Home | Budaya, Edukasi, Refleksi, Sastra | Sastra Kita Miskin Pemberontakan?

Sastra Kita Miskin Pemberontakan?

Sunday, 27 July 2008 (02:52) | 743 pembaca | 35 komentar | Print this Article

Sekitar tahun 1983, Budi Darma pernah menyatakan, jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya para sastrawan kita belum berbobot. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu.

Pertama, sebagai ”pasemon” terhadap ”tradisi” pengarang yang suka bikin sensasi lewat eksperimentasi penciptaan yang mentah dan konyol, tanpa dibarengi akuntabilitas moral dan etik. Artinya, pemberontakan hanya dilakukan untuk memburu ketenaran nama an sich, tidak berbasisikan kultur penciptaan yang dengan sangat sadar dilakukan untuk melahirkan teks-teks kreatif yang bernilai.

Kedua, pemberontakan bisa dimaknai sebagai upaya pengarang dalam melakukan perburuan kreativitas penciptaan yang lebih berbobot sehingga mampu menghembuskan napas dan arus kesadaran baru lewat teks-teks sastra masterpiece dan menyejarah. Atau, lewat pemberontakan yang dilakukan, sang sastrawan sanggup menancapkan tonggak sejarah baru di tengah-tengah dinamika sastra.

Hampir setiap angkatan, sejarah sastra kita mencatat munculnya para pemberontak yang berupaya melakukan pembebasan ”mitos” penciptaan teks-teks sastra. Pemberontakan yang mereka lakukan bukanlah sikap latah yang berambisi melambungkan nama di tengah jagad kesastraan, tetapi lebih berupaya untuk mencari dan menemukan bentuk pengucapan yang sesuai dengan tuntutan hati nurani dan kepekaan estetiknya.

Marah Rusli lewat Siti Nurbaya pada masa Balai Pustaka, Armyn Pane lewat Belenggu pada masa Pujangga Baru, Chairil Anwar lewat sajak ”Aku” pada Angkatan ’45, Sutardji Calzoum Bachri lewat antologi O, Amuk, Kapak, atau Danarto lewat kumpulan cerpen Godlob pada era 1970-an adalah beberapa nama yang bisa dibilang sukses melakukan pemberontakan kreatif sehingga bobot kesastraan mereka amat diperhitungkan dalam diskursus sastra. Tentu masih banyak pengarang lain yang dengan amat sadar meniupkan roh dan semangat pemberontakan dalam karya-karya mereka.

Lantas, bagaimana dengan ”pemberontakan” para sastrawan kontemporer kita? Agaknya, atmosfer peradaban yang tidak lagi sarat dengan pemasungan dan ketertindasan terhadap penciptaan teks-teks kreatif, justru seringkali memandulkan sikap pemberontakan itu. Tak ada lagi tantangan untuk menciptakan teks-teks yang lebih ”liar” dan mencengangkan. Miskinnya pemberontakan para sastrawan kontemporer itu bisa jadi makin memperkuat dugaan bahwa negeri kita memang bukan ladang yang subur bagi pertumbuhan sastra. Apalagi tradisi kritik, apresiasi publik, dan penghargaan finansial terhadap dunia kesastraan masih berada pada aras yang amat rendah.

Kondisi semacam itu diperparah dengan langkanya penerbit yang memiliki idealisme untuk menghidupkan dan menggairahkan terbitnya buku-buku sastra. Untung rugi secara finansial agaknya menjadi pertimbangan utama para penerbit dalam meluncurkan buku-buku sastra. Mereka tak akan berbuat konyol dengan menerbitkan buku-buku sastra kalau pada akhirnya ”jeblog” di pasaran.

Mandulnya peran Dewan Kesenian (Komite Sastra) dalam memberdayakan kantong-kantong sastra di daerah pun memiliki andil yang cukup besar dalam ”membunuh” pemberontakan para pengarang lokal. Keberadaan Dewan Kesenian tak lebih dari sebuah perpanjangan tangan birokrasi yang lebih sibuk mengurus persoalan-persoalan administratif dan pendanaan ketimbang substansi dan esensi kesastraan. Akibatnya, potensi lokal-genius kesastraan tak bisa berkembang. Aktivitas sastra yang bisa dijadikan sebagai ajang untuk menggairahkan dunia penciptaan teks-teks sastra dan apresiasi publik (nyaris) tak pernah tersentuh.

Jika kondisi semacam itu terus berlanjut, bukan mustahil nasib sastra kita makin merana dan tak terurus. Dalam konteks demikian, dibutuhkan sinergi dan kesadaran kolektif semua pihak untuk memosisikan sastra pada aras yang lebih terhormat. Sebagai kreator, sang sastrawan dituntut memiliki ”nyali” pemberontakan kreatif dalam melakukan perburuan, inovasi, serta eksplorasi aspek muatan nilai dan penyajian sehingga mampu menancapkan tonggak yang melegenda dalam khazanah sastra kita. Jika proses ini berhasil, penerbit yang masih memiliki idealisme terhadap persoalan-persoalan kebudayaan dan kemanusiaan pasti akan memburunya. Dimensi hidup dan kehidupan di tengah-tengah masyarakat kita perlu terus digali dan diangkat ke dalam teks-teks sastra sehingga mampu memancarkan ”aura” kemanusiaan bagi penikmatnya. Melalui kepekaan intuitifnya, sastrawan kita diharapkan mampu menafsirkan dan menerjemahkan berbagai persoalan mikro dan detil kehidupan menjadi lebih bermakna.

Masih banyak persoalan sastra yang belum tergarap secara serius, termasuk meningkatkan apresiasi publik terhadap sastra. Dunia pendidikan sebagai wadah pemberdayaan anak bangsa perlu dijadikan sebagai ajang apresiasi dan pembumian nilai-nilai kesastraan. Jika, memungkinkan, program ”Sastrawan Masuk Sekolah” yang dulu pernah gencar dilakukan perlu dihidupkan kembali untuk membantu guru-guru bahasa dan sastra yang selama ini dinilai telah gagal dalam menanamkan apresiasi sastra kepada siswa didik. Nah, bagaimana? ***

Kategori: Budaya, Edukasi, Refleksi, Sastra | Tags: , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgRuang Jingga: Memadukan Kreativitas melalui Jejaring Sosial (Monday, 16 August 2010, 213 pembaca, 45 respon) Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman sebuah antologi puisi “Ruang Jingga” dari Pak Riyadi, seorang sahabat dan rekan sejawat dari Purworejo, yang piawai merawi kata-kata seperti menjadi “mantra” yang mampu “menghipnotis” dan...
imgTemu Sastrawan Jawa Tengah 2010 dan Balsem Gosok (Saturday, 19 June 2010, 634 pembaca, 112 respon) Sabtu, 19 Juni 2010, Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) menggelar sebuah perhelatan bertajuk “Temu Sastrawan Jawa Tengah 2010” di Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT), Puri Maerakaca, Tawangsari, Semarang. Sesuai dengan namanya, pertemuan ini...
imgEpitaph: Kisah Berbingkai dalam Balutan Misteri (Sunday, 27 December 2009, 620 pembaca, 73 respon) Judul Buku: Epitaph Pengarang: Daniel Mahendra Penerbit: Kakilangit Kencana, Jakarta Cetakan I: November 2009 Tebal: 358 halaman Satu lagi, sebuah buku lahir dari tangan seorang Daniel Mahendra (DM). Rencananya, Epitaph bergenre novel ini akan menjadi...
imgSuicide: Potret Manusia Global yang Sarat Konflik (Saturday, 12 December 2009, 424 pembaca, 139 respon) Sepekan belakangan ini, aktivitas ngeblog saya (nyaris) tersendat. Setelah melakukan monitoring implementasi KTSP SMP berstandar nasional (SSN) di kota Tegal, Selasa (8/12/2009), Rabu-Jumat (9-11/12/2009), saya mesti mendampingi anak-anak SMP Terbuka...
imgSi Burung Merak Itu Telah Mengepakkan Sayapnya Menuju Alam Keabadian (Thursday, 6 August 2009, 620 pembaca, 108 respon) Innalillahi wa’innaillaihi raji’un Dunia sastra Indonesia berduka. WS Rendra, seorang budayawan, sastrawan, penyair, dan teaterawan, telah meninggal dunia pada hari Kamis (6 Agustus 2009), sekitar pukul 22.15 WIB di Depok, Jawa Barat. Tokoh teater...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Sastra Kita Miskin Pemberontakan?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 27 July 2008 (02:52)) pada kategori Budaya, Edukasi, Refleksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

35 Responses to "Sastra Kita Miskin Pemberontakan?"

  1. Menggunakan Opera Mini 4.1.11321 Opera Mini 4.1.11321 pada J2ME/MIDP Device J2ME/MIDP Device

    Maju terus sastra Indonesia! Eh, benarkah? ataukah…apakah saat ini mlah sdang “bermimpi indah”?

    qanaahsholihahs last blog post..Jaga Ketahanan Iklim kita!

    makasih support dan apresiasinya, mbak qanaah :oke

  2. jiwakelana says:
    Menggunakan Firefox 3.0.1 Firefox 3.0.1 pada Windows XP Windows XP

    sejatinya sastra kita bertemakan kemanusiaan dan pembangunan, dan ini mungkin agak sejalan dengan para pujangga sebelumnya baik pujangga lama maupun pujangga baru yang lebih mengarah kepada gelora perjuangan karena memang zaman itu adalah zaman penjajahan. dizaman kemerdekaan sekarang kita tidak hanya sekedar tinggal mengisinya doang tapi harus tetap merangsang perjuangan terutama pada ketidak adilan terhadap rakyat. Sastra adalah salah satu sarana bagi kita untuk memotivasinya,bahasanya indah penuh cinta tapi mengigit dan terkadang membuat para penguasa merinding. hayo budayakan sastra Indonesia……!

    jiwakelanas last blog post..BELAJAR BERDOA DARI PARA NABI

    makasih banget info dan apresiasinya, mas jiwakelana :roll:

  3. nindityo says:
    Menggunakan Firefox 3.0.1 Firefox 3.0.1 pada Windows XP Windows XP

    bukannya Komunitas Utan Kayu dengan “Satra Kelamin” nya juga termasuk pemberontakan pak ?
    (ah maap pak masih kebawa aura negatif jurnal Boemipoetera dari Komunitas Seni Indonesia nih ) :DD

    btw, kriteria tidak memberontak dan memberontak itu apa sih pak ? :acc

    hehehe :lol: bisa juga, mas nin, tuk dikatakan sebagai sebuah “pemberontakan”. tapi makna pemberontakan itu sendiri menimbulkan banyak penafsiran, sangat tergantung dari aliran sastra yang dianutnya. :oke

  4. Menggunakan Safari 3.1.1 Safari 3.1.1 pada Mac OS X 10.4.11 Mac OS X 10.4.11

    Jadi rindu era Pramoedya, Pak…

    Donny Verdians last blog post..Membunuh Tikus dengan Bazooka

    wah, mas dony akrab juga dg karya2 almarhum pram rupanya, salut :roll:

  5. Hery Azwan says:
    Menggunakan Firefox 1.5.0.7 Firefox 1.5.0.7 pada Mandriva 2007.0 Mandriva 2007.0

    Hukum besi berlaku di sini ya Pak. Latar belakang sosial atau kondisi suatu negara yang penuh dengan tekanan membuat karya sastra lebih “berbunyi”. Setelah runtuhnya Orde Baru yang membuka keran kebebasan seluas-luasnya, tampaknya kurang bisa diharapkan karya sastra yang luar biasa. Tapi masa sih? Bukannya di negara maju seperti USA dan negara2 Eropa, sastranya tetap berkembang? Mohon pencerahan, Pak.

    Hery Azwans last blog post..Kun Fayakun 3

    situasi represif memang seringkali justru memicu sastrawan menjadi lebih kreatif. karya2 besar seringkali lahir dalam situasi seperti itu. waduh, mohon pencerahan? nah, itu yang aku nggak bisa mas azwan, hehehe :oke

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (104 queries: 0.889 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP