Home | Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi | Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?

Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?

Wednesday, 25 June 2008 (00:52) | 2,019 pembaca | 57 komentar | Print this Article

Dunia pendidikan kembali tercoreng. Entah, sudah berapa kali kasus kekerasan yang melibatkan kaum pelajar kita itu terungkap. Aksi mereka, konon tak melulu sebatas kenakalan remaja yang wajar, tetapi sudah memasuki stadium kriminal yang perlu diwaspadai secara serius. Maka, terhenyaklah kita ketika sekelompok pelajar putri yang menamakan diri sebagai Geng Nero (Neka-neka Langsung Keroyok) berulah. Mereka tak segan-segan melakukan praktik kekerasan jika ada anggota gengnya yang tersakiti.

Kasus yang kini telah ditangani aparat keamanan setempat itu tak urung mencuatkan sejumlah pertanyaan dalam benak kita. Sudah demikian parahkah moralitas kaum pelajar kita sehingga begitu mudah melampiaskan naluri agresivitasnya? Sudah demikian mandulkah peran sekolah sehingga gagal menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada siswa didiknya? Sudah tak pedulikah orang tua masa kini sehingga membiarkan anak-anaknya larut dalam ulah premanisme? Lantas, siapakah yang mesti bertanggung jawab?

Pelajar masa kini memang berada dalam atmosfer peradaban yang amat rumit dan kompleks. Mereka tidak hanya menghadapi situasi internal yang berkelindan dengan dinamika psikologis yang tengah memburu jatidiri, tetapi juga situasi eksternal yang menawarkan banyak perubahan dan pergeseran tata nilai. Iklim global yang begitu terbuka terhadap berbagai pola dan gaya hidup setidaknya telah menjadi salah satu jalan bagi kaum pelajar untuk “memanjakan” naluri hedonisnya. Iklim semacam itu diperparah dengan mulai merebaknya sikap permisif masyarakat terhadap berbagai perilaku anomali sosial.

Kaum remaja, disadari atau tidak, tak sedikit yang “berwajah ganda”. Di sekolah, mereka mendapatkan ajaran-ajaran moral dan budi pekerti. Namun, mereka sering melihat kenyataan, banyak peristiwa dan kejadian yang amat bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai luhur baku yang mereka terima di sekolah. Pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, dan berbagai ulah tak terpuji lainnya bisa mereka saksikan dengan mata telanjang. Berita-berita yang tersebar di berbagai media pun sarat dengan darah, kekerasan, dan kebohongan.

Dalam situasi seperti itu, kaum remaja yang sedang memasuki masa peralihan seringkali dihadapkan pada “keterkejutan” budaya. Nilai-nilai manakah yang mesti mereka anut? Nilai-nilai luhur yang mereka terima di sekolah atau mengikuti arus anomali sosial seperti yang mereka saksikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan media? Dalam situasi serba gamang dan penuh “keterkejutan” itu, konon kaum remaja kita akan cenderung memilih jalan yang mudah dan menyenangkan jiwanya seiring gejolak keremajaannya yang suka mengendus hal-hal yang berbau hedonistis. Mereka semakin menikmati “dunia”-nya ketika masyarakat cenderung bersikap permisif, apatis, dan cuek terhadap segala bentuk perilaku premanisme yang berlangsung di sekitarnya. Tak pelak lagi, kaum remaja kita merasa mendapatkan “pembenaran” bahwa perilaku anomali yang mereka lakukan bukan hal yang salah.

Merebaknya sikap masyarakat yang permisif semacam itu, setidaknya memicu munculnya opini bahwa sekolah (guru)-lah yang paling bertanggung jawab terhadap aksi kekerasan, kebrutalan, dan keberingasan kaum pelajar kita. Opini semacam itu memang tidak sepenuhnya keliru. Selain sebagai pengajar, guru juga seorang pendidik yang memiliki tanggung jawab untuk mengentaskan kaum remaja dari kubangan lumpur kekerasan dan kebrutalan. Meski demikian, tidak lantas berarti bahwa gurulah sebagai satu-satunya pihak yang paling bertanggung jawab terhadap meruyaknya perilaku tak terpuji itu.

Di tengah atmosfer peradaban yang cenderung tidak memihak terhadap pentingnya nilai-nilai moral semacam itu, idealnya lingkungan keluarga harus memiliki filter yang kuat terhadap gencarnya arus perubahan yang tengah berlangsung. Dalam konteks demikian, peran orang tua menjadi amat penting dan vital dalam memberdayakan moralitas anak. Orang tualah yang menjadi referensi utama ketika anak-anak sedang tumbuh dan berkembang. Idealnya, orang tua mesti bisa menjadi “patron” teladan. Anak-anak sangat membutuhkan figur anutan moral dari orang tuanya sendiri, yang tidak hanya pintar “berkhotbah”, tetapi juga mampu memberikan contoh konkret dalam bentuk perilaku, sikap, dan perbuatan.

Selain itu, masyarakat juga harus mampu menjalankan perannya sebagai kekuatan kontrol yang ikut mengawasi perilaku kaum remaja kita. “Deteksi” dini terhadap kemungkinan munculnya perilaku kekerasan yang dilakukan oleh kaum remaja kita mutlak diperlukan. Potong secepatnya jalur kekerasan yang kemungkinan akan menjadi “jalan” bagi kaum remaja dalam menyalurkan naluri agresivitasnya.  Ini artinya, dibutuhkan sinergi yang kuat antara sekolah, orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, dan para pengambil kebijakan untuk bersama-sama peduli terhadap perilaku pelajar yang sedang berada di “persimpangan jalan”.

