Ritual Tapa Nyusup ala Salyapati

Sawali Tuhusetya | Tuesday, 17 June 2008 |

Budaya, Kearifan Lokal, Pendidikan, Politik, Refleksi, Tradisi | 208 views

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya

Di ruang pribadinya yang sejuk ber-ac di lantai V, Prabu Salyapati merasa gerah. Gumpalan-gumpalan peluh dingin sebesar jagung menjebol pori-porinya. Penguasa bercambang lebat itu menahan napas, tak kuasa membendung kegelisahan yang merajam rongga dadanya. Sesekali berjalan mondar-mandir dari satu sudut ruang ke sudut yang lain. Ketika wajahnya nongol di balik jendela, bola matanya menatap ribuan rakyat menyemut di halaman istana.

“Demi kelangsungan hidup negeri Mandaraka, Sang Prabu harus kawin lagi! Tiga putri belum cukup menjadi pilar untuk menjaga keutuhan negeri. Dus, Sang Prabu harus punya putra mahkota. Dan itu bisa terwujud jika Sang Prabu melakukan poligami!” teriak seorang pendemo dengan wajah berkilat-kilat dipanggang terik matahari, diikuti yel-yel pendemo lain. Suasana halaman istana berubah jadi hiruk-pikuk. Para dedengkot LSM dari berbagai latar belakang tampil berorasi secara bergiliran di atas mimbar. Sesekali aplaus dan tepuk sorak membahana. Gemanya membahana seperti hendak mengiris dinding langit; melukai hati para perempuan pendamba keharmonisan hidup. Aparat keamanan tak berdaya. Semprotan gas air mata dan desingan peluru karet tak sanggup melunakkan kekerasan hati mereka.

“Sang Prabu, dengarkanlah suara kami, para kawula Mandaraka, kabulkanlah permohonan kami!” sahut pendemo lain.

Suara-suara rakyat yang lantang itu dengan mudah menerobos gendang telinga Prabu Salyapati. Kegelisahan kembali merajam ulu hatinya. Dengan langkah terseret, sang prabu kembali duduk di atas kursi goyang. Pikirannya menerawang. Tiba-tiba, bayangan istri tercintanya, Dewi Setyawati alias Dewi Pujawati, berkelebat dalam bentangan layar memorinya. Benak sang prabu terbang ke masa silam. Dia masih ingat betul, betapa dia harus bersaing ketat dan “berdarah-darah” dengan para putra mahkota dari negeri lain untuk menggaet gadis yang di dalam tubuhnya mengalir darah kecantikan puluhan ratu sejagat itu. Prabu Salyapati sangat beruntung karena dialah yang akhirnya berhasil memenangkan persaingan itu. Sejak saat itu, dia berjanji untuk tidak pernah menikah dengan perempuan lain. Darma kesetiaannya secara total hanya dipersembahkan untuk Dewi Setyawati. Prabu Salyapati tersentak ketika gendang telinganya tiba-tiba menangkap derap sepatu lars para prajurit di depan pintu. Tak lama kemudian, muncul wajah-wajah tegang dalam sikap sempurna.

“Maaf, sang Prabu, para demonstran nekad akan tidur di halaman istana jika sang Prabu tidak berkenan menemui mereka!” kata seorang prajurit dengan vokal tegas.

“Baik! Antarkan Ingsun menemui mereka!” sahut sang Prabu sambil merapikan busana kebesarannya. Dengan diiring beberapa prajurit, Prabu Salyapati bergegas menuju halaman istana dengan perasaan tak menentu. Di sana, ribuan rakyat telah menanti di bawah terik matahari. Puluhan wartawan media cetak dan elektronik, dari dalam dan luar negeri, segera menajamkan naluri jurnalistiknya. Sesekali, mereka harus menerobos kerumunan massa yang padat demi memburu objek dari sudut pandang yang tepat. Sorot kamera dan kilatan lampu blitz pecah di sana-sini. Suasana halaman istana makin hiruk-pikuk. Wajah Prabu Salyapati berkilat-kilat ditimpa cahaya kamera.

“Wahai, rakyat negeri Mandaraka yang Ingsun cintai!” kata Prabu Salyapati mengawali orasinya di atas mimbar. Aneh, suasana halaman istana mendadak sepi. Hanya terdengar sesekali deru kendaraan yang melintas di jalan-jalan protokol. Ribuan rakyat menunduk takzim. Ratusan spanduk telah dilipat, menandai klimaks demonstrasi para kawula Mandaraka berhari-hari lamanya. “Kalian ini aneh! Kalau penduduk negeri lain beramai-ramai menghujat poligami, di sini justru terjadi sebaliknya! Poligami malah dituntut agar disahkan dalam Undang-undang Perkawinan! Yang lebih aneh, kalian mendorong-dorong Ingsun agar beristri lagi agar Ingsun punya putra mahkota! Punya putra laki-laki atau tidak, itu kan bukan urusan Ingsun, hem? Selain itu, bukankah ketiga putriku Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, dan Dewi Banowati sudah lebih dari cukup untuk melanjutkan suksesi di negeri ini? Sudah saatnya kaum perempuan diberi hak yang sama dengan kaum laki-laki untuk menjadi pemimpin!” lanjut sang Prabu dengan vokal yang mantab dan berwibawa. Sorot matanya menyapu kerumunan massa yang menyemut di hadapannya. Suasana mendadak berubah riuh. Rakyat Mandaraka saling bertatapan, berbisik-bisik, ngedumel tak karuan.

“Maaf, sang Prabu, pertimbangan kami simpel saja!” seorang pendemo berwajah kekar mencoba keberanian untuk menyampaikan pendapat. “Taruhlah kelak salah satu dari ketiga putri Paduka menggantikan kedudukan Paduka. Tapi, apa ada jaminan kedua putri Paduka yang lain berkenan menerimanya? Itu yang pertama. Yang kedua, tidak semua kawula bisa menerima kaum perempuan sebagai pemimpin karena alasan agama atau keyakinan. Itulah sebabnya, kami tetap memohon agar Paduka memiliki putra mahkota. Jalan satu-satunya ya lewat poligami! Bukankah begitu, Saudara-saudara?” lanjutnya.

“Betuuul!” sahut pendemo lain serentak dan bersambung-sambungan.

“Baik! Keinginan kalian akan Ingsun pertimbangkan! Tapi Ingsun mohon kalian tidak perlu lagi melakukan demo. Masih ada tugas dan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat, paham?” sahut Prabu Salyapati. Seperti digerakkan oleh sesuatu yang gaib, ribuan massa perlahan-lahan meninggalkan halaman istana. Derap kaki dan deru kendaraan membahana, makin lama makin menjauh, hingga akhirnya sepi nyenyet.

Sepeninggal para demonstran, Prabu Salyapati belum juga mampu meredam kegelisahannya. Dalam gendang nuraninya terjadi perang batin yang dahsyat. Tuntutan rakyat Mandaraka memang masuk akal. Sebagai kawula, mereka berhak khawatir terhadap suksesi di negerinya jika kelak tak ada putra mahkota. Namun, ia juga tidak sanggup mengingkari kesetiaannya sebagai lelaki sejati. Ia sudah berikrar di depan perempuan yang dicintainya, Dewi Setyawati. Seumur hidup, ia tidak akan pernah sekali pun menikah dengan perempuan lain. Prabu Salyapati benar-benar pusing berat. Sudah hampir tiga hari lamanya, lidahnya tak berselera mencicipi makanan. Wajah bercambang lebat yang biasanya tampil gagah, kini tampak layu. Sementara itu, di luar istana, rakyat Mandaraka kembali berdemo; menagih janji.

“Sudahlah, Kanda, nggak usah terlalu dipikirin. Aku rela, Kanda menikah lagi demi kelangsungan hidup negeri Mandaraka. Ingat suara rakyat adalah suara Tuhan. Sia-sia saja Kanda bersikap sentimentil, mengagung-agungkan kesetiaan kalau pada akhirnya rakyat berbicara lain! Sungguh Kanda, aku ikhlas lahir-batin!” hibur Dewi Setyawati. Prabu Salyapati menelan ludah. Dadanya turun-naik. Kepasrahan istrinya justru harus disikapi dengan hati-hati. Ia tidak bisa menerima begitu saja keputusan istrinya itu.

“Dinda, kenapa aku harus menikah lagi? Tuntutan rakyat kan agar kita punya putra mahkota? Seandainya itu bisa kita wujudkan, kenapa aku harus mencari perempuan lain? Bagiku, Dinda adalah satu-satunya ladang, tempat aku menaburkan benih. Justru aku akan makin tersiksa jika aku harus menikah lagi. Ini sudah menjadi keputusanku, Dinda!”

“Lalu, tuntutan para kawula itu, gimana?”

“Yah, kita harus berikhtiar agar kita dikaruniai anak laki-laki?”

“Kanda jangan suka bercanda, ah! Mana mungkin aku bisa hamil lagi, hem, lha wong sudah hampir setengah tahun ini aku sudah memasuki menopause, kok!”

“Di dunia ini tak ada yang mustahil, Dinda, asal kita mau ikhtiar! Kita kan punya penasihat spiritual, kenapa mereka tidak kita mintai petunjuk? Siapa tahu mereka punya resep jitu?” kata Prabu Salyapati sembari mengelus-elus perut istrinya.

Alhasil, setelah para penasihat spiritual dimintai petunjuk, Prabu Salyapati harus melakukan dua macam ritual. Yang pertama, melakukan tapa ngrame. Sang prabu bersama permaisuri harus menyusuri tempat-tempat keramaian dengan menyamar sebagai rakyat biasa selama tujuh puluh hari lamanya. Namun, baru berlangsung dua puluh hari, penyamaran mereka dikenali oleh para penduduk. Terpaksa ritual pertama gagal total.

Yang kedua, sang prabu bersama permaisuri harus melakukan tapa nyusup, yakni berjalan terus siang-malam menyusuri tepi sungai Silugangga selama empat puluh hari. Godaan tapa nyusup ternyata lebih berat. Sepanjang alur sungai, Prabu Salyapati menyaksikan hampir semua jenis binatang melakukan kawin massal. Dia sudah berusaha untuk meredam gejolak libido seksualnya. Namun, semakin diredam, hasrat untuk melakukan hubungan biologis kian dahsyat mengebor ubun-ubun. Persetubuhan pun tak bisa dihindarkan. Setiap kali menyaksikan binatang kawin, hasrat seksual mereka tumbuh berlipat-lipat.

Usai melakukan ritual tapa nyusup, Prabu Salyapati benar-benar bahagia. Dewi Setyowati hamil. Berita itu segera tersebar ke seantero negeri. Demo pun berangsur-angsur surut. Para kawula berharap agar janin yang ada dalam kandungan Dewi Setyawati kelak lahir laki-laki. Harapan Gusti dan Kawula Mandaraka tampaknya dikabulkan Tuhan. Setelah kandungan Dewi Setyawati memasuki bulan ke-9 lebih sepuluh hari, dari gua garbanya lahir jabang bayi laki-laki yang sehat dan montok. Peristiwa itu serentak membikin bumi Mandaraka bergetar. Para penduduk di seantero negeri berduyun-duyun tumplek-bleg di halaman istana.

“Hidup Putra Mahkota!” teriak seorang penduduk disambung kegaduhan yang lain. Sementara itu, dari sudut halaman istana yang lain, muncul serombongan perempuan yang meneriakkan yel-yel gegap-gempita sambil menenteng spanduk warna-warni. Mereka menentang poligami disahkan dalam Undang-undang Perkawinan.

“Apa pun dalihnya, poligami hanya akan membikin sengsara hidup kaum perempuan!” teriak mereka penuh semangat. Tidak jelas, apakah demo itu mereka lakukan setelah mengetahui negeri Mandaraka punya putra mahkota atau karena ada motif lain. ***

Tags: , , ,



40 komentar terhadap “Ritual Tapa Nyusup ala Salyapati”

  1. Epat (Tuesday, 17 June 2008 @ 6:16 am)

    Dalange manteb tenan…hehehe

    Epats last blog post..Funniest Fans on EURO 2008

    >>>
    kalau pak manteb sudarsono memang dalang sungguhan, mas epat, hehehehe :lol: :292

  2. edratna (Tuesday, 17 June 2008 @ 6:17 am)

    Saya pernah baca buku, khusus yang menceritakan prabu Salya dan gejolak batinnya, sampai dengan perang Baratayudha.
    Pak, kapan diceritakan tentang tokoh Burisrawa yang sebenarnya putra pertamanya dengan Dewi Setyawati yang ayahnya seorang begawan keturunan raksasa….dan untuk menghindari protes rakyat terpaksa Burisrawa diselipkan dikerumunan kaum Kurawa. Bukunya karangan Pitoyo Amrih.

    Disitu juga terjadi peperangan batin karena kehendak rakyat tak sesuai dengan kenyataan. Saya jadi ingat masa lalu, setiap ada aturan baru yang belum tentu menyenangkan semua pihak, perlu dilakukan sosialisasi dan ini tak mudah… pimpinan harus pandai menjelaskan dan mengapa perusahaan terpaksa melakukan aturan yang tentunya mengurangi kesejahteraan…mungkin seperti saat ini, akibat kenaikan BBM banyak kantor yang melakukan efisiensi. Saat kopdar kemarin saya ngobrol dengan salah satu blogger, yang cerita kalau pagi AC kantor nya baru dinyalakan jam 8, dan setelah jam 4 AC dimatikan…dan kabarnya fasilitas internet akan dicabut.

    >>>
    wah, salut banget dengan bu enny yang gemar membaca ttg dunia mitos dalam jagad pewayangan. btw, ttg tokoh bueisrawa belum sempat dapat bahannya, bu, hehehehe :lol: maklum, meski bergaya slengekan, saya masih pakai pakem, hiks :idea: wah, ternyata setelah BBM naik juga ada efisiensi penggunaan AC dan akses net, ya Bu :293

  3. djagung (Tuesday, 17 June 2008 @ 9:41 am)

    waduh pak… apa saya yang gak nutut pikirannya atau ini cerita buat sastrawan aja ya… saya kok agak kurang begitu paham…

    tapi mungkin ini sebuah cerita yang tak ada di blog2 lain, hanya ada di sini n untuk ukuran saya , perlu waktu ekstra untuk memahami…

    djagungs last blog post..ANAK-ANAK SETAN BERPISAH

    >>>
    hehehehe :lol: mas jagung berhak menafsirkan cerita ini secara bebas kok, hehehehe :lol:

  4. achoey sang khilaf (Tuesday, 17 June 2008 @ 9:43 am)

    waduh
    daku baca terus
    eh pas nyampe ke bawah ada kalimat itu
    wah yang patinya ini bukan ungkapan hati Pak Sawali kan?
    yakin deh :112

    achoey sang khilafs last blog post..Ah Biarkan Saja

    >>>
    hewhehehe :lol: namanya aja wayang slengekan, mas achoey, hehehehe :lol: bisa dtafsirkan bebas, kok, haks :idea:

  5. t i n i (Tuesday, 17 June 2008 @ 9:49 am)

    Ceritanya bagus, mencari alternatif solusi untuk masalah yg ada.
    Tapi maaf kalo pendapat saya bersebrangan.
    Kalo poligami atas dasar mencari anak laki2, ya jelas ga realistis dong. Anak adalah amanah dari Yang Maha Kuasa. Mau laki2 atau perempuan, tetap harus disyukuri.

    Tapi poligami yg diijinkan oleh agama itu ada term and condition nya, tidak sembarangan.
    Term nya ya harus mampu dan adil (adil dlm batasan kemampuan manusia tentunya. Ingat! Manusia tidak ada yg sempurna).
    Condition nya misalnya tidak mempunyai keturunan, ato untuk menjaga marwah perempuan yg belum / tidak punya pendamping, dsb. Apalagi kalo jumlah wanita berlipat2 dari pria.
    Semisal kelahiran 1 pria berbanding 5 wanita. Trus yg 4 wanita mau dikemanakan? Apakah dibiarkan menjadi lesbi, tetap sendirian ato jadi wanita ga bener?
    Kalo itu yg terjadi, maka terjadilah kerusakan di muka bumi.

    Kita slalu bertanya setiap kali ditimpa musibah dahsyat yg menimpa negri ini, dosa apa yg telah kita perbuat?
    Tanpa kita sadari bahkan firman-Nya saja berani kita perdebatkan dan dilanggar dgn alasan kemanusiaan dan alasan lainnya berdasarkan nafsu, perasaan dan pikiran kita yg dangkal. Bahkan kita lebih berani menghujat orang yg berbuat benar.

    *segala sesuatu pasti sudah direncanakan oleh Tuhan. Dia yang mencipta dan mengatur segalanya sampai di hari akhir kelak. Mungkin kondisi seperti itulah yg akan dihadapi manusia akhir zaman. Firman telah ditorehkan untuk mengatur segala sesuatunya. Sepatutnya sebagai hamba memahami dan menjalankannya.

    Berat memang kalo ditanya perasaan sebagai seorang perempuan. Beraaaaaaaat sekali. Maka sungguh pantaslah surga sebagai imbalannya bagi perempuan yg ikhlas..

    t i n is last blog post..Konsentrasi, Elemen Penting dalam Menghadapi Pelanggan

    >>>
    terima kasih pencerahannya, mbak tini. bagus banget pendapatnya. :roll: kisah ini bisa dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, bisa juga hanya sekadar slengekan, mbak. secara pribadi saya sangat menghormati kaum perempuan. kalau hanya alasan nggak punya anak laki2 lantas dijadikan alasan pembenar utk poligami ya repot juga. perempuan adalah sosok yang sangat terhormat dan bermartabat sehingga dalam ajaran agama pun kita sangat akrab dengan idiom: perempuan adalah tiang negara. sekali lagi, makasih pencerahannya, mbak :idea:

  6. Alex Abdillah (Tuesday, 17 June 2008 @ 10:02 am)

    dilematis antara tuntutan rakyat dan janji yg diikrarkan kepada sang permaisuri….

    putri jadi Ratu kan bisa juga tuh…..nggak mesti Raja kan ???

    bersambung ya pak ??

    Alex Abdillahs last blog post..Jadi Gelas atau seperti Danau ?

    >>>
    bener banget, bung abdillah. dalam konteks sekarang, perempuan pun bisa jadi pemimpin. makanya, kalau mau poligami hanya dengan dalih tak punya anak lelaki, ya repot juga tuh, bung. :idea:

  7. Alex Abdillah (Tuesday, 17 June 2008 @ 10:03 am)

    senan dulu lah :112 :112 :112 :114 :114 :205 :205

    hehe

    Alex Abdillahs last blog post..Jadi Gelas atau seperti Danau ?

    >>>
    hehehehehe :lol:

  8. Diah (Tuesday, 17 June 2008 @ 10:05 am)

    Aduuuh poligami belum siap pak…..yang pasti nggak kuat dech :)
    Diahs last blog post..Membangun Budaya Malu

    >>>
    wew… usahakan jangan terjadilah mbak diah, hehehehehe :lol:

  9. Rafki RS (Tuesday, 17 June 2008 @ 12:54 pm)

    Coba saya yang jadi Prabu Salyapatinya, pastilah keinginan rakyat itu segera saya turuti. Apalagi, sang istri sudah membolehkan. :114

    Adakah laki-laki normal di dunia ini yang seperti Prabu Salyapati ini menurut Pak Sawali? Sepengatahuan saya adanya hanya ada dalam cerita. :205

    >>>
    wakakakakaka :grin: pak rafky bisa aja nih, hehehehe :lol: kalau dalam kisah pewayangan, memang ada tokoh yang tidak “manusiawai”, pak. penggambaran karakter hitam-putihnya terasa sangat kuat :idea:

  10. Yari NK (Tuesday, 17 June 2008 @ 1:20 pm)

    Wah…. pak Sawali…. aturan akhir ceritanya agak lebih nyeleneh lagi yaitu… prabu Salyapati **halaah** karena nggak punya pewaris tahta kerajaan pria, berniat mengadakan referendum buat rakyatnya, apakah negerinya mau tetap jadi kerajaan ataupun ingin berubah menjadi republik, biar menunjukkan bahwa di dunia perwayanganpun telah dikenal demokrasi dan raja di dunia perwayangan modern bukanlah seorang penguasa mutlak… huehehehe….

    **usulannya ngawur ya??** :411

    Yari NKs last blog post..366 minus 1

    >>>
    harusnya usulan bung yari sangat layak dimasukkan juga dalam jalinan kisah ini, hehehehe :lol: imajinasi bung yari memang “liar” dan kreatif, hehehehe :roll:

  11. edy (Tuesday, 17 June 2008 @ 1:20 pm)

    Bagiku, Dinda adalah satu-satunya ladang, tempat aku menaburkan benih.

    kalimatnya manis sekali :-D
    jadi ga boleh nebar benih sembarangan yaa

    edys last blog post..Shell Blog Writing Competition 2008

    >>>
    haks, kalau benih ditabur di sembarang tempat, lantas nanti siapa yang memupuk dan memeliharanya, bung caplang, hehehehe :lol:

  12. ardians (Tuesday, 17 June 2008 @ 1:57 pm)

    Pak Sawali pancen OYE!

    ardianss last blog post..Suatu hari di kehidupan seorang Info Security Officer

    >>>
    wew… oye itu kan milik pak manteb, mas ardians, hehehehe :smile:

  13. goop (Tuesday, 17 June 2008 @ 2:33 pm)

    :mrgreen: satu saja belum dapat, ini malah udah mau poligami
    Duhai Prabu Salyapati, bagaimana bila saya menjadi menantu untuk tiga putrinya, nah otomatis kan saya menjadi putra mahkota. Sudah putra mahkota didapatkan, juga poligami, hehe…
    *maaf pak, ngacoo nih :oke *

    >>>
    wakakakaka :grin: kenapa juga nggak dapat2, mas goop, hehehehe :lol: kan hanya tinggal pilih yang cocok, haks. waduh. mesti ada yang jadi mak comblangnya nih utk dapat menjadi menantu prabu salyapati, wakakakaka :grin: btw, kok lama nggak ngupdate blognya, mas goop. lagi sibukkah?

  14. waterbomm (Tuesday, 17 June 2008 @ 3:09 pm)

    belom cukup umur buat ngebicarain soal ini :D
    tapi ceritanya menarik :acc :acc :acc

    kapan di bikin bukunya pak?

    >>>
    wew… usia 20 rasa2nya kok sudah boleh ikut membicarakan masalah spt itu, mas waterbomm, hehehehe :smile: walah, ini hanya sekadar cerita slengekan, kok, mas, kok kayaknya nggak layak kalau mesti dibukukan, hiks :lol:

  15. Yoyo (Tuesday, 17 June 2008 @ 3:56 pm)

    poligami = takdir, kalau sudah guratan hidup dan takdir Yang Maha Kuasa, Alloh SWT siapa yang bisa mengelak ?

    Yoyos last blog post..Mengapa selalu Kang Roy Suryo ?

    >>>
    poligami ternyata takdir ya, mas yoyok, hehehe :lol: alnagkah senangnya kalau semua kaum lelaki ditakdirkan utk berpoligami, hiks :lol:

  16. serdadu95 (Tuesday, 17 June 2008 @ 4:14 pm)

    Kalo sudah pakar emang beda…

    Satu cerita bisa nendang kemana-mana… dari masalah hati, nurani, poligami, emansipasi, suksesi, demontrasi, solusi, meditasi sampai ejakulasi… bisa terangkum dgn rapi 8)

    Wuuuiiihhhh…. nJenengan emang pencerita sejati :roll:

    >>>
    walah, bung serdadu bisa aja, jadi malu nih. hanya kisah slengekan dan biasa2 aja kok, bung :oke

  17. laporan (Tuesday, 17 June 2008 @ 4:41 pm)

    Kalau poligami dari sudut agama berbeda-beda *halah sok tahu* 8-)
    laporans last blog post..Pharaoh, Siapa Bunuh Firaun Tut? (Part 5)

    >>>
    bener banget, pak. poligami masih sering menimbulkan banyak penafsiran, hehehehe :oke

  18. Riyogarta (Tuesday, 17 June 2008 @ 4:50 pm)

    Wah bagus sekali ceritanya Pak. Saya senang dengan penutup di alinea terkahirnya :) Tapi bukan berarti saya setuju dengan poligami lho hehehe. Ditunggu ah cerita berikutnya :)

    >>>
    makasih, mas riyo, hehehe :lol: memang poligami masih rawan terhadap penafsiran2, mas. ok, mudah2an masih ada kisah lain dalam dunia pewayangan yang bisa saya posting, mas, hehehe :oke

  19. Daniel Mahendra (Tuesday, 17 June 2008 @ 6:11 pm)

    Aku suka sekali gaya-gaya satire di beberapa cerita di blog ini. Ceritanya memakai model pewayangan seperti itu membuat pembaca jadi berfantasi ke sebuah negeri, padahal yang diceritakan sangat aktual sekali dengan keadaan nyata.

    Secara mekanikal nggak ada tanda baca atau penggunaan kata yang salah. Nyaris sempurna. Mantap, Pak Sawali! :)
    Dan soal poligami, ai, aku tak perlu berkomentar lagi. Aspek itu sudah Njenengan suguhkan secara terbuka dalam cerita. Segalanya biar berpulang pada membaca saja…

    Daniel Mahendras last blog post..Sisa Masa Lalu yang Masih Membatu!

    >>>
    Satire? Mas daniel ada aja nih, hehehehe :lol: hanya sekadar tulisan iseng kok, mas. memang agak nyrempet2 dikit ttg situasi kekinian yang seringkali mendesak kegelisahan saya utk saya ungkapkan dg gaya slengekan, hiks. makasih apresiasinya, mas daniel. btw, ttg poligami memang masih banyak penafsiran berbeda2 kok, mas :idea:

  20. suhadinet (Tuesday, 17 June 2008 @ 6:19 pm)

    Pak, sudahkah Bapak menulis tentang pandawa lima sewaktu masih kecil? Masih anak-anak.
    Saya suka sekali dengan tokoh Bima.

    >>>
    pak suhadi pengagum tokoh bima? wah, salut juga nih. tapi utk mosting pandawa masa kecil belum sempat juga nih, pak. mudah2an bisa dapat bahannya, hehehehe :idea:

  21. aminhers (Tuesday, 17 June 2008 @ 7:27 pm)

    [..........Tapi Ingsun mohon kalian tidak perlu lagi melakukan demo. Masih ada tugas dan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat, paham?...............]
    “Paham Pa Sawali”,jawab Mahasiswa serentak. :idea:
    aminherss last blog post..Slamat & Sukses

    >>>
    wakakakaka :grin: pak amin kok langsung menafsirkannya ke mahasiswa? hiks, apa memang mahasiswa suka demo, pak :oke

  22. arif (Tuesday, 17 June 2008 @ 7:30 pm)

    Alhamdulillah kali ini Pak Sawali tidak cerita soal selingkuh. Dua cerita wayang terakhir bercerita soal kesetiaan: kesetiaan Shinta dan sekarang kesetiaan Prabu Salya.

    Dua cerita kesetiaan itu membalas dua cerita selingkuh sebelumnya di Cupu Manik Astagina dan satu lagi lupa judulnya.

    Mantab!

    arifs last blog post..Mengingat Teman Sekelas di SMP

    >>>
    hehehehe :lol: hanya kebetulan kok, mas arif. kalau memang dapat bahannya ttg selingkuh paling nanti mengangkat juga ttg perselingkuhan, hehehehe :lol: kisah perselingkuhan yang lainnya mungkin “Arogansi Tumenggung Wilmuna”! :oke

  23. yainal (Tuesday, 17 June 2008 @ 10:45 pm)

    hmm.. kesetiaan terhadap komitmen di tengah tuntutan yang ada memang kadang mudah dalam kata tapi susah dalam kenyataannya..

    *pak, ada order demo lagi neh.. hihihi.. :)

    >>>
    kekekeke :lol: memang mas yain biasa nerima order demo, yak, jaks :oke

  24. Nazieb (Wednesday, 18 June 2008 @ 2:19 am)

    Wehehehe… Laki-laki yang setia, uda didorong untuk poligami malah ndak mau..
    Lha yang di negeri lain itu malah ndak ada yang nyuruh tapi uda poligami sendiri.. :292

    >>>
    hehehehe :lol: kalau dipikir2, prabu salyapati itu ndak genah juga, ya mas nazieb, hiks :razz: sudah didemo diminta poligami kok ya malah nolak :181

  25. cK (Wednesday, 18 June 2008 @ 3:21 am)

    ini latar belakangnya tahun berapa ya? kok udah ada AC? :mrgreen:

    >>>
    weww…. kalau wayang selengekan itu bisa dikisahkan lintas waktu, mbak chika, hehehehe :oke

  26. Petani Internet (Wednesday, 18 June 2008 @ 7:09 am)

    Cocok itu untuk hiburan petani,
    Wah bagus sekali ceritanya Pak.

    Sering-sering mampir dah kesini.

    Salam kenal Pak Dalang

    Dari Petani Internet.

    sumintar.com

    Petani Internets last blog post..Ingin Kaya, Jadi Petani Saja

    >>>
    hehehehehe :lol: petani internet, yak mas sumintar, hehehe :lol: makasih kunjungannya, mas :idea:

  27. edratna (Wednesday, 18 June 2008 @ 10:05 am)

    Pak Sawali, bukunya Pitoyo Amrih mengupas tentang tokoh Salya ini, yang teguh pada perbuatan baik, namun saat melahirkan anak raksasa, dia mempunyai konflik pada diri sendiri. Kalau dikupas oleh bapak, dan disesuaikan pada kondisi saat ini pasti menarik….

    Bukunya Mangunwijaya juga menarik pak….duhh kok waktu sulit ya (saya tak sempat untuk menulis, banyak yang bertebaran di otak)….bapak udah baca, yang tentang trilogi Rara Mendut….ceritanya banyak yang bisa ditafsirkan dengan kondisi saat ini, dan banyak diselipkan ajaran pewayangan. Om Mangun kayaknya saat itu juga sedang melakukan sindiran. Memang, melalui wayang, sastra,teater…kita juga bisa melakukan hal-hal yang membuat orang merenung sejenak.

    edratnas last blog post..Monas di Minggu 15 Juni 2008

    >>>
    wah, bukunya pitoyo amrih kan malah lebih dahsyat, bu enny, hehehehe :roll: lebih2 alm. rama mangun. tulisan2nya yang menggunakan idiom dan tokoh wayang sangat mencerahkan. kalau tulisan di blog ini hanya sekadar iseng kok, bu, hehehehe :293

  28. Hery Azwan (Wednesday, 18 June 2008 @ 10:40 am)

    Kelompok Aliansi wayang bebas poligami dan front pembela poligami kok bertemu, Pak? Harusnya mereka bertemu di alun2.

    Hery Azwans last blog post..Dari Dapur Talking Book

    >>>
    waduh, kalau penentang dan pendukung demo ketemu di alun2 mest ramai juga, mas azwan. san yakin ndak akan jadi tawuran karena laki2 lawan perempuan :oke

  29. FAD (Wednesday, 18 June 2008 @ 12:39 pm)

    Wah ceritanya seru Mas….Andaikan saja kalau ini beneran dan Mas Sawali jadi Prabu Salyapati disuruh poligami gitu gimana..ya…?
    Kalau saya…wah…ya..tak terima saja…lha dipaksa je (atau minta dipaksa).
    he he he…

    FADs last blog post..Oh DIY…. Angka Kelulusanmu Paling Rendah untuk Jawa

    >>>
    wew… ya seperti mas fad toh, hehehe :smile: kenapa mesti ditolak, haks. nggak perlulah dipaksa2, wakakakaka :grin:

  30. dafhy (Wednesday, 18 June 2008 @ 2:51 pm)

    wah ceritane seru pak…..

    coba negara ini pemimpine bisa berfikiran begitu.alangkah sejahtera dan sentosanya negeri ini :mrgreen:
    dafhys last blog post..goresan pena

    >>>
    mudah2an ada sosok pemimpin yang seperti itu, mas dafhy. tapi enath nunggu sampai kapan, yak?

  31. sapimoto (Wednesday, 18 June 2008 @ 6:19 pm)

    Walah, cerita wayang modern nih…
    Bagus, Pak…

    sapimotos last blog post..Xiaoyun Alias Little Cloud

    >>>
    hanya sekadar iseng, mas, hehehehe :oke

  32. Fikar (Wednesday, 18 June 2008 @ 6:24 pm)

    wayang ?????????//
    walah ora mudeng aq, hhe :)
    Fikars last blog post..Post#59

    >>>
    hehehehe :lol: bagian mana mas yang sulit dipahami? hiks :oke

  33. baladapns (Wednesday, 18 June 2008 @ 6:57 pm)

    Menarik sekali tulisane pak….
    Salam kenal nggih…

    baladapnss last blog post..Balada PNS sebagai Obyek Penelitian

    >>>
    salam kenal kembali, pak. terima kasih kunjungannya :oke

  34. galihyonk (Thursday, 19 June 2008 @ 7:15 am)

    Hm,, mantaf benar dalangnya… ;-)
    cerita wayang perlu dilestarikan pak sawali,,

    klo bukan kita, lalu siapa lagi?

    galihyonks last blog post..GudBye Warnetku Sayang

    >>>
    hehehehe :lol: biasa aja kok mas galih. yaps, begitulah, postingan ini juga hanya sekadar untuk mengingat-ingat kalau negeri kita ternyata kaya budaya, mas :idea:

  35. cempluk (Thursday, 19 June 2008 @ 11:25 am)

    berat tenan tulisan jenengan pak sawali..
    cempluk benar2 ingin belajar dengan anda mengenai budaya indonesia…

    >>>
    walah, mas cempluk bisa aja nih. postingan biasa saja kok, haks :idea:

  36. fenny (Thursday, 19 June 2008 @ 2:28 pm)

    wahhh saya belum siap poliandri, pak… kekekeke

    fennys last blog post..Tentang Iklan Semen Holcim….

    >>>
    waduh, mbak fenny, jangankan poliandri, poligami aja ,asih ,enimbulkan pro-kontra, mbak, hehehehe :razz:

  37. quelopi (Thursday, 19 June 2008 @ 4:23 pm)

    harus kawin? wuih… ganas

    quelopis last blog post..Wuih… adem

    >>>
    kekekeke :grin: sayangnya prabu salya justru menolak, mas, haks :razz:

  38. nenyok (Thursday, 19 June 2008 @ 8:25 pm)

    Salam
    Wuih pak Dhe serasa tahan nafas saya bacanya, ramai banget, saya juga suka nonton wayang golek tapi pas bagian semar ma cepotnya doang :)
    nenyoks last blog post..4 My Soul

    >>>
    hehehehe :lol: biasa aja kok, mbak. btw, itu pun sudah lebih bagus, mbak ketimbang nggak pernah nonton sama sekali, :idea:

  39. Ersis Warmansyah Abbas (Saturday, 21 June 2008 @ 1:03 am)

    Semakin asyik mendalang nich ye … pokoknya aku jadi senang membaca kisah ala wayang Pak Guru. Selamat mendalang.

    Ersis Warmansyah Abbass last blog post..Kompor Menulis

    >>>
    walah, seperti biasanya, pak ersis, suka iseng saja, kok, haks :idea:

  40. tomy (Thursday, 26 June 2008 @ 8:13 am)

    Pak ceritakan tentang Rama Bergawa (parasu) yang diangkat jadi Jaksa Agung harus menuntut Ibunya yang melakukan perzinahan :205 :205 .
    kayaknya jumbuh dengan gonjang-ganjing dunia peradilan kita dimana jaksanya tersandung bulu mata lentik tante girang :411

    tomys last blog post..UCAPAN TERIMA KASIH

    >>>
    wah, makasih pak tomy masukannya. tapi hingga sekarang belum dapat ide dan bahan utk mosting rama parasu, juga jarang mengikuti berita, haks, jadi malu nih, hehehehe :oke