Home » Opini » Cukup Satu Malin Kundang Saja! » 65605 pembaca

Cukup Satu Malin Kundang Saja!

Baru saja kita menyaksikan sebuah adegan drama di atas panggung kehidupan sosial. Tragis dan ironis sekaligus. Tragis lantaran harus ada korban. Kaum muda kita, mahasiswa-mahasiswa yang gencar menyuarakan penolakan kenaikan BBM itu, ada yang harus tersungkur kena sasaran peluru aparat. Belum lagi terhitung yang luka-luka akibat bentrok terbuka. Ironis, lantaran bangsa ini telah kehilangan kearifan. Bangsa yang dulu pernah disanjung puji sebagai bangsa yang ramah dan santun telah berubah jadi bar-bar dan biadab terhadap sesamanya.

Tapi sudahlah! Bangsa kita memang telah kebal terhadap luka dan derita. Luka-luka itu akan segera terlupakan. Ibu pertiwi pun tak sanggup lagi menitikkan air mata. Darah telah terkuras akibat luka yang terus menganga. Ibu pertiwi tampak pucat. Sebagai “anak kandung”-nya, tegakah kita menambah beban penderitaannya? Masihkah kita akan terus menyakiti nuraninya dengan melakukan tindakan-tindakan konyol dengan tak henti-hentinya menyemburkan darah dan mengumbar kekerasan?

***

Kenaikan BBM memang berdampak luas. Banyak rakyat yang menjerit lantaran dampaknya sudah demikian terasa. Harga-harga kebutuhan pokok dipastikan akan meroket. Di tengah daya beli rakyat yang semakin anjlog, jelas situasi semacam itu sangat tidak menguntungkan. Pemerintah memang berniat untuk memberikan subsidi kepada rakyat miskin lewat Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun, kebijakan itu dinilai hanya strategi sesaat untuk meredam amarah rakyat. Tidak mendidik, membunuh etos kerja, bahkan cenderung membikin rakyat jadi pemalas dan serba bergantung. Berkaca dari pengalaman, BLT juga hanya membikin masalah baru, yakni munculnya intrik terselubung antarsesama warga dan ketidakpuasan terhadap kinerja aparat desa/kelurahan yang dinilai tidak adil. Tak heran jika pemerintah menuai demo. Mahasiswa, buruh, karyawan, sopir angkutan, hingga ibu-ibu rumah tangga turun ke jalan dengan ekspresi wajah dan teriakan yang sama. Penguasa dinilai telah kehilangan kepekaan terhadap nasib jutaan rakyat yang sempoyongan memikul beban nasib.

Namun, seperti telah diduga, kebijakan kenaikan BBM akhirnya jalan terus. Demo yang terus menggelontor dari berbagai sudut dan pelosok negeri tak menggoyahkan kokohnya tembok kekuasaan. Para demonstran yang babak-belur dan terluka dipahami sebagai resiko sebuah kebijakan. Aparat yang terpaksa bertindak represif ditafsirkan sebagai bentuk pengabdian.

Dalam situasi chaos seperti itu, ditengarai akan muncul “tangan-tangan invisible” yang hendak memancing di air keruh. Para petualang politik yang kebetulan berseberangan dengan penguasa tak segan-segan pasang aksi dengan beragam argumen dan jargon yang menyudutkan. Rakyat kembali “dijual” dalam kemasan yang sarat dengan aroma politik. Tanpa rasa malu, para pemburu kursi kekuasaan mengatasnamakan rakyat untuk memuluskan manuvernya dalam meraih simpati. Kosakata “rakyat” demikian masif digelontorkan dengan artikulasi yang jelas dan fasih. Para penggerak demo bayaran pun konon juga mulai pasang aksi “pasang tarif”. Banyak rakyat yang ikut-ikutan berteriak dan turun ke jalan hanya sekadar mencari sesuap nasi, tanpa tahu apa yang mereka perjuangkan. Sungguh, sebuah fenomena dan anomali sosial yang bertentangan secara diametral dengan slogan “kedaulatan rakyat”.

Kita lupa bahwa ibu pertiwi sudah tak berdaya menanggung beban luka yang terus menganga di sekujur tubuh. Haruskah kita terus-terusan berbuat durhaka dan menambah beban luka dan derita? Sudahlah, cukup satu Malin Kundang saja! Biarkan sosok pendurhaka itu menjadi masa lalu yang memfosil dalam mitos dan legenda! Saatnya kita meringankan beban sang “ibu kandung” dengan mencari cara yang tepat untuk menyembuhkan luka akut yang disandangnya dari generasi ke generasi. *Sok bijak mode on*

Kita bikin hati sang ibu pertiwi selalu tersenyum dan ceria. Kita kembalikan imaji bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat yang selama ini (nyaris) telah hilang dalam kamus kehidupan kita. Optimalkan kinerja, maksimalkan pengabdian pada bangsa, siapkan siasat untuk menghadapi situasi yang tidak menentu! Yang mau demo, silakan saja, asalkan selalu waspada agar tak mudah dikompori dan dimanfaatkan oleh para petualang politik. Yang tak kalah penting, hindarkan kekerasan, cakar-cakaran, atau bakar-bakaran!

Ada masukan buat pemerintah? Tidak ada! Di sekeliling mereka sudah banyak orang pintar yang ketinggian ilmunya telah “sundul langit”. BBM yang sengaja dinaikkan di tengah nasib jutaan rakyat yang terlunta-lunta pun konon sudah melibatkan penghitungan yang cermat dari orang yang hebat-hebat itu. Kalkulasi untung-rugi sudah dilakukan. Orang-orang di sekeliling istana yang rata-rata berjidat licin itu *simbol kecerdasan* konon sudah sangat piawai menghitung angka-angka. Tak heran jika masukan dan kritikan apa pun sudah tak mempan. Mereka adalah orang yang sangat percaya diri bahwa negara ini ada dalam genggaman tangan. Mereka sudah biasa menghadap rakyat yang marah. Hanya tinggal memberi aba-aba dan komando, aparat sudah sigap mengatasinya. Kalau rakyat berbuat kelewatan, tinggal main gebug saja. Jadi, sekencang apa pun kita berteriak, gemanya mustahil mampu menembus tembok istana yang angkuh itu. ***

oOo

Keterangan: Gambar diambil dari sini dan sini.

Tulisan berjudul "Cukup Satu Malin Kundang Saja!" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (27 Mei 2008 @ 22:39) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!
Share to: Twitter Facebook Google+ Linkedin Pinterest

5 Comments

  1. Menurut Pakar Perminyakan ( ini bener atau enggak) di kompas kemarin tanggal 26 (kalau enggak salah) kenaikan BBM memang seharusnya terjadi Mengingat : Produksi Minyak Kita sekarang lebih sedikit dibanding Permintaan.
    Siapapun Presidennya maka akan dihadapkan pada pilihan yang sulit suka tidak suka akan menaikan harga BBM atau Negara mengalami Kebangkrutan .( Ini saya enggak mbela Pemerintah Lho…)
    Sebenarnya masalah minyak ini sudah digembar gemborkan bahwa pada suatu saat kita ( Bangsa ini ) akan menjadi Nett Importir Minyak dan itu sudah di prediksi sepuluh tahun yang lalu.
    Yang menjadi pertanyaan adalah Para Pemimpin negeri ini yang pada sepuluh tahun lalu saat reformasi menjadi orang yang paling berkuasa dan Jagoan berpolitik tidak membuat suatu kebijakan perminyakan/Energi dan atau perekonomian yang jelas maka kalau sekarang ini terjadi masalah adalah Jelas jelas kesalahan mereka.
    Situasi perekonomian saat ini adalah refleksi perencanaan lima tahun atau sepuluh tahun yang lampau.
    Kalau pada saat krisis moneter dimana nilai tukar rupiah anjlok itu jelas adalah kesalahan Orde Baru …Lha kalau sekarang …ya jelas yang salah adalah orde pengganti orde baru.
    Kalau di TV atau saat ceramah pinter banget kadang menyakitkan hati tapi kerjanya nol besar.
    Sudah saatnya Indonesia ada sosok Mahatma Gandhi yang mampu membuat masyarakat bangkit atas kesadaran dan berdikari agar Perekonomian,Energi Pangan dsb tidak perlu campur Pemerintah dan Sosok tersebut tidak Haus Kekuasaan

    semelekethes last blog post..Menjajal (jawanya : Mencoba ) Ilmu Cak Wid -Untuk SEO

    terima kasih mas semelekethe ta,bahan infonya yang sangat berharga ini. saya sepakat banget agar bangsa ini jangan malu2 mengadopsi semangat swadeshi-nya mahatma gandhi. sungguh disayangkan kalau bangsa yang besar ini hidupnya selalu bergantung pada bangsa lain. citra diri dan martabat bangsa sudah saatnya kembali dibangkitkan. 💡

  2. [….Kita bikin hati sang ibu pertiwi selalu tersenyum dan ceria. Kita kembalikan imaji bangsa yang santun, terhormat, dan bermartabat yang selama ini (nyaris) telah hilang dalam kamus kehidupan kita. Optimalkan kinerja, maksimalkan pengabdian pada bangsa, siapkan siasat untuk menghadapi situasi yang tidak menentu!….]

    Penggalan kalimat di atas bagus untuk disimak dan dihayati.
    a truthful posting Kang !

    aminherss last blog post..Is Zero a Number ?

    dalam kondisi bangsa yang terpuruk, sudah seharusnya *halah* setiap individu mesti memulai utk membangkitkan semangat dan etos kerja, pak amin, sehingga selalu siap menghadapi situasi apa pun. 💡

  3. Sebenarnya, kenaikan harga minyak dunia, serta ancaman kelangkaan pangan, juga krisis ekonomi global, bisa menjadi momentum luar biasa untuk bangkit dari keterpurukan negeri ini. Syaratnya adalah kebersamaan dan solidaritas. Sayangnya, di tingkat elit politik, hati nurani, kepekaan, sense of crisis sudah mati. Politik bukan lagi dijadikan salah satu sarana suci untuk mensejahterakan rakyat, tapi lebih kepada syariat untuk menghamba pada kekuasaan. Maka yang ada hanyalah saling serang. Saling menjatuhkan. Dengan segala cara. Tak ada lagi konstruksi. Semuanya destruksi, bertubi-tubi. Seolah dengan menjatuhkan dan menghinakan lawan politik, atau pihak yang berseberangan adalah sebuah kemenangan sejati. Padahal, sekali waktu kita menang dengan menghinakan, maka akan tiba waktunya kita akan balas dihinakan. Tetapi kemenangan dengan memuliakan pihak yang berseberangan, itulah sejatinya kemenangan. Maka, hendaklah masalah berat bangsa ini disikapi sebagai sesuatu yang harus dipecahkan bersama, harus dimenangkan bersama. Kita semuanya sesungguhnya adalah korban. Jangan sampai barji barbeh, tiji tibeh, bubar siji bubar kabeh, mati siji mati kabeh.

    Nayantakas last blog post..Wisanggeni Gugat 1: Perselisihan di Suralaya

    sepakat, ki. di tengah kondisi bangsa yang terpuruk seperti saat ini sudah seharusnya kebersamaan dan solidaritas kembali dibangkitkan. tak perlu lagilah menang2an. justru harus saling merangkul. kondisi semacam itu bisa terwujud jika ada keteladanan dari atas. kita masih belum bisa membebaskan diri dari kultur masyarakat kita yang paternalistik. teladan dari atas itu yang penting. 💡

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*