Top

Membangun “Jalan Tol Peradaban” Berbasis Kerakyatan

Ditulis oleh: Sawali Tuhusetya | Monday, 11 August 2008 | 308 pembaca | 52 komentar | Feed
Kategori: Opini, Politik, Refleksi

Proklamasi kemerdekaanKemerdekaan RI yang diproklamirkan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 (tahun Masehi), atau 17 Agustus 2605 (tahun Jepang), atau 17 Ramadan 1365 (tahun Hijriah), sejatinya merupakan tonggak bagi bangsa untuk menancapkan sebuah perubahan. Ya, berubah dari situasi tertekan, tertindas, beku, dan stagnan, menjadi situasi merdeka dan berdaulat untuk mewujudkan cita-cita luhur dan mulia sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat.

Ya, ya, ya! Situasi pun berubah ketika vokal Soekarno yang khas dan kharismatik menggetarkan seantero dunia. Negara-negara yang selama ini bersimpati dengan derita Indonesia serta-merta memberikan dukungan dan apresiasi. Rakyat pun gegap-gempita menyambutnya. Hidup merdeka dan berdaulat membayang di setiap kepala.

Pada awal-awal masa kemerdekaan, situasi heroik berbasiskan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme agaknya masih begitu kokoh menancap dalam gendang nurani setiap warga bangsa. Kaum elite negeri bersama rakyat hingga di lapisan akar rumput masih berada dalam satu barisan, lantas bergandengan bersama di tengah “jalan kebersamaan” untuk mewujudkan makna hidup merdeka yang telah lama dicita-citakan. Sisa-sisa ketragisan hidup pada masa-masa revolusi fisik agaknya menjadi pemicu “adrenalin” untuk mengukuhkan “gerakan kebersamaan” mewujudkan “Indonesia Baroe”.

Situasi pun berubah ketika usia kemerdekaan makin bertambah. Antara elite negeri dan rakyat mulai memiliki kepentingan yang berbeda-beda. “Jalan kebersamaan” yang telah tertancap berubah menjadi beberapa jalan “kelinci” sesuai dengan kepentingan kelompok dan golongan. Makna kemerdekaan pun berubah sesuai dengan “jalan” yang telah dipilih oleh kelompok atau golongan yang berbeda-beda.

Di negeri ini, sebenarnya hanya ada dua kelompok kepentingan, yakni rakyat dan elite negara. Dalam konteks ini, saya sengaja tidak menggunakan pendekatan yang digunakan oleh Clifford Geertz (The Religion of Java, 1961) yang membagi strata mayarakat (khususnya masyarakat Jawa) dalam tiga kelompok, yakni priyayi, santri, dan abangan. Pendekatan ini agaknya kurang relevan lagi jika digunakan sebagai “pisau” untuk membedah realitas budaya masyarakat yang demikian dinamis dan cepat berubah.

Dalam pandangan awam saya, ibarat sebuah kereta, rakyat adalah penumpang, sedangkan elite negara adalah masinis bersama kru-nya. Kalau boleh dibandingkan, situasi pada awal kemerdekaan, kereta bisa melaju mulus, jarang terjadi goncangan, apalagi kecelakaan, karena antara penumpang dan masinis bisa saling bersinergi. Stasiun dan halte pemberhentian pun jelas alur dan tahapan-tahapannya. Namun, setelah usia kemerdekaan telah jauh melewati batas-batas sejarah dan peradaban, agaknya antara masinis dan penumpang sudah tidak bisa lagi bersinergi. Stasiun dan halte bukan lagi sebagai tempat pemberhentian yang mesti ditaati. Ada banyak penumpang yang ingin berhenti sesuka selera dan keinginannya. Jika perlu dengan cara memaksa masinis dan kru-nya. Sementara itu, pihak masinis pun tak kalah sengit dalam merespon keinginan dan selera para penumpang yang memiliki beragam jenis kepentingan. Tak heran jika laju kereta seringkali mengalami goncangan dahsyat, bahkan tak jarang terjadi kecelakaan akibat sikap abai dari sang masinis untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan bersama.

Kini, agaknya perlu ada penafsiran ulang terhadap makna kemerdekaan ketika usia negeri ini terus bertambah. Jangan sampai terjadi, “jalan kebersamaan” yang telah dirintis oleh para pendahulu negeri, berubah menjadi “ladang” yang tandus dan tak terurus. Bahkan, harus ada kesadaran kolektif untuk menjadikan “jalan kebersamaan” itu seperti “jalan tol peradaban” yang mampu mengantarkan segenap rakyat negeri ini menuju harapan dan cita-cita yang diinginkan sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni “membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Untuk membangun “jalan tol peradaban”, segenap rakyat dan elite negara perlu membangkitkan kembali serat-serat kesadaran sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Sesekali, para elite negara, baik dari kalangan eksekutif maupun legislatif, perlu turun ke bawah untuk mendengar jeritan dan derita rakyat. Merekalah sesungguhnya yang bisa menafsirkan makna kemerdekaan itu secara tulus dan jujur. Jangan bertanya masalah esensi dan makna kemerdekaan itu kepada politisi, baik di pusat maupun daerah. Juga jangan tanya kepada bupati atau walikota! Sudah pasti, makna kemerdekaan akan ditasirkan jika jalan kemudahan untuk mendapatkan fasilitas dan penghasilan berlipat-lipat itu ada di depan mata. Rakyatlah yang bisa merasakan “buah kemerdekaan” itu dalam realitas hidup yang sesungguhnya. Jangan heran kalau rakyat akan menafsirkan makna kemerdekaan dengan beragam jawaban.

Pertanyaannya sekarang, kenapa para elite negara jarang sekali berdialog dengan rakyat? Bagaimana bisa membawa mereka pada terminal tujuan yang diinginkan kalau komunikasi terkunci rapat-rapat? Haruskah rakyat selalu “sendika dhawuh” terhadap kebijakan penguasa ketika gerbong rakyat tiba-tiba saja dibawa sang masinis ke sebuah terminal tujuan yang jauh dari harapan dan cita-cita mereka? ***

Tulisan Terkait:

52 komentar terhadap “Membangun “Jalan Tol Peradaban” Berbasis Kerakyatan”

  1. Qizink | Monday, 11 August 2008 | @ 14:21

    Pertanyaan terakhir mas Sawali tentang kenapa rakyat tak berdialog dengan rakyat sudah dijawab sendiri oleh mas Sawali dengan analog rakyat rakyat sebagai penumpang dan pejabat (elite) sebagai manisis. Dalam sebuah perjalanan kereta, tentu saja masinis tak harus berdialog dengan penumpangnya… bahkan jarak antara penumpang saja sudah dipisahkan oleh gerbong-gerbong!!! :DD
    Perjalanan rakyat ke tujuan semestinya ditentukan sendiri saat membeli ‘tiket’ dan memilih kereta. Rakyat tentu bukan ’satwa’ yang bisa seenaknya dimasukkan dalam gerbong. Bukankah rakyat yang berdaulat? :mrgreen:
    Qizinks last blog post..[Kelas Menulis #2 ] Agar Tulisan Diterima Media

    [Reply]

  2. Qizink | Monday, 11 August 2008 | @ 14:23

    koq nggak bisa komment

    Qizinks last blog post..[Kelas Menulis #2 ] Agar Tulisan Diterima Media

    [Reply]

  3. marsudiyanto | Monday, 11 August 2008 | @ 15:10

    Cari Tempat Dulu…

    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    [Reply]

  4. marsudiyanto | Monday, 11 August 2008 | @ 15:12

    Saya Bingung Pak… Komentar saya yg pertama kok dianggap SPAM

    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    [Reply]

  5. marsudiyanto | Monday, 11 August 2008 | @ 15:13

    Saya agak kurang merasa (merasa kurang) merdeka, kerana komentar 3 kali dianggap spam semua…

    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    [Reply]

  6. marsudiyanto | Monday, 11 August 2008 | @ 15:14

    Wah…
    Jalan Tol kok begini.
    Empat kali komentar dideteksi sebagai penyusup oleh SATPAM

    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    [Reply]

  7. marsudiyanto | Monday, 11 August 2008 | @ 15:15

    Agustus kok SATPAM nya galak. Empat kali komentar mental semua…

    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    [Reply]

  8. marsudiyanto | Monday, 11 August 2008 | @ 15:16

    Meh komentar kok dicegat SATPAM…
    Empat kali mental semua.

    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    [Reply]

  9. marsudiyanto | Monday, 11 August 2008 | @ 15:18

    Komentar 4 kali kok mental terus Pak…

    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    [Reply]

  10. Diah | Monday, 11 August 2008 | @ 16:16

    Istilah “sendika dawuh ” Para pemimpin ke rakyat perlu di dengungkan ..kayaknya udah hilang , bahkan bisa dikatan nggak ada…Hanyan rakyat yang selalu di suruh “sendika dhawuh” saja , capek dech :)

    Indonesia perlu pemimpin yang vokal,lantang ,smart ,cerdas..dan yg pasti “Sendika dhawuh” ke rakyat …kiira2 seperti itu pak :mrgreen:
    Diahs last blog post..Ulang Tahun Singo ‘Arema’ Edan Ke-21

    [Reply]

  11. Donny Verdian | Monday, 11 August 2008 | @ 16:52

    Yang jadi masalah menurut saya adalah perwakilan rakyatnya.
    Representasi rakyat dalam tata negara kita ini semangkin tak berdaya saja.
    Pembangunan berbasis kerakyatan tak akan pernah bisa berlaku mutlak andai perwakilan tidak dibenahi.

    Terus maju!

    Donny Verdians last blog post..Mengapa 888 Istimewa ?

    [Reply]

  12. Achmad Sholeh | Monday, 11 August 2008 | @ 16:58

    semuanya akan berpulang kepada kepentingan kita masing2 pak, ketika kita masih belum sanggup menanggal kan ego kita atas ras, kelompok , partai atau golongan maka kita tidak akan pernah kembali seperti ketika gema KEMERDEKAAN itu dikumandangkan, marilah kita mulai dari sini

    Achmad Sholehs last blog post..Untuk rasa cinta dan kasih Sayang

    [Reply]

  13. Achmad Sholeh | Monday, 11 August 2008 | @ 17:02

    semuanya akan berpulang kepada diri kita masing2 pak, akan tetapi selama kita masih belum bisa melepaskan ego kita akan kepentingan ras, golongan, partai dan lainnya maka masih sangat jauh pak Cita-cita pendiri Bangsa kita , untuk itu mari ersama-sama kita mulai dari sini (blog) mudah2an bisa membawa kita ke arah yang lebih baik

    Achmad Sholehs last blog post..Untuk rasa cinta dan kasih Sayang

    sepakat banget dg ajakan simpatik pak sholeh. idealnya memang seperti itu, pak :roll:

    [Reply]

  14. Achmad Sholeh | Monday, 11 August 2008 | @ 17:12

    semuanya akan berpulang kepada diri kita masing2 pak, akan tetapi selama kita masih belum bisa melepaskan ego kita akan kepentingan ras, golongan, partai dan lainnya maka masih sangat jauh pak :DD Cita-cita pendiri Bangsa kita , untuk itu mari bersama-sama kita mulai dari sini (blog) mudah2an bisa membawa kita ke arah yang lebih baik

    Achmad Sholehs last blog post..Untuk rasa cinta dan kasih Sayang

    komennya lagi diterkam spam karma rupanya, pak :sad:

    [Reply]

  15. Achmad Sholeh | Monday, 11 August 2008 | @ 17:18

    semuanya akan berpulang kepada diri kita masing2 pak, akan tetapi selama kita masih belum bisa melepaskan ego kita akan kepentingan kita masing-masing maka masih sangat jauh pak :DD Cita-cita pendiri Bangsa kita , untuk itu mari bersama-sama kita mulai dari sini (blog) mudah2an bisa membawa kita ke arah yang lebih baik

    Achmad Sholehs last blog post..Untuk rasa cinta dan kasih Sayang

    waduh, lagi2 sianggap spam, pak, haks :lol:

    [Reply]

  16. Achmad Sholeh | Monday, 11 August 2008 | @ 17:49

    Semua akan kembali kepada diri kita masing2 pak Sawali, selama kita masih belum bisa menanggalkan ego kepentingan kita maka rasanya masih sangat jauh cita-cita pendiri bangsa ini akan terwujud

    Achmad Sholehs last blog post..Untuk rasa cinta dan kasih Sayang

    haks, kok jadi quatrik :grin:

    [Reply]

  17. Achmad Sholeh | Monday, 11 August 2008 | @ 17:53

    Semuanya akan kembali kepada diri kita pak sawali, selama kita belum mampu melepaskan ego dan kepentingan kita rasanya masih jauh harapan dan cita-cita pendiri bangsa ini akan segera terwujud

    Achmad Sholehs last blog post..Untuk rasa cinta dan kasih Sayang

    :grin:

    [Reply]

  18. mojosari.net | Monday, 11 August 2008 | @ 17:59

    menurut saya, kenapa elite negara jarang berdialog dengan rakyatnya, karena mereka telah berpaling dari esensi “darimana mereka berangkat”. mereka lupa, bahwa tanpa rakyat, mustahil ada elite pemimpin. kesadaran dan nurani mereka telah tertutupi oleh kepentingan sesaat yang hanya menguntungkan mereka dan kelompoknya. tentu tidak semua elite pemimpin seperti itu. saya yakin masih banyak yang benar2 terbuka dengan rakyatnya yang notabene orang2 yang mereka pimpin. kalau mereka ingat betapa pedih dan perihnya perjuangan untuk meraih kemerdekaan, tentu mereka akan benar2 menjaga amanat untuk memipin negara ini. saya memang tidak ikut berperang, tapi kesaksian sesepuh kami begitu membuat hati kami terenyuh. sungguh, bangsa ini merdeka bukan untuk elite pemimpin tapi untuk bangsa Indonesia. saya, kita, dan semua saudara yang telah tumbuh di bumi pertiwi ini.
    Bukan hanya pekik merdeka, tapi juga merdeka dalam keseharian. haruskah People Power digerakkan di negara kita? 8-O

    saya kira mas agung benar. masih ada juga kok pemimpin yang peduli dg rakyatnya. sayangnya jumlahnya tidak banyak. meski demikian, tak harus menempuh dg cara mengerahkan people power utk melakukan perubahan, mas, terlalu besar risikonya :oke

    [Reply]

  19. Siti Jenang | Monday, 11 August 2008 | @ 18:12

    “jalan kebersamaan” itulah persatuan. *halah*
    mungkin sudah waktunya kita tinggalkan elite politik. ketiadaan legitimasi pimpinan puncak barangkali bisa mendobrak kesadaran mereka. :DD :roll:
    Siti Jenangs last blog post..Persatuan Hanya Awal Perpecahan

    waduh, gawat, mas siti jenang, hak, kalau mesti mendeligitimasi puncak pimpinan negara, haks :sad:

    [Reply]

  20. Iis | Monday, 11 August 2008 | @ 18:43

    pertamax gak ya??? :cry: :cry: :x
    Iiss last blog post..Kabar Papi: Lagi di Surabaya

    waduh, agaknya banyak komen yang keterkam spam karma, mbak is :sad:

    [Reply]

  21. Iis sugianti | Monday, 11 August 2008 | @ 19:09

    pertamax ya Pak? :?
    Iis sugiantis last blog post..Kabar Papi: Lagi di Surabaya

    wew…. kenapa lagi, mbak is, haks :sad:

    [Reply]

  22. aRuL | Monday, 11 August 2008 | @ 19:40

    Wah kayaknya pak sawali pantas jadi salah satu pemimpin Indonesia, yg bisa mendengarkan aspirasi masyarakat :)
    aRuLs last blog post..Terima Kasih Cinta : Taubat dan Syukur

    kekekeke :grin: tak satu pun memenuhi kriteria, mas aRul, haks :lol:

    [Reply]

  23. Masenchipz | Monday, 11 August 2008 | @ 19:55

    sebelom diatas… biasanya mereka suka maen kebawah.. klo dah diatas dah gak mau maen kebawah… payah ya om…

    Masenchipzs last blog post..What’s your own blog’s motto? Let’s make our motto difference.. OK!(klik read more buat terjemahannya)

    sepertinya begitu, mas enchipz, haks :grin:

    [Reply]

  24. suhadinet | Monday, 11 August 2008 | @ 20:21

    O ya, benar. Saya setuju dengan Pak Sawali.

    Terus, perlu juga dipertanyakan, kenapa sekarang banyak para pemimpin yang “menjual kemerdekaan” bangsa ini pada negara lain dengan kepentingan pribadi dan golongannya. Tak perduli dengan hak-hak anak-cucu kita nantinya.

    suhadinets last blog post..Bintang-Bintang Kayla

    wah, ternyata malah lebih tragis, pak suhadi, kalau sudah menjual “kemerdekaan”, hiks :sad:

    [Reply]

  25. yainal | Monday, 11 August 2008 | @ 20:57

    mungkin, ada baiknya dialog dengan hati nurani dulu deh sebelum dialog dengan rakyat..

    *ada jalan tol baru ya pak? berapa neh tarifnya?

    yainals last blog post..Berbagi Dunia a la Petruk dan Gareng

    yaps, bener juga, mas yain. waduh, jalan tol yang ini agaknya ndak pakai tarif, mas, kekeke :grin:

    [Reply]

  26. Rochmaniac | Monday, 11 August 2008 | @ 21:57

    Mbangun jalan tol Semarang-Solo yang jelas kelihatan wujudnya saja belum kelar-kelar, opo maneh jalan tol peradaban, yang ghaib, wujudnya bagaimana kita juga tidak tahu. Entah bangsa ini bisanya mbangun apa? Kalau saya sih bisa mbangun tresna wis marem. :grin:

    kekekeke :lol: mbangun tresna? wew… itu yang perlu dinomorsatukan, pak jaitoe, haks :roll:

    [Reply]

  27. laporan | Tuesday, 12 August 2008 | @ 00:47

    Nah, sebenarnya dari segi infrastruktur sudah menjamin adanya kemerdekaan demokrasi di Indonesia, baik dari UU, PP, Perda, dan sebagainya. Jadi betul pak sawali. Permasalahan terletak pada Humanstruktur. Namun ibarat kereta, rakyat adalah penumpang, dan Pemerintah sebagai masinis yang bertanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan Negara. Pernyataan yang paling bijak adalah jangan salahkan Rakyat. Pemerintah sebagai pemegang pengelolaan adalah fokus kebijakan, sedangkan rakyat sebagai korban penderita.

    wah, bener banget, pak ario. repotnya kalau rakyat mesti harus jadi korban melulu. kapan bisa sejahtera hidupnya? :oke

    [Reply]

  28. Ronggo | Tuesday, 12 August 2008 | @ 01:06

    :neutral: emang bisa pak ? rakyat yang mana lha yang biasa pake jaln toool tu rakyat pa pejabat ,tapi klo rakyatnya kaya dan makmur semua gak masalah ding

    Ronggos last blog post..Pengunjung tanpatinta.com

    wew… jalan tol itu mesti dibangun dg kebersamaan, antara rakyat dan kaum elite, mas ronggo, hehehehe :grin:

    [Reply]

  29. Epat | Tuesday, 12 August 2008 | @ 02:54

    Akhir-akhir ini sering kok pak para elite ituh turun bertemu rakyat, mencari aspirasi rakyat (katanya) untuk diwakilinya kekeke…

    iya, didekati menjelang pemilu, mas epat, hehehehe :grin:

    [Reply]

  30. Edi Psw | Tuesday, 12 August 2008 | @ 08:41

    Memang harusnya para elit politik bisa menyatu dengan rakyat. Bekerjasama, bersatu, bergotong-royong untuk membangun negeri ini hingga membawa negara kita menjadi negara yang aman, tenteram, adil dan makmur.

    Edi Psws last blog post..Beredar SMS Berantai

    betul banget, pak edi. idealnya begitu. kira2 kapan bisa terwujud, ya, pak? :idea:

    [Reply]

  31. Qizink | Tuesday, 12 August 2008 | @ 08:42

    Pertanyaan Mas Sawali pada paragraf terakhir sudah dijawab sendiri melalui perumpaan yang dibuat Mas Sawali. Tentu saja elite negara akan jarang (bahkan tak) berdialog dengan rakyatnya, karena elite adalah mesinis sedangkan rakyat adalah penumpang. Mesinis dan penumpang memang berjalan dalam satu tujuan tapi terpisahkan oleh gerbong-gerbong. Kecuali di stasiun keduanya turun untuk sekedar ngopi bareng…. :smile:
    Qizinks last blog post..[Kelas Menulis #2 ] Agar Tulisan Diterima Media

    hehehe :lol: analogi mas qizink pas banget utk menggambarkan komunikasi rakyat dan elite negara selama ini, hehehe :roll:

    [Reply]

  32. akang dahsyat | Tuesday, 12 August 2008 | @ 08:50

    Iya nih.. jalan tol bandung sumedang majalengka aja belum kelihatan sedikitpun.. dari dulu padahalmah.. trus, mau bikin bandara internasional juga ga tau tuh di daerahku, Majalengka (jawa barat)… cuma rame - rame doank..hehehe.. salam kenal Pak..

    salam kenal juga akang dahsyat, hehehe :roll: makasih kunjungannya. wah, kayaknya seperti di jateng. lagi musimnya gusur-menggusur utk proyek jalan tol, haks :sad:

    [Reply]

  33. Andi Eko | Tuesday, 12 August 2008 | @ 09:16

    Kapan ya kaum elite memikirkan rakyatnya bukan memikirkan bagaimana caranya menang di pemilu periode berikutnya .. :oops:

    wah, itu pertanyaan yang selalu menarik, tapi sulit dijawab, mas andi, selama para politisi masih menerapkan politik dagang sapi, haks :sad:

    [Reply]

  34. adipati kademangan | Tuesday, 12 August 2008 | @ 10:51

    Pembangunan berbasis kerakyatan sudah tentu rakyat lah yang digunaka sebagai dasar dari pergerakan. Rakyat pun digandeng untuk memajukan pertanian, diberi semangat bahwa hidup adalah perbuatan, tidak kalah menariknya lagi rakyat juga diarahkan untuk menyelamatkan bangsa. Benar - benar mulai pak janji janji mereka itu. :smile:
    *saya mulai terinfeksi iklan di tivi tivi*

    wew… terinfeksi ikaln di TV, haks … kayaknya selama ini rakyat hanya diberi hak utk mendengarkan janji di mimbar2 kampanye, mas adipati, haks :sad:

    [Reply]

  35. Alex Abdillah | Tuesday, 12 August 2008 | @ 11:07

    Ass.

    Jika saja para PEMIMPIN dinegeri ini menyadarai akan hal dia adalah PELAYAN dan AMANAH yg di titipkan padanya adalah SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN, maka negeri ini akan MAJU dan JAYA serta akan MERDEKA SEUTUHNYA…….

    salam MERDEKA !!

    Alex Abdillahs last blog post..Al-Quds dimataku

    salam merdeka juga, bung abdillah. mudah2an negeri ini giliran mendapat figur pemimpin yang merakyat dan amanah, bung :roll:

    [Reply]

  36. Daniel Mahendra | Tuesday, 12 August 2008 | @ 12:16

    Ya, aku setuju dengan kalimat: “agaknya perlu ada penafsiran ulang terhadap makna kemerdekaan ketika usia negeri ini terus bertambah.”

    Karena saat ini, jurang pemisahnya sudah bukan berupa jurang lagi, melainkan lautan. Antara orang yang kaya, kaya sekali dan yang miksin, miskin sekali. Yang di tengah-tengah menjadi kaum mengambang. Kaya tidak, miskin juga tidak.

    Persoalannya: kemerdekaan bagi seseorang, belum tentu merupakan kemerdekaan bagi orang lain.

    Daniel Mahendras last blog post..Betapa Sesungguhnya Kita Begitu Berkelindan

    bener juga, mas daniel. itulah realitas yang terjadi saat ini. kesenjangan antara si kaya dan si miskin begitu jelas dan nyata di depan mata :sad:

    [Reply]

  37. Yari NK | Tuesday, 12 August 2008 | @ 13:37

    Namanya juga politikus…… memang sifat ‘alamiah’nya politikus yang selalu mementingkan dirinya sendiri dan kelompoknya. Di sinilah rakyat harus kritis, kalau kita jadi penumpang kereta api, kalau pelayanannya nggak puas, ya jangan diam saja, walaupun tentu juga jangan jadi anarkis di dalam kereta (lha kalau keretanya hancur gimana?? :mrgreen: ). Jikalau kita ini jadi penumpang, jadilah penumpang yang “cerdas” yang jangan hanya mau “ho’oh” saja sama masinisnya….. Kalau perlu kita pindah kereta saja, ngapain kita pakai kereta api “Argo Gedhe”, mendingan kita pakai kereta api TransRapid seperti di Jerman, ataupun Shinkansen di Jepang, lebih nyaman dan afdol! Wakakakakak…… **halaah ngomong apa aku ini** :lol:
    Yari NKs last blog post..Moso Nabi Adam Seperti Monyet??

    yaps, setuju banget, bung yari. penumpang dan masinis mestinya bisa menydari posisinya masing2 tanpa merasa alergi ketika mendapatkan kritik dan masukan :roll:

    [Reply]

  38. mantan kyai | Tuesday, 12 August 2008 | @ 13:37

    kenapa seseorang yang menjadi pejabat kemudian dia tidak lagi menjadi rakyat.
    kenapa seorang yang kebetulan mampu menikmati jenjang kuliah kemudian dia tidak lagi menjadi rakyat.
    kenapa kemudian seorang yang menjadi kyai dia tidak lagi menjadi rakyat.
    kenapa rakyat seolah hanya milik pengemis, tki ilegal, pengangguran, psk, dan yang sejenisnya.
    *waduh kok malah saya banyak tanya gini*

    hehehehe :lol: tanya, kenapa, mas ardy, hehehe :grin: agaknya itu budaya yang telah lama terbangun akbiat kultur dan kebijakan pengelolalan negara yang kurang menyentuh harapan rakyat kali, mas, :idea:

    [Reply]

  39. Ersis Warmansyah Abbas | Tuesday, 12 August 2008 | @ 13:58

    Hebat euy … semakin menarik membaca blog Pak Sawali. Salam dari Kalimantan. Merdeka.

    Ersis Warmansyah Abbass last blog post..Resensi Buku MdG

    salam merdeka juga, pak ersis dari jateng, haks. biasa aja, pak, blog ini hanya sekadar ganti tampilan, kok, heheheh :oke

    [Reply]

  40. serdadu95 | Tuesday, 12 August 2008 | @ 14:19

    Dalam bentuk lain… saya juwega bikin postingan dlm rangka peringatan ke-63 Kemerdekaan RI. Mungkin… komen saya ttg masalah ini, bisa dbaca di blog saya langsung :mrgreen:
    serdadu95s last blog post..Main Drama: Peristiwa Rengasdengklok

    makasih infonya, bung serdadu :roll:

    [Reply]

  41. ubadbmarko | Tuesday, 12 August 2008 | @ 17:20

    Rasanya Indonesia terlalu luas dan kompleks, sampai saat ini belum kelihatan ada orang yang bisa memimpin layaknnya Soekarno pada jamannya.

    ubadbmarkos last blog post..TRANSMUTASI SEKS

    agaknya begitu, pak marko. kita hanya berharap negeri ini dipimpin oleh sosok yang bener2 visioner dan merakyat, pak :roll:

    [Reply]

  42. eastjafunk | Tuesday, 12 August 2008 | @ 21:41

    :oke bener tuh… anda cocok pemimpin / presiden…
    :oke

    eastjafunks last blog post..Kategori Post

    kekekekeke :grin:

    [Reply]

  43. taliguci | Tuesday, 12 August 2008 | @ 23:21

    Masalahnya, pemimpin yang ada, berangkat dari hal-hal yang nggak bener, trus kalau sudah jadi, pasti akan melakukan sesuatu yang nggak bener :(

    wah, lha ya itu yang sering jadi sumber masalah, mas taliguci, haks :sad:

    [Reply]

  44. Spam Karma Memang Sadis! | Catatan Sawali Tuhusetya | Wednesday, 13 August 2008 | @ 01:07

    [...] juga untuk meng-karantina komentar sahabat-sahabat saya yang kebetulan mampir ke gubug ini. Pada tulisan ini, misalnya, setidaknya ada 9 komentar yang dikarantina. Bahkan, Pak Ahmad Sholeh dan Mbak Iis [...]

  45. marsudiyanto | Wednesday, 13 August 2008 | @ 05:55

    Komentar saya yg berulang2 di”emplok” karma terdeteksi apa enggak pak…
    Bangun tidur, saya masuk kesini, komentar masih kosong. Langsung aku tulis: “Pesen tempat duluan”. Tapi ketika dikirim, jangankan balik. Yang muncul malah tulisan bahasa asing yang sama sekali tdk aku pahami… Itu terjadi BERKALIKALI, BERULANGULANG dan BERULANGKALI serta BERKALIULANG (bukan KALIURANG lho). Saya sampai berpikir, apa KODIM banjir ya… Perasaan masih musim kemarau… :grin:
    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    wah, kok bisa sampai begitu, ya, pak. saya malah ndak tahu. weks…. Kodim? lancar2 aja tuh, pak, kekekeke :grin:

    [Reply]

  46. marsudiyanto | Wednesday, 13 August 2008 | @ 06:00

    Sampai2 kemarin saya nulis begini lho Pak:
    Perasaan…,
    Saya malah merasa belum merdeka. Gimana dikatakan merdeka, ngomentari saja di”emplok” SATPAM terus.
    (Meh di “mèl” Karmane rak gelem…)

    marsudiyantos last blog post..HaNuMan

    hehehe :lol: selama karma masih beraksi, banyak penghuni dunia maya yang nggak bisa merdeka, pak mar, haks :oke

    [Reply]

  47. sluman slumun slamet | Wednesday, 13 August 2008 | @ 12:31

    jangankan berdialog dengan rakyat, sesama elit saja sering gontok-gontokan. saya jadi teringat postingan ndorokakung, pernahkah presiden dan para mantan presiden kita saling jagongan…..
    lha diundang upacara saja, mbak mega males dateng kok….
    weh lah………..

