Home | Bahasa, Budaya, Edukasi, Kearifan Lokal, Opini, Politik, Refleksi | Yang Tersisa Setelah “Pesta” Karnaval

Yang Tersisa Setelah “Pesta” Karnaval

Tuesday, 19 August 2008 (05:24) | 1,326 pembaca | 57 komentar | Print this Article

Sudah jadi “ritual”, 17 Agustus-an tanpa karnaval, agaknya seperti ijab kabul tanpa dilanjutkan makan-makan. Entah sejak kapan bangsa kita memulainya. Yang jelas, karnaval seperti telah menjelma jadi sebuah “pesta”. Rakyat jadi gegap-gempita menyambutnya.

Begitulah yang terjadi di Kendal, 18 Agustus 2008 kemarin. Matahari yang memanggang bumi, agaknya tak menyurutkan semangat para peserta maupun penonton untuk menuntaskan kemeriahan “pesta” itu. Jalur Pantura yang memang sudah biasa padat-merayap jadi makin macet total sejak pukul 13.00 s.d. pukul 18.00 WIB. Hampir tak ada sejengkal pun badan jalan yang tersisa untuk bisa membuat kaki melangkah dengan leluasa. Sungguh merepotkan bagi pengguna jalan yang kebetulan harus bisa secepatnya sampai ke tujuan.

karnaval2karnaval3karnaval4karnaval5karnaval6karnaval7

Banyak instansi, lembaga, atau organisasi yang terlibat. Bahkan, ada beberapa partai politik yang memobilisasi massa untuk ikut-ikutan masuk dalam rombongan karnaval. Tokoh-tokoh politik lokal agaknya tak mau melewatkan “pesta” itu untuk menyalurkan naluri politiknya. Kampanye “terselubung” pun sudah jelas tercium. Yel-yel partai menyeruak di sela-sela rombongan yang padat. Bergemuruh.

Karnaval bisa jadi sebagai media yang tepat untuk menyajikan informasi dan hiburan kepada rakyat. Melalui karnaval, info-info penting yang selama ini nyaris tak sampai ke telinga rakyat bisa terjembatani. Sayangnya, masih banyak kelompok peserta dari instansi tertentu yang tidak menggunakan bahasa “rakyat” yang lugas dan gampang dipahami. Bahasanya cenderung kaku dan lebih menonjolkan sikap narsisnya. Info-info penting pun jadi kabur.

Yang patut disayangkan, karnaval lebih banyak menonjolkan keglamoran. Untuk menyambut “pesta” itu, tak jarang menyedot biaya tinggi. Memang menarik dan memikat. Namun, esensi karnaval yang idealnya mesti lebih difokuskan untuk penyampaian informasi dan hiburan, jadi kabur. Karnaval tak lebih sebatas “ajang” persaingan antarinstansi untuk unjuk gengsi di mata rakyat. Mereka terkesan habis-habisan untuk memamerkan keunggulan dan kelebihannya. Untuk tampil jalan kaki satu jam dengan jarak sekitar 2 kilometer, mereka mesti mempersiapkannya dalam waktu lebih dari sepekan. Jam kerja sering tersedot untuk menggarap segala macam propertinya.

Mungkin akan lebih mengena jika pesan-pesan yang hendak disampaikan kepada publik dikemas melalui bahasa yang lugas dan merakyat lewat atraksi dan properti yang murah-meriah. Hal ini sekaligus juga untuk memberikan teladan kepada rakyat tentang pola hidup sederhana.

Lantas, apa yang tersisa dari “pesta” itu? Haks, yang jelas penonton merasa terhibur. Persoalan dapat info penting atau tidak, agaknya bukan hal yang terlalu penting untuk dipersoalkan. Pesan-pesan nasionalisme dan semangat kepahlawanan pun agaknya sudah mulai tersulap dengan pesan-pesan kekinian yang lebih profan dan lebih memburu nilai hiburannya semata. Meski demikian, ada juga peserta karnaval yang kreatif mengemasnya lewat tampilan properti yang sederhana, tetapi menarik. Pesan-pesan yang disampaikan pun mengena lewat kemasan bahasa yang merakyat; lugas dan gampang dipahami. Nah, bagaimana dengan karnaval di tempat Sampeyan? ***

