok penuh kekerasan begitu. Dimana itu pak? kelihatannya itu baru dibuat ya pak, solanya mutilasi kan baru saja menjadi trend hhehhehe
soal pemulung…jika negara bisa sepenuhnya memenuhi amanah UUD 45, maka mestinya negara mampu memenuhi kesejahteraan rakyatnya, menekan begitu dalam angka kemiskinan.
Baca juga tulisan terbaru icha berjudul Alam Astral
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 14:51
wah, nggak tahu juga tuh, mbak icha. gambar itu saya temukan saat blogwalking. kok ada tulisan yang menarik, lalu saya kopas saja dg menctumkan link-nya, hehehe …. setuju banget, mbak icha, kalau pemerintah amanah dan konsisten, mestinya pekerjaan pemulung itu sudah tidak ada.
[Reply]
iya nih,,padahal kan kita sebagai sesama manusia harusnya saling menghormati,,blm tentu juga yg bukan pemulung lbh baik [-(
Baca juga tulisan terbaru Ananto berjudul MeT PaGi…
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 14:52
idealnya memang begitu, mas ananto, apalagi bangsa kita selama ini dikenal sbg bangsa yang santun dan ramah.
[Reply]
liat itu mas sawali…
masih aja ada diskriminasi sosial…
padahal pemulung sangat berjsa buat kita [-(
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 14:52
nah, itulah yang terjadi, mas okta, diskrimasi sosial pun marak terjadi di mana2.
[Reply]
Saya punya pengalaman yang sama dengan Mas Anang. Sampah di bak sampah depan rumah saya yang sudah rapi dibungkus sering diobrak-abrik pemulung sehingga petugas sampah nggak mau ngangkut. Akibatnya, saya sendiri yang harus membersihkan dan membungkus lagi sampah itu.
Solusinya, saya pisahkan sampah yang bisa dipulung dan tidak sehingga pemulung tidak perlu membongkar bungkusan sampah. Sialnya, apabila ada pemulung lain yang datang belakangan, bungkusan sampah akan dibongkar juga.
Saya tidak antipati sama pemulung. Kadang apabila ada sesuatu yang bisa saya berikan, misal sepatu atau pakaian bekas, kardus dan koran bekas saya berikan saja kepada mereka. Bekas dari saya menjadi baru buat mereka (khusus sepatu atau pakaian bekas).
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 14:59
wew… mas anak atau mbak leah, mas arif, hehehe … btw, mnemang ada pemulung yang bersikap seperti itu. tapi, masih banyak juga pemulung yang memiliki etos dan semangat kerja keras. ini perlu menjadi perhatian juga buat mas arif. kelak kalau jadi anggota legislatif, hilangkan dong kesewenang-wenangan petugas tibum yang seenaknya melakukan penggusuran.
[Reply]
wahh masa tulisan ke Pemulung seperti itu
saya tidak setuju pa, walau bagaimana pun kita tidak boleh berbuat sewenang wenang, mereka juga manusia hanya nasib yang berbeda…
jahat tuh orang yang nulis kayak gitu:-w
Baca juga tulisan terbaru andif berjudul Cinta oh Cinta
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:01
nah, itulah fakta yang terjadi, mas andi. sungguh ironis, ya, kata2 kasar dan keras seperti itu muncul di sebuah negeri yang sudah lama dikenal sebagai negeri yang ramah dan santun.
[Reply]
saya jadi inget waktu pindah2an keLN, 2 kardus ball rokok isi baju untuk mereka..mata mereka berbinar binar bahagia..saya jadi trenyuh nglihatnya.
Baca juga tulisan terbaru boyin berjudul Belajar dari Philipino
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:01
wah, mas boyin sudah melakukan yang terbaik buat mereka. alngkah senangnya mendapatkan sesuatu yang menurut mereka sangat berharga. salut!
[Reply]
Kemarin di Televisi saya menonton acara yang menampilakn kisah seorang kepala sekolah yang nyambi jadi pemulung sebagai tambahan penghasilan .
Dia Kepala seklah tapi hidupnya sangat sederhana dan tidak gengsi-gensian dalam memenuhi kebutuhannya. . . .
Pemulung memang sangat berjasa , bayangkan di jakarta ratusan ton sampah di produksi setiap harinya. Dan pemulung lah yang paling bereperan penting dalam masalah sampah tersebut. Namun memang mereka hanya dipandang sebelah mata . . . .
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:03
kepala sekolah jadi pemulung? wah, sebuah pemandangan langka ini mas bach. sepakat banget, mas bach, setidaknya pemulung telah ikut berjasa dalam mengurangi dampak lingkungan yang tidak sehat.
[Reply]
Padahal mereka dengan caranya sendiri berperan juga mengurangi sampah
Baca juga tulisan terbaru itikkecil berjudul Satu jam bersama Itikkecil di Trijaya FM
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:03
betul banget, mbak ira, seharusnya mereka tdk blohe diperlakukan sewenang-wenang, apalagi diberi stigma sbg maling.
[Reply]
jadi ingat setiap kali saya mengisi pelatihan GOAL SETTING - anak-anak bisanya saya tanya…
“Apa cita-cita kalian?” kebanyakan mereka akan menjawab
“Jadi orang yang berguna” -
kemudian saya tanya lagi “Ini ada lowongan pekerjaan yang sangat mendesak.. dan pekerjaannya mulia dan sangat berguna bagi orang lain.. ada yang mau?”
mereka kembali tanya “apa pak?”
“kalian mau apa tidak?” tanya saya..
“ya apa dulu pak?”
“Kalian mau apa tidak…?”
“Mauuuu..” tapi sebagian menjawabnya dengan ragu.
“Itu di Pemkot masih butuh lowongan jadi pasukan kuning…” jawab saya
“Waaaaah…” begitu jawabnya
“lho emang pasukan kuning tidak berguna?”
“ya… tapi….”
***
Ya begitulah…
baru-baru ini saya bantu temen nyusun disertasi tentang KLK (Kelas Layanan Khusus) program pemerintah untuk mengembalikan anak-anak yg rawan jadi anak jalan - saya jadi sedih… kebanyakan mereka gak bisa sekolah gara-gara orang tuanya cuman pemulung,
ah malah curhat sih pak
makasih dah ditampung
Baca juga tulisan terbaru hmcahyo berjudul ibsn : A journey @ election day : Unlegitimate Governor
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:05
wah, salut juga nih sama perjuangan mas hmcahyo yang demikian peduli terhadap nasib anak2 jalanan. semoga saja kelak mereka bisa mendapatkan penghidupan yang layak.
[Reply]
BTW saya keduluan nulis tentang hari pahlawan yang mau mengangkat orang-orang seperti ini yang banyak berjasa tapi dilupakan..
selamat untuk pak sawali.. yang mendahului saya
Baca juga tulisan terbaru heri berjudul Doa Rabithah - Izzatul Islam
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:06
walah, ditulis lagi kan ndak apa2, mas heri. malah makin banyak tulisan yang menunjukkan kepedulian terhadap nasib kaum dhuafa bersamaaan dg momentum hari pahlawan.
[Reply]
yah terkadang memang oknum-oknum pemulung yang hobi memulung “apapun” di halaman memunculkan sisi negatif. dan itu sudah terlanjur kebanyakan dari mereka. namun bagaimana pun mereka mempunyai jasa besar dalam siklus hidup ini.
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:07
betul, mas epat. di mana pun yang namanya pemulung hampir terjadi di semua sektor, termasuk dalam kehidupan pemulung. semoga saja masih banyak pemulung yang jujur dan beretis kerja tinggi.
[Reply]
Info aja ..hari ini Obama menang..di Indonesia pasti banyak yang jagoin dia.
Baca juga tulisan terbaru boyin berjudul Obama loves Obama. It’s Subconscious War!
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:08
wow… dugaan banyak pengamat ternyata tak meleset. obama memang layak utk menang, mas boyin, makasih infonya!
[Reply]
postingan yg memberi pencerahan !:)>-
kita memang selalu abai pada
kaum dhuafa dan mereka yg terpinggirkan
Pemulung jauh lbh mulia dari pengemis
benar mas Sawali, pemulung merupakan
pahlawan sejati. Mereka pahlawan yg tak
mudah menyerah pd nasib, dan terus berusaha
sekuat tenaga menghidupi anak istri
tak peduli gengsi…..
Baca juga tulisan terbaru mikekono berjudul Kekuasaan yang Menyesatkan
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 15:09
walah, biasa saja kok, mas agus. yang saya saluti adalah etos dan semangat lerja pemulung yang tak kenal lelah demi menghidupi anak-istrinya. kalau ada ulah beberapa gelintir pemulung, saya yakin mereka hanya oknum.
[Reply]
semoga negara Indonesia yang aku cintai ini sedang membaca postingan ini dan segera memberikan solusin yang terbaik..
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:03
amiiin, mudah2an hal itu bisa terwujud, mas vay. btw, yang dimaksud negara itu pemerintahkah?
[Reply]
Menarik pak… memang kondisi kultur sosial masyarakat kita memprihatinkan….
maaf pak lama tidak berkunjung… hiatus hehe.. sekarang saya pindah rumah di http://azaxs.net
saya tunggu kunjungannya pak… suwun
Baca juga tulisan terbaru azaxs berjudul Perjalanan Baruku…
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 19:40
itulah yang terjadi, mas azaxs. repotnya seringkali masyarakat kita menyadari bahwa aksi mereka itu keliru, hehehe … btw, selamat atas rumah barunya, segera saya subscribe ke google reader, yak!
[Reply]
padahal mereka sekedar mencari sesuap ehh sepiring makan nasi.
tapi kadang pemulungnya juga keterlaluan, barang masih di pakei diambil juga sich..
Baca juga tulisan terbaru ciwir berjudul Kena Musibah
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 19:25
hehe .., watak seperti itu mungkin tak hanya pemulung, mas ciwir. bisa jadi itulah yang membuat citra pemulung jadi ancur. semoga masih banyak pemulung yang berhati jujur dan memiliki etos kerja yang tinggi dalam mengais rezeki.
[Reply]
Tulisan di papan itu kok kejem banget ya ? Nggak ada sopan-sopannya. Duh.
Baca juga tulisan terbaru lovepassword berjudul Lovepassword tentang lovepassword
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 19:26
saya juga tak tahu tuh, mas love. tulisan demikian kejam kok ya tega2nya dipasang, duh!
[Reply]
Memang didunia ini ada plus ada minus, ada baik ada buruk. disitulah bijaksananya Tuhan.

adaikata tidak ada yang kurup pasti tidak ada yang namanya KPK, LSM anti korupsi, website anti korusi dan sebagainya dan sebagainya. berapa ribu orang yang diuntungkan oleh penjahat korupsi.
begitu juga dengan pahlawan pemulung, berapa banyak yang dihasilkan pemulung sehingga banyak pabrik plastik beroprasi dengan bahan baku yang murah.
sebenarnya semua kalo disikapi dengan bijak dan lillahi ta’ala, tidak akan ada sesuatu yang mengganjal, tidak ada sesuatu yang nggak rela, tidak ada sesuatu yang nista.
Saya sakit hati ketika ada tulisan pada pintumasuk-pintumasuk gang yang bernada mengancam. tidak hanya kepada pemulung tapi kepada siapapn. (di gang tempat tinggal saya ada tulisan semacam itu)
ancaman tidak menyesaikan masalah, yang perlu di selesaikan adalah bagaimana merubah pola pikir masyarakat itu sendiri.
salut saya dengan tulisan pak sawali yang mem-PAHLAWAN-kan pemulung.
Baca juga tulisan terbaru JAUHDIMATA berjudul Load balancing versi Mikrotik
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 19:29
terima kasih apresiasinya, mas jauh di mata. saya sependapat dengan mas jauh di mata, tulisan2 yang bernada ancaman seperti itu justru mengesankan kalau kita hidup di tengah masyarakat bar-bar. dan saya yakin tulisan bernada semacam itu tak akan menyelesaikan masalah. betul sekali, dalam konteks ini, diperlukan pola pikir masyarakat yang sesuai nilai2 kesantunan.
[Reply]
kita memang berada pada posisi yang serba sulit di satu sisi kasihan melihat nasib pemulung jika dilarang masuk perumahan, sementara itu jika tidak dilarang banyak oknum pemulung berbuat seenaknya ngobrak-abrik tempat sampah, ngambil barang-barang dll.
setelah melalui perdebatan panjang selama bertahun-tahun pada akhirnya di tempat saya minggu lalu juga memasang papan pemulung dilarang masuk.
eh.. beberapa hari kemudian helm pak rt malah diambil orang. siapa yang harus disalahkan kalau begini?
Baca juga tulisan terbaru endar berjudul Upgrade to Ubuntu 8.10
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 19:42
wah, ternyata papan peringatan ndak ada artinya juga. mungkin akibat stigma negatif itulah yang membuat para pemulung malah nekad, padahal saya yakin, itu hanya beberapa gelintir “oknum” pemulung!
[Reply]
saya juga kurang begitu setuju dengan ada gambar plang pemulung dilarang masuk, disini kita dapat melihat diskriminasi masih berlaku dikalangan kita, pemulung juga manusia yah
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 5th, 2008 @ 19:43
betul banget, mas harianku. para pemulung tak jauh bedanya dengan kita. mereka juga butuh perhatian sesamanya, semoga saja papan peringatan di jalan dan gang masuk kampung sedikit demi sedikit mulai berkurang.
[Reply]
Jiwa kepahlawanan bisa muncul darimana saja, tidak perduli umur, profesi ataupun jenis kelamin… :d
[Reply]
wah.. tuh gambar yang paling bawah kejem bener de…
hu uh.. gk tega liatnya..
hehe
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:04
nah itu, dia mas khafi, kenapa tulisan bernada ancaman dan sekasar itu tega2anya dipasang di gang masuk kampung, haks.
[Reply]
Hanya karena Oknum pemulung satu…jadi semua pemulung rusak..sama dengan hanya karena segelintir oknum yg tidak bertanggung jawab semua jadi kena getahnya pak.
cozz..gambarnya pas banget pak..serem abis
Baca juga tulisan terbaru Diah berjudul Ibu Rumah Tangga Dapat Adsense Juga
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:06
itulah yang terjadi, mbak. seringkali kita merumuskan sesuatu berdasarkan premis yang belum teruji kebenarannya. akhirnya, muncul generalisasi yang salah kaprah. demikian juga ttg pemulung.
[Reply]
Salah sendiri!! Siapa suruh miskin!!
*dipentung*
Yaah, maklumlah, Pak..
Hak bicara itu kan berbanding lurus dengan uang yang dimiliki..
*menghela nafas*
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:07
walah, mereka sebenarnya juga ndak mau miskin, mas nazieb, kekeke … agaknya kemiskinan struktural akibat manajemen negara yang salah urus telah membuat mereka mencari pekerjaan alternatif sbg pemulung.
[Reply]
Dipikir2, Pahlawan itu memang tidak jauh dari tempat kita bang. Orang cenderung melihat, pahlawan itu adalah mereka yang sudah memberikan kontribusi untuk negera. padahal di luar itu, masih banyak pahlawan-pahlawan lainnya, semua ada disekitar kita.
Yang bikin papan pengumuman duuuuuuuuuuh wise bener bang.
apa nggak ada bahasa yang lebih halus ….? nurani di simpan dimana ya…?
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:09
saya kira pakde benar. sosok pahlawan pada konteks sekarang tidak bisa lagi identik dg sosok yang berani mati seperti tempo doleoe, tapi bisa meluas ke sosok yang (nyaris) tak dikenal yang ada di sekitar lingkungan kita.
[Reply]
waduh pak…mantap bener kritikannya to the point…saya suka pak…mudah-mudahan para pejabat negara kita membaca blog bapak…biar mereka berfikir lagi untuk negeri ini….jangan cuman hanya mainkan dagelan belaka di pentas politik…udah capek kita….
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:10
walah, biasa saja kok, mas imoe. amiin, mudah2 demikian, mas imoe, agar mereka memiliki kepekaan terhadap nasib wong cilik yang selama ini (nyata2) telah tersingkir dan disingkirkan.
[Reply]
tapi kadang-kadang pekerjaan mulia para pemulung ini dikotori oleh segilintir orang yang berusaha memiliki sesuatu yang bukan haknya dengan memanfaatkan kelengahan pemilik rumah
Baca juga tulisan terbaru nuhutaqi berjudul beauty japanese idol maya koizumi 2
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:11
betul banget mas nuhutaqi. akibat ulah beberapa “oknum” citra pemulung jadi ancur di tengah2 masyarakat kita.
[Reply]
tuh warga kampung udah kayak raja aja,, sombong bgt bukannya pemulung juga manusia kan mereka juga ga kepengen jadi pemulung cuma keadaan aja yang memaksaka mereka melakuka pekerjaan begitu..
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:12
itulah yang terjadi, mas fajar. saya sendiri juga heran, kenapa dalam memberikan peringatan kepada pemulung mesti menggunakan bahasa sekasar itu, bernada ancaman lagi. sungguh tragis.
[Reply]
gara-gara oknum!
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:13
hehe … bener, mas kyai slamet. gara2 ulah segelintir orang, semua pemulung jadi kena karenanya.
[Reply]
Pemulung itu sama aja dengan Gelandangan
Masing-masing manusia itu diberikan rezeki yang berbeda-beda tempatnya. kalau itu sangat bermanfaat kenapa tidak ? melihat kondisi negeri ini juga mereka sudah patah arang mereka hanya masyarakat tidak mampu, masyarakat yang tertindas oleh kurangnya tingkat sosial di jaman ini.
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:14
betul banget, mas maulana. kalau semua orang memiliki pendirian semacam mas maulana, agaknya tak akan terjadi penggarukan dan penggusuran terhadap pemulung yang sedang mempertaruhkan nasib hidupnya.
[Reply]
salam kenal mas
maaf kalo postingan ini hanya menambah penuh kolom komentar blog mas
mudah2an ini menjadi awal silaturahmi kita
nuhun
Baca juga tulisan terbaru pensiun kaya berjudul Forex Trader Levels
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:15
salam kenal juga, mas. terima kasih kunjungan dan silaturahminya!
[Reply]
Pemulung ilmu lewat blog. Kira-kira boleh nggak ya..:-?
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 01:17
walah, ndak ada yang melarang kok, pak jaitoe, hehehe … makin banyak pemulung ilmu malah makin baik. tapi utk pemulung yang satu ini sangat beda pastinya. tidak sama dg pemulung yang seringkali mendapatkan peringatan warga melalui kata2 yang kasar dan kurang santun.
[Reply]
istri saya pernah ketemu pemulung jujur. pas naek ojek dompetnya jatuh. dikira udah ilang aja. maklum, jakarta gitu loh… eh ternyata sehari kemudian ditelepon si pemulung dari wartel (bela-belain) mo balikin. “kemiskinan” satu ini ternyata tidak identik dengan kekufuran, pak.
btw, RSS blog ini kok gak muncul di tempat saya ya? alamatnya di mana sih?
Baca juga tulisan terbaru SJ berjudul Kenapa Dengan Shaolin Badminton?
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 08:11
wah, bener2 pemulung yang jujur dan berhati mulia, mas jenang. btw, ttg rss-feed-nya kok bisa sampai ndak terbaca, wah, saya tak tahu persis penyebabnya. yang pasti kalau lancar, dengan memasukkan url-feed: http://sawali.info/feed/ tulisan terbaru akan muncul secara otomatis. terima kasih infonya, mas jenang.
[Reply]
ya begitulah realitanya pak. Sebetulnya, pemulung jg sangat membantu dinas kebersihan terutama terkait masalah sampah. Tanpa adanya pemulung, sampah bs menjadi musuh apalagi untuk kota2 besar semisal Jakarta. Di republik ini, masalah sampah masih menjadi momok.
Dan pahlawan tdk berarti hanya yg bermodalkan senjata tuk berperang. Seorang pemulung, tkg becak, guru, atau siapa pun, bs mjd sosok pahlawan.
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 08:13
sepakat banget dengan mas yodama. kehadiran pemulung, secara tidak langsung bisa ikut berkiprah dalam menjaga kebersihan lingkungan, apalagi di kota jakarta. nah, ttg nilai kepahlawanan, saya melihatnya dari etos kerja dan semangat para pemulung yang tak kenal lelah mencari penghidupan buat anak-istrinya.
[Reply]
Komentar secara umum saja, karena postingannya berat.
Ibarat syair lagu, postingannya Pak Sawali mirip lagu2nya Chrisye…
Bahasanya tingkat tinggi, ada kata2 langka semisal ragawi, temaram, smaradana dll (pokoke sing wong umum jarang nganggokke).
Isinya disesuaikan dengan penanggalan (berbasis waktu), misalnya bulan November, postingannya ya berkisar soal kepahlawanan.
Sebagai orang yang menghormati Ibu, saya yakin dan memprediksi, bulan depan Pak Sawali pasti buat postingan tentang Ibu, bulan berikutnya tentang seputar pergantian tahun. Bukan “ngerti sakdurunge winarah”, tapi ini cuman dugaan dan hipotesa, berdasar pengamatan panjang ngikuti tulisan2 Pak Sawali.
Sukses selalu, mugo2 aku bener adanya.
Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul Rank Dua Puluh Tiga
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 08:14
kekeke … seperti ahli terawangan saja nih, pak mar. tapi, tidak selalu begitu kok, pak. hanya kebetulan saja pas ingat. pada postingan yang lain, ya, asal saja, hehehe ….
[Reply]
Pak Sawali, di sisi lain oknum pemulung ada pula yang menjengkelkan. Saya bilang oknum brarti tak semuanya…
Selain itu, ada pula pemulung yang super hebat. Pernah beberapa tahun yang lampau saya baca di KOMPAS, seorang eks pemulung telah menjadi milyarder karena menjadi penampung barang-barang hasil kerja rekan-rekan pemulung lainnya.
Bagi saya tak ada pekerjaan yang buruk as long as halal dan dikerjakan dengan tenaga dan keringat sendiri.
Tulisan yang mengejawantah!
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 08:17
yaps, seperti halnya dalam bidang yang lain, pemulung juga memiliki beragam karakter. yang layak diapresiasi dari mereka adalah semangat dan etos kerjanya, mas donny, hehehe …
[Reply]
mas sawali, saya pribadi salut dengan pemulung yg bener-2 berdedikasi & tulus dengan kerjanya. makanya kadang suka ngenes kalo saya bandingkan dengan para mahasiswa borju yg manja & menyia2kan fasilitas yg disediakan ortunya, sementara di tempat lain ada org yg hrs susah payah peras keringat dan darah demi bisa sekolah.
but saya pribadi jg berharap bangsa kita makin maju agar kemiskinan bisa diminimalkan dari negeri ini.
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 10:09
yaps, mudah2an saja kemiskinan struktural yang sudah lama mencengkeram negeri ini bisa segera teratasi, mbak sehingga tak ada lagi stigma negatif yang ditimpakan kepada pemulung.
[Reply]
saya hanya mengingatkan ..
hati-hati dengan OKNUM
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 10:10
betul, mas dikma, yang namanya oknum pasti biasa membuat sensasi negatif, hehehe … perlu diwaspadai!
[Reply]
ini mas sawali..
http://oktasihotang.com/2008/11/06/tak-ada-yang-abadi/
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 10:10
apaan tuh, mas okta? ok, langsung muluncur ke tkp!
[Reply]
Gambar terakhir ngeri.. eneng EMBEL EMBEL MUTILASI.. sangar tenan
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 10:11
wah, tak tahu juga, mas jauhari, kenapa tulisan sekasar dan sekejam bernada ancaman semacam itu tega2nya dipasang di jalan atau gang menuju kampung?
[Reply]
Sekolahnya dimana ya yang punya ide tulisan tersebut.
[Reply]
saya melihat fenomena ini sebagai lemahnya tingkat kepercayaan terhadap orang lain. Masyarakat kita cenderung tidak percaya dan sekaligus curiga kepada orang yang tidak dikenalnya. Nah, posisi pemulung berada pada posisi yang tidak menguntungkan pada kondisi masyarakat yang tingkat kepercayaannya rendah. Mereka akan cenderung akan dicurigai karena posisinya seperti seperti itu.
Mungkin sebagian besar pemulung adalah murni sekedar pemulung yang hanya mencari rejeki dari barang-barang bekas. Tapi orang yang jahat akan bisa menyamar sebagai pemulung (dan ini mudah dilakukan) untuk melakukan aksi kejahatannya.
Nah, parahnya, penegakan hukum kita sangat lemah dan tingkat kepercayaan kepada penegak hukumpun sangat lemah. Kondisi ini akan menguntungkan pelaku kriminal sehingga kasus kejahatan terus terjadi sehingga menimbulkan kekecewaan dan kemarahan sebagian masyarakat.
Nah, dengan pemahaman seperti ini saya bisa memahami banyak warga masyarakat yang menolak pemulung. Toh, mereka tidak bisa membedakan mana pemulung asli dan mana pelaku kriminal.
Tapi kalau lihat gambar di atas, ekspresi penolakannya seperti keterlaluan ya.
Demikian pak Sawali, pendapat dari sudut pandang yang lain
Baca juga tulisan terbaru Dudi berjudul Content is King
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 19:43
saya epakat dengan pak dudi nih, sepertinya tingkat kepercayaan terhadap sesama di negeri ini sudah mulai memudar sehingga gampang curiga, termasuk kepada pemulung. namun, sesungguhnya, masih ada pemulung yang bener2 bisa dianggap sebagai pahlawan, pak, sayangnya dinodai oleh ulah beberapa pemulung yang menggunakan pekerjaannya sebagai kedok semata.
[Reply]
wahhh ngamcem banget tu peringatan
Baca juga tulisan terbaru zoel berjudul Pagi yang indah di kotaku
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 19:43
begituh, mas zoel. terkesan ada rasa dendam begitu.
[Reply]
Wah.. serem bgt tuh peringatannya.. ya krn oknum pemulung yg ga bertanggung jawab.. di tempat saya (malang) sebutannya ‘argobel’ = arek golek beling.. keren ya..
Baca juga tulisan terbaru waw berjudul H-5
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 19:45
argobel? wow… bagus banget akronimnya, mas, hehe …. saya juga tak tahu, kenapa tulisan bernada ancaman yang mengandalkan kekerasan semacam itu tega dipasang, yak!
[Reply]
Kita musti ubyektif, tuidak semua pemulung uitu jelek, ning ya ora kabeh pemulung apik, kaya kita-kita ini. Sing apik sukanya nyortiri barang bekas di dpn rumah kita, lha sing nyengit dia ngambil di wilayah kedaulatan kita pas kita tidak di rumah, lha mau dikasihkan di dalam, wong tempate uyel-uyelan. Tapi ya wis ben daripada kita punya kebiasaan baru ….. nyusuh (terus ngendok, terus netes, terus mabur dijupuk sing Kuasa, malah payah belum sempat sedekah, terus …. teruskan pak Sawali ahhh)
Baca juga tulisan terbaru wahyubmw berjudul AKUNTANSI KEHIDUPAN
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 19:48
betul banget, pak wahyu. agaknya tak hanya pemulung, di berbagai aspek, karakter semacam itu ada. ada yang baik, ada yang buruk. pemulung yang bener2 jujur dan memiliki etos kerja andal itulah yang layak diberi predikat sebagai “pahlawan sejati”.
[Reply]
tdak ada orng yg ingn dlhirkan dngn keadaan srba kkurangan, bner pa’de? cuman bnyk diantara kita yg kurang peka atw kurang bisa mngrti dengan keadaa, krng bisa mnmpatkan sdut pndang… :-w
bukan hnya pmulung, bnyk pngamen juga gtu… ya prihatin sekali.. Andaikan mreka bisa mngubah nasib saat itu juga, saya ykin mreka tdak mmlih untk sprti itu
Baca juga tulisan terbaru Ardy Pratama berjudul Ardy Birthday…
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:38
mas pratama saya kira benar. keadaan seringkali memaksa seseorang utk bekerja seadanya, seperti pemulung itu. sayangnya, tak sedikit orang yang memanfaatkan pekerjaan sebagai pemulung sekadar kedok belaka.
