Menjadikan Sekolah sebagai Basis Pembinaan Bahasa Indonesia (1)
Sunday, 13 July 2008 | 742 pembaca | 44 komentar
Seperti sudah banyak diungkap oleh para pemerhati dan pengamat bahasa Indonesia bahwa rendahnya mutu penggunaan bahasa Indonesia tak hanya berlangsung di kalangan siswa, tetapi juga telah jauh meluas di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bahkan, para pejabat yang secara sosial seharusnya menjadi anutan pun tak jarang masih ”belepotan” dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Mewabahnya penggunaan bahasa Indonesia bermutu rendah, kalau boleh disebut demikian, menurut hemat saya, lantaran belum jelasnya strategi dan basis pembinaan. Pemerintah cenderung cuek dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pusat Bahasa –sebagai tangan panjangnya—untuk menyusun strategi dan kebijakan. Namun, harus jujur diakui, strategi dan kebijakan... (Silakan baca lanjutannya!)
Membangun Peradaban yang Sensitif terhadap Seni dan Budaya
Saturday, 12 July 2008 | 495 pembaca | 33 komentar
Kelambanan kolektif kita, ujar Taufiq Ismail suatu ketika, akan diterjang tanpa ampun oleh kencang lajunya peradaban milenium yang akan datang ketika batas-batas geografis dan berbagai sekat peraturan sudah diangkat orang. Kita yang terkenal lambat, lamban, lalai, dan lengah, akan tergeser, tergusur, tergasak, dan kemudian tergeletak di pinggir jalan raya peradaban dunia. Sebuah ”warning” yang layak kita renungkan ketika masyarakat di berbagai belahan dunia sudah hidup bersama dalam satu atap di sebuah ”perkampungan global”. Pernyataan penyair religius itu juga mengingatkan betapa pentingnya kita secara kolektif untuk memberikan perhatian yang lebih serius dan intens terhadap persoalan kesenian dan kebudayaan. Tujuannya? Agar jatidiri... (Silakan baca lanjutannya!)
Menanggapi Tuduhan sebagai Penjiplak
Thursday, 10 July 2008 | 324 pembaca | 65 komentar
Selama tiga hari, aktivitas mengeblog saya agak terganggu karena kondisi kelelahan fisik yang memuncak. Usia di atas kepala 4, agaknya tak mau diajak kompromi lagi untuk melakukan aktivitas yang menumpuk. Ada-ada saja gangguan yang muncul, dari kepala, pundak, perut, lutut, hingga kaki. Bisa jadi, ini juga merupakan peringatan Tuhan untuk saya bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Saya terlalu memaksakan diri naik sepeda kumbang motor di atas jalan berlubang yang cukup tajam tikungan dan tanjakannya hingga jarak sekitar 50 km ketika gejala demam itu sudah mulai menjalar. Dampaknya sungguh terasa. Tiba di rumah, kondisi fisik langsung drop. Demam semakin tak terkontrol. Perut mual dan diare. Kepala pusing tak karuan. Namun, syukurlah,... (Silakan baca lanjutannya!)

