Kategori: Bahasa, Budaya, Edukasi, Kearifan Lokal, Opini, Politik, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgDirgahayu dan HUT Ke-63 RI (Friday, 1 August 2008, 3,801 pembaca, 60 respon) Suasana heroik itu kembali tercium di sekeliling kita. Sosok pahlawan seperti terpampang jelas dalam layar memori kita. Betapa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan butuh pengorbanan; air mata dan darah. Sudah tak terhitung roh para pendahulu...
imgRefleksi Menjelang Agustus-an (Thursday, 31 July 2008, 913 pembaca, 47 respon) Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global. Itulah tema yang diusung panitia peringatan HUT ke-63 RI. Ada dua...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Yang Tersisa Setelah “Pesta” Karnaval" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Tuesday, 19 August 2008 (05:24)) pada kategori Bahasa, Budaya, Edukasi, Kearifan Lokal, Opini, Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

57 Responses to "Yang Tersisa Setelah “Pesta” Karnaval"

  1. uwiuw says:
    Menggunakan Firefox 2.0 Firefox 2.0 pada Windows XP Windows XP

    “kemasan bahasa yang merakyat;”..sy suka kalimat ini. mungkin agak oot, tapi sy punya pengalaman sendiri untuk bisa menulis blog yg seperti ini….sy ingin sekali bisa menulis dimana sy mampu membungkus term term it dan blogging dan kemudian disajikan dgn kata dan ilustrasi yg bisa dengan mudah dimengerti.

    dan mbak uwiuw sudah melakukannya dengan baik toh? salut :roll:

  2. Yari NK says:
    Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    Wah…. tempat saya nggak ada karnaval2an tuh…. yang ada malah acara di kantor… tapi bukan karnaval hanya pameran kerajinan tangan dan juga beberapa permainan. Yang tradisi adalah yang jadi favorit ibu2 yaitu lomba panjat pinang untuk bapak2 dengan menggunakan sarung. Kalau itu sarung udah piknik ke tempat lain… wah… ibu2nya pasti pada sorak deh… huehehehe….. :mrgreen:

    Yari NKs last blog post..Terlalu Bergantung Pada Kekayaan Alam?

    wah, yang serba tradisional agaknya makin diminati, bung yari. mungkin sudah mulai jenuh dg permainan2 yang serba modern, hehehe :lol:

  3. Berli says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.16 Firefox 2.0.0.16 pada Windows XP Windows XP

    Karnaval tahunan itu menurut saya cukup bermanfaat juga ko’ Pak…
    Yaah, klo belum merdeka kan hampir bisa dipastikan tidak akan pernah ada acara seperti ini.

    Jadi inget masa muda..hehehe.. :mrgreen:

    hehehehe :lol: bener juga mas berli. kalau belum merdeka, mana bisa mengeglar karnaval. btw, mas berli dah mengaku tua rupanya, haks :lol:

  4. ragam tips says:
    Menggunakan Opera Mini 4.1.11321 Opera Mini 4.1.11321 pada J2ME/MIDP Device J2ME/MIDP Device

    Shrusny jdwl karnavalnya ditetapkn scra nasi0nal, k0mpak gtu. Biar gk usah ad kndraan . Trus yg pnting tdk trlalu “WAH”. ehm k0nsep krnval yg bgmankh yg bgus?Prlu dpikirkan. Sbgian sdh djbarkn pak sawali. So tinggl plaksnaannya aja.

    yaps, mungkin bisa juga diseragamkan pelaksanaannya, mas, eh, mbak, tapi setelah otoda, kayaknya setiap daerah punya kebijakan sendiri2 :roll:

  5. nenyok says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Salam
    Duh Pakdhe waktu kecil masih SD gituh lah saya ikut karnaval di kampung dan disuruh jadi kupu2, klo diinget2 itu mungkin karnaval terakhir saya, lainnya paling ikut upacara agustusan waktu SMU semenjak kuli trus tamat sampe sekarang ga pernah nimbrung lageeh, tapi tak berarti luntur dong kecintaan kepada tanah air ini :oke

    hehehehe :lol: la iya dong, masak gara2 ndak ikutan karnaval nasioanlisme jadi luntur? :oke

  6. Rindu says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Cuma mampir aja, gak niat comment :) kangen aja …

    makasih, mbak rindu, dah sempat mampir :roll:

  7. Rully Patria says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.16 Firefox 2.0.0.16 pada Windows XP Windows XP

    masih beruntung berarti Akang masih ngerasain ‘raramean’ kemerdekaan…
    di lingkungan saya sudah jarang orang yg mau susah payah ngerencanain acara seperti ini…
    anak2 aja lebih milih maen PS :evil:

    (termasuk saya ga ya?! :mrgreen: )

    Rully Patrias last blog post..GOLPUT sama dengan PENGECUT

    hehehe :lol: kebetulan saja sekolah masih suka aktif mengikuti kegiatan semacam itu, kang rully, heheheh :oke

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (126 queries: 0.732 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP