Home » Pendidikan » Mampukah Sentuhan TI Melahirkan Generasi yang Cerdas dan Santun?

Mampukah Sentuhan TI Melahirkan Generasi yang Cerdas dan Santun?

Ada sebuah pertanyaan yang selalu mengusik para pemerhati dan pengamat pendidikan. Profil generasi macam apakah yang telah dilahirkan oleh dunia pendidikan kita? Pertanyaan ini agaknya bukan hal yang mudah untuk dijawab. Secara jujur harus diakui, fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan kita, masih mendedahkan potret yang buram. Generasi yang lahir dari “rahim” dunia pendidikan kita dinilai belum seperti yang diharapkan. Seringkali kita melihat potret anak yang cerdas, tetapi perilaku mereka masih jauh dari nilai-nilai kesantunan. Munculnya geng-geng gelap yang menonjolkan kekerasan dalam setiap aksinya makin memperkuat bukti itu. Atau sebaliknya, ada jutaan generasi yang santun, tetapi secara intelektual, mereka kurang memiliki tingkat kecerdasan yang memadai.

Agaknya, inilah pertanyaan yang akan terus dicari jawabannya dalam dunia pendidikan kita. Tak heran apabila TV-Edukasi menggunakan motto “Santun dan Mencerdaskan” dalam setiap program tayangannya. Upaya lain untuk melahirkan generasi yang cerdas dan santun adalah memberdayakan para guru agar melek Teknologi dan Informasi (TI). Agenda ini penting untuk dilakukan karena guru masih memegang posisi “kunci” dalam upaya mencapai peningkatan mutu pendidikan. Merekalah yang diharapkan mampu menjadi “pionir” untuk mewujudkan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, melalui sentuhan pendekatan berbasis TI. Visi yang hendak dicapai bukan semata-mata melahirkan generasi yang cerdas, melainkan juga santun. Artinya, melalui pembelajaran berbasis TI, anak-anak masa depan negeri ini tidak hanya sekadar memiliki tingkat kecerdasan intelektual yang memadai, tetapi sekaligus juga mampu memanfaatkan multimedia pembelajaran untuk membangun nilai-nilai kesantunan ke dalam dirinya.

Setidaknya, itulah kesan yang bisa saya tangkap ketika mengikuti Pelatihan Pemanfaatan TIK selama tiga hari (4-6 Agustus 2008) di SMK 2 Kendal-Jawa Tengah. Ada 10 materi yang diberikan oleh Ibu Cahyo Kismurwanti, Trainer Senior yang juga seorang guru di SMP Negeri 2 Semarang itu, yakni Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam Pendidikan, Pengenalan Jaringan dan Jardiknas, Pemanfaatan TVe dalam Pembelajaran, Pemanfaatan Internet dalam Pembelajaran, Pemanfaatan Multi Media dalam Pembelajaran, Pemanfaatan Edukasi Net, Pemanfaatan Audio dalam Pembelajaran, Pembuatan Media Presentasi, Strategi Pembelajaran Berbasis TIK, dan Pengembangan Rencana Pembelajaran Berbasis TIK.

Memang bukan hal yang mudah bagi seorang guru untuk menjadi “pionir” pembelajaran berbasis TI. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Selain kemampuan guru yang bersangkutan dalam mendayagunakan multimedia, juga sangat ditentukan oleh kemudahan dalam mengakses informasi secara online. Selain itu, juga perlu adanya perubahan kultural di kalangan guru dalam mendesain pola pembelajaran. Desain konvensional yang memosisikan guru sebagai satu-satunya sumber pembelajaran perlu diubah. Seiring dengan kemajuan peradaban, guru perlu menyentuh berbagai sumber pembelajaran untuk diperkenalkan kepada siswa didiknya. Bahkan, jika memungkinkan, siswa didik diajak untuk lebih mengakrabi berbagai media tersebut sebagai “partner” dan teman belajar.

Penggunaan desain pembelajaran berbasis TI, khususnya yang menggunakan fasilitas internet, memang bisa menimbulkan “demam internet” di kalangan siswa. Bisa jadi, mereka justru akan lebih tertarik kepada medianya daripada substansi materi pembelajarannya. Dalam kondisi demikian, dibutuhkan pendampingan dan internalisasi yang memadai dari sang guru dalam memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran. Dengan kata lain, guru perlu menanamkan nilai-nilai kesantunan kepada siswa didik ketika bersentuhan dengan dunia internet. Jangan sampai terjadi, anak-anak masa depan negeri ini jadi kehilangan kontrol diri sehingga mudah sekali terjebak pada perilaku dan tindakan konyol akibat sering bersentuhan dengan dunia maya.

Persoalannya akan menjadi semakin rumit dan kompleks ketika anak-anak jadi semakin terasing dari lingkungannya ketika sering “meng-karantinakan” diri dalam sekat-sekat dunia maya. Mereka jadi jarang lagi bergaul secara sosial dengan komunitas di sekitarnya dan terus asyik membangun jaringan di dunia maya hingga kehilangan sebagian esensinya sebagai mahluk sosial. Nilai-nilai kesantunan pun dikhawatirkan akan terberangus akibat nilai-nilai baru yang diusung dari dunia maya tidak lagi menyentuh “bumi” tempat mereka hidup dan bergaul.

Kita berharap, kekhawatiran semacam itu terlalu berlebihan sehingga tidak ada anak-anak yang kehilangan kesejatian dirinya sebagai mahluk sosial akibat sering bersentuhan dengan dunia maya. Nah, bagaimana? ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Mampukah Sentuhan TI Melahirkan Generasi yang Cerdas dan Santun?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (6 Agustus 2008 @ 11:58) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 51 komentar dalam “Mampukah Sentuhan TI Melahirkan Generasi yang Cerdas dan Santun?

  1. Ikut nimbrung ya pak, mumpung punya waktu biasanya hanya ikut baca. Sebenarnya begitu kita mengenal dan kemudian menggunakan kita ikut bertanggung jawab mengembangkan TIK ke arah positif terutama perilaku yang berkaitan dengan tanggung jawab moral, etika juga konten. Selamat berkarya pak, semoga tambah sukses. Omong-omong sekarang saya punya perpustakaan pribadi tapi dibuka untuk umum (meskipun sdh diresmikan tp belum launching karena kekurangan tenaga perpustakaan). Untuk sanggar tari dan pemutaran film sudah berjalan. Aku juga ingin ke arah perpustakaan digital. Barangkali pak Sawali bisa jadi advisor? Trm ksh

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *