Home | Bahasa, Budaya, Cerpen, Opini, Sastra | Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)

Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)

Saturday, 24 May 2008 (01:25) | 511 pembaca | 40 komentar | Print this Article

Oleh: Kurnia Effendi

Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca cerpen-cerpen panjang (yang seolah melawan kaidah istilahnya sendiri) karya Budi Darma.

Empat syarat (bisa kurang dan lebih) yang kemudian saya pegang itu adalah sebagai berikut:

  1. Kemampuan berbahasa: syarat utama penulis, agar cukup komunikatif, syukur-syukur mengandung estetika
  2. Logika fiksi: sekalipun fantastik ada “hukum” yang menjaga “kebenaran” kisah
  3. Gaya (meliputi teknik penceritaan, struktur, plot, majas, sudut pandang, karakter atau penokohan, dialog, deskripsi, konflik, dll)  bagaimana mengolah gagasan
  4. Orisinalitas: dewasa ini sangat sulit mencapainya, karena setiap pengarang terdahulu akan memberikan pengaruh kepada kita.

Dengan ketentuan itu saya terus berlatih. Sebagai orang yang hobi menulis, saya kadang-kadang juga gagal menulis cerpen. Jadi kepada siapa pun yang belum berhasil menulis cerpen, tak usah merasa cemas. Kesulitan itu menjadi hak para pengarang, sebaliknya, kemudahan adalah sebuah kewajiban yang harus dipenuhi calon penulis besar. Dengan, tentu saja, tak pernah putus asa dan mencintai pekerjaan menulis sebagai kebutuhan ruhani kita.

Mudah-mudahan buku Sawali ini adalah hasil kelahirannya yang pertama untuk menjangkau publik secara lebih luas, setelah sebelumnya hanya melalui suratkabar. Untuk kesempatan yang pertama, tidak tabu bila banyak hal yang kelak harus diperbaiki. Pengalaman pertama dalam peristiwa apapun senantiasa mendebarkan. Saya sendiri tak pernah malu mengatakan bahwa buku pertama saya, kumpulan puisi, mengandung banyak kesalahan, bukan hanya dari human error pengetikan, tetapi secara substansial. Tetapi, itulah jejak kita. Tak harus disesali kecuali dengan belajar lagi dan berkarya lebih baik.

Dari sisi tema dan segmentasi, saya pun sering tak sadar merasa bangga pernah menjadi penulis cerita remaja (Anita Cemerlang, Gadis, Hai, dll). Padahal Ahmad Shubanuddin Alwi, penyair Cirebon getol menggoda saya soal itu. Melihat sejarah yang ditempuh Sawali, saya jadi iri. Karena pada pengalaman perdananya justru langsung bertemu dengan publik dewasa yang lebih universal.

Secara terus terang, untuk memasuki realitas kehidupan, rentang pandangannya harus luas sekaligus terlibat. Saya kira Sawali lahir dan hidup di tengah-tengah peristiwa yang ditulisnya. Ketika Sawali mengatakan cerpen-cerpennya menyoroti kehidupan “wong cilik”, ini merupakan nilai yang membumi, lekat dengan keseharian orang banyak, dan hal-hal yang seharusnya menjadi karakter populasi terbanyak di negeri kita.

Untuk sampai pada cerpen yang mengandung suara orang kecil, mengangkat tradisi lokal, kritik sosial, sekaligus unsur magis yang tampaknya digunakan sebagai metafora peristiwa, dibutuhkan wawasan yang cukup memadai. Saya kira Sawali cukup jeli dalam pengamatan, sementara orang lain mungkin perlu melakukan riset.

Pendapat Maman Mahayana, bahwa materi cerita yang berpijak pada kultur keindonesiaan (bahkan dalam wilayah regional) lebih berharga ketimbang kisahan yang mengedepankan busa puitika yang mungkin kosong dari hikmah manfaat, selain perayaan terhadap sesuatu yang antah-berantah; saya setuju. Namun akan lebih setuju apabila ada paduan harmoni antara isi yang sarat muatan kritik sosial dan tradisi lokal dengan kemasan bahasa yang turut memperkaya benak pembaca. Karena bagi penulis Asia dan Timur Tengah pada umumnya, sisi eksotika tidak hanya diciptakan dari materi melainkan juga dari ekspresi dan cara ungkapnya. Misalnya Kawabata, Rabindranath Tagore, Yukio Mishima, Kahlil Gibran (untuk menyebut beberapa nama).

Dengan tuntunan syarat menulis cerpen itulah, kemudian saya sering mengamati karya orang lain dari sudut pandang subyektif. Pertama kali saya akan mencari kenikmatan membaca sejak paragraf pertama. Berbekal nasihat Seno Gumira untuk memosisikan diri lebih rendah dari bahan yang kita baca, tak akan muncul sikap apriori. Setelah usai satu cerpen, merenung untuk menangkap maksud pengarangnya, siasat apa yang digunakannya sehingga, misalnya, perhatian saya terbetot atau sebaliknya selalu kalis dan luput.

Sebenarnya ihwal dari kemampuan berbahasa adalah nilai komunikasinya. Ada seorang penulis dengan intelektual tinggi, materi yang cukup bernas untuk disampaikan, kerap tersandung pada urusan komunikasi. Sehingga perlu diulang-ulang dengan mencoba berbagai intonasi dan pemenggalan diksi untuk memperoleh informasi yang benar. Sawali telah terbebas dari urusan kerumitan, tetapi saya belum mengalami kenikmatan dalam membaca.

Saya sering curiga, jangan-jangan saya yang terlalu kenes sehingga mengharapkan ada kosakata baru atau majas yang belum pernah digunakan pengarang lain dalam cerpen-cerpen Sawali. Justru yang tampak adalah pengulangan metafora. Tentu saja perhatian saya sudah beralih pada gaya: ketika plot dimainkan, ketika karakter tokoh meyakinkan, ketika dialog diciptakan, ketika teknik dikembangkan.

Mungkin saya belum menemukan hal-hal baru. Boleh jadi secara stereotip, perilaku dan emosi manusia yang marginal (dari sisi ekonomi) pada tokoh-tokoh cerpen Sawali itu serupa dan senada karena tindihan persoalan hidup yang sama. Namun akan lebih kokoh sebuah cerita bila masing-masing tokoh punya karakter yang tidak digeneralisasi.

Secara highlight saya membaca dialog (yang diharapkan menyusun ketegangan) pada beberapa cerpen, terasa tidak efektif karena boleh dilewatkan. Padahal seharusnya dialog dan deskripsi akan saling membangun struktur cerita, saling mengisi. Paling tidak, cerpen dengan halaman yang terbatas harus semaksimal mungkin dipenuhi informasi tanpa harus cerewet. Di sini kita akan belajar mengenai ruang imajiner yang segera diisi oleh fantasi pembaca dengan gambaran peristiwa, bayangan dramatikal, dan ungkapan-ungkapan gemas, padahal tak tertulis (atau belum). Dengan keterlibatan total sang pembaca pada sebuah keberlangsungan cerita pendek, pengarang menjadi lebih ringan tugasnya dalam menarik-narik pembaca untuk konsentrasi.

Sawali telah memiliki modal besar dari sisi kekuatan bahan cerita. Akar ini telah tertanam benar pada ranah budaya (lokal), sebelum menjadi buah sastra (cerpen) sebaiknya lewatilah pohon bahasa. Artinya, kita harus sadar, bahwa tulisan yang diubahkemasan menjadi buku akan berselancar lebih lebar ke wilayah non-Jawa. Kesederhanaan di satu sisi akan menjadi primadona, namun penjelajahan pada pengertian-pengertian yang lebih kompleks boleh diperhatikan.

Hal lain yang perlu diketengahkan dalam cerita pendek adalah konflik. Sejauh ini, konflik kerap ditunjukkan dalam bentuk pertengkaran dan perilaku fisikal. Padahal konflik batin, ambiguitas, paradoks antara norma dan praktiknya, juga menjadi bagian yang penting, terutama dalam khazanah sastra. Mengapa film House of The Spirit atau Legend of The Fall selalu berkesan mendalam dan ingin di waktu-waktu berikutnya ditonton kembali? Itu, menurut pendapat saya, karena berbeda dengan film action Hongkong. Barangkali dengan mempertimbangkan kenyataan itu, film action berjudul Hero dan Crouching Tiger Hidden Dragon dikemas lebih puitis.

Dalam karya-karya (yang bakal menjadi klasik) itu ada endapan konflik yang kadang-kadang jadi multitafsir. Jika cerpen-cerpen Sawali tampak terlalu lugas, mungkin itu cara yang ditempuhnya dengan niat tulus. Artinya, tak ada paksaan untuk membuatnya sedikit misterius. Namun demikian di beberapa cerpen, tampak kekuatan surealisme, dan unsur ini menurut saya menarik dikembangkan dalam kesempatan berikutnya.

Sebagai fragmen, cerpen-cerpen Sawali telah tampil sesuai fungsinya. Merupakan potret yang kita lihat dalam bingkai awal dan akhir. Selanjutnya tinggal memperkuat latar belakang dan penokohan, sehingga dengan memejamkan mata kita dapat membayangkan masing-masing pemeran untuk tidak tertukar atau kehilangan ciri khas.

Selamat untuk Sawali Tuhusetya yang mulai hari ini akan berhadapan dengan pembaca yang lebih banyak dan sewaktu-waktu mengusik dengan sejumlah pertanyaan. Termasuk dalam forum diskusi ini.

Jakarta, 16 Mei 2008
PDS HB Jassin

oOo

*) Disajikan dalam acara Diskusi dan Peluncuran Kumpulan Cerpen Perempuan Bergaun Putih di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16 Mei 2008. Kurnia Effendi, seorang cerpenis dan novelis, tinggal di Jakarta.

