Membumikan Nilai Demokrasi dari Ruang Kelas

Kategori Pendidikan Oleh

demokrasiSejak reformasi bergulir di negeri ini, atmosfer demokrasi berhembus kencang di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Masyarakat pun menyambut “peradaban” baru itu dengan antusias. Kebebasan yang terpasung bertahun-tahun lamanya kembali berkibar di atas panggung kehidupan sosial. Meskipun demikian, atmosfer demokrasi itu tampaknya belum diimbangi dengan kematangan, kedewasaan, dan kearifan, sehingga kebebasan berubah menjadi “hukum rimba”.

Mereka yang tidak sepaham dianggap sebagai “kerikil” demokrasi yang mesti disingkirkan. Contoh paling nyata adalah meruyaknya berbagai aksi kekerasan yang menyertai perhelatan pilkada di berbagai daerah beberapa waktu yang lalu. Pihak yang kalah bertarung tidak mau menerima kekalahan dengan sikap lapang dada. Jika perlu, mereka memaksakan diri untuk melalukan tindakan anarkhi yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.

Jika kondisi semacam itu terus berlanjut, bukan tidak mungkin benih-benih demokrasi di negeri ini akan layu sebelum berkembang. Bagaimana mungkin nilai-nilai demokrasi bisa tumbuh dan berkembang secara kondusif kalau demokrasi dimaknai sebagai sikap besar kepala dan ingin menang sendiri? Bagaimana mungkin atmosfer demokrasi mampu menumbuhkan kedamaian, keadilan, dan ketenteraman kalau perbedaan pendapat ditabukan?
***

Disadari atau tidak, ketidakmatangan, ketidakdewasaan, dan ketidakarifan masyarakat dalam menyongsong tumbuhnya iklim demokrasi tidak terlepas dari buruknya penanaman nilai-nilai demokrasi dalam dunia pendidikan kita. Kelas bukan lagi menggambarkan masyarakat mini yang mencerminkan realitas sosial dan budaya, melainkan telah menjadi ruang karantina yang membunuh kebebasan dan kreativitas siswa didik.

Guru belum mampu bersikap melayani kebutuhan siswa berdasarkan prinsip kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan –sebagai pilar-pilar demokrasi– tetapi lebih cenderung bersikap bak “diktator” yang memosisikan siswa sebagai objek yang bebas dieksploitasi sesuai dengan selera dan kepentingannya. Masih menjadi sebuah pemandangan yang langka ketika seorang guru tidak sanggup menjawab pertanyaan muridnya, mau bersikap ksatria untuk meminta maaf dan berjanji untuk menjawabnya pada lain kesempatan. Hampir sulit ditemukan, siswa yang melakukan kekhilafan diberikan kesempatan untuk melakukan pembelaan diri. Yang lebih sering terjadi adalah pola-pola indoktrinasi dan dogma-dogma menyesatkan. Siswa diposisikan sebagai pihak yang paling bersalah sehingga harus menerima sanksi yang sudah dirumuskan tanpa melakukan “kontrak sosial” bersama siswa.

Ketika ada siswa yang mencoba bersikap kritis dengan bertanya: “Mengapa kalau guru terlambat tidak mendapatkan sanksi, sedangkan kalau siswa yang terlambat akan dikenai hukuman tanpa pembelaan? Bak seorang diktator, sang guru akan menjawab secara dogmatis bahwa hal itu sudah menjadi peraturan yang tak boleh ditawar-tawar lagi. Sungguh, sebuah dogma menyesatkan yang bisa membunuh nilai-nilai demokrasi dalam jiwa dan kepribadian siswa.
***
Seiring dengan berhembusnya iklim demokrasi di negeri ini, sudah saatnya dilakukan upaya serius untuk membumikan nilai-nilai demokrasi di kelas. Prinsip kebebasan berpendapat, kesamaan hak dan kewajiban, tumbuhnya semangat persaudaraan antara siswa dan guru harus menjadi “roh” pembelajaran di kelas pada mata pelajaran apa pun. Interaksi guru dan siswa bukanlah sebagai subjek-objek, melainkan sebagai subjek-subjek yang sama-sama belajar membangun karakter, jatidiri, dan kepribadian. Profil guru yang demokratis tidak bisa terwujud dengan sendirinya, tetapi membutuhkan proses pembelajaran. Kelas merupakan forum yang strategis bagi guru dan murid untuk sama-sama belajar menegakkan pilar-pilar demokrasi.

Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, mewariskan semangat “ing madya mangun karsa” yang intinya berporos pada proses pemberdayaan. Di kelas, guru senantiasa membangkitkan semangat berekplorasi, berkreasi, dan berprakarsa di kalangan siswa agar kelak tidak menjadi manusia-manusia robot yang hanya tunduk pada komando. Dengan cara demikian, kelas akan menjadi magnet demokrasi yang mampu menggerakkan gairah siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai demokrasi dan keluhuran budi secara riil dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah bukan zamannya lagi, guru tampil bak diktator yang menggorok dan membunuh kebebasan dan kreativitas siswa dalam berpikir. Berikan ruang dan kesempatan kepada mereka di kelas untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang kritis dan dinamis. Tugas dan fungsi guru adalah menjadi fasilitator dan mediator untuk menjembatani agar siswa tidak tumbuh menjadi pribadi mekanistik yang miskin nurani dan antidemokrasi.

Bukankah membangun pribadi yang demokratis merupakan salah satu fungsi pendidikan nasional sebagaimana tersurat dalam pasal 3 UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas? Kalau tidak dimulai dari ruang kelas, kapan anak-anak bangsa ini akan belajar berdemokrasi? ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

67 Comments

  1. Memang mestinya gitu pak., Tapi tidak hanya itu kadang siswa yang diajar ramai sendiri, buru-buru sang guru menyalahkan siswa, padahal kadang sebenarnya karena dia tidak memberikan pembelajaran yang menarik untuk siswanya

  2. 🙁 pengajar, baik guru ataupun dosen memang memiliki karakter demikian. ya… itulah produk lama. relasi pendidik dengan peserta didik memang dibangun dalam relasi subjek-objek. itu pula mengapa kita membuat standarisasi yang terlalu sempit dalam menilai peserta didik.
    :(( peserta didik diasusikan dengan tabula rasa, kosong dan harus diisi, karenanya setiap wacana kontra akan dianggap pemberontakan. itu yang menyebabkan sebagian kecil pendidik terkadang mengambil alternatif nuntuk bersebrangan dengan mainstream. itupun dianggap tidak populis pada level struktural lembaga pendidikan. berbeda adalah kesalahan. bukankah perbedaan adalah rahmat jika setiap orang dapat melihat beyondnya?
    Kini, seminar pendidikan semakin marak. namun apa daya, pemikiran strukturalis membuat pendidik mengikutinya atas dasar potensi promosi dan naik golongan. haks.
    :-w pada akhirnya wacana perubahan hanya menjadi milik swasta. itupun tidak akan jauh dari program kapitalisasi pendidikan.
    Dimana Oemar Bakri? sudahlah… katanya semua berbicara mengenai ‘berapa gaji mengajar di sekolah tersebut?’ Apa daya, perbedaan sepertinya masih akan jadi kebodohan dan kenakalan dalam mainstream pendidikan kita.
    Mungkin ini hanya pandangan ekstrim korban institusi pendidikan. Ini belum lagi ditambah perbedaan yang muncul karena ‘tidak bisa bayar uang SPP’, birokrasi institusi pendidikan akan bertanya ‘memangnya kamu punya masalah apa?’ pada mahasiswanya… wajar, suatu sistem dimana pendidik menjadi sekedar pentransfer hapalan dan keterampilan teknis menanyakan hal tersebut… sang mahasiswapun hanya bisa berkata dalam hati ‘masalahnya kita beda Bu, anda tidak pernah merasakan miskin’…. :-”

    BLogicThink [dot] coms last blog post..WordPress Plugin : Nofollow Free

  3. Saya sangat setuju dengan pendapat pak Sawali, pasalnya semua keterpurukan negeri ini bermula dari proses pendidikan, baik pendidikan di sekolah maupun di rumah. Saya akan menggambarkan diri saya (guru) di sekolah yang hanya memberikan doktrin, bukan keteladanan.
    Kita lihat saja korupsi, mungkin sebagian besar guru mengatakan “Apa sih yang bisa dikorupsi guru?, paling-paling kapur”. Jawaban ituhanya sekedar dalih, karena tidak mendapat kesempatan korupsi. Tanpa disadari bahwa terlambat masuk kelas juga bagian dari korupsi. Jelas ini termasuk merugikan anak-anak dan membentuk watak terlambat adalah hal biasa kalau nanti sudah bukan jadi murid. Kita lihat saja budaya jam karet adalah hal umum, mungkin ini salah satu sisi keberhasilan pendidikan.
    Pejabat salah adalah hal lumrah, rakyak gak boleh salah. Ketaatan terhadap aturan, hukum dan norma-norma sering dicontohkan salah dalam proses pembelajaran. Kalau guru salah itu wajar… tapi kalau siswa yang salah maka aturan harus ditegakkan. kalau guru yang salah,… ya kita harus menghormati jasa-jasa guru sebagai pahlawan. damaknya ternyata penegakan hukum di negeri ini menjadi kewajiban rakyat.
    kaya kampanye…..

    budis last blog post..RENUNGAN RAMADHAN

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Pendidikan

Go to Top