Home » Pendidikan » Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa? » 27170 pembaca

Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?

Dunia pendidikan kembali tercoreng. Entah, sudah berapa kali kasus kekerasan yang melibatkan kaum pelajar kita itu terungkap. Aksi mereka, konon tak melulu sebatas kenakalan remaja yang wajar, tetapi sudah memasuki stadium kriminal yang perlu diwaspadai secara serius. Maka, terhenyaklah kita ketika sekelompok pelajar putri yang menamakan diri sebagai Geng Nero (Neka-neka Langsung Keroyok) berulah. Mereka tak segan-segan melakukan praktik kekerasan jika ada anggota gengnya yang tersakiti.

Kasus yang kini telah ditangani aparat keamanan setempat itu tak urung mencuatkan sejumlah pertanyaan dalam benak kita. Sudah demikian parahkah moralitas kaum pelajar kita sehingga begitu mudah melampiaskan naluri agresivitasnya? Sudah demikian mandulkah peran sekolah sehingga gagal menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada siswa didiknya? Sudah tak pedulikah orang tua masa kini sehingga membiarkan anak-anaknya larut dalam ulah premanisme? Lantas, siapakah yang mesti bertanggung jawab?

Pelajar masa kini memang berada dalam atmosfer peradaban yang amat rumit dan kompleks. Mereka tidak hanya menghadapi situasi internal yang berkelindan dengan dinamika psikologis yang tengah memburu jatidiri, tetapi juga situasi eksternal yang menawarkan banyak perubahan dan pergeseran tata nilai. Iklim global yang begitu terbuka terhadap berbagai pola dan gaya hidup setidaknya telah menjadi salah satu jalan bagi kaum pelajar untuk “memanjakan” naluri hedonisnya. Iklim semacam itu diperparah dengan mulai merebaknya sikap permisif masyarakat terhadap berbagai perilaku anomali sosial.

Kaum remaja, disadari atau tidak, tak sedikit yang “berwajah ganda”. Di sekolah, mereka mendapatkan ajaran-ajaran moral dan budi pekerti. Namun, mereka sering melihat kenyataan, banyak peristiwa dan kejadian yang amat bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai luhur baku yang mereka terima di sekolah. Pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, dan berbagai ulah tak terpuji lainnya bisa mereka saksikan dengan mata telanjang. Berita-berita yang tersebar di berbagai media pun sarat dengan darah, kekerasan, dan kebohongan.

Dalam situasi seperti itu, kaum remaja yang sedang memasuki masa peralihan seringkali dihadapkan pada “keterkejutan” budaya. Nilai-nilai manakah yang mesti mereka anut? Nilai-nilai luhur yang mereka terima di sekolah atau mengikuti arus anomali sosial seperti yang mereka saksikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan media? Dalam situasi serba gamang dan penuh “keterkejutan” itu, konon kaum remaja kita akan cenderung memilih jalan yang mudah dan menyenangkan jiwanya seiring gejolak keremajaannya yang suka mengendus hal-hal yang berbau hedonistis. Mereka semakin menikmati “dunia”-nya ketika masyarakat cenderung bersikap permisif, apatis, dan cuek terhadap segala bentuk perilaku premanisme yang berlangsung di sekitarnya. Tak pelak lagi, kaum remaja kita merasa mendapatkan “pembenaran” bahwa perilaku anomali yang mereka lakukan bukan hal yang salah.

Merebaknya sikap masyarakat yang permisif semacam itu, setidaknya memicu munculnya opini bahwa sekolah (guru)-lah yang paling bertanggung jawab terhadap aksi kekerasan, kebrutalan, dan keberingasan kaum pelajar kita. Opini semacam itu memang tidak sepenuhnya keliru. Selain sebagai pengajar, guru juga seorang pendidik yang memiliki tanggung jawab untuk mengentaskan kaum remaja dari kubangan lumpur kekerasan dan kebrutalan. Meski demikian, tidak lantas berarti bahwa gurulah sebagai satu-satunya pihak yang paling bertanggung jawab terhadap meruyaknya perilaku tak terpuji itu.

Di tengah atmosfer peradaban yang cenderung tidak memihak terhadap pentingnya nilai-nilai moral semacam itu, idealnya lingkungan keluarga harus memiliki filter yang kuat terhadap gencarnya arus perubahan yang tengah berlangsung. Dalam konteks demikian, peran orang tua menjadi amat penting dan vital dalam memberdayakan moralitas anak. Orang tualah yang menjadi referensi utama ketika anak-anak sedang tumbuh dan berkembang. Idealnya, orang tua mesti bisa menjadi “patron” teladan. Anak-anak sangat membutuhkan figur anutan moral dari orang tuanya sendiri, yang tidak hanya pintar “berkhotbah”, tetapi juga mampu memberikan contoh konkret dalam bentuk perilaku, sikap, dan perbuatan.

Selain itu, masyarakat juga harus mampu menjalankan perannya sebagai kekuatan kontrol yang ikut mengawasi perilaku kaum remaja kita. “Deteksi” dini terhadap kemungkinan munculnya perilaku kekerasan yang dilakukan oleh kaum remaja kita mutlak diperlukan. Potong secepatnya jalur kekerasan yang kemungkinan akan menjadi “jalan” bagi kaum remaja dalam menyalurkan naluri agresivitasnya.  Ini artinya, dibutuhkan sinergi yang kuat antara sekolah, orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, dan para pengambil kebijakan untuk bersama-sama peduli terhadap perilaku pelajar yang sedang berada di “persimpangan jalan”.

Tentu saja kita sedih dan prihatin menyaksikan Geng Nero berulah beringas seperti itu. Namun, menimpakan kesalahan dan tanggung jawab seluruhnya kepada pihak sekolah juga terlalu naif. Semoga tidak ada lagi Geng Nero-Geng Nero baru yang sebenarnya amat tidak menguntungkan, baik buat bangsa, orang tua, masyarakat, lebih-lebih buat pelajar yang bersangkutan. Sebuah pelajaran pahit bagi segenap komponen bangsa. ***

Keterangan: Gambar sepenuhnya merupakan karya Mas Toni Malakian.

Tulisan berjudul "Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (25 Juni 2008 @ 00:52) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!
Share to: Twitter Facebook Google+ Linkedin Pinterest

5 Comments

  1. Yeee…. kok pertamax di postingan sendiri seh?? Nggak aci tuuh…. :294

    Wakakakak…… :292

    Memang kalau dicari siapa yang “bertanggungjawab” atas keberingasan pelajar susah dicari jawabannya. Mungkin kita memang bangsa yang “munafik” dalam arti kata dalam keseharian kita selalu dicekoki fakta ‘palsu’ bahwa kita adalah bangsa yang ramah dan murah senyum padahal dalam hati kita tidak begitu. Atau bisa jadi karena bangsa kita tidak bisa berfikir panjang. Lihat saja mahasiswa2 (yang katanya intelek) yang berdemo kemarin, kok sampai2 mereka merusak fasilitas umum yang jelas2 itu juga dibeli dan dipelihara pakai uang rakyat.

    Mungkin kekerasan atau keberingasan pada pelajar “bukan salah siapa2”. Namun kalau mereka mau lebih menggunakan otak mereka yang kecil itu :mrgreen: mungkin hasilnya akan lain…… :DD

    Yari NKs last blog post..“Letters From Iwo Jima” Sebuah Film Perang Dilihat Dari Sudut Pandang “Musuh”

    >>>
    itulah yang terjadi bung yari. kekerasan agaknya sdh menjadi budaya baru di kalangan kaum muda kita. tak hanya pelajar, mahasiswa pun ternyata tak kalah anarkhis, haks :181

  2. Kepramukaan, pandu dan kegiatan-kegiatan ekstra lainnya mungkin perlu di optimalkan lagi pak disetiap sekolah. btw, themes baru lagi pak? 💡 kekeke

    >>>
    setuju mas epat. kalau mereka melakukan aktivitas2 kreatof, mereka tak gampang kena pengaruh utk berbuat yang tak terpuji. btw, ini juga berdasarkan laporan teman2 yang susah berkunjung ke blog ini, mas epat, hehehehe 😆

  3. huhuuh pertamaxnya sekarang gi mahal banget yah pak?
    saya sedikit telat nih pak karna baru aja liat beritanya di tipi malam ini, tapi sepertinya permasalahan kekerasan dalam institusi sekolah seperti ini sudah mulai menjadi masalah klise yah pak? huhuhuhu bener2 menyeramkan.
    pengaruh lingkungan rumah tangga, sekolah, lingkungan, televisi, majalah dan sebagainya saya rasa adalah faktor yang sangat berperan terhadap gaya hidup dan tingkah laku para pemuda maupun pemudi cuma bagaimana caranya bisa menyaring itu semua dengan masih dapat memberikan ruang gerak?
    ah sayang sekali saya tak bisa mencari solusi atau memberi ide dari semua masalah premanisme ini, tapi yang jelas mencari siapa yang menjadi tanggung jawab dari semua masalah itu malah2 cuma menjadi suatu alasan pencarian kambing hitam.
    huhuhuhu sotoy banget yackkkk.
    :293

    >>>
    memang susah mas bedh menemukan solusinya karena persoalannya rumit dan kompleks, mudah2an saja semua pihak peduli terhadap kasus yang sering menimpa pelajar itu :oke

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*