Home | Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Opini, Refleksi, Tradisi | Buku Sekolah Elektronik: Terobosan yang Jitu dan Visioner?

Buku Sekolah Elektronik: Terobosan yang Jitu dan Visioner?

Friday, 27 June 2008 (02:11) | 4,067 pembaca | 66 komentar | Print this Article

Depdiknas telah meluncurkan Buku Sekolah Elektronik (BSE). Ada dua fasilitas yang disediakan dalam website tersebut, yakni Download dan Baca Online. Menurut Mendiknas, Bambang Sudibyo, masyarakat luas dapat mengakses secara gratis buku dalam bentuk elektronik atau ebook melalui website Depdiknas. Guru, murid, pemerintah daerah, ataupun pengusaha diperkenankan untuk mengunduh, meng-copy, mencetak, menggandakan, bahkan sampai memperdagangkannya. Buku yang diterbitkan secara online tersebut, menurut Mendiknas, merupakan buku-buku yang telah dibeli hak ciptanya oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang telah dinilai kelayakannya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pemerintah menargetkan untuk membeli sebanyak 200 hak cipta buku pada Agustus 2008.

BSEDi tengah wacana pembelajaran elektronik yang kini tengah hangat diperbincangkan, langkah Depdiknas lewat BSE-nya memang bisa dibilang sebagai terobosan yang jitu dan visioner. Melalui BSE, masyarakat luas yang memiliki fasilisitas internet dapat mengunduh dan membaca buku-buku teks, mulai jenjang SD hingga SMA/SMK, secara gratis. Bahkan, mereka yang memiliki naluri bisnis, bisa memanfaatkan fasilitas tersebut jadi memiliki nilai jual.

Di tengah mahalnya harga buku yang dinilai memberatkan orang tua/wali murid, BSE bisa dianggap sebagai upaya untuk menyiasati kegelisahan orang tua. Bayangkan saja, di SMP ada sekitar 12 mata pelajaran. Kalau harga sebuah buku, misalnya Rp30.000,00, praktis setiap awal tahun pelajaran orang tua mesti mengeluarkan uang dari koceknya sebesar Rp360.000,00. Itu baru alokasi dana untuk membeli buku, belum terhitung pengeluaran untuk membayar SPP, seragam, atau keperluan sekolah yang lain. Memang, selama ini pemerintah telah memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun, tak sedikit sekolah yang masih tetap memungut biaya dengan dalih macam-macam. Begitulah kenyataan “pendidikan biaya tinggi” yang mesti dihadapi oleh orang tua.

Dari sisi ini, kehadiran BSE bisa dianggap sebagai upaya untuk meringankan beban orang tua dalam memenuhi kebutuhan buku teks untuk putra-putrinya. Yang jadi persoalan adalah, sudahkah penyediaan fasilitas elektronik semacam itu diimbangi dengan intensifnya sosialisasi dan pelatihan bagi para guru dan siswa?

Kita harus jujur mengakui, kesenjangan desa-kota selama ini masih sangat lebar. Bagi sekolah-sekolah yang berada di daerah perkotaan yang sudah demikian akrab dan mudah dalam mengakses internet, kehadiran BSE jelas akan memberikan dampak positif dalam mendukung kegiatan pembelajaran. Di bawah bimbingan guru, para siswa bisa diajak bersama-sama untuk mempelajari buku secara online, membahas dan mendalaminya secara bersama-sama, melakukan diskusi secara dialogis dan interaktif, sehingga atmosfer pembelajaran pun menjadi lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Namun, bagaimana halnya dengan sekolah-sekolah pinggiran yang masih jauh dari sentuhan internet? Alih-alih koneksi internet, perangkat komputer saja masih banyak yang belum memilikinya. Sekolah-sekolah pinggiran semacam itulah yang perlu mendapatkan perhatian dan subsidi lebih optimal untuk mengatasi lebarnya kesenjangan desa-kota. Selain itu, website BSE juga belum didukung dengan software yang praktis dan memudahkan bagi publik dalam mengaksesnya. Proses download dan membaca online-nya tergolong berat. Dengan menggunakan software adobe flash player, akses terhadap BSE cenderung melelahkan dan memboroskan bandwith. Memang tampilannya menarik dan interaktif. Namun, hal itu tak akan manfaatnya jika masyarakat luas mengalami hambatan teknis dalam mengaksesnya.

Di tengah peradaban global, memang sudah saatnya sekolah mulai melirik pembelajaran elektronik sebagai upaya untuk melahirkan generasi-generasi masa depan yang tidak “gagap” teknologi; generasi yang mampu berpikir global dan bertindak lokal. Untuk itu, perlu ada sosialisasi dan pelatihan secara intensif tentang pembelajaran berbasis Teknologi dan Informasi (TI) kepada para guru agar mampu memanfaatkan media tersebut secara kreatif dan inovatif. Mudah-mudahan kehadiran BSE menjadi awal yang bagus dalam mempersiapkan generasi masa depan yang cerdas, terampil, kreatif, dan beradab, lewat sentuhan teknologi elektronika yang mencerahkan. ***

Kategori: Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Opini, Refleksi, Tradisi | Tags: , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgMenanggalkan Atribut Primordial di Kelas (Monday, 30 March 2009, 602 pembaca, 130 respon) Andreas Harefa dalam buku Menjadi Manusia Pembelajar (2000) pernah menyatakan bahwa sekolah kita telah lama dipisahkan dari soal-soal nyata sehari-hari. Ia telah berubah menjadi semacam “sekolah militer”, ajang indoktrinasi, dan “kaderisasi”...
imgHacker Gelap Kembali Bergentayangan (Wednesday, 25 March 2009, 857 pembaca, 198 respon) Menjelang Maghrib. Jemari saya masih saja menari-nari di atas tombol keyboard ketika Mbak Dita yang sedang chatting via YM dengan saya secara tiba-tiba mengabarkan bahwa blog saya sedang dibobol hacker. Dengan napas tertahan, saya langsung meluncur. Duh,...
imgMengapa Blog Tak Bisa Diakses via Firefox (Monday, 8 September 2008, 528 pembaca, 60 respon) Dua malam yang lalu, usai shalat tarawih, saya bermaksud meng-upload foto dari kamera digital ke drive PC dalam keadaan internet terkoneksi. Namun, aneh, tiba-tiba saja muncul folder baru dari memori kamera yang tak jelas isinya. Karena menganggap bukan...
imgMampukah Sentuhan TI Melahirkan Generasi yang Cerdas dan Santun? (Wednesday, 6 August 2008, 1,179 pembaca, 51 respon) Ada sebuah pertanyaan yang selalu mengusik para pemerhati dan pengamat pendidikan. Profil generasi macam apakah yang telah dilahirkan oleh dunia pendidikan kita? Pertanyaan ini agaknya bukan hal yang mudah untuk dijawab. Secara jujur harus diakui,...
imgE-Learning dan Etika Pemanfaatan Media (Saturday, 21 June 2008, 1,138 pembaca, 25 respon) Harus diakui, internet telah membuat dunia menyempit. Dunia bagaikan sebuah perkampungan di bawah satu atap peradaban yang mengglobal. Komunikasi dan interaksi bisa dilakukan lintas-waktu dan lintas-geografis. Manusia pada era digital ini benar-benar...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Buku Sekolah Elektronik: Terobosan yang Jitu dan Visioner?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Friday, 27 June 2008 (02:11)) pada kategori Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Opini, Refleksi, Tradisi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

66 Responses to "Buku Sekolah Elektronik: Terobosan yang Jitu dan Visioner?"

  1. erik says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    yach bagus juga sih, walau bagaimana jamn memang menuju ke era tehnologi, tapi yang namanya buku daerah sperti bahasa sunda untuk BSE masih belum nemu tuh …

  2. arny says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    bagaimana cara mengakses bse…?

  3. Menggunakan Opera 9.64 Opera 9.64 pada Windows XP Windows XP

    terobosan adalah sebuah kategori perubahan……….. perubahan yang konstruktif akan lebih berdaya gunna dan kompetitif,semoga anak-anak didik kita ke depan akan lebih comprehenship di dalam memandang persoalan

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (135 queries: 0.816 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP