Home » Jampi Sayah » Pringas-Pringis » 800812 views

Pringas-Pringis

Kategori Jampi Sayah Oleh

(Sekadar jampi sayah di tengah kenaikan harga BBM)

Berbeda dengan teman-teman sekampungnya yang larut dalam antrean demo bayaran menentang kenaikan BBM, Karjo Puyeng justru asyik dengan dunianya sendiri. Seirama dengan usianya yang sudah memasuki masa puber, hasrat untuk memiliki pasangan hidup semakin menggerus ubun-ubunnya. Matanya yang bundar-lebar kayak mata barongan itu selalu jelalatan kalau melihat gerombolan cewek yang tengah melintas. Itu terjadi gara-gara calon istrinya dibawa kabur orang. Malam ndak pernah bisa tidur hingga matanya yang liar itu jadi ngiyip. Jangan heran kalau saban hari biyungnya ngomelin habis-habisan bak bibir sak tumang kari sak merang.

“Apa kamu nggak malu jadi tontonan para tetangga. Saben hari kerjanya kok ngluyur terus. Mbok nyoba-nyoba nglamar jadi priyayi,” celoteh biyungnya ceriwis.

“Semua ini gara-gara Sampeyan kok, Mbok! Milihkan jodoh nggak cocok!” sahut Karjo Puyeng sembari mengepulkan asap rokok tingwe alias nglinting dhewe.

“Eeee … Lha kok malah nyalahkan aku? Kamu ini saya sekolahkan sampai es-em-a, supaya kamu bisa jadi priyayi. Kalau jadi priyayi, cah wedok kan mesti datang sendiri, tahu?”

“Priyayi? Jangankan aku, lha wong Mas Budi putranya Pak Mantri yang sarjana aja nganggur kok, malah sekarang jadi tukang ojek. Apalagi, aku, Mbok. Ijasah es-em-a itu sama saja dengan ijasah es-de. Nggak laku buat nglamar gaweyan!”

“Rugi berarti saya nyekolahkan kamu. Semua bandha-donya ludes, tapi nggak ada hasilnya. Kan mending untuk marung dulu! Dasar kamu bocah ngeyel!” tukas biyungnya sambil ngeloyor ke belakang. Karjo Puyeng membisu. Pikirannya buntu ndak karuan. Lebih-lebih kalau ingat si Samiyem, calon istrinya, yang dibawa minggat orang. Wah, pikiran Karjo Puyeng jadi kayak benang kusut.

***

Seperti biasanya, Karjo Puyeng nongkrong di surau. Di sinilah ia menghabiskan hari-harinya yang sumpek bersama Soleman Gandhen. Dua tokoh ini nyaris memiliki kisah yang mirip. Sama-sama ditinggal minggat istrinya. Bedanya, Karjo Puyeng lulusan SMA, sedangkan Soleman Gandhen cuman drop-out-an SD. Tapi mending, status istri Soleman Gandhen telah resmi jadi miliknya. Entah, tiba-tiba ngabur hanya karena istrinya yang mengharapkan anaknya lahir perempuan, ndilalah lahir laki-laki seperti dambaan Soleman Gandhen. Dasar bocah pencilakan! Begitu melihat anaknya lahir laki-laki, Soleman Gandhen jingkrak-jingkrak. Tentu saja istrinya tersinggung. Beberapa hari kemudian, istrinya kabur. Jabang bayinya diserahkan sama Soleman Gandhen.

Awake dhewe ini gimana toh, Jo, Jo? Punya surat nikah tapi kok nggak pernah kumpul sama perempuan, hehehe?” celoteh Soleman Gandhen sambil ngakak. Karjo Puyeng mecengis. Tawanya ditahan.

“Jangan singgung-singgung soal itu! Bikin kepala puyeng, tahu nggak?”

Ketika mereka sedang asyik mengobral pergunjingan, mendadak muncul Darto Wongku Minter.

Eh, kok pada nongkrong di sini, mau cari apa lu? Cewek?” tanya Darto Wongku Minter dengan logat Jakartanya yang medhok. Dia memang barusan pulang dari Jakarta. Ngakunya sih jadi pemborong proyek bangunan, tapi sebenarnya cuma jadi kuli bangunan. Sembari ngeciwis kayak burung prenjak, ia menyodorkan kretek bermerk. Eit! Kalau awak lagi untung, hati Karjo Puyeng dan Soleman Gandhen kayak diguyur es setelah sekian lama hanya dijejali asap tembakau yang panas.

“Di Jakarta, Lu ketemu ama Parmin kagak, To? tanya Karjo Puyeng dengan logat Jakarta yang dibuat-buat.

“Ketemu sih ketemu, Jo! Malah dia jadi anak buah gue! Tapi belakangan ini dianya nampak ketakutan. Kagak mau mudik. Katanya lu ancam. Iya, toh?”

“Ho’o! Lha wong dia bahwa minggat bini gue kok!”

“Loh! Samiyem kan dah resmi jadi bininya Parmin!”

“Bangsat! Kapan dia omong? Samiyem itu dah resmi jadi bini gue! Kalo ndak percaya, ini surat nikahnya!”

Karjo Puyeng memang frustrasi berat. Ke mana ia pergi, surat nikahnya selalu dibawa. Kemudian, ditunjukkan kepada teman-temannya.

“He-eh, kok To! Meski belum resmi, tapi kan ada buktinya!” sambung Soleman Gandhen yang terus berkempas-kempus ria nyedot kretek. Darto Wongku Minter geleng-geleng. Betul juga!

“Suruh dia pulang! Biar kuodet-odet perutnya!” ancam Karjo Puyeng. Darto Wongku Minter yang ndak tahu ujung pangkal kisahnya hanya bisa dheleg-dheleg. Padahal, dia tahu persis kalau Samiyem itu sudah resmi jadi Nyonya Parmin. Bahkan, dia juga ikut menghadiri upacara pernikahannya di Jakarta. Tanpa pamit, Darto Wongku Minter segera ngacir pergi.

Perasaan Karjo Puyeng dibalut dendam. Bersama Soleman Gandhen, ia membuat rencana yang sungguh mati hanya mereka berdua yang tahu. Bahkan, biyungnya yang denger sruwing-sruwing ketika mereka mengadakan rapat di kamar ndak diurusi, malah dibentak-bentak kayak bocah cilik.

“Sampeyan diem aja, Mbok! Ini menyangkut masa depanku! Nanti kan tahu sendiri!” sahut Karjo Puyeng ketika ditanya biyungnya.

“Masa depan apa toh, Le! Disuruh nglamar jadi priyayi saja nggak becus gitu kok, masa depan tai kucing!” serang biyungnya.

“Orang tua bisanya memang cuma cerewet!” ketus Karjo Puyeng. tentu saja, biyungnya jadi uring-uringan. Tapi dasar bocah stres, mulut biyungnya malah dibungkam pakai sarung. Dasar, dasar! Soleman Gandhen jadi pringas-pringis melihat adegan itu.

***

Mereka berdua telah bulat-bulat untuk ngepruki Parmin. Sudah ndak peduli apa pun resikonya. Yang penting, dendamnya terkabulkan. Beberapa hari kemudian, Parmin dan Samiyem mudik. Mendengar berita itu, Karjo Puyeng dan Soleman Gandhen kontan melabrak ke rumahnya. Tanpa mengenal tatakrama, mereka berdua dengan cekatan langsung menghajar Parmin.

“Slompret, Lu! Datang-datang cari perkara! Lu yang namanya Karjo?” bentak seorang pemuda brewok bertubuh kekar. Karjo Puyeng dheleg-dheleg. Padahal, selama ini mereka belum pernah kenal siapa pemuda brewok itu. Nyali mereka mendadak ciut. Tanpa ngomong, Karjo Puyeng menyodorkan surat nikahnya kepada pemuda brewok itu. Eit, seperti mimpi buruk, curat nikah itu disobek-sobek sampai jadi abu.

“Pulang! Kalau kagak, gua jitak jidat lu sampek mlocot!” berang pemuda brewok. Tubuh Karjo Puyeng gemetaran, kemudian lari ngacir ketakutan. Sampai di rumah gidrag-gidrag. Tangisan sama biyungnya. Lagi-lagi, Karjo Puyeng menyalahkan biyungnya. Diumpat dan dicaci-maki sebagai orang tua yang ndak bisa mencarikan jodoh.

Mendengar adegan itu, Soleman Gandhen pringas-pringis kayak monyet ketulup. Tiba-tiba saja ia jadi ingat surat nikahnya yang masih tersimpan rapi di laci mejanya. Tidak seperti milik Karjo Puyeng yang telah memet jadi abu. Sementara itu, dari kejauhan sana, terdengar suara teriak-teriak diiringi deru suara truk. Rupanya, para pendemo bayaran telah pulang ke kandangnya. ***

Keterangan: Gambar merupakan karya Mas Dwijo D. Laksono

Glosarium:

  1. awake dhewe: badan sendiri (cakapan: kita ini)
  2. bandha-donya : harta benda
  3. barongan: mainan tradisonal semacam reog yang bermata bundar dan lebar
  4. becus: bisa
  5. biyung: ibu
  6. cah wedok: anak perempuan
  7. dheleg-dheleg: diam, terpaku, tak berkutik
  8. gidrag-gidrag: kesal
  9. mecengis: tertawa sinis
  10. jelalatan: liar
  11. Le: sapaan kepada anak laki-laki
  12. memet: hancur
  13. ngeciwis: berbicara tanpa berhenti
  14. ngiyip: sedikit tertutup (untuk mata)
  15. pencilakan: ugal-ugalan, badung, liar
  16. pringas-pringis: tertawa sinis (=mecengis)
  17. priyayi: pegawai negeri
  18. sruwing-sruwing: samar-samar
  19. tumang: bibir tungku perapian

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

64 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Jampi Sayah

Malam Ramadhan yang Syahdu

Malam yang syahdu. Rokib benar-benar total menikmatinya. Lelaki jebolan pondok pesantren salaf
Go to Top