[Reply]
Kayanya, di setiap profesi, apapun itu, selalu ada oknum deh Pak. Mereka yang merusak susu sebelangga dengan setitik tinta. Pejabat, orang tua, pemulung, pengamen bahkan guru (maaf) ada saja yang bertingkah kurang beretika. Akibatnya, yang lurus-lurus dan benar2 pahlawan terkena getahnya.
Dan saya baru sadar, butuh bermenit-menit membaca tulisan dan deretan komen yang sepanjang hampir 40 kali pencetan pgdn ini hahaha saya oknum pegawai yang korupsi waktu nih
Baca juga tulisan terbaru Timun berjudul I am a beach without the ocean
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:40
betul sekali, mbak timun, “oknum” selalu saja ada di berbagai pekerjaan dan profesi. repotnya, masyarakat kita demikian mudah melakukan generalisasi, sehingga orang baik2 pun terkena getahnya juga, hehehe ….
[Reply]
KEbayang kalo di negeri ini nggak ada pemulung… Sampah makin numpuk aja nggak ketulungan!!! Hidup Partai Pemulung!
Baca juga tulisan terbaru qizinklaziva berjudul Bab Kematian
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:41
hehehe … bener juga, mas qizink. ini artinya, secara tidak langsung pemulung telah ikut menjaga kebersihan lingkungan.
[Reply]
Astaghfirullah,, kejam amaat..
mungkin emang, oknum itu bikin sebel…..
jadi, ndak semua oemulung itu suka nyuri, emang sering ada yang jail, tong sampah bagus, sendal, perkakas rumah tangga di angkut juga, tapi, mungkin dengan pengawasan bersama serta, minimal menjaga barang masing2 akan lebih membantu, daripada harus mencegah orang mencari sesuap nasi, pemulung juga manusia…
bukan begitu, pak??:)>-
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:42
betul banget, mbak shei, pemulung juga manusia. jadi ngeri kalau sampai mereka harus mendapatkan ancaman sekeras itu hanya karena ulah beberapa “oknum” pemulung.
[Reply]
teringat adek pemulung kecil yang patah lengan kanannya ketabrak motor gara2 rebutan lari ketempat sampah cuma mo ngambil botol air mineral, emang tuh kerjanya tuk bantu ibunya yang cuma jadi kembang bayang (lama sakit hanya di tempat tidur) untung aja Pak RT-nya tanggap so biaya operasi patah tulangnya di tanggung/klaim Jasa Raharja. Tuhan Maha Adil
Baca juga tulisan terbaru rela berjudul Mulanya ikut Latihan SEO Untuk Pemula
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:43
duih, tragis amat, hanya lantaran berebut botol aqua, harus jadi korban tabrakan. syukurlah kalau mereka bisa terselamatkan.
[Reply]
Gak terbayang jika dirumah saya tidak ada pemulung … sampah menumpuk tanpa terkendali
Baca juga tulisan terbaru Rindu berjudul Teruslah melangkah…
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:43
betul, mbak rindu. itu artinya, pemulung yang baik berjasa juga buat kita juga, kan? hehehe ….
[Reply]
biadab n racist bgt papan pengumuman itu …
main pukul rata aja…
heran…[-(
Baca juga tulisan terbaru elly.s berjudul KDRT
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:44
itulah yang terjadi, mbak. bisa jadi tulisan bernada ancaman itu muncul akibat ulah beberapa gelintir pemulung yang kurang terpuji.
[Reply]
Pemulung … nasibmu kini …
Sebenarnya masih mending mereka dibandingkan para koruptor yang menjadi maling sialan di atas sana.
Seharusnya sekarang ekonomi kerakyatan yang diberikan oleh para pendiri bangsa ini adalah untuk menaungi mereka, tapi apa yang terjadi? Ah, mungkin menunggu beberapa tahun lagi, ataukah bisa di tahun depan?
Baca juga tulisan terbaru bisaku berjudul Rumahku Dan My Honey Nanti
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:46
negeri kita memang penuh ironi, mas toni. saya kira mas toni benar, pemulung lebih baik ketimbang koruptor yang suka mengemplang harta rakyat. semoga saja, ada perubahan, sehingga amanat UUD’45 untuk melindungi orang2 miskin dan anak telantar benar2 bisa dilaksanakan.
[Reply]
Memang dijaman sekarang banyak yang mengartikan bahwa pemulung adalah sampah masyarakat, tapi mereka tidak sadar bahwa pemulung juga manusia yang sama seperti kita….
Salam kenal mas….:)
Baca juga tulisan terbaru handoko berjudul Kosong
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 6th, 2008 @ 20:47
betul sekali, mas handoko, para pemulung seperti kita juga. btw, salam kenal juga, mas handoko, terima kasih kunjungannya.
[Reply]
Asalkan halal memulung pun tak mengapa…
Baca juga tulisan terbaru TengkuPuteh berjudul KALAH PERANG
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:28
betul banget, mas tengku, setuju banget nih!
[Reply]
Saya sendiri gak setuju dengan papan pengumuman semacam itu…
Bagaimanapun pemulung punya jasa dalam pembangunan bangsa ini..
Baca juga tulisan terbaru abdee berjudul Balada Calo Seleksi PNS
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:24
yaps, begitulah, mas abdee, agaknya masyarakat kita belum bisa menerima kehadiran pemulung seutuhnya akibat ulag beberapa gelintir pemulung yang berbuat kurang terpuji.
[Reply]
he, he., iyah berkat pemulung., semua jadi bersih pak.
Baca juga tulisan terbaru hendra berjudul Ini ML atau Cintaku Selamanya
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:25
nah, itu artinya, pemulung ikut menjaga kebersihan lingkungan, bener nggak, mas hendra, hehehe ….
[Reply]
pemulung mencari sesuap nasi…koruptor mencari ….(segalanya)
Baca juga tulisan terbaru hawee berjudul Permen Narkoba
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:25
bener juga ungkapan itu, mas hawee, hehehe ….
[Reply]
waduh…nasibmu pemulung. Nasibku rakyat jelata. Ya gini nasibnya…:)>-
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:26
begitulah, mbak is, sikap diskriminasi berdasarkan pekerjaan dan jabatan agaknya masih sangat kuat di negeri ini.
[Reply]
Selamat pagi semua, semoga Indonesia hari lebih baik ya Pak..
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:26
pagi, juga, mbak is, sukses selalu buat mbak is dan keluarga!
[Reply]
Hattrick ah….:)>-
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:27
walah 8->
[Reply]
tapi pemulung kebanyakan yang maling juga seh?.. kan serba repot pak?… di komlekku sering kehilangan, di curi pemulung….. tapi kebetulan aku belum pernah seh… he2
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:28
hehehe … tapi ada juga pemulung yang bener2 jadi pahlawan, terutama buat keluarganya, mas har, hehe …..
[Reply]
Saya lebih senang bila tak ada pemulung di negeri ini. Maksudnya, kesejahteraan rakyat, paling tidak urusan kebutuhan pokok sandang, pangan, dan papan bisa dijamin oleh negara.
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:29
yaps, sepakat banget, pak suhadi. hal itu bisa terwujud jika pemerintah bener2 konsisten menjalankan amanat UUD 1945.
[Reply]
Pemulung memang banyak berjasa, namun juga ada banyak yang berpura-pura jadi pemulung, dan akan masuk rumah apabila pemiliknya lengah. Akibatnya semua orang akhirnya membuat aturan untuk pengamanan.
Di satu sisi, mereka suka mengobrak abrik sampah yang sebetulnya sisa makanan dan telah dimasukkan dalam plastik, sehingga bau menyengat…terutama jika seperti di tempat saya, tukang sampah hanya datang dua hari sekali. Akhirnya disepakati, sampah dalam plastik tetap ditaruh dihalaman dan tukang sampah ngebel…sedang bekas kardus dll yang bisa dimanfaatkan pemulung ditaruh dalam bak sampah. Apa boleh buat, semua jadi nyaman. Tukang sampah tinggal ambil sampah yang telah diikat dalam plastik, pemulung bisa ambil barang-barang dari tempat sampah.
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:31
itulah yang menyedihkan, bu enny, di tengah keberhasilan seorang pemulung menjadi tulang punggung keluarga, agaknya tak sedikit oknum pemulung yang suka cari kesempatan utk mengambil barang yang bukan menjadi haknya.
[Reply]
wah, jangan2 nanti masyarakat kita semakin tidak punya kepedulian ya? mereka mudah sekali tidak peduli pada orang hanya karena satu dua kasus yg pernah terjadi, tanpa memikirkan kebaikan2 yg juga dilakukan oleh pemulung [-(
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:33
itulah kekhawatiran kita, mbak septy. cara berpikir yang terlalu nggebyah uyah dan generalisasi, seringkali memberikan stigma buruk. mudah2an saja para pemulung di negeri ini mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah.
[Reply]
itulah nasib orang kecil, tak pernah terperhatikan.
postingan yang luar biasa Pak
Baca juga tulisan terbaru indahjuli berjudul Stand For You
[Reply]
Sawali Tuhusetya menjawab pada November 9th, 2008 @ 00:53
itulah yang terjadi, mbak juli. pemerintah yang seharusnya ikut memberikan santunan, agaknya juga sibuk dg kepentingannya sendiri, hiks. walah, biasa saja, kok, mbak juli.
[