Yang Tersisa Setelah “Pesta” Karnaval
Kategori: Bahasa, Budaya, Kearifan Lokal, Opini, Pendidikan, Politik, Refleksi
Sudah jadi “ritual”, 17 Agustus-an tanpa karnaval, agaknya seperti ijab kabul tanpa dilanjutkan makan-makan. Entah sejak kapan bangsa kita memulainya. Yang jelas, karnaval seperti telah menjelma jadi sebuah “pesta”. Rakyat jadi gegap-gempita menyambutnya. Begitulah yang terjadi di Kendal, 18 Agustus 2008 kemarin. Matahari yang memanggang bumi, agaknya tak menyurutkan semangat para peserta maupun penonton untuk menuntaskan kemeriahan “pesta” itu. Jalur Pantura yang memang sudah biasa padat-merayap jadi makin macet total sejak pukul 13.00 s.d. pukul 18.00 WIB. Hampir tak ada sejengkal pun badan jalan yang tersisa untuk bisa membuat kaki melangkah dengan leluasa. Sungguh merepotkan bagi pengguna jalan yang kebetulan harus bisa... (Baca lanjutannya!)
Dirgahayu Negeriku!
63 tahun sudah masa-masa heroik itu berlalu. Meski kini tampak sempoyongan menanggung beban, kau masih kokoh dan perkasa. Kini, musuh yang tampak di depan mata adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Presiden boleh berganti, para menteri boleh datang dan pergi menduduki kursi, para anggota dewan boleh terus berkoar di atas mimbar kampanye mengobral janji-janji, para koruptor boleh bersilat lidah dan menyembunyikan bukti-bukti, tetapi aku yakin, warna merah darah dan putih tulangmu akan terus menjadi saksi peradaban dari generasi ke generasi. Seiring semburat warna keemasan dari ufuk Timur, kautaburkan semerbak aroma cendana ke segala penjuru. Sayang, tidak semua orang punya kekuatan untuk memburunya. Bau wangi cendana telah masuk... (Baca lanjutannya!)