Kategori: Bahasa, Budaya, Cerpen, Opini, Sastra | Tags: , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgSuicide: Potret Manusia Global yang Sarat Konflik (Saturday, 12 December 2009, 424 pembaca, 139 respon) Sepekan belakangan ini, aktivitas ngeblog saya (nyaris) tersendat. Setelah melakukan monitoring implementasi KTSP SMP berstandar nasional (SSN) di kota Tegal, Selasa (8/12/2009), Rabu-Jumat (9-11/12/2009), saya mesti mendampingi anak-anak SMP Terbuka...
imgGerakan Apolitis Kaum Muda Negeri Kelelawar (Friday, 30 October 2009, 330 pembaca, 142 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-11 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgKIB II dan Pupusnya Kekuatan Oposisi (Friday, 23 October 2009, 429 pembaca, 157 respon) Didampingi Wapres, Budiono, Presiden SBY telah melantik dan mengambil sumpah para menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) di istana negara pada hari Kamis, 22 Oktober 2009. Berikut ini daftar menteri dan pejabat negara dalam kabinet baru yang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 24 May 2008 (01:25)) pada kategori Bahasa, Budaya, Cerpen, Opini, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

40 Responses to "Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)"

  1. bahak says:
    Menggunakan Firefox 3.5.11 Firefox 3.5.11 pada Windows 7 Windows 7

    memang menulis itu banyak hal yang perlu di perhatikan, kalau dalam bahasa jawanya, paham lan mahamke. alias dia paham dan mampu memahamkan apa yang di pahami, dan saya kira semuanya bertolak dari situ pak, lam kenal pak, saya bahak.
    Baca juga tulisan terbaru bahak berjudul Alrai TV شاهد بث حي مباشر تلفزيون قناة الراي الكويتيةMy ComLuv Profile

  2. chodirin says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.14 Firefox 2.0.0.14 pada Windows Server 2003 Windows Server 2003

    mungkin ada ayg kurang dari tanggapan pak kurnia effendi nih. bukan hanya cerpennya yg komunikatif, blognya juga komunikatif. salut euy…

    chodirins last blog post..Cara saya mencurangi Entrecard

    kok njujugnya sampai blog, wakakakaka :grin: mas Keff murni menganalisisnya dari sudut pandang penciptaan cerpen kok mas chadirin :oke

  3. nindityo says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.14 Firefox 2.0.0.14 pada Windows XP Windows XP

    senengnya dapet kritikan dari kritikus satra seperti mas kurnia effendi, tentu berguna banget untuk ke depan ya pak.
    cuma saya pribadi lebih suka pendapat pak maman, bahwa terserah pembaca mo suka yang mana. tidak bisa penulis hanya menyenangkan kritikus ato satu segmen pembaca saja.
    menurut saya sih, kalo pas saya suka ya suka aja. entah sapa yang nulis.
    maju terus pak.. gratis terus eh ditunggu peluncuran berikutnya. :roll:

    nindityos last blog post..nDeso banget seh ..

    setiap kritikus memang punya style yang berbeda, mas nin. kalau mas keff memang sebenarnya bukan kritikus. dia lebih banyak menulis cerpen dan novel. apa yang disampaikan mas keff itu menggunakan sudt pandang dia sebagai penulis, bukan sebagai kritikus. :idea:

  4. ningrum says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Weeh bang, akhirnya dapat juga pengganti AH, selamat ya bang. Dah sampai tempatku belum ya distribusi cerpennya? *ketinggalan info, lama gak ngeblog :-( *

    hehehehe :lol: makasih mbak puan. masih ingat juga sama andrea hirata yang nggak mau bikin endors utk kumcer saya itu, hehehehe :grin:

  5. Menggunakan Internet Explorer 7.0 Internet Explorer 7.0 pada Windows XP Windows XP

    wah baak memang seorang penulis yang hebat ya

    ternyata ada kumpulan cerpennya :roll:

    achoey sang khilafs last blog post..Sahabat Sejati

    hehehehehe :lol: begitulah mas achoey. :idea:

  6. Hery Azwan says:
    Menggunakan Firefox 1.5.0.7 Firefox 1.5.0.7 pada Mandriva 2007.0 Mandriva 2007.0

    Saya belum sempat ke toko buku, jadi belum “nemu” buku Bapak. Nanti saya pasti beli. Kalau udah dibaca, baru bisa komentar. Kalau sekarang, belum bisa lah ya, masa belum bisa la dong. He he…

    hehehehe :lol: makasih banget mas azwan :idea:

  7. waterbomm says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.14 Firefox 2.0.0.14 pada Windows XP Windows XP

    hemm.. saya juga menyimak tuh komentarnya pak kurnia :D
    kalo buat saya, saya juga setuju sewaktu ada yang bilang (maap, kalo salah :idea: :idea: ) “ceritanya rada menggantung”

    saya setuju sama yang itu, soalnya kayanya klimaksnya ga dibikin (“sok tau mode on”), tapi saya sangat suka sama jalan ceritanya, jadinya sayang banget kalo ga sampe kelar :D
    maap, maap loh pak guru.. :idea: :idea:

    waterbomms last blog post..Asal Posting