Home | Budaya, Opini, Politik, Refleksi | Lingkaran Kekerasan dalam Institusi Pendidikan

Lingkaran Kekerasan dalam Institusi Pendidikan

Thursday, 19 June 2008 (21:40) | 1,948 pembaca | 40 komentar | Print this Article

Tragedi kekerasan di lembaga pendidikan yang berujung maut kembali terungkap. Beberapa waktu yang silam, Clift Muntu, seorang mahasiswa IPDN harus menemui ajal dengan cara yang tragis; menjadi korban kebiadaban para seniornya di IPDN. Di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, ternyata juga terungkap kasus yang sama. Jiwa Agung Bastian Gultom harus melayang menjadi korban “jagal” para seniornya. Melihat tayangan video amatir di RCTI beberapa hari yang lalu, nurani dan akal sehat kita jelas tak bisa menerima. Betapa para calon pemimpin masa depan itu tak ubahnya seperti masyarakat kanibal yang berpesta di depan mata calon korbannya. Mereka bisa tertawa dan menikmati betul ketika melayangkan pukulan dengan kekuatan penuh ke dada dan ulu hati para yuniornya. Silakan saksikan videonya di sini!.

Sungguh, kita tak habis pikir, kenapa hakikat pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia, justru telah tereduksi menjadi “membinatangkan” manusia. Perilaku kanibal yang diperagakan oleh “manusia-manusia dungu” itu semakin menguatkan bukti bahwa institusi pendidikan telah dikepung budaya kekerasan. Tawuran pelajar, pemerkosaan, pembunuhan, dan perilaku vandalistis yang dilakukan oleh kaum remaja kita telah menjadi fenomena yang acapkali terjadi di negeri ini. Kekerasan telah menggurita dan membudaya lewat tembok-tembok sekolah dan kampus. Para penghuninya seolah-olah sudah menjadi “homo violens” yang menghalalkan darah dalam memanjakan naluri dan hasrat purbanya.

Akar kekerasan yang membelit dunia pendidikan kita tentu saja tidak lahir begitu saja. Sistem pendidikan kita yang belum efektif dalam melahirkan generasi-generasi masa depan yang cerdas sekaligus bermoral yang kemudian “berselingkuh” dengan kultur sosial masyarakat kita yang sedang chaos dan “sakit” setidaknya telah memiliki andil yang cukup besar dalam menciptakan lingkaran kekerasan itu.

Fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab –sebagaimana termaktub dalam pasal 3 UU Sisdiknas– (nyaris) hanya menjadi slogan ketika kultur sosial masyarakat tak kondusif dalam mendukung terciptanya atmosfer pendidikan yang nyaman dan mencerahkan.

Nilai-nilai luhur baku yang digembar-gemborkan di lembaga pendidikan (nyaris) tak bergema dalam gendang nurani siswa didik ketika berbenturan dengan kenyataan sosial yang chaos dan “sakit”. Nilai-nilai kesantunan dan keberadaban telah terkikis oleh meruyaknya perilaku-perilaku anomali sosial yang berlangsung di tengah panggung kehidupan masyarakat. Ketika guru menanamkan nilai-nilai moral dan religi, para siswa harus melihat kenyataan, betapa masyarakat kita demikian gampang kalap dan lebih mengedepankan emosi ketimbang logika dan hati nurani dalam menyelesaikan masalah. Nilai-nilai kearifan dan kesantunan telah terbonsai menjadi perilaku yang sarat darah dan kekerasan. Ketika guru menanamkan nilai-nilai kejujuran, betapa anak-anak masa depan negeri ini harus menyaksikan banyaknya kaum elite yang tega melakukan pembohongan publik, manipulasi, atau korupsi. Hal itu diperparah dengan tersingkirnya anak-anak miskin dari dunia pendidikan akibat ketiadaan biaya.

Akumulasi perilaku anomali sosial, terbonsainya nilai-nilai kesantunan, dan hancurnya nilai-nilai kejujuran, serta tersingkirnya anak-anak miskin dalam mengakses pendidikan, disadari atau tidak, telah membuat siswa didik mengalami “kepribadian yang terbelah” sehingga lebih suka memilih jalan agresivitas dan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Persoalannya menjadi semakin rumit dan kompleks. Ketika nilai-nilai dalam dunia pendidikan tidak bisa lagi bersinergi dengan kenyataan-kenyataan kultural dan sosial, maka yang terjadi kemudian adalah matinya nilai-nilai luhur baku itu dalam ranah kepribadian siswa didik. Sesuai dengan gejolak dan dinamika masa adolesensia, anak-anak bangsa negeri ini akan memilih cara yang sesuai dengan naluri agresivitas mereka. Yang lebih repot kalau justru institusi pendidikan itu sendiri yang telah melembagakan dan membudayakan kekerasan itu kepada siswa didiknya, misalnya melakukan pembiaran dan bersikap apatis terhadap perilaku kekerasan yang dilakukan oleh para siswa senior terhadap yuniornya.

