Home » Cerpen » Sastra » Sepasang Tanduk Bertengger di Kepalaku

Sepasang Tanduk Bertengger di Kepalaku

Tubuhnya gempal. Kekar. Sorot matanya tajam. Mirip mata serigala yang liar dan buas.

“Benda gaib itu sulit,” katanya. Orang-orang yang hadir di situ terhenyak. Tapi tak ada yang memberikan reaksi, kecuali bisikan-bisikan riuh yang tidak jelas dan tanpa makna. “Batu rubah ini bisa memberikan daya linuwih bagi mereka yang membawanya,” sambungnya sambil menimang-nimang sepasang batu kecil mengkilat. Orang-orang yang berkerumun semakin terhenyak ketika sepasang batu itu dimasukkan ke dalam gelas berisi air putih bersih. Saat itu juga air putih yang ada dalam gelas itu berubah menjadi merah. Semua mata terkesiap.

“Tidak bisa! Tidak bisa! Ini main sulap!” sergahku tiba-tiba sembari menyibak kerumunan. Semua mata membelalak. Aroma kebencian tumpah di tengah kerumunan. Lebih-lebih si pemilik sepasang batu rubah.

“Kamu mau macem-macem dengan batu rubah ini, ya?” bentak si pemilik sepasang batu rubah dengan tatapan mata jalang dan liar.

“Tidak bisa! Tidak bisa! Ini main sulap!”

Aneh! Tiba-tiba saja lidahku kelu. Sulit melafalkan kata-kata. Tak bisa berkata lain, kecuali jawaban tadi. Begitu dibentak berkali-kali, jawaban yang meluncur dari belahan bibirku tetap sama; tak berubah, baik kata-kata maupun nadanya. Pemilik batu rubah yang ternyata bergelar Ki Dobar itu berkacak pinggang. Sorot matanya liar, mirip mata serigala yang sedang memburu mangsa. Bulu dadanya bergetar dahsyat. Dengan gerakan yang cekatan, tangan kiri Ki Dobar menarik krah bajuku. Aku tergeragap. Cemas. Tiba-tiba tangan kanannya mengambil sepasang batu rubah dari dalam gelas. Lantas, meletakkannya tepat di atas kepalaku. Air dari dalam gelas yang masih tersisa disiramkan di ubun-ubunku. Seketika itu pula aku seperti terbang di tempat yang jauh, entah di mana, hingga akhirnya aku seperti berada di sebuah padang yang tandus dan lapang seperti tanpa batas dan tepi.

Di padang yang tandus itu, aku dikerumuni ratusan wajah yang mengerikan dengan sepasang tanduk bertengger di kepala. Menjulur-julurkan lidah. Dengan gerakan yang sakral, tangan mereka mengapai-gapai tubuhku. Mulut mereka menyeringai sembari meneriakkan jeritan histeris. Bersambung-sambungan. Sejurus kemudian, sosok-sosok yang mengerikan itu berjongkok seperti dikomando, lantas berdiri lagi, cepat sekali. Semakin cepat dan merapat. Tubuhku dihimpit dengan kekuatan penuh. Dadaku sesak. Tak lama kemudian, sosok-sosok yang mengerikan itu menjauh. Cepat sekali. Merapat lagi. Menjauh lagi. Lantas, merapat dan semakin merapat. Aku meronta dahsyat. Menjerit. Napasku sengal. Tak mampu menahan beban himpitan yang luar biasa dahsyatnya.

“Tidaaaak!”

Tiba-tiba saja aku seperti terjun ke alam purba. Entah di mana. Ketika meraba-raba kepala, aku tersentak. Ada sepasang tanduk bertengger di kepalaku. Setumpuk pertanyaan menyerbu rongga dada. Namun, aku tak memperoleh jawaban apa-apa. Suasana gelap sekali. Aku hanya bisa merangkak-rangkak dan tertatih-tatih seperti tengah berada di sebuah goa yang singup. Mendadak aku mendengar nyanyian sakral merambati dinding goa. Samar. Riuh tanpa irama. Aku berusaha mendekat ke arah nyanyian itu. Namun, tiba-tiba hilang. Lenyap. Hening. Kemudian, bergemuruh lagi. Berulang-ulang, hingga akhirnya gendang telingaku menangkap sebuah suara yang bergetar dan begitu berwibawa. Gemanya memantul-mantul di dinding goa.

“Untuk apa Sampeyan datang ke sini? Ini bukan jalan menuju kematian! Segera enyah dari sini!”

“Tidak bisa! Tidak bisa! Ini main sulap!”

“Keluar!” bentak suara misterius itu melengking-lengking dahsyat. Gemanya memantul-mantul di dinding goa. Tubuhku limbung. Tak sanggup menahan gempuran gema suara yang membombardir gendang telingaku. Tapi, aku tetap nekad mendekati arah gemuruh nyanyian yang tak henti-hentinya merambati dinding goa. Merunduk-runduk. Merangkak-rangkak. Tertatih-tatih. Tiba-tiba saja aku merasakan kesiur angin yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Tubuhku nyaris terpelanting. Tak lama kemudian, aku merasakan sepotong kayu menghunjam tubuhku. Aku terpelanting. Seketika itu pula aku seperti terhempas dari mulut goa. Gemuruhnya nyanyian sakral yang merambati dinding goa tidak terdengar lagi.

Peluh keringat mencair di sekujur tubuhku. Persendianku terasa ngilu. Loyo. Tak berdaya. Ketika meraba-raba kepala, sepasang tanduk itu masih bertengger di kepalaku. Aku tak tahu, entah di mana aku sekarang. Hingga akhirnya, lengkingan dan jeritan histeris –entah suara dari mana– kurasakan merayapi pusat kepekaan telingaku. Gendang telingaku seperti diiris sembilu; pelan-pelan. Tapi, makin lama makin cepat. Lantas, lengkingan dan jeritan histeris itu seperti merambati dinding kepalaku. Mengorek semua isi kepalaku. Berputar cepat sekali. Perih. Berhenti sebentar. Berputar lagi. Kini, mulai turun merambati tenggorokan. Pelan-pelan. Menyegrak. Menyumbat tenggorokan. Seketika itu pula, aku terbatuk-batuk dahsyat. Sekujur tubuhku bergoncang hebat. Persendianku seperti meloncat-loncat. Batukku kian menjadi-jadi. Tenggorokanku seperti dicincang. Lantas, meledaklah batukku yang paling mengerikan. Tubuhku bergetar hebat. Darah bau anyir yang tak kuduga menyembur dari rongga mulutku. Tanpa henti.

***

Aneh! Tiba-tiba saja aku seperti tidak merasakan kejadian apa-apa. Tubuhku segar-bugar, tanpa rasa nyeri sedikit pun. Bahkan, aku bisa berada di tengah-tengah kehidupan keluarga, para tetangga, dan masyarakat biasa. Aku bisa dengan jelas mengikuti alur kehidupan manusia normal sehari-hari. Tapi, ketika meraba-raba kepala, sepasang tanduk itu masih bertengger di kepalaku. Dan yang tak bisa kupahami, orang tuaku, saudaraku, tetanggaku, atau siapa saja, tidak pernah merasakan kehadiranku. Setiap kali aku terlibat dalam perbincangan, kata-kata yang meluncur dari rongga mulutku tidak pernah ditanggapi. Bahkan, tidak pernah dianggap ada. Mereka juga tidak pernah menatapku ketika aku melibatkan diri dalam pergaulan sehari-hari.

“Anak kita telah jadi korban, Pak! Mengapa dulu Sampeyan nggak berusaha mencegahnya ketika anak kita meremehkan batu rubah milik Ki Dobar itu? Bukankah saat kejadian itu Sampeyan juga ada di sana?” tanya ibuku. Kulihat wajahnya memancarkan duka yang dalam. Matanya sembab.

“Aku sendiri nggak menyangka kalau akibatnya bisa begini, Bu! Katanya kita ini hidup di alam modern, tapi kenapa masih saja ada orang yang percaya tuah benda-benda gaib seperti itu? Ajaran agama pun melarang kita untuk mempercayai hal-hal semacam itu, bukan?” sahut ayah.

“Tetapi nyatanya, orang yang meremehkan batu rubah bisa kuwalat gitu, kok! Ini kan bukti, benda gaib itu masih memiliki tuah dan mengundang banyak orang untuk percaya!” sergah ibu.

Aku bisa dengan jelas mengikuti perbincangan kedua orang tuaku itu di ruang tamu. Bahkan, aku bisa melihat dengan jelas raut wajah ibuku yang sangat menyesalkan kejadian itu. Tak henti-hentinya, ibuku mengutuk Ki Dobar yang dianggap telah menjadi penyebab raibnya tubuhku dari muka bumi. Tapi, sama sekali ayah dan ibuku tak bisa melihat kehadiranku. Padahal, jelas-jelas aku duduk di samping ayah. Mungkin ada untungnya juga. Kalau saja tubuhku bisa terlihat, seantero kampung pasti gempar. Apalagi, kalau melihat sepasang tanduk yang bertengger di kepalaku. Nama Ki Dobar pun tentu akan semakin harum lantaran bisa membikin orang-orang yang meremehkannya menjadi apa saja. Dan itu artinya, deretan orang yang percaya pada tuah benda gaib akan semakin panjang. Makin jauh tenggelam dalam lubang kemusyrikan.

Tanpa tahu sebab yang pasti, tiba-tiba saja aku sudah berada di pusat keramaian sebuah kota. Tubuhku menggelinding ringan sekali. Aku menyeruak kerumunan di sebuah pojok pasar yang ramai.

“Saudara-saudara, obat ini sudah terbukti sangat ampuh dan mujarab untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit berbahaya! Lever, jantung, paru-paru, bahkan stroke, bisa sembuh tanpa operasi. Silakan Saudara-saudara! Murah sekali harganya!” teriak seorang lelaki separoh baya berkumis tebal di tengah kerumunan orang-orang yang berjubel. Berapi-api. Kerumunan semakin riuh dan sesak. Seperti kena sihir, antrean yang melingkar padat itu saling berebut membeli obat. Saling berteriak. Ramai sekali.

Mendadak keramaian itu dikejutkan oleh kehadiran dua orang bertubuh gempal yang menodongkan pistol ke jidat penjual obat. Namun, dengan senyum yang bersahabat, penjual obat itu mengajaknya berunding. Entah apa yang diperbincangkannya. Tak berapa lama penjual obat itu secepat kilat kembali ke tempatnya. Kedua orang bertubuh gempal tadi kabur entah ke mana. Si penjual obat kembali berteriak-teriak, lebih bersemangat. Kerumunan yang nyaris bubar pun kembali berjubel. Lebih padat.

“Tidak bisa! Tidak bisa! Ini main sulap!” teriakku lantang tepat di tengah-tengah kerumunan. Si penjual obat terlongong-longong. Kaget. Kedua bola matanya berputar-putar, mencari sumber suara yang meluncur dari mulutku. “Sampeyan telah melakukan penipuan kepada para penduduk. Sampeyan bohong!” teriakku lagi. Aneh, tak seperti biasanya, saat ini mulutku bisa melafalkan kata-kata dengan begitu sempurna.

Kulihat peluh keringat membanjiri tubuh penjual obat itu. Bola matanya berkeriyap. Tak tahu harus berbuat apa menghadapi suara tanpa wujud itu. Kerumunan pun bubar. Lari tunggang langgang. Aku merasa iba terhadap si penjual obat. Padahal, sebenarnya aku hanya iseng. Sama sekali tak bermaksud merendahkan martabat si penjual obat itu, apalagi membubarkan pelanggannya.

Entah! Aku sendiri semakin pusing dengan keadaanku. Semua orang tak pernah tahu kehadiranku. Aku ada, tapi kehadiranku tak pernah dianggap ada. Langkahku seperti dibimbing oleh sebuah kekuatan aneh yang telah merasuk ke dalam jiwa ragaku. Segalanya berlangsung serba mendadak dan tiba-tiba. Dalam sekejap, aku telah berada di tempat yang jauh dari jangkauan manusia normal. Aku sendiri sulit menebak, ke mana aku akan bergerak dan melangkah.

Senja yang berkabut mengiringi kelebatan langkahku. Redup dan mengaburkan pandangan manusia normal. Secepat kilat aku telah berada di rumah Ki Dobar, pemilik sepasang batu rubah yang telah menancap di kepalaku. Kulihat dia tengah duduk di lincak depan rumah bersama istrinya. Di tiang pojok rumahnya menempel lampu teplok yang temaram. Berkelap-kelip dihembus angin. Sesekali terdengar derai tawa menghiasi perbincangan mereka berdua. Mesra sekali.

Dengan kekuatan penuh, sepasang tanduk yang bertengger di kepalaku menyeruduk perut Ki Dobar. Rebah. Darah segar berbau anyir muncrat ke segala penjuru. Ususnya terburai. Lelaki kekar itu tak berdaya. Sekarat meregang nyawa. Sorot mata serigalanya yang liar dan buas berubah redup dan beku. Istri Ki Dobar menjerit dahsyat. Berteriak meminta tolong para tetangga, lantas pingsan. Tubuh perempuan sintal itu ambruk di sisi suaminya. Orang-orang kampung segera berdatangan. Mereka saling bertatapan. Saling tanya. Namun, tak ada yang bisa menjawab. Mereka hanya bisa menyaksikan tubuh sepasang suami-istri yang terbujur kaku. Kabar kematian Ki Dobar dengan cepat tersebar dari mulut ke mulut.

Aku tak peduli kabut duka yang menyelimuti rumah Ki Dobar. Juga kebingungan yang melanda wajah para penduduk. Secepat kilat aku telah berada di rumahku. Gelap. Tanpa lampu. Aku berteriak berulang kali memanggil ayah dan ibu. Sepi. Singup dan nyenyet. Ketika meraba-raba kepala, sepasang tanduk itu masih bertengger di kepalaku. Itu artinya, aku akan terus mengembara dalam dunia gaib. Sendirian. Entah sampai kapan. ***

Keterangan:

Mohon maaf kalau dalam beberapa hari ini tidak bisa posting dan blogwalking. Sedang ada keperluan. Terima kasih. Salam kreatif!

tentang blog iniTulisan berjudul "Sepasang Tanduk Bertengger di Kepalaku" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (21 Juli 2008 @ 07:10) pada kategori Cerpen, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 50 komentar dalam “Sepasang Tanduk Bertengger di Kepalaku

  1. tak ada antagonis dan tak ada protaginis, mirip dengan cerpen santet.. ide yang menarik karena selama ini cerpen atau apapun pasti menghadirkan sosok pro dan antagonis.
    (pengamat sastra mode on)
    semoga bisa ketularan ide dan semangatnya pak Wali.. salam

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *