Tuesday, 18 June 2013

ARSIPBUKU TAMUKRITIK CERPENPASANG IKLANTAUTANUNDUHBAHASABLOGBUDAYAOPINIPENDIDIKANSASTRA

Saturday, 16 August 2008 (13:39) | Pendidikan | 3,583 pembaca | 55 komentar | Print this Article

Dirgahayu Bangsaku!

63 tahun sudah masa-masa heroik itu berlalu. Meski kini tampak sempoyongan menanggung beban, kau masih kokoh dan perkasa. Kini, musuh yang tampak di depan mata adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Presiden boleh berganti, para menteri boleh datang dan pergi menduduki kursi, para anggota dewan boleh terus berkoar di atas mimbar kampanye mengobral janji-janji, para koruptor boleh bersilat lidah dan menyembunyikan bukti-bukti, tetapi aku yakin, warna merah darah dan putih tulangmu akan terus menjadi saksi peradaban dari generasi ke generasi.

Seiring semburat warna keemasan dari ufuk Timur, kautaburkan semerbak aroma cendana ke segala penjuru. Sayang, tidak semua orang punya kekuatan untuk memburunya. Bau wangi cendana telah masuk ke dalam pundi-pundi segelintir orang dan kroni-kroninya, lantas menguncinya rapat-rapat. Kini, aroma wangi cendana telah berubah menjadi bau busuk di kantor-kantor instansi dan gedung tempat para anggota dewan membangun kongsi dan negosiasi.

Meski demikian, kalau masih boleh diperkenankan, izinkan aku mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-63. Dirgahayu Negeriku! Semoga kau tak lupa tersenyum kepada rakyat kecil yang dulu sama-sama pernah mengangkat senjata dan bambu runcing untuk melepaskanmu dari jeratan “kaum borjuis” yang lalim dan serakah. Jangan biarkan rakyat yang berada di bawah naungan payung kebesaranmu terperangkap dalam kubangan lumpur kemelaratan, kebodohan, dan keterbelakangan. Juga kalau masih berkenan, terimalah salam dan pekik “merdeka” dari rakyat jelata yang sedang gamang mencari jati diri. Merdeka!

***

Tulisan berjudul "Dirgahayu Negeriku!" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (16 August 2008 @ 13:39) pada kategori Pendidikan dan telah dikunjungi oleh 3,583 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda.

Tulisan lain yang berkaitan:

Kemerdekaan, Ramadhan, dan Bangsa yang Berdaulat (Tuesday, 9 August 2011, 4,207 pembaca, 31 respon) Bulan Agustus tahun-tahun sebelumnya, saya masih bisa merasakan geliat kampung kami menyongsong dan memeriahkan hari kemerdekaan. Bendera...
Tenggelamnya Gebyar Agustus-an di Balik Kesyahduan Ramadhan (Sunday, 15 August 2010, 4,466 pembaca, 75 respon) Saya merasakan gebyar Agustus-an tahun ini tenggelam di balik kesyahduan Ramadhan. Hampir tak ada grengseng Agustus-an yang meruyak di ruang-ruang...
Ramadhan, Kemerdekaan, dan Kesalehan Sosial (Sunday, 1 August 2010, 6,627 pembaca, 144 respon) Menyaksikan Indonesia tak ubahnya menonton sebuah repertoar tragis di atas panggung teater. Sarat konflik dan (nyaris) tanpa ending. Untuk sebuah...
Dirgahayu Negeriku! (Sunday, 16 August 2009, 1 pembaca, 10 respon) Delapan windu sudah negeri ini merdeka. Sebuah angka unik yang menggambarkan sebuah kematangan dan kedewasaan hidup. Tidak salah kalau tema HUT RI...
Semangat Pembebasan di Balik Ritual Agustus-an (Saturday, 15 August 2009, 5,385 pembaca, 121 respon) Gaung Agustus-an kembali menggema di seantero negeri. Kibaran sang saka Merah Putih dan umbul-umbul warna-warni bagaikan menyentuh dinding langit....

55 komentar: "Dirgahayu Negeriku!"

    Leave a Reply

    «
    »