Sampai kapan pun lingkaran kekerasan dalam dunia pendidikan ini tidak akan pernah bisa terputus apabila tidak didukung oleh atmosfer dunia pendidikan yang nyaman dan mencerahkan serta kultur sosial yang kondusif. Oleh karena itu, sudah selayaknya fenomena kekerasan dalam institusi pendidikan mendapatkan perhatian serius dari semua komponen bangsa untuk menghentikannya. Para elite negeri, tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama, orang tua, atau pengelola media, perlu bersinergi untuk bersama-sama membangun iklim kehidupan yang nyaman dan mencerahkan di berbagai lapis dan lini kehidupan masyarakat. Demikian juga dari ranah hukum. Perlu diciptakan efek jera kepada para pelaku kekerasan agar tidak terus-terusan mewabah dan memfosil dari generasi ke generasi. ***

Kategori: Budaya, Opini, Politik, Refleksi | Tags: , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,574 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Lingkaran Kekerasan dalam Institusi Pendidikan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Thursday, 19 June 2008 (21:40)) pada kategori Budaya, Opini, Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

40 Responses to "Lingkaran Kekerasan dalam Institusi Pendidikan"

  1. danil says:
    Menggunakan Firefox 3.5.4 Firefox 3.5.4 pada Windows XP Windows XP

    sy taruna di STIP…
    sy jg ga stuju bgt
    namun…!!
    seandainya anda semua yg ada di dalam sana…
    kalian hanya tertawa dengan kalimat2 anda semua…

  2. Belajar Seo says:
    Menggunakan Firefox 3.0 Firefox 3.0 pada Windows XP Windows XP

    I just could not imagine that is happening in the university in Indonesia.

    Belajar Seos last blog post..Belajar SEO-4July 2008

    >>>
    wow … memangnya ada apa yak dengan PT di indonesia? :x

  3. naff says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.14 Firefox 2.0.0.14 pada Windows XP Windows XP

    saya rasa pemukulan memang tidak pantas untuk membentuk suatu disiplin dalm sebuah pendidikan.
    tapi apa yang harus dilakukan apabila anak murid (anak didik) tersebut sudah tidak bisa diingatkan lagi secara baik-baik dan terus-terusan membandel??
    watak dan karakter setiap orang tentu berbeda-beda, ada yang dengan sekali teguran sudah berubah, ada pula yang dengan beberapa kali teguran baru berubah bahkan ada yang harus dengan tamparam baru busa berubah.
    saya rasa apa yang ada dalam video tersebut bukanlah fakta yang ada sekarang. setahu saya di IPDN pemukulan sudah tidak di izinkan lagi. sedangkan vedeo yang sering ditampilkan di TV itu sudah sering saya liat pada tahun 2003 yang lalu pada waktu kasus mahasiswa asal jabar yang meninggal dunia.
    salam kenal dari http://www.kawasah.co.cc :twisted: :D

    >>>
    wah, lha ya itu, mas, kok stasiun TV bisa dapat video itu yang konon rekaman tahun 2006. terlepas dari itu, yang pasti kekerasan dalam pendidikan, juga pada aspek kehidupan yang lain, tak dapat dibenarkan, apa pun alasan dan motifnya. ok, salam kenal juga mas naff, makasih :oke

  4. Fikar says:
    Menggunakan Firefox 3.0b5 Firefox 3.0b5 pada GNU/Linux x64 GNU/Linux x64

    Parah sekali ya,,, pendidikan di Indonesia,,,,

    Fikars last blog post..Post#59

    >>>
    hehehehe :lol: itulah yang kita rasakan mas zulfikar. sedih dan prihatin :181

  5. chodirin says:
    Menggunakan Firefox 3.0 Firefox 3.0 pada Windows Server 2003 Windows Server 2003

    yang lebih parah lagi pihak-pihak yang seharusnya bisa mengayomi (dosen + rektor)justru menutup-nutupi dan melindungi pelaku kejahatan tersebut.

    chodirins last blog post..LIFELOCK: LIFE PROTECTION

    >>>
    itulah yang ironis, mas chodirin kalau pihak2 yang seharusnya menjadi contoh justru malah melindungi orang yang jelas2 keliru, repot! :razz:

  6. galihyonk says:
    Menggunakan Firefox 1.0.1 Firefox 1.0.1 pada GNU/Linux GNU/Linux

    Hm,, *jadi inget pas waktu saiya ngospek Adik-adik kelas… heHEhe,,,

    Saya tidak setuju dengan kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan…

    pendidikan adalah dunia belajar akademik dan sopan santun, bukan untuk belajar adu jotos… :roll:

    galihyonks last blog post..kasian pelajar SMP+SMA saat ini

    >>>
    apapun dalih dan motifnya, kekerasan bukan jalan terbaik utk memecahkan masalah, mas, bahkan malah menimbulkan masalah baru :oke

  7. Menggunakan Firefox 3.0 Firefox 3.0 pada Windows XP Windows XP

    apakah hanya dengan militerisme kita bisa disiplin?
    lho apakah militerisme = kekerasan?
    tidak juga kan?

    >>>
    betul, pak slamet. disiplin tdk identik dg kekerasan. kekerasan juga tdk identik dengan militer, haks :oke

  8. Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows Vista Windows Vista

    Maksudnya ‘pendidikan kekerasan’ kali he he, biar generasi Indonesia nanti pada ‘berani’; tidak seperti yang sekarang, pulau diambil orang he eh, BUMN dibeli he eh, kayu dicuri, ikan dirampk he he. Pokoknya he e terus … Biar jadi bangsa yang tegas, keras, dan … berani (Komen antara becanda dan serius he he).

    Ersis Warmansyah Abbass last blog post..Kompor Menulis

    >>>
    wakakakaka :lol: disiplin, tapi kan ndak harus pakai jalan kekerasan, pak, hehehe :lol: tegas kan ndak harus merasakan dulu kuatnya hantaman bogem mentah, haks :x

  9. Inov says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.6 Firefox 2.0.0.6 pada Ubuntu 7.10 Ubuntu 7.10

    Hii,, ngeri… :shock:
    institusi pendidikan di Indonesia kejam2,,,

    Inovs last blog post..Pentingnya Dunia Cyber *Menurutku*

    >>>
    hehehe :lol: itu mungkin yang baru bisa terungkap, mas inov. mungkin masih ada juga kasus yang sama di tempat lain : :181

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (114 queries: 1.102 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP