Ritual Tapa Nyusup ala Salyapati
Budaya, Kearifan Lokal, Pendidikan, Politik, Refleksi, Tradisi | 208 views
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Di ruang pribadinya yang sejuk ber-ac di lantai V, Prabu Salyapati merasa gerah. Gumpalan-gumpalan peluh dingin sebesar jagung menjebol pori-porinya. Penguasa bercambang lebat itu menahan napas, tak kuasa membendung kegelisahan yang merajam rongga dadanya. Sesekali berjalan mondar-mandir dari satu sudut ruang ke sudut yang lain. Ketika wajahnya nongol di balik jendela, bola matanya menatap ribuan rakyat menyemut di halaman istana.
“Demi kelangsungan hidup negeri Mandaraka, Sang Prabu harus kawin lagi! Tiga putri belum cukup menjadi pilar untuk menjaga keutuhan negeri. Dus, Sang Prabu harus punya putra mahkota. Dan itu bisa terwujud jika Sang Prabu melakukan poligami!” teriak seorang pendemo dengan wajah berkilat-kilat dipanggang terik matahari, diikuti yel-yel pendemo lain. Suasana halaman istana berubah jadi hiruk-pikuk. Para dedengkot LSM dari berbagai latar belakang tampil berorasi secara bergiliran di atas mimbar. Sesekali aplaus dan tepuk sorak membahana. Gemanya membahana seperti hendak mengiris dinding langit; melukai hati para perempuan pendamba keharmonisan hidup. Aparat keamanan tak berdaya. Semprotan gas air mata dan desingan peluru karet tak sanggup melunakkan kekerasan hati mereka.
“Sang Prabu, dengarkanlah suara kami, para kawula Mandaraka, kabulkanlah permohonan kami!” sahut pendemo lain.
Suara-suara rakyat yang lantang itu dengan mudah menerobos gendang telinga Prabu Salyapati. Kegelisahan kembali merajam ulu hatinya. Dengan langkah terseret, sang prabu kembali duduk di atas kursi goyang. Pikirannya menerawang. Tiba-tiba, bayangan istri tercintanya, Dewi Setyawati alias Dewi Pujawati, berkelebat dalam bentangan layar memorinya. Benak sang prabu terbang ke masa silam. Dia masih ingat betul, betapa dia harus bersaing ketat dan “berdarah-darah” dengan para putra mahkota dari negeri lain untuk menggaet gadis yang di dalam tubuhnya mengalir darah kecantikan puluhan ratu sejagat itu. Prabu Salyapati sangat beruntung karena dialah yang akhirnya berhasil memenangkan persaingan itu. Sejak saat itu, dia berjanji untuk tidak pernah menikah dengan perempuan lain. Darma kesetiaannya secara total hanya dipersembahkan untuk Dewi Setyawati. Prabu Salyapati tersentak ketika gendang telinganya tiba-tiba menangkap derap sepatu lars para prajurit di depan pintu. Tak lama kemudian, muncul wajah-wajah tegang dalam sikap sempurna.
“Maaf, sang Prabu, para demonstran nekad akan tidur di halaman istana jika sang Prabu tidak berkenan menemui mereka!” kata seorang prajurit dengan vokal tegas.
“Baik! Antarkan Ingsun menemui mereka!” sahut sang Prabu sambil merapikan busana kebesarannya. Dengan diiring beberapa prajurit, Prabu Salyapati bergegas menuju halaman istana dengan perasaan tak menentu. Di sana, ribuan rakyat telah menanti di bawah terik matahari. Puluhan wartawan media cetak dan elektronik, dari dalam dan luar negeri, segera menajamkan naluri jurnalistiknya. Sesekali, mereka harus menerobos kerumunan massa yang padat demi memburu objek dari sudut pandang yang tepat. Sorot kamera dan kilatan lampu blitz pecah di sana-sini. Suasana halaman istana makin hiruk-pikuk. Wajah Prabu Salyapati berkilat-kilat ditimpa cahaya kamera.
“Wahai, rakyat negeri Mandaraka yang Ingsun cintai!” kata Prabu Salyapati mengawali orasinya di atas mimbar. Aneh, suasana halaman istana mendadak sepi. Hanya terdengar sesekali deru kendaraan yang melintas di jalan-jalan protokol. Ribuan rakyat menunduk takzim. Ratusan spanduk telah dilipat, menandai klimaks demonstrasi para kawula Mandaraka berhari-hari lamanya. “Kalian ini aneh! Kalau penduduk negeri lain beramai-ramai menghujat poligami, di sini justru terjadi sebaliknya! Poligami malah dituntut agar disahkan dalam Undang-undang Perkawinan! Yang lebih aneh, kalian mendorong-dorong Ingsun agar beristri lagi agar Ingsun punya putra mahkota! Punya putra laki-laki atau tidak, itu kan bukan urusan Ingsun, hem? Selain itu, bukankah ketiga putriku Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, dan Dewi Banowati sudah lebih dari cukup untuk melanjutkan suksesi di negeri ini? Sudah saatnya kaum perempuan diberi hak yang sama dengan kaum laki-laki untuk menjadi pemimpin!” lanjut sang Prabu dengan vokal yang mantab dan berwibawa. Sorot matanya menyapu kerumunan massa yang menyemut di hadapannya. Suasana mendadak berubah riuh. Rakyat Mandaraka saling bertatapan, berbisik-bisik, ngedumel tak karuan.
“Maaf, sang Prabu, pertimbangan kami simpel saja!” seorang pendemo berwajah kekar mencoba keberanian untuk menyampaikan pendapat. “Taruhlah kelak salah satu dari ketiga putri Paduka menggantikan kedudukan Paduka. Tapi, apa ada jaminan kedua putri Paduka yang lain berkenan menerimanya? Itu yang pertama. Yang kedua, tidak semua kawula bisa menerima kaum perempuan sebagai pemimpin karena alasan agama atau keyakinan. Itulah sebabnya, kami tetap memohon agar Paduka memiliki putra mahkota. Jalan satu-satunya ya lewat poligami! Bukankah begitu, Saudara-saudara?” lanjutnya.
“Betuuul!” sahut pendemo lain serentak dan bersambung-sambungan.
“Baik! Keinginan kalian akan Ingsun pertimbangkan! Tapi Ingsun mohon kalian tidak perlu lagi melakukan demo. Masih ada tugas dan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat, paham?” sahut Prabu Salyapati. Seperti digerakkan oleh sesuatu yang gaib, ribuan massa perlahan-lahan meninggalkan halaman istana. Derap kaki dan deru kendaraan membahana, makin lama makin menjauh, hingga akhirnya sepi nyenyet.
Sepeninggal para demonstran, Prabu Salyapati belum juga mampu meredam kegelisahannya. Dalam gendang nuraninya terjadi perang batin yang dahsyat. Tuntutan rakyat Mandaraka memang masuk akal. Sebagai kawula, mereka berhak khawatir terhadap suksesi di negerinya jika kelak tak ada putra mahkota. Namun, ia juga tidak sanggup mengingkari kesetiaannya sebagai lelaki sejati. Ia sudah berikrar di depan perempuan yang dicintainya, Dewi Setyawati. Seumur hidup, ia tidak akan pernah sekali pun menikah dengan perempuan lain. Prabu Salyapati benar-benar pusing berat. Sudah hampir tiga hari lamanya, lidahnya tak berselera mencicipi makanan. Wajah bercambang lebat yang biasanya tampil gagah, kini tampak layu. Sementara itu, di luar istana, rakyat Mandaraka kembali berdemo; menagih janji.
“Sudahlah, Kanda, nggak usah terlalu dipikirin. Aku rela, Kanda menikah lagi demi kelangsungan hidup negeri Mandaraka. Ingat suara rakyat adalah suara Tuhan. Sia-sia saja Kanda bersikap sentimentil, mengagung-agungkan kesetiaan kalau pada akhirnya rakyat berbicara lain! Sungguh Kanda, aku ikhlas lahir-batin!” hibur Dewi Setyawati. Prabu Salyapati menelan ludah. Dadanya turun-naik. Kepasrahan istrinya justru harus disikapi dengan hati-hati. Ia tidak bisa menerima begitu saja keputusan istrinya itu.
“Dinda, kenapa aku harus menikah lagi? Tuntutan rakyat kan agar kita punya putra mahkota? Seandainya itu bisa kita wujudkan, kenapa aku harus mencari perempuan lain? Bagiku, Dinda adalah satu-satunya ladang, tempat aku menaburkan benih. Justru aku akan makin tersiksa jika aku harus menikah lagi. Ini sudah menjadi keputusanku, Dinda!”
“Lalu, tuntutan para kawula itu, gimana?”
“Yah, kita harus berikhtiar agar kita dikaruniai anak laki-laki?”
“Kanda jangan suka bercanda, ah! Mana mungkin aku bisa hamil lagi, hem, lha wong sudah hampir setengah tahun ini aku sudah memasuki menopause, kok!”
“Di dunia ini tak ada yang mustahil, Dinda, asal kita mau ikhtiar! Kita kan punya penasihat spiritual, kenapa mereka tidak kita mintai petunjuk? Siapa tahu mereka punya resep jitu?” kata Prabu Salyapati sembari mengelus-elus perut istrinya.
Alhasil, setelah para penasihat spiritual dimintai petunjuk, Prabu Salyapati harus melakukan dua macam ritual. Yang pertama, melakukan tapa ngrame. Sang prabu bersama permaisuri harus menyusuri tempat-tempat keramaian dengan menyamar sebagai rakyat biasa selama tujuh puluh hari lamanya. Namun, baru berlangsung dua puluh hari, penyamaran mereka dikenali oleh para penduduk. Terpaksa ritual pertama gagal total.
Yang kedua, sang prabu bersama permaisuri harus melakukan tapa nyusup, yakni berjalan terus siang-malam menyusuri tepi sungai Silugangga selama empat puluh hari. Godaan tapa nyusup ternyata lebih berat. Sepanjang alur sungai, Prabu Salyapati menyaksikan hampir semua jenis binatang melakukan kawin massal. Dia sudah berusaha untuk meredam gejolak libido seksualnya. Namun, semakin diredam, hasrat untuk melakukan hubungan biologis kian dahsyat mengebor ubun-ubun. Persetubuhan pun tak bisa dihindarkan. Setiap kali menyaksikan binatang kawin, hasrat seksual mereka tumbuh berlipat-lipat.
Usai melakukan ritual tapa nyusup, Prabu Salyapati benar-benar bahagia. Dewi Setyowati hamil. Berita itu segera tersebar ke seantero negeri. Demo pun berangsur-angsur surut. Para kawula berharap agar janin yang ada dalam kandungan Dewi Setyawati kelak lahir laki-laki. Harapan Gusti dan Kawula Mandaraka tampaknya dikabulkan Tuhan. Setelah kandungan Dewi Setyawati memasuki bulan ke-9 lebih sepuluh hari, dari gua garbanya lahir jabang bayi laki-laki yang sehat dan montok. Peristiwa itu serentak membikin bumi Mandaraka bergetar. Para penduduk di seantero negeri berduyun-duyun tumplek-bleg di halaman istana.
“Hidup Putra Mahkota!” teriak seorang penduduk disambung kegaduhan yang lain. Sementara itu, dari sudut halaman istana yang lain, muncul serombongan perempuan yang meneriakkan yel-yel gegap-gempita sambil menenteng spanduk warna-warni. Mereka menentang poligami disahkan dalam Undang-undang Perkawinan.
“Apa pun dalihnya, poligami hanya akan membikin sengsara hidup kaum perempuan!” teriak mereka penuh semangat. Tidak jelas, apakah demo itu mereka lakukan setelah mengetahui negeri Mandaraka punya putra mahkota atau karena ada motif lain. ***
Tags: demonstrasi, perkawinan, poligami, wayang









Dalange manteb tenan…hehehe
Epats last blog post..Funniest Fans on EURO 2008
Saya pernah baca buku, khusus yang menceritakan prabu Salya dan gejolak batinnya, sampai dengan perang Baratayudha.
Pak, kapan diceritakan tentang tokoh Burisrawa yang sebenarnya putra pertamanya dengan Dewi Setyawati yang ayahnya seorang begawan keturunan raksasa….dan untuk menghindari protes rakyat terpaksa Burisrawa diselipkan dikerumunan kaum Kurawa. Bukunya karangan Pitoyo Amrih.
Disitu juga terjadi peperangan batin karena kehendak rakyat tak sesuai dengan kenyataan. Saya jadi ingat masa lalu, setiap ada aturan baru yang belum tentu menyenangkan semua pihak, perlu dilakukan sosialisasi dan ini tak mudah… pimpinan harus pandai menjelaskan dan mengapa perusahaan terpaksa melakukan aturan yang tentunya mengurangi kesejahteraan…mungkin seperti saat ini, akibat kenaikan BBM banyak kantor yang melakukan efisiensi. Saat kopdar kemarin saya ngobrol dengan salah satu blogger, yang cerita kalau pagi AC kantor nya baru dinyalakan jam 8, dan setelah jam 4 AC dimatikan…dan kabarnya fasilitas internet akan dicabut.
waduh pak… apa saya yang gak nutut pikirannya atau ini cerita buat sastrawan aja ya… saya kok agak kurang begitu paham…
tapi mungkin ini sebuah cerita yang tak ada di blog2 lain, hanya ada di sini n untuk ukuran saya , perlu waktu ekstra untuk memahami…
djagungs last blog post..ANAK-ANAK SETAN BERPISAH
waduh
daku baca terus
eh pas nyampe ke bawah ada kalimat itu
wah yang patinya ini bukan ungkapan hati Pak Sawali kan?
yakin deh :112
achoey sang khilafs last blog post..Ah Biarkan Saja
Ceritanya bagus, mencari alternatif solusi untuk masalah yg ada.
Tapi maaf kalo pendapat saya bersebrangan.
Kalo poligami atas dasar mencari anak laki2, ya jelas ga realistis dong. Anak adalah amanah dari Yang Maha Kuasa. Mau laki2 atau perempuan, tetap harus disyukuri.
Tapi poligami yg diijinkan oleh agama itu ada term and condition nya, tidak sembarangan.
Term nya ya harus mampu dan adil (adil dlm batasan kemampuan manusia tentunya. Ingat! Manusia tidak ada yg sempurna).
Condition nya misalnya tidak mempunyai keturunan, ato untuk menjaga marwah perempuan yg belum / tidak punya pendamping, dsb. Apalagi kalo jumlah wanita berlipat2 dari pria.
Semisal kelahiran 1 pria berbanding 5 wanita. Trus yg 4 wanita mau dikemanakan? Apakah dibiarkan menjadi lesbi, tetap sendirian ato jadi wanita ga bener?
Kalo itu yg terjadi, maka terjadilah kerusakan di muka bumi.
Kita slalu bertanya setiap kali ditimpa musibah dahsyat yg menimpa negri ini, dosa apa yg telah kita perbuat?
Tanpa kita sadari bahkan firman-Nya saja berani kita perdebatkan dan dilanggar dgn alasan kemanusiaan dan alasan lainnya berdasarkan nafsu, perasaan dan pikiran kita yg dangkal. Bahkan kita lebih berani menghujat orang yg berbuat benar.
*segala sesuatu pasti sudah direncanakan oleh Tuhan. Dia yang mencipta dan mengatur segalanya sampai di hari akhir kelak. Mungkin kondisi seperti itulah yg akan dihadapi manusia akhir zaman. Firman telah ditorehkan untuk mengatur segala sesuatunya. Sepatutnya sebagai hamba memahami dan menjalankannya.
Berat memang kalo ditanya perasaan sebagai seorang perempuan. Beraaaaaaaat sekali. Maka sungguh pantaslah surga sebagai imbalannya bagi perempuan yg ikhlas..
t i n is last blog post..Konsentrasi, Elemen Penting dalam Menghadapi Pelanggan
dilematis antara tuntutan rakyat dan janji yg diikrarkan kepada sang permaisuri….
putri jadi Ratu kan bisa juga tuh…..nggak mesti Raja kan ???
bersambung ya pak ??
Alex Abdillahs last blog post..Jadi Gelas atau seperti Danau ?
senan dulu lah :112 :112 :112 :114 :114 :205 :205
hehe
Alex Abdillahs last blog post..Jadi Gelas atau seperti Danau ?
Aduuuh poligami belum siap pak…..yang pasti nggak kuat dech
Diahs last blog post..Membangun Budaya Malu
Coba saya yang jadi Prabu Salyapatinya, pastilah keinginan rakyat itu segera saya turuti. Apalagi, sang istri sudah membolehkan. :114
Adakah laki-laki normal di dunia ini yang seperti Prabu Salyapati ini menurut Pak Sawali? Sepengatahuan saya adanya hanya ada dalam cerita. :205
Wah…. pak Sawali…. aturan akhir ceritanya agak lebih nyeleneh lagi yaitu… prabu Salyapati **halaah** karena nggak punya pewaris tahta kerajaan pria, berniat mengadakan referendum buat rakyatnya, apakah negerinya mau tetap jadi kerajaan ataupun ingin berubah menjadi republik, biar menunjukkan bahwa di dunia perwayanganpun telah dikenal demokrasi dan raja di dunia perwayangan modern bukanlah seorang penguasa mutlak… huehehehe….
**usulannya ngawur ya??** :411
Yari NKs last blog post..366 minus 1
kalimatnya manis sekali
jadi ga boleh nebar benih sembarangan yaa
edys last blog post..Shell Blog Writing Competition 2008
Pak Sawali pancen OYE!
ardianss last blog post..Suatu hari di kehidupan seorang Info Security Officer
Duhai Prabu Salyapati, bagaimana bila saya menjadi menantu untuk tiga putrinya, nah otomatis kan saya menjadi putra mahkota. Sudah putra mahkota didapatkan, juga poligami, hehe…
*maaf pak, ngacoo nih
belom cukup umur buat ngebicarain soal ini
tapi ceritanya menarik
kapan di bikin bukunya pak?
poligami = takdir, kalau sudah guratan hidup dan takdir Yang Maha Kuasa, Alloh SWT siapa yang bisa mengelak ?
Yoyos last blog post..Mengapa selalu Kang Roy Suryo ?
Kalo sudah pakar emang beda…
Satu cerita bisa nendang kemana-mana… dari masalah hati, nurani, poligami, emansipasi, suksesi, demontrasi, solusi, meditasi sampai ejakulasi… bisa terangkum dgn rapi
Wuuuiiihhhh…. nJenengan emang pencerita sejati
Kalau poligami dari sudut agama berbeda-beda *halah sok tahu*
laporans last blog post..Pharaoh, Siapa Bunuh Firaun Tut? (Part 5)
Wah bagus sekali ceritanya Pak. Saya senang dengan penutup di alinea terkahirnya
Tapi bukan berarti saya setuju dengan poligami lho hehehe. Ditunggu ah cerita berikutnya
Aku suka sekali gaya-gaya satire di beberapa cerita di blog ini. Ceritanya memakai model pewayangan seperti itu membuat pembaca jadi berfantasi ke sebuah negeri, padahal yang diceritakan sangat aktual sekali dengan keadaan nyata.
Secara mekanikal nggak ada tanda baca atau penggunaan kata yang salah. Nyaris sempurna. Mantap, Pak Sawali!
Dan soal poligami, ai, aku tak perlu berkomentar lagi. Aspek itu sudah Njenengan suguhkan secara terbuka dalam cerita. Segalanya biar berpulang pada membaca saja…
Daniel Mahendras last blog post..Sisa Masa Lalu yang Masih Membatu!
Pak, sudahkah Bapak menulis tentang pandawa lima sewaktu masih kecil? Masih anak-anak.
Saya suka sekali dengan tokoh Bima.
[..........Tapi Ingsun mohon kalian tidak perlu lagi melakukan demo. Masih ada tugas dan pekerjaan lain yang lebih bermanfaat, paham?...............]
“Paham Pa Sawali”,jawab Mahasiswa serentak.
aminherss last blog post..Slamat & Sukses
Alhamdulillah kali ini Pak Sawali tidak cerita soal selingkuh. Dua cerita wayang terakhir bercerita soal kesetiaan: kesetiaan Shinta dan sekarang kesetiaan Prabu Salya.
Dua cerita kesetiaan itu membalas dua cerita selingkuh sebelumnya di Cupu Manik Astagina dan satu lagi lupa judulnya.
Mantab!
arifs last blog post..Mengingat Teman Sekelas di SMP
hmm.. kesetiaan terhadap komitmen di tengah tuntutan yang ada memang kadang mudah dalam kata tapi susah dalam kenyataannya..
*pak, ada order demo lagi neh.. hihihi..
Wehehehe… Laki-laki yang setia, uda didorong untuk poligami malah ndak mau..
Lha yang di negeri lain itu malah ndak ada yang nyuruh tapi uda poligami sendiri.. :292
ini latar belakangnya tahun berapa ya? kok udah ada AC?
Cocok itu untuk hiburan petani,
Wah bagus sekali ceritanya Pak.
Sering-sering mampir dah kesini.
Salam kenal Pak Dalang
Dari Petani Internet.
sumintar.com
Petani Internets last blog post..Ingin Kaya, Jadi Petani Saja
Pak Sawali, bukunya Pitoyo Amrih mengupas tentang tokoh Salya ini, yang teguh pada perbuatan baik, namun saat melahirkan anak raksasa, dia mempunyai konflik pada diri sendiri. Kalau dikupas oleh bapak, dan disesuaikan pada kondisi saat ini pasti menarik….
Bukunya Mangunwijaya juga menarik pak….duhh kok waktu sulit ya (saya tak sempat untuk menulis, banyak yang bertebaran di otak)….bapak udah baca, yang tentang trilogi Rara Mendut….ceritanya banyak yang bisa ditafsirkan dengan kondisi saat ini, dan banyak diselipkan ajaran pewayangan. Om Mangun kayaknya saat itu juga sedang melakukan sindiran. Memang, melalui wayang, sastra,teater…kita juga bisa melakukan hal-hal yang membuat orang merenung sejenak.
edratnas last blog post..Monas di Minggu 15 Juni 2008
Kelompok Aliansi wayang bebas poligami dan front pembela poligami kok bertemu, Pak? Harusnya mereka bertemu di alun2.
Hery Azwans last blog post..Dari Dapur Talking Book
Wah ceritanya seru Mas….Andaikan saja kalau ini beneran dan Mas Sawali jadi Prabu Salyapati disuruh poligami gitu gimana..ya…?
Kalau saya…wah…ya..tak terima saja…lha dipaksa je (atau minta dipaksa).
he he he…
FADs last blog post..Oh DIY…. Angka Kelulusanmu Paling Rendah untuk Jawa
wah ceritane seru pak…..
coba negara ini pemimpine bisa berfikiran begitu.alangkah sejahtera dan sentosanya negeri ini
dafhys last blog post..goresan pena
Walah, cerita wayang modern nih…
Bagus, Pak…
sapimotos last blog post..Xiaoyun Alias Little Cloud
wayang ?????????//
walah ora mudeng aq, hhe
Fikars last blog post..Post#59
Menarik sekali tulisane pak….
Salam kenal nggih…
baladapnss last blog post..Balada PNS sebagai Obyek Penelitian
Hm,, mantaf benar dalangnya…
cerita wayang perlu dilestarikan pak sawali,,
klo bukan kita, lalu siapa lagi?
galihyonks last blog post..GudBye Warnetku Sayang
berat tenan tulisan jenengan pak sawali..
cempluk benar2 ingin belajar dengan anda mengenai budaya indonesia…
wahhh saya belum siap poliandri, pak… kekekeke
fennys last blog post..Tentang Iklan Semen Holcim….
harus kawin? wuih… ganas
quelopis last blog post..Wuih… adem
Salam
Wuih pak Dhe serasa tahan nafas saya bacanya, ramai banget, saya juga suka nonton wayang golek tapi pas bagian semar ma cepotnya doang
nenyoks last blog post..4 My Soul
Semakin asyik mendalang nich ye … pokoknya aku jadi senang membaca kisah ala wayang Pak Guru. Selamat mendalang.
Ersis Warmansyah Abbass last blog post..Kompor Menulis
Pak ceritakan tentang Rama Bergawa (parasu) yang diangkat jadi Jaksa Agung harus menuntut Ibunya yang melakukan perzinahan :205 :205 .
kayaknya jumbuh dengan gonjang-ganjing dunia peradilan kita dimana jaksanya tersandung bulu mata lentik tante girang :411
tomys last blog post..UCAPAN TERIMA KASIH