Home | Edukasi, Opini, Politik, Refleksi | Refleksi Menjelang Agustus-an

Refleksi Menjelang Agustus-an

Thursday, 31 July 2008 (03:03) | 913 pembaca | 47 komentar | Print this Article

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global.

Itulah tema yang diusung panitia peringatan HUT ke-63 RI. Ada dua entry-point yang ditekankan dalam tema itu, yakni pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional. Tentu saja, ada misi dan tujuan tertentu, mengapa dua variabel itu diangkat sebagai titik pusat perhatian dalam momen 63 tahun Indonesia merdeka.
Pembangunan ekonomi, jelas ini menjadi bagian dari pengamat ekonomi untuk membedahnya. Namun, sebagai rakyat kecil, saya bisa ikut merasakan betapa pembangunan ekonomi yang berlangsung selama ini masih belum berpihak kepada rakyat. Lumbung ekonomi hanya dikuasai oleh beberapa gelintir orang dan kelompok tertentu. Desain pembangunan ekonomi yang kurang berpihak kepada rakyat dinilai juga telah melahirkan kelompok sosial tertentu yang amat konsumtif. Mereka umumnya tinggal di kota-kota besar, mengonsumsi sekitar lebih dari sepertiga pendapatan nasional, gemar berbelanja, memiliki rumah dan mobil-mobil mewah, bergaya hidup glamor, menjadi anggota berbagai klub eksekutif yang mahal, tetapi cenderung bersikap cuek terhadap gagasan-gagasan perubahan.

Kondisi perekonomian yang amat timpang semacam itulah yang dianggap telah menjadi pemicu merebaknya berbagai konflik horizontal yang berlangsung di tengah-tengah panggung kehidupan sosial kita. Tekanan ekonomi yang begitu berat bisa menjadikan seseorang atau kelompok sosial tertentu mengalami frustrasi akibat merasa tersingkir dari persaingan hidup komunitasnya. Imbasnya, jika mereka mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan frustrasi, aksi kekerasan dan kerusuhan sosial menjadi cara yang jitu dan sah bagi mereka. Lebih-lebih gaya hidup para OKB (orang kaya baru) yang suka pamer kekayaan, sungguh, tak ubahnya seperti memantik kepekaan emosional untuk mencari cara-cara agresif dalam melampiaskan kemiskinan dan penderitaan hidupnya.

Ketimpangan kondisi perekonomian semacam itu diperparah dengan merajalelanya praktik korupsi dan kejahatan krah putih yang justru dilakukan oleh kaum elite dan para pejabat yang seharusnya menjadi “patron” sosial dalam mempraktikkan gaya hidup bersahaja. Lebih ironis lagi, pemerintah tak henti-hentinya menaikkan BBM atau tarif dasar listrik (TDL) yang membuat daya beli rakyat makin hancur.

Bagaimana mungkin rakyat bisa hidup sejahtera kalau aliran ekonomi (hampir) tidak pernah mengucur dan menetes hingga ke lapisan bawah? Bagaimana bisa rakyat tersenyum dan tertawa ketika kaum elite yang gembar-gembor membentangkan slogan “hidup sederhana” dan “mengencangkan ikat pinggang” justru mempraktikan pola hidup yang sangat konsumtif dan hedonis, sampai-sampai sekadar untuk beli sapu tangan saja mesti ke Singapura?

Harus diakui secara jujur, rakyat di tingkat akar rumput selama ini hanya bisa mendongak ke atas untuk menyaksikan perilaku hedonis orang-orang kaya yang tak henti-hentinya mengumpulkan pundi-pundi kekayaan melalui otoritas dan kewenangan yang dimilikinya. Rakyat hanya sekadar disuguhi permainan dan mimpi-mimpi lewat Pemilu. Dalam permainan itulah rakyat dijadikan sebagai “tuhan” bagi para petualang politik. Mereka paham benar bahwa “suara rakyat adalah suara tuhan”. Namun, rakyat juga begitu gampang dilupakan ketika kursi empuk para petualang politik sudah didapatkan. Perihal janji-janji yang pernah bertaburan di mimbar-mimbar kampanye hingga berbusa-busa, “memang gue pikirin!” Begitulah nasib rakyat, setidaknya dalam tiga dekade terakhir ini. Hanya bisa mengeluh dan bertanya tanpa bisa memperoleh jawaban.

Kondisi kemiskinan yang mencekik rakyat, disadari atau tidak, juga telah “melumpuhkan” ketahanan nasional kita. Adagium “sedumuk banthuk senyari bumi” (mempertahankan sejengkal tanah dengan darah dan air mata) yang menjadi “doktrin” selama ini telah lenyap entah ke mana. Posisi tawar bangsa kita yang rendah akibat keterbelakangan dan kemiskinan telah memicu munculnya “nyali” bangsa lain untuk mengusik hak-hak terotorial kita. Beberapa pulau di negeri ini telah dicaplok orang lain tanpa bisa berbuat apa-apa. Demikian juga halnya dengan simbol-simbol budaya bangsa kita yang demikian gampang diklaim orang. Sungguh, kalau hal itu terus dibiarkan, bukan mustahil negeri ini akan kehilangan “roh” dan simbol-simbol kebangsaan.

Kini, 63 tahun sudah negeri ini terbebas dari cengkeraman kaum kolonial. Dalam rentang usia yang semakin matang, idealnya bangsa kita juga makin arif dan cerdas dalam mengelola aset dan potensi bangsa. Namun, agaknya kita telah lama menjadi bangsa pelupa sehingga selalu gagal belajar dari sejarah.
Semangat heroik dan kepahlawanan yang demikian sangat jelas dipraktikkan oleh para pendiri negeri ini demikian gampang terkubur. Kita hanya bisa mengingat nilai-nilai heroik dan kepahlawanan itu dari kulit luarnya saja. Itu pun hanya terjadi ketika bulan Agustus menjelang. Umbul-umbul warna-warni dan kibaran sang saka Merah-Putih begitu marak hingga (seolah-olah) menyentuh dinding langit. Gapura-gapura masuk kampung pun dicat mengkilat dengan slogan-slogan yang khas. Berbagai lomba dan pertandingan pun marak digelar, mulai anak-anak hingga orang tua. Para pejabat yang selama ini asyik bergelut dengan tumpukan dokumen di belakang meja pun tak jarang ikut “latah” membaca puisi heroik untuk menunjukkan sikap nasionalismenya.

Kita sangat berharap, romantisme pada saat Agustusan tidak terjebak ke dalam proses seremonial belaka, tetapi juga mesti menyentuh hingga ke gendang kepekaan nurani kita. Jangan sampai lupa, bahwa di balik romantisme itu, kita masih melihat para koruptor yang bergentayangan, supremasi hukum yang babak-belur hingga muncul istilah “mafia peradilan”, pembalakan hutan yang jelas-jelas sangat merusak ekosistem, atau sistem pendidikan kita yang dinilai telah gagal melahirkan generasi masa depan yang cerdas dan bermoral.

Semoga, Agustus-an tahun ini bisa menjadi momen yang baik untuk mewujudkan misi kehidupan berbangsa yang telah dicanangkan oleh para pendiri negeri ini, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, yakni “membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Ingatan kita pasti tidak lupa itu. Nah, bagaimana? ***

Kategori: Edukasi, Opini, Politik, Refleksi | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgTenggelamnya Gebyar Agustus-an di Balik Kesyahduan Ramadhan (Sunday, 15 August 2010, 446 pembaca, 71 respon) Saya merasakan gebyar Agustus-an tahun ini tenggelam di balik kesyahduan Ramadhan. Hampir tak ada grengseng Agustus-an yang meruyak di ruang-ruang publik. Spanduk, slogan, atau papan reklame (nyaris) tak bersentuhan dengan HUT ke-65 kemerdekaan RI itu....
imgRamadhan, Kemerdekaan, dan Kesalehan Sosial (Sunday, 1 August 2010, 1,386 pembaca, 141 respon) Menyaksikan Indonesia tak ubahnya menonton sebuah repertoar tragis di atas panggung teater. Sarat konflik dan (nyaris) tanpa ending. Untuk sebuah lakon teater, pertunjukan seperti itu bisa jadi memiliki “magnet” dan daya tarik yang memikat buat...
imgTerang Bulan Tak Ada Lagi di Negeri Kelelawar (Sunday, 30 August 2009, 544 pembaca, 121 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-10 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgDirgahayu Negeriku! (Sunday, 16 August 2009, 1 pembaca, 14 respon) Delapan windu sudah negeri ini merdeka. Sebuah angka unik yang menggambarkan sebuah kematangan dan kedewasaan hidup. Tidak salah kalau tema HUT RI tahun ini berbunyi: Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kedewasaan Kehidupan...
imgSemangat Pembebasan di Balik Ritual Agustus-an (Saturday, 15 August 2009, 844 pembaca, 119 respon) Gaung Agustus-an kembali menggema di seantero negeri. Kibaran sang saka Merah Putih dan umbul-umbul warna-warni bagaikan menyentuh dinding langit. Sesekali pekik “Merdeka” membahana dari atas podiom atau mimbar pidato; menggetarkan setiap jengkal...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Refleksi Menjelang Agustus-an" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Thursday, 31 July 2008 (03:03)) pada kategori Edukasi, Opini, Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

47 Responses to "Refleksi Menjelang Agustus-an"

  1. Menggunakan Firefox 3.6 Firefox 3.6 pada Windows XP Windows XP

    :d:d:)>- Merdeka….Merdeka…Merdeka….

  2. Unknown Unknown

    Wellbutrin and seizures….

    Smoking marijuana and taking wellbutrin. Wellbutrin side effects. Wellbutrin side effects pale skin. Wellbutrin and seizures. Wellbutrin….

  3. WordPress 2.5.1 WordPress 2.5.1

    [...] questions, questions and more question. Some want their Indonesia back, and other simply write a reflection. The rest said proudly, “Happy Birthday, [...]

  4. WordPress 2.5.1 WordPress 2.5.1

    [...] questions, questions and more question. Some want their Indonesia back, and other simply write a reflection. The rest said proudly, “Happy Birthday, [...]

  5. senja says:
    Menggunakan Epiphany 2.14 Epiphany 2.14 pada Debian GNU/Linux Debian GNU/Linux

    Merdeka Aja deh… Hehehe
    Gratis Iklan Banner selama 2 Bulan. Informasi lebih lanjut di
    http://www.pasamu.com

    salam merdeka juga bung senja :roll:

  6. eastjafunk says:
    Menggunakan Opera 9.51 Opera 9.51 pada Windows XP Windows XP

    Iya ney… penjajahan aktif emang udah hilang untuk sementar…tapi penjajahan pasif sperti inverstor asing yang dengan mudahnya menbabat jatah org indonesia tetap ada n lancar selalu…wuihh.. :DD

    eastjafunks last blog post..Mencekamnya Malam

    wah, dapat istilah baru nih, mas. penjajahan aktif dan pasif. makasih tambahan infonya :roll:

  7. Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Posisi tawar bangsa kita yang rendah akibat keterbelakangan dan kemiskinan telah memicu munculnya “nyali” bangsa lain untuk mengusik hak-hak terotorial kita. Beberapa pulau di negeri ini telah dicaplok orang lain tanpa bisa berbuat apa-apa. Demikian juga halnya dengan simbol-simbol budaya bangsa kita yang demikian gampang diklaim orang. Sungguh, kalau hal itu terus dibiarkan, bukan mustahil negeri ini akan kehilangan “roh” dan simbol-simbol kebangsaan.

    Mungkin Indonesia memang sudah kehilangan nyawa, Pak.

    Daripada dijajah oleh bangsa sendiri (yaitu para koruptor), bagaimana kalau negara ini kita serahkan saja secara sukarela kepada negara lain yang lebih beradab?

    wah, pernah juga ada temen yang berpendapat seperti pak shodiq ini, haks…. tapi, konon, hidup merdeka itu lebih baik daripada hidup nyaman karena dijajah, pak, haks ….

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (121 queries: 0.995 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP