Home » Bahasa » Dirgahayu Negeriku! » 25178 views

Dirgahayu Negeriku!

Kategori Bahasa Oleh

Dirgahayu Bangsaku!

63 tahun sudah masa-masa heroik itu berlalu. Meski kini tampak sempoyongan menanggung beban, kau masih kokoh dan perkasa. Kini, musuh yang tampak di depan mata adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Presiden boleh berganti, para menteri boleh datang dan pergi menduduki kursi, para anggota dewan boleh terus berkoar di atas mimbar kampanye mengobral janji-janji, para koruptor boleh bersilat lidah dan menyembunyikan bukti-bukti, tetapi aku yakin, warna merah darah dan putih tulangmu akan terus menjadi saksi peradaban dari generasi ke generasi.

Seiring semburat warna keemasan dari ufuk Timur, kautaburkan semerbak aroma cendana ke segala penjuru. Sayang, tidak semua orang punya kekuatan untuk memburunya. Bau wangi cendana telah masuk ke dalam pundi-pundi segelintir orang dan kroni-kroninya, lantas menguncinya rapat-rapat. Kini, aroma wangi cendana telah berubah menjadi bau busuk di kantor-kantor instansi dan gedung tempat para anggota dewan membangun kongsi dan negosiasi.

Meski demikian, kalau masih boleh diperkenankan, izinkan aku mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-63. Dirgahayu Negeriku! Semoga kau tak lupa tersenyum kepada rakyat kecil yang dulu sama-sama pernah mengangkat senjata dan bambu runcing untuk melepaskanmu dari jeratan “kaum borjuis” yang lalim dan serakah. Jangan biarkan rakyat yang berada di bawah naungan payung kebesaranmu terperangkap dalam kubangan lumpur kemelaratan, kebodohan, dan keterbelakangan. Juga kalau masih berkenan, terimalah salam dan pekik “merdeka” dari rakyat jelata yang sedang gamang mencari jati diri. Merdeka!

***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

55 Comments

  1. “kautaburkan semerbak aroma cendana ke segala penjuru”

    Dari dulu sampe sekarang di segala penjuru ada ‘aroma cendana’ ya mas??
    Hiks… Cendana ternyata belum tumbang!

    hehehehe πŸ˜† sekarang akarnya malah menjalar ke mana2, mas qizink, haks πŸ™

  2. salam
    Indonesia Masih bisa..Oh ya hari kemerdekaan saya di rumah aja..nntn upacara di TV setelah itu nonton abdel temon deh..udah aja :mrgreen:

    asyik juga liburan 17-an di rumah, mbak. bisa me-refresh pikiran, hehehe πŸ™„

  3. Salam
    Musuh yang kita hadapin sekarang lebih ganas dari musuh semacam nica, kompeni atau tentara jepang dan yang lainnya, tul ga Pak De πŸ™‚

    nenyoks last blog post..ReBoUnD on ReBorN

    yaps, bener juga, mbak nenyok, karena yang dihadapi sering tidak menampakkan diri, haks πŸ™

  4. Merdeka!

    (adakah keceriaan Hari Kemerdekaan singgah di hati saudara-saudara kita : para pengungsi Timtim, konflik Maluku, Sambas, Ambon, korban tsunami Aceh, korban semburan lumpur panas Sidoarjo ?) :DD

    mudah2an saudara2 kita itu masih sanggup utk memaknai kata merdeka yang sesungguhnya, bung robert πŸ™„

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Bahasa

“DASAR NDESA!”

Gara-gara vlog bertagar #BapakMintaProyek, Kaesang dilaporkan kepada polisi. Tak tahu pasti, bagian

Menulis, Perlukah Bakat?

Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan rekan-rekan sejawat dalam sebuah pelatihan menulis, seringkali
Go to Top