Tentu saja kita sedih dan prihatin menyaksikan Geng Nero berulah beringas seperti itu. Namun, menimpakan kesalahan dan tanggung jawab seluruhnya kepada pihak sekolah juga terlalu naif. Semoga tidak ada lagi Geng Nero-Geng Nero baru yang sebenarnya amat tidak menguntungkan, baik buat bangsa, orang tua, masyarakat, lebih-lebih buat pelajar yang bersangkutan. Sebuah pelajaran pahit bagi segenap komponen bangsa. ***

Keterangan: Gambar sepenuhnya merupakan karya Mas Toni Malakian.

Kategori: Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Wednesday, 25 June 2008 (00:52)) pada kategori Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

57 Responses to "Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?"

  1. sjahrir says:
    Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    Perilaku anak sekolahan Tanggung Jawab Mendiknas alias Presiden.
    gitu ajah… pasti ada yang tak beres disana

    wakakakaka :lol: bisa jadi bener, mas sjahrir. mengurai “penyakit” ini memang rumit dan kompleks, mas :idea:

  2. Aki Herry says:
    Menggunakan Camino 1.5.2 Camino 1.5.2 pada Mac OS X Mac OS X

    kekerasan, ketidak- pedulian dan korupsi,
    Masih masih saja menjadi cerita sehari- hari.
    Padahal…da’wah katanya ada dari menjelang magrib sampai pagi,
    Baik di koran sampai di tipi,

    Aki Herrys last blog post..AllYouCanEatnyaBatagor&FoodAdventureBarengINA(TamuNeehTamu)

    >>>
    itulah aki heri yang terjadi di negeri ini. agaknya dakwah dan khotbah yang rutin digelar setiap hari tak pernah masuk dalam ranah pikiran dan kalbu kaum remaja kita, hiks :cry:

  3. Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    Guru kencing berdiri, murid kencing berkelahi.

    M Shodiq Mustikas last blog post..Konsultasi: Bila cowok tersinggung oleh ulah cewek

    >>>
    wew… ungkapan pak shodiq sangat kreatif, hehehe :lol:

  4. Menik says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.14 Firefox 2.0.0.14 pada Windows XP Windows XP

    Sayanya ikut ngenes Pakde liat yang beginian 8)

    Semua pihak harus bisa mencegah hal ini terjadi pada anak2 kita :roll:

    Meniks last blog post..Thanks God I’ve Found You

    >>>
    bener banget bunda. pelajar sudah akrab dg bahasa kekerasan kayak begitu. waduh, sangat meresahkan. sepakat dg bunda, semua pihak mesti bersinergi utk menanggulanginya :oke

  5. arizane says:
    Menggunakan Firefox 3.0 Firefox 3.0 pada Windows XP Windows XP

    wah jaman2nya saya ga kek gini..
    aduh turut berduka deh buat dunia pendidikan indonesia…hikss!!! :cry:

    >>>
    bisa jadi ini menggambarkan sebuah dinamika yang mesti dijalani oleh dunia penddidikan kita, mas :oke

  6. arif says:
    Menggunakan BlackBerry 8707 BlackBerry 8707 pada BlackBerry 8707 BlackBerry 8707

    Tanggung jawab orang tua. Sudah semestinya orang tua yang setiap hari bertemu dengan anak yang bertanggung jawab atas baik atau buruknya perangai anaknya.

    Guru, menurut saya tidak perlu bertanggung jawab untuk hal tersebut karena guru harus bertanggung jawab pada hasil Ujian Nasional, hehehe.

    Tapi serius! Yang harus mampu mendidik anak adalah orang tuanya. Nggak usah jadi orang tua kalau nggak bisa mendidik anak dengan benar. Orang tua harus mampu menjadi suri teladan yang baik. Bahasa kerennya uswatun khasanah. Peribahasa bilang air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Ada juga yang bilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Guru sih yang penting jangan kencing berdiri.

    arifs last blog post..Jangan Pernah Menyerah

    >>>
    sepakat banget dengan mas arif, nih. orang dan lingkungan keluarga akan menjadikan rujukan utama bagi anak2 dalam membangun karakter dan kepribadiannya :idea:

  7. FAD says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Yang pasti saya tidak mau bertanggung jawab terhadap kebrutalan kaum remaja kita lho Mas…. :292
    Lha bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan keluarga susahnya minta ampun lha kok ditambahi dengan remaja kita( mungkin sebagian masyarakat kita berpandangan seperti ini kali)
    Apa enggak cari penyakit namanya….
    Tapi sejujurnya saya sedih sih…melihat kondisi yang ada …ya mau bagaimana lagi….kayaknya budaya menang menangan diwariskan dari kita kita juga…

    FADs last blog post..Check Dari Google

    >>>
    waduh, kalau semua orang berpandangan seperti ya repot juga, mas fad, hehehe :lol: seharusnya saling bersinergi, bahkan masyarakat pun perlu menjalankan fungsi kontrolnya terhadap perilaku pelajar dan remaja kita :oke

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (130 queries: 1.126 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP