Home | Opini | Dirgahayu Negeriku!
Saturday, 16 August 2008 (13:39) | 565 pembaca | 55 komentar | Print this Article

63 tahun sudah masa-masa heroik itu berlalu. Meski kini tampak sempoyongan menanggung beban, kau masih kokoh dan perkasa. Kini, musuh yang tampak di depan mata adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Presiden boleh berganti, para menteri boleh datang dan pergi menduduki kursi, para anggota dewan boleh terus berkoar di atas mimbar kampanye mengobral janji-janji, para koruptor boleh bersilat lidah dan menyembunyikan bukti-bukti, tetapi aku yakin, warna merah darah dan putih tulangmu akan terus menjadi saksi peradaban dari generasi ke generasi.
Seiring semburat warna keemasan dari ufuk Timur, kautaburkan semerbak aroma cendana ke segala penjuru. Sayang, tidak semua orang punya kekuatan untuk memburunya. Bau wangi cendana telah masuk ke dalam pundi-pundi segelintir orang dan kroni-kroninya, lantas menguncinya rapat-rapat. Kini, aroma wangi cendana telah berubah menjadi bau busuk di kantor-kantor instansi dan gedung tempat para anggota dewan membangun kongsi dan negosiasi.
Meski demikian, kalau masih boleh diperkenankan, izinkan aku mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-63. Dirgahayu Negeriku! Semoga kau tak lupa tersenyum kepada rakyat kecil yang dulu sama-sama pernah mengangkat senjata dan bambu runcing untuk melepaskanmu dari jeratan “kaum borjuis” yang lalim dan serakah. Jangan biarkan rakyat yang berada di bawah naungan payung kebesaranmu terperangkap dalam kubangan lumpur kemelaratan, kebodohan, dan keterbelakangan. Juga kalau masih berkenan, terimalah salam dan pekik “merdeka” dari rakyat jelata yang sedang gamang mencari jati diri. Merdeka!
***
Kategori: Opini | Tags: dirgahayu, HUT RI, proklamasi kemerdekaan
Tulisan lain yang berkaitan:
Tenggelamnya Gebyar Agustus-an di Balik Kesyahduan Ramadhan (Sunday, 15 August 2010, 446 pembaca,
71 respon) Saya merasakan gebyar Agustus-an tahun ini tenggelam di balik kesyahduan Ramadhan. Hampir tak ada grengseng Agustus-an yang meruyak di ruang-ruang publik. Spanduk, slogan, atau papan reklame (nyaris) tak bersentuhan dengan HUT ke-65 kemerdekaan RI itu....
Ramadhan, Kemerdekaan, dan Kesalehan Sosial (Sunday, 1 August 2010, 1,386 pembaca,
141 respon) Menyaksikan Indonesia tak ubahnya menonton sebuah repertoar tragis di atas panggung teater. Sarat konflik dan (nyaris) tanpa ending. Untuk sebuah lakon teater, pertunjukan seperti itu bisa jadi memiliki “magnet” dan daya tarik yang memikat buat...
Merajut Kembali Nilai Kebersamaan (Monday, 17 August 2009, 568 pembaca,
132 respon) Peringatan HUT ke-64 RI tahun ini berlangsung semarak. Hampir setiap komunitas sosial, mulai tingkat RT hingga pusat, merasa perlu dan berkepentingan untuk mengenang peristiwa heroik delapan windu yang silam ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan...
Dirgahayu Negeriku! (Sunday, 16 August 2009, 1 pembaca,
14 respon) Delapan windu sudah negeri ini merdeka. Sebuah angka unik yang menggambarkan sebuah kematangan dan kedewasaan hidup. Tidak salah kalau tema HUT RI tahun ini berbunyi:
Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kedewasaan Kehidupan...
Semangat Pembebasan di Balik Ritual Agustus-an (Saturday, 15 August 2009, 844 pembaca,
119 respon) Gaung Agustus-an kembali menggema di seantero negeri. Kibaran sang saka Merah Putih dan umbul-umbul warna-warni bagaikan menyentuh dinding langit. Sesekali pekik “Merdeka” membahana dari atas podiom atau mimbar pidato; menggetarkan setiap jengkal...


Tulisan berjudul "
Dirgahayu Negeriku!" dipublikasikan oleh
Sawali Tuhusetya (Saturday, 16 August 2008 (13:39)) pada kategori
Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar
RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan
respon atau memberikan
trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
“kautaburkan semerbak aroma cendana ke segala penjuru”
Dari dulu sampe sekarang di segala penjuru ada ‘aroma cendana’ ya mas??
Hiks… Cendana ternyata belum tumbang!
salam
Indonesia Masih bisa..Oh ya hari kemerdekaan saya di rumah aja..nntn upacara di TV setelah itu nonton abdel temon deh..udah aja :mrgreen:
Salam
Musuh yang kita hadapin sekarang lebih ganas dari musuh semacam nica, kompeni atau tentara jepang dan yang lainnya, tul ga Pak De :)
nenyoks last blog post..ReBoUnD on ReBorN
[...] want their Indonesia back, and other simply write a reflection. The rest said proudly, “Happy Birthday, [...]
Merdeka!
(adakah keceriaan Hari Kemerdekaan singgah di hati saudara-saudara kita : para pengungsi Timtim, konflik Maluku, Sambas, Ambon, korban tsunami Aceh, korban semburan lumpur panas Sidoarjo ?) :DD