Blog, Politik, dan Sebuah Perubahan

Kategori Blog Oleh

kotak_pemiluTak lama lagi, bangsa kita akan menggelar pesta demokrasi; sebuah piranti negara yang amat strategis sebagai momentum untuk melakukan sebuah perubahan. KPU telah mengesahkan 34 parpol yang akan melaju dan melenggang dalam pesta demokrasi itu. Ini artinya, persaingan akan semakin ketat. Setiap parpol akan terus bersaing dan berjuang untuk meraih simpati rakyat dengan berbagai cara. Para elite partai dipastikan telah merancang berbagai strategi jitu untuk mengumpulkan suara rakyat ke dalam pundi-pundi politiknya. Rakyat pun memiliki harapan besar akan terjadinya sebuah perubahan.

Era multipartai, diakui atau tidak, telah membuka atmosfer kebebasan para elite untuk menunjukkan perilaku politik yang sesungguhnya kepada rakyat. Mereka bisa berdialog dan berinteraksi dengan rakyat melalui bahasa-bahasa politik yang merakyat dan mengena hingga ke lapisan masyarakat akar rumput. Dengan cara demikian, fungsi parpol yang notabene bermaksud untuk mengangkat persoalan-persoalan rakyat ke dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara bisa terwujud. Namun, secara jujur harus diakui, hasil-hasil pemilu selama ini belum berhasil melakukan sebuah perubahan yang signifikan. Rakyat masih terabaikan, bahkan cenderung hanya dijadikan sebatas objek ambisius para elite yang kehilangan nurani kerakyatan.

Dari dua kali pemilu pada era multipartai, hanya terdapat enam sampai tujuh parpol yang bisa lolos electoral threshold sesuai dengan ketentuan UU, yakni Golkar, PDIP, PKB, PAN, Demokrat, PPP, dan PKS. Ironisnya, sejumlah partai besar ini dinilai (nyaris) abai terhadap persoalan-persoalan kerakyatan. Mereka hanya sibuk memikirkan agenda-agenda politik menjelang siklus lima tahunan dan sibuk memikirkan kalkulasi untung-rugi dalam berpolitik, bahkan tak jarang sejumlah kader parpol yang gontok-gontokan dengan sesamanya. Yang lebih parah, ada sejumlah elite partai yang tersandung kasus korupsi. Tak berlebihan jika sejumlah parpol besar ini mulai kehilangan pamor. Perubahan besar yang gencar diobral di atas mimbar kampanye pun hanya jadi retorika dan slogan belaka.

Lantas apa hubungan politik dan perubahan itu dengan keberadaan sebuah blog? Bisakah blog dijadikan sebagai media strategis untuk ”mempropagandakan” misi-misi politik sebuah partai dalam ”menaklukkan” suara rakyat?

Secara langsung tidak ada memang. Eksistensi sebuah parpol lebih ditentukan oleh kepiawaian para elite partai dalam membangun jaringan interaksi dan komunikasi dengan publik. Publik politik di negeri ini sebagian besar tinggal di daerah pedesaan yang masih dihadang kendala terhadap akses informasi. Praktik komunikasi politik yang langsung berdialog dengan rakyat dalam bentuk tatap muka jelas akan lebih mengena dan bermakna ketimbang menggunakan media komunikasi yang lain.

Meski demikian, kita juga harus jujur mengakui, kendali politik masih dipegang oleh kelas menengah. Merekalah yang selama ini menjadi mediator kepentingan antara elite partai dan rakyat. Dalam pemahaman awam saya, kelas menengah ini terdiri dari para birokrat, tokoh-tokoh organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, kaum intelektual, dan kaum muda yang sebagian besar didominasi oleh mahasiswa. Kaum elite partai yang berhasil merangkul kelas menengah, jelas akan memiliki prospek komunikasi politik yang lebih cerah dan menjanjikan. Dalam konteks demikian, keberadaan sebuah blog pada era gelombang informasi ini akan menjadi sebuah media komunikasi politik yang strategis dalam melakukan pencitraan positif terhadap publik. Bukankah kaum kelas menengah sudah demikian akrab dan bersahabat dengan sebuah blog?

Nah, mulai memudarnya pamor parpol besar akibat dihadang banyak masalah, seharusnya menjadi momentum yang tepat bagi parpol pendatang baru untuk merangkul kelas menengah melalui sebuah blog. Blog bisa dijadikan sebagai media untuk menjaring suara-suara rakyat melalui kelas menengah yang selama ini diabaikan. Persoalannya sekarang, sudah banyakkah para politisi yang dengan amat sadar dan punya ”nyali” menggunakan blog sebagai media untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan politiknya dalam upaya melakukan sebuah perubahan? ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

55 Comments

  1. Aku masih percaya: perubahan baru akan terjadi di Indonesia jika kaum muda yang ambil peran. Out semua “orangtua” yang kadung masuk ke dalam sistem masa lalu. Perubahan radikal, tidak bisa tidak!

    Aku bukan tidak percaya pada kendaraan yang ada saat ini. Tapi apa yang sudah dihasilkan? Mari jujur-jujuran, partai-partai besar itu ketika sudah masuk ke dalam sistem, baik di eksekutif maupun legislatif, belepotan dengan korupsi. Bagi-bagi kue. Jual-jual aset. Kepentingan rakyat semata bedak ginju saat kampanye. Menggelikan! Sungguh menggelikan! Bagaimana tidak menggelikan jika saat ini banyak mulut yang terlampau gembar-gembor soal rakyat. Letih!