    wew… itulah potret kaum elite di negeri ini, pak. rupanya sudah mulai melupakan silaturahmi, haks, apalagi dg rakyat. :sad:

    [Reply]

  48. nenyok | Wednesday, 13 August 2008 | @ 19:49

    salam
    WaH pak Dhe kawulo deal banget deh dengan tulisan diatas, tapi yang penting itu adalah awareness ya..ya.ya.. *ikutan gaya pakde* kesadaran klo itu ndak ada meski keratanya bagus, gerbongnya banyak tapi masinisnya ga punya kesadaran untuk mencapai tujuan dengan aman dan terkendali ya susyah…..bisa-bisa njeblok di tengah jalan oh ya relnya harus bagus toh.. :idea:
    nenyoks last blog post..Menelanjangi “Perempuan Bergaun Putih”

    hehehehe :lol: bener banget tuh, mbak nenyok, haks. btw, memang mbak nenyok suka juga naik kereta, yak? kekekeke :grin:

    [Reply]

  49. hadi arr | Thursday, 14 August 2008 | @ 23:42

    selamat Pak Sawali
    nggak bisa komentar nih
    sibuk nonton TV, dari berita pagi
    sampai tengah malam
    korupsi selalu ada aja beritanya.
    dari camat sampai parlemen
    huebat yaaaa

    hadi arrs last blog post..T U M P U L

    wah, pak hadi rupanya hobi mengikuti berita nih. salut :roll:

    [Reply]

  50. udin | Friday, 15 August 2008 | @ 07:39

    Setuju postingannya :D
    udins last blog post..Georgia vs Russia War August 2008

    makasih mas udin :oke

    [Reply]

  51. tomy | Friday, 15 August 2008 | @ 07:48

    belum bisa banyak komentar nih Pak :mrgreen:
    sedang kejar tayang proyek *bebebehhh* sebelum puasa
    PNS kerjanya menghabiskan anggaran :-) karena kalau tidak habis dianggap tidak bisa kerja :cool:
    tomys last blog post..PUISI CINTA TUK INDONESIA

    wah, bener juga, pak tomy. selamat bekerja, pak, semoga sukses :roll:

    [Reply]

  52. Moh Arif Widarto | Saturday, 16 August 2008 | @ 10:18

    Pertanyaannya sekarang, kenapa para elite negara jarang sekali berdialog dengan rakyat?

    Menanggapi pertanyaan di atas saya jadi teringat bagaimana dulu Presiden Soeharto sering berdialog dengan rakyat melalui acara klompencapir. Di sana terjadi dialog antara pemimpin dan pengikut.

    Saya kira, saat ini elit jarang berdialog dengan rakyat karena mereka suka berjanji kosong ketika kampanye sehingga takut ditagih oleh rakyat apabila diadakan dialog.

    wah, lha ya itu, mas, agaknya mereka memang ndka mau bertemu dg rakyat karena suka ingkar janji. mudah2an mas arif beok kalau jadi wakil rakyat ndak begitu :roll:

    [Reply]

Komentar Anda?


« Demokrasi yang Sehat: Kapan Terwujud? | Spam Karma Memang Sadis! »

INSPIRASI

1000buku

Sahabat BlogCatalog


Tulisan Terbaru

Pesona dari Puncak Gunung Kelir (Monday, 5 January 2009 - 80 komentar)
Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5) (Friday, 2 January 2009 - 68 komentar)
Postingan Dini Hari pada Awal Tahun (Thursday, 1 January 2009 - 134 komentar)
Perempuan Bergaun Putih di Bukit Cokrokembang (Tuesday, 30 December 2008 - 81 komentar)
Hijrah Spiritual dan Intelektual Menjelang Pergantian Tahun (Saturday, 27 December 2008 - 111 komentar)
Gaya Selebritis Para Wakil Rakyat (Wednesday, 24 December 2008 - 53 komentar)
Kontroversi di Balik Pengesahan RUU BHP (Sunday, 21 December 2008 - 158 komentar)
Terompet Ujian Nasional Itu Telah Ditiup (Wednesday, 17 December 2008 - 145 komentar)
Kekuasaan dan Seks dalam Novel Belantik (Sunday, 14 December 2008 - 115 komentar)
Pendidikan Multikultural yang Terabaikan (Friday, 12 December 2008 - 125 komentar)

FEEDJIT