Sastra Koran di Tengah Imaji Kekerasan

Kategori Sastra Oleh

Tradisi penulisan teks sastra lewat koran (sastra koran) sudah lama muncul. (Hampir) semua sastrawan kondang memanfaatkannya. Gerson Poyk, Abdul Hadi WM, Danarto, Seno Gumira Ajidarma, Gus Mus, Hamsad Rangkuti, atau Afrizal Malna –sekadar menyebut beberapa nama—adalah sederet tokoh yang dengan amat sadar ”menggauli” koran sebagai ”corong” kreativitasnya dalam berkesenian. Hampir mustahil seorang sastrawan bisa terangkat namanya secara otomatis tanpa harus bersentuhan dengan koran. Bahkan, bagi penerbit, sastra koran barangkali dijadikan sebagai ”barometer” untuk mengukur tingkat kapabilitas seorang sastrawan yang menginginkan karyanya diterbirkan sebagai buku. Itu artinya, koran, disadari atau tidak, memiliki andil besar dalam melambungkan nama seorang sastrawan.

Sayangnya, tidak semua penerbitan (koran) sanggup dan mampu bertindak sebagai ”juru bicara” sang sastrawan, apalagi ketika harga kertas melambung. Tidak sedikit koran yang terpaksa menggusur rubrik sastra. Koran pun jadi lebih banyak menyajikan berita-berita politik dan ekonomi yang ”memanas”, demo menolak kenaikan BBM, aksi-aksi kekerasan yang mengerikan, pernyataan para elite yang kontroversial, atau penanganan kasus hukum yang stagnan. Hanya penerbitan tertentu yang dengan setia menghadirkan tulisan yang humanis, menyentuh nurani, dan menyejukkan. Selebihnya, adalah penerbitan yang sering disebut orang sebagai ”pers provokator”. Tidak bikin sejuk, tetapi secara emosional malah bikin suasana makin panas dan mudah terkompori.

Sebagai salah satu entitas kebudayaan, sastra akan makin bermakna jika didukung media publikasi dan sosialisasi yang memadai. Salah satunya ya lewat koran itu tadi. ”Pulchrum dicitur id apprensio” (keindahan jika ditangkap menyenangkan), demikian ujar sang filsuf skolastik, Thomas Aquinas. Ini artinya, keindahan akan menjadi sebuah kemustahilan tanpa media sosialisasi dan publikasi. Bagaimana mungkin publik mampu menangkap keindahan cerpen surealis Danarto yang fantastik dan teatrikal, cerpen Seno Gumira Ajidarma yang ”liar”, romantik, dan menghanyutkan, atau puisi-puisi Abdul Hadi WM yang religius, kalau tak ada media yang memuatnya? Bagaimana mungkin nama-nama mereka bisa dikenal publik sastra?

Dari sisi ini jelas bahwa keberadaan koran menjadi hal yang niscaya bagi kiprah dan kreativitas seorang sastrawan, khususnya bagi mereka yang sedang memburu popularitas. Untuk langsung mengirimkan setumpuk karyanya kepada penerbit buku? Alih-alih diterima, disentuh pun bisa jadi tidak, apalagi buku-buku sastra termasuk jenis buku yang ”mati” di pasaran.

Ada juga asumsi yang menyatakan bahwa sastra koran diragukan bobot dan kualitasnya. Asumsi ini beranjak dari kenyataan bahwa kreativitas sastrawan mesti ”tunduk” dan ”patuh” pada selera redaksi sehingga menutup kebebasan sastrawan dalam menciptakan teks-teks sastra yang ”liar” dan menentang arus. Selain itu, redaksi koran juga dinilai ”kurang adil” dalam memperlakukan para penyumbang tulisan. Mereka yang sedang berjuang mengukir sejarah kesastrawanannya untuk mendapatkan legitimasi publik harus menelan kekecewaan lantaran tulisan-tulisan kreatifnya tak muncul-muncul di koran. Ironisnya, tulisan sastrawan kondang yang secara tematik dan penggarapannya dianggap kurang intens dan serius, justru bertebaran di berbagai koran.

Asumsi semacam itu memang sah-sah saja. Namun, sepanjang pengamatan awam saya, teks-teks sastra koran yang muncul –tak peduli siapa penulisnya—secara sastrawi dapat dipertanggungjawabkan. Artinya, dari sisi bobot dan kualitasnya layak digolongkan sebagai karya sastra yang sarat nilai kultural, relogi, dan kemanusiaan. Selain itu, pimpinan redaksi tentu tak akan gegabah menaruh sembarang orang untuk menjaga ”gawang” rubrik sastra. Paling tidak, mereka yang pernah eksis berkiprah di dunia sastra dan berwawasan estetika yang mumpuni –tidak semata-mata memiliki keterampilan jurnalistik– yang layak mengurusnya.

Di tengah atmosfer kehidupan bangsa yang makin rentan terhadap imaji kekerasan, disintegrasi sosial, atau ulah anomali sosial lainnya, sudah tiba saatnya koran menjadi media alternatif, semacam katharsis dan pencerahan batin, untuk ikut peduli meredam emosi pembaca lewat teks-teks sastra, baik kreatif maupun literer, yang mampu membikin hati sejuk, penuh sentuhan nilai kemanusiaan dan religi. Melalui teks sastra inilah denyut kehidupan manusia yang sebenarnya dapat dirasakan dan diraba. Dengan banyak membaca teks sastra, pembaca makin arif dan jernih dalam menyiasati berbagai fenomena hidup dan kehidupan.

Akankah ”sinergi” antara sastra dan koran makin menguat atau justru amburadul direnggut ”mulut-mulut” industrialisasi dan kapitalisasi global yang sulit terelakkan? Nah, sang waktulah yang akan menjadi saksi. ***

Keterangan: Gambar sepenuhnya merupakan karya Mas Dwijo D. Laksono

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

40 Comments

  1. Koran = surat kabar. Jadi nggak salah dong, Pak, kalau koran tidak memublikasikan sastra –*–

    Ketika dulu saya masih sering membaca Kompas Minggu, bagian sastra selalu saya baca lebih dulu. Saya suka baca cerpen dan sajak yang ada di sana. Namun, lama-kelamaan saya tidak punya waktu lagi untuk baca koran konvensional yang ukuran kertasnya sebesar itu sehingga saya beralih ke koran kompak macam Koran Tempo. Maklum baca koran di bus yang melaju, ukuran koran juga jadi pilihan. Sayangnya nggak ada sastra di hari Senin – Jumat. Entah Sabtu dan Minggu, belum pernah beli Koran Tempo akhir pekan.

    Eh, saya tidak pernah menilai sastra koran kualitasnya lebih rendah dari sastra buku atau sastra horison, sastra basis dan sastra kalam.

    (Ini kali kelima saya buka tulisan ini dan baru bisa membaca sampai selesai. Maklum, buruh.)

    arifs last blog post..Gratis Buku "The Journey" Karya Gola Gong"

    hehehehe 😆 bener juga, mas, apalagi koran kompas rata2 jumlah halamannya tebel banget. tapi juga malah lebih praktis karena bisa dibawa ke mana2. kalau teks sastra online kan mesti butuh tempat khusus. betul juga mas arif, kualitas karya sastra tidak ditentukan oleh media publikasi yang digunakan. karyalah yang berbicara, bukan medianya. :oke

  2. Saya s7 dgn bpak. Memang kebanyakan sastrawan kita mulai terangkat namanya lewat sastra koran. Ada beberapa sastrawan kondang yg saya kenal,mengatakan karir sastranya terangkat melalui koran. Di samping nantinya dbaca orang banyak, sastra koran akan lebih bersahabat dgn masyarakat krn koran stiap hari dikonsumsi masyarakat. Tapi saya agak kecewa dgn beberapa media massa (koran) yg skrg mghilangkan rubrik sastra. Mungkin pilihan lain ya melalui blog ini. Betul tdk Master? 😆

    Farhans last blog post..Love at the First Sight

    yap, bener sekali farhan. dominasi koran dalam melambungkan nama sastrawan agaknya masih belum tergantikan. disayangkan juga ya kalau ternyata banyak koran yang menggusur rubrik sastra. Nah, Farhan bisa menggunakan blog sbg media dan sarana utk terus mengembangkan kreativitas dalam menulis. :oke

  3. kalo sastra media cetak kurang ‘ramah’, ya mungkin sastra internet ya Pak ?

    sebenarnya ndak ada sastra yang tidak “ramah” kok, mas dadan. media apa pun bisa digunakan untuk memubilkasikan, termasuk blog tentunya. 💡

  4. pAK sAWALI yaNG bAIK,
    saya sebenarnya ingin sekali menulis cerpen di media cetak seperti kolran, namun saya dibatasi oleh ketidak tahuan cara memulainya .
    saya yakin bapak bisa membantu

    ILYAS AFSOHs last blog post..BLOGER JUGA MARKETER

    wew… saya juga masih belajar mas ilyas. kalau ingin nulis cerpen, hehehehe 😆 ya tulis saja, lalu kirimkan. masalah perbaikan kualitas tulisan kan bisa dilakukan sambil jalan. *hiks sok tahu*

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Sastra

Membalas Cerita Ombak

MEMBALAS CERITA OMBAK Ali Syamsudin Arsi Kata-kata ombak: ( 1 ) “Ya
Go to Top