    Aku tidak apatis. Tetap percaya pada perubahan. Tapi kalau melihat 10 tahun ke belakang, no way! Kita masih terseok-seok di jalan setapak demokrasi.

    Dalam beberapa tahun ke belakang ini, memang ada partai yang mulai kuperhatikan sepak terjangnya. Tapi intinya satu: apakah ia tetap bisa mempertahankan komitmennya. Biasanya kalau sudah masuk sistem, lupa diri.

    Kita tentu masih berharap republik ini akan menjadi lebih baik lagi. Bukankah begitu.

    saya sepakat dg mas daniel. kita tetap optimis bahwa perubahan itu akan tetap ada. memang parpol yang ada hingga saat ini masih perlu dipertanyakan kredibiltasnya. biasanya kalau sudah dapat kursi empuk lupa utk bangkit dan menyapa rakyat, haks 🙁

  2. Nah kenapa tidak pak Sawali menggunakan blog untuk media kampanye……………..
    Tentu dengan partai baru yaitu partai guru atau partai BLOGER
    ……………………………………………………………………………………………..
    dari tulisan pak Sawali diatas dapat ditangkap bahasa kultus bahwa seorang politisi yang di bawah naungan kelompok yang dinamakan partai ,bahwa ternyata beliau 2 Elit politik memang jelas dan nyata tidak memikirkan kepentingan rakyat dan hanya memperalat rakyat untuk kepentingan partainya sendiri, itu mungkin terjadi karena pemahaman bahasa para politik menjadi dangkal dan pada kenyataanya para politisi tidak memahami benar bahasa rakyat ( meski belajar pada Pak Sawali ) sedang mestinya mereka para politisi harusnya tahu makna dan arti Partai ,partai kan bisa di ambil dari bahasa inggris yaitu
    1.PART yang berarti komponen atau bagian
    jadi mestinya harus bersama untuk membentuk sesuatu karena tanpa bagian atau komponen tersebut tidak ada wujud sama sekali
    2.PARTISIPASI
    Yang kalau nggak salah dari makna membangun pengertian tenggang rasa untuk mewujudkan sesuatu,jadi tanpa kebersamaan ibaratnya ada gelas ( rakyat ) diatas meja ( negara ) dan para politisi memegang setiap sisi kaki meja dan pingin membawa atau memindahkan meja tersebut tapi apa jadinya kalau mengangkatnya tidak bareng, dan atau tujuannya nggak sama tentu mejanya rusak ,dan gelasnya Tumpah ( kira kira seperti itu bangsa kita pak )

    sedang sebagian para politisi memilih mengartikan dan memahami kata partai dari :
    PARTY
    yang berarti berpesta ,berpesta uang rakyat ,bersenang senang diatas kesengsaraan bangsa,mabok atau lupa diri bahwa mereka mengemban tugas amanat rakyat, bicara orang mabok biasanya ngelantur bicara, diluar kendali kemanusiaan ,menghalalkan segala cara,dan…………….weh panjang juga baiknya saya posting aja

    Lantas kenapa kita milih partai kalau politisinya PARTY…..kalau menurut saya ( saat ini ) pilihan terbaik adalah tidak memilih ( sekarang lho belum saatnya milih haahahaha)

    wah, makasih banget, mas totok tambahan infonya. bener2 baru tahu kalau partai ternyata dari istilah2 semacam itu. repotnya, yaitu, mas, partai malah disalahgunakan menjadi “party”; menjadi ajang utk pestapora dan bancakan uang rakyat, haks 🙂

    • Gak tau… saya seneng baca blog ini :)>-
      hehe….kangen sama wacana2 seger dan baik…
      sejak masuk blogosphere… nuansaku adsense, review, affiliasi…
      disini enak… adem…. mo marah2 juga masih boleh kok asal argumentasinya logis…
      bersukur ketemu blog ini…

  3. Sayangnya satu Pak, pengguna internet (dengan kata lain calon pembaca blog) masih belum sampai ke berbagai pelosok tanah air. Jadi kampanye menggunakan media blog mungkin hanya akan bermanfaat di kota-kota besar saja 🙁

    yaps, bener banget, mas riyo. makanya, blog hanya efektif utk media politik bagi kelas menengah, hehehe 😆

  4. suatu hari sy pernah posting tentang pemilu, ketauan kalo beberapa partai emang hi tech, karena punya byk pendukung di Internet.. dengan jumlah koment pendukung partai tertentu.
    masing2 partai memiliki lahan yang beda2, ada yg lahannya pengusaha, rakyat kecil, PNS, da juga yg lahannya memang di internet…
    siap2 panen yg mana yang paling bagus dan efektif 😀
    FYI : jumlah partai skrg sudah 38 lho pak 😀 malah rencana tambah satu lagi 😀

    wah, katanya KPU ndak mungkin menambah partai lagi, mas aRul. 34 sudah terlalu banyak, kenapa masih nambah lagi, yak? 😀

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Blog

Setelah 9 Tahun Ngeblog

Juli 2007 merupakan saat pertama saya belajar ngeblog (=mengeblog). Sering berganti-ganti engine,

Enam Purnama Tanpa Jejak

Sudah enam purnama, saya tidak meninggalkan jejak di blog ini. Sejatinya, enam
Go to Top