Refleksi Menjelang Agustus-an

Thursday, 31 July 2008 | 455 pembaca | 45 komentar

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global. Itulah tema yang diusung panitia peringatan HUT ke-63 RI. Ada dua entry-point yang ditekankan dalam tema itu, yakni pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional. Tentu saja, ada misi dan tujuan tertentu, mengapa dua variabel itu diangkat sebagai titik pusat perhatian dalam momen 63 tahun Indonesia merdeka. Pembangunan ekonomi, jelas ini menjadi bagian dari pengamat ekonomi untuk membedahnya. Namun, sebagai rakyat kecil, saya bisa ikut merasakan betapa pembangunan ekonomi yang berlangsung selama ini masih belum berpihak kepada rakyat. Lumbung ekonomi hanya dikuasai... (Silakan baca lanjutannya!)

Pembacaan Cerpen dan Diskusi Kumcer “Di Kereta Kita Selingkuh”

Sunday, 27 July 2008 | 754 pembaca | 49 komentar

Minggu, 27 Juli 2008 (pukul 09.00-13.30 WIB), aula Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kendal-Jateng, menjadi saksi sebuah perhelatan sastra. Agenda bertajuk ”Diskusi Sastra: Pembacaan Cerpen-cerpen Karya Budi Maryono” yang digelar oleh Teater Semut itu menghadirkan pembacaan cerpen ”Lelaki Terakhir” secara teatrikal. Adegan kekerasan melalui kebuasan keris “kutukan” Empu Gandring yang bertubi-tubi menghabisi nyawa korbannya telah membuat panggung tak lebih dari sebuah ladang pembantaian roh dan nilai kemanusiaan. Tragis dan menyayat kepekaan nurani kita. Sebagai sebuah genre fiksi, ”Lelaki Terakhir” yang mengangkat tokoh Ken Dedes yang berubah jadi biadab itu, jelas telah mengalami proses transfigurasi kreativitas.... (Silakan baca lanjutannya!)

Sastra Kita Miskin Pemberontakan?

Sunday, 27 July 2008 | 276 pembaca | 35 komentar

Sekitar tahun 1983, Budi Darma pernah menyatakan, jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya para sastrawan kita belum berbobot. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu. Pertama, sebagai ”pasemon” terhadap ”tradisi” pengarang yang suka bikin sensasi lewat eksperimentasi penciptaan yang mentah dan konyol, tanpa dibarengi akuntabilitas moral dan etik. Artinya, pemberontakan hanya dilakukan untuk memburu ketenaran nama an sich, tidak berbasisikan kultur penciptaan yang dengan sangat sadar dilakukan untuk melahirkan teks-teks kreatif yang bernilai. Kedua, pemberontakan bisa dimaknai sebagai... (Silakan baca lanjutannya!)



Bottom

eXTReMe Tracker YM My BlogCatalog BlogRankSakui Web RankSawali Rank rank blog indonesiaValid CSS!Valid XHTML 1.0 TransitionalValid RSS
Subscribe by AnothrAdd Catatan Sawali Tuhusetya Mippin widgetKSB Free PageRank CheckerValid XHTML 1.0 zimbioTopOfBlogsAjax CommentLuv Enabled 4c0b325a6904582681e88fbab44a6330
freelink | ICRA | gzip | ATRC | speed_test | raven-seo | Gads | GR | upload | WM | sitemap | Gtr | Clbmtr | KS | BlogKS | daily | deteksi | webhost | MGMP | Tuhu | RT