Home | Bahasa, Budaya, Edukasi, Esai, Kurikulum, Opini, Refleksi, Sastra | Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra!

Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra!

Sunday, 6 July 2008 (12:27) | 1,149 pembaca | 63 komentar | Print this Article

Secara jujur harus diakui, selama ini sastra belum mendapatkan tempat yang terhormat dalam dunia pendidikan kita. Selalu saja ada dalih untuk mengebirinya. Entah lantaran kurikulumnya, ketidaksiapan gurunya, sulitnya menentukan bahan ajar, atau minimnya minat siswa. Beberapa alasan klasik untuk menutupi nihilnya “kemauan baik” untuk memosisikan sastra pada aras yang berwibawa dan bermartabat. Yang lebih memprihatinkan, masih ada opini “menyesatkan” bahwa sastra hanya sekadar produk dunia khayalan dan lamunan yang tak akan memberikan manfaat dalam kehidupan nyata.

Sastra pada hakikatnya merupakan “prasasti” kehidupan; tempat diproyeksikannya berbagai fenomena hidup dan kehidupan hingga ke ceruk-ceruk batin manusia. Sastra bisa menjadi bukti sejarah yang otentik tentang peradaban manusia dari zaman ke zaman. Hal ini bisa terjadi lantaran sastra tak pernah dikemas dalam situasi yang kosong. Artinya, teks sastra tak pernah diciptakan lepas konteks dari masyarakat, tempat sang pengarang hidup dan dibesarkan. Dengan kata lain, teks sastra akan mencerminkan situasi dan kondisi masyarakat pada kurun waktu tertentu. Sebagai sebuah produk budaya, dengan sendirinya teks sastra tak hanya merekam kejadian-kejadian faktual pada kurun waktu tertentu, tetapi juga menafsirkan dan mengolahnya hingga menjadi adonan teks yang indah, subtil, dan eksotis. Kepekaan intuitif sang pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan menjadi modal yang cukup potensial untuk melahirkan teks-teks sastra yang mampu mengharubiru emosi pembaca.

Karena diciptakan dengan mempertimbangkan kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra, sebuah teks sastra memiliki kandungan nilai yang sarat dengan sentuhan kemanusiawian. Dengan membaca teks sastra, nurani pembaca menjadi lebih peka terhadap persoalan hidup dan kehidupan. Teks sastra juga mampu memberikan “gizi batin” yang akan mempersubur khazanah rohani pembaca sehingga terhindar dari kekeringan dan “kemiskinan” nurani. Tek sastra juga mampu merangsang peminat dan pembacanya untuk menghindari perilaku-perilaku anomali yang secara sosial sangat tidak menguntungkan. Agaknya masuk akal kalau Danarto pernah bilang bahwa kaum remaja-pelajar yang suka tawuran dan selalu menggunakan bahasa kekerasan dalam menyelesaikan masalah merupakan potret kegagalan pengajaran sastra di sekolah. Mereka tak pernah membaca teks sastra sehingga tidak memiliki kepekaan dan kearifan dalam menghadapi masalah kehidupan yang mencuat ke permukaan.

Persoalannya sekarang, masihkah kita mencari-cari alasan untuk mengebiri sastra dalam dunia pendidikan ketika peradaban benar-benar sedang “sakit”? Masihkah kita berdalih untuk menyingkirkan sastra dari dunia pendidikan ketika nilai-nilai kesalehan hidup gagal merasuk ke dalam gendang nurani siswa lewat khotbah dan ajaran-ajaran moral? Masihkah kita mengambinghitamkan kurikulum pendidikan ketika apresiasi sastra di kalangan pelajar menjadi mandul, bahkan banyak pelajar kita yang mengidap “rabun sastra”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang bukan hal yang mudah untuk dijawab. Sastra bukan “sihir” yang sekali “abrakadabra” langsung bisa mengubah keadaan. Sastra lebih banyak bersentuhan dengan ranah batin dan wilayah kerohanian sehingga hasilnya tak kasat mata. Nilai-nilai kesalehan hidup yang terbangun melalui proses apresiasi sastra berlangsung melalui tahap internalisasi, pengkraban nilai-nilai, persentuhan dengan akar-akar kemuliaan dan keluhuran budi, serta pergulatan tafsir hidup yang akan terus berlangsung dalam siklus kehidupan pembacanya. Proses apresiasi sastra semacam itu akan menghasilkan “kristal-kristal” kemanusiaan yang akan memfosil dalam khazanah batin pembaca sehingga menjadi pribadi yang beradab dan berbudaya. Ini artinya, mengebiri sastra dalam kehidupan tak jauh berbeda dengan upaya pengingkaran terhadap nilai-nilai kemuliaan dan martabat manusia itu sendiri.

Dalam konteks demikian, sesungguhnya tak ada alasan lagi untuk melakukan proses marginalisasi terhadap sastra, apalagi dalam dunia pendidikan yang notabene menjadi “agen perubahan” untuk melahirkan generasi masa depan yang cerdas, bermoral, dan religius. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pun kini sudah amat akomodatif dan bersahabat dengan sastra. Jika kurikulum sebelumnya membidik sastra hanya sekadar tempelan seperti dalam sebuah mozaik, kini sastra sudah menjadi bagian esensial dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Lihat saja Standar Kompetensi (SK) dan KD mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP di sini! Keterampilan mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis, tak hanya dioptimalkan dalam pembelajaran aspek kebahasaan, tetapi juga dalam pembelajaran aspek kesastraan. Jadi, dalam pembelajaran sastra di SMP, kini sudah ada keterampilan mendengarkan sastra, berbicara sastra, membaca sastra, dan menulis sastra. Jelas ini memberikan gambaran bahwa sesungguhnya tidak ada alasan lagi untuk mengebiri sastra dalam dunia pendidikan. Kurikulum pendidikan yang memberikan ruang gerak secara leluasa kepada para guru bahasa dalam mengelola proses pembelajaran, jelas akan memberikan prospek yang cerah dalam gerak dan dinamika apresiasi sastra di kalangan siswa.

Nah, kalau kurikulum sudah memberikan atmosfer yang cukup kondusif, ternyata siswa masih “rabun sastra”, bagaimana? Bisa jadi ada kesalahan pada aras implementasinya. Guru, jelas, menjadi faktor utama. Menyajikan materi kesastraan jelas sangat berbeda dengan menyajikan materi kebahasaan. Untuk memberikan sugesti kepada siswa, guru sastra diharapkan memiliki wawasan sastra yang “canggih” sekaligus mampu memberikan keteladanan tentang kecintaannya terhadap sastra. Sarana pendukung, seperti perpustakaan dan fasilitas pembelajaran lainnya, juga menjadi penentu. Bagaimana siswa bisa belajar apresiasi sastra dengan baik kalau rak perpustakaan sekolah hanya dihuni buku-buku usang?

Yang tidak kalah penting adalah memperbanyak agenda kegiatan sastra, semacam pentas baca puisi atau cerpen, lomba dan festival, atau menyediakan media publikasi (cetak) untuk menerbitkan karya-karya siswa. Dengan cara demikian, sastra tak akan terjebak menjadi pengetahuan kognitif dalam ranah memori siswa, tetapi menyatu dalam sikap dan emosi, yang akan terus melekat dan mengakar dalam khazanah batin siswa hingga kelak mereka menjadi insan yang memiliki sikap responsif terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Nah, bagaimana? ***

Kategori: Bahasa, Budaya, Edukasi, Esai, Kurikulum, Opini, Refleksi, Sastra | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra!" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 6 July 2008 (12:27)) pada kategori Bahasa, Budaya, Edukasi, Esai, Kurikulum, Opini, Refleksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

63 Responses to "Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra!"

  1. ariss_ says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.14 Firefox 2.0.0.14 pada Windows XP Windows XP

    Benar, Pak. Tak ada lagi alasan untuk mengamputasi geliat sastra tanah air kontemporer. Tinggal kita cari metode yang pas dan sesuai dengan kapabilitas anak didik kita khususnya, untuk mengembangkan apresiasi dan minat baca berikut laku hidup yang se-ruh dengan jiwa sastra. Sehingga diharapkan akan melahirkan sastrawan2 yang tak hanya jago beretorika atau mengumbar metafor di setiap karyanya, dan lebih mengutamakan tujuan estetik sastra itu sendiri.

    Sayangnya saya pun cuma baru bisa sampai pada level “kulit luar” kalau bersinggungan dengan yg namanya sastra.

    Salam,

    ariss_s last blog post..Seputar Kesalahan dalam Berdo’a ~ Refleksi Kenapa Do’a Jarang Terkabul

    >>>
    hehehehe :lol: memiliki minat terhadap sastra sdh bisa menjadi modal yang cukup utk menyelami sastra lebih jauh, kok, mas aris :roll:

  2. Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    Ngga populer Pak. Kalo mau populer, jangan bikin lomba puisi atau bikin novel. Buatlah Akademi Puisi dan Novel Indonesia, macam Indonesian Idol. Baru deh sastra jadi populer.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (136 queries: 1.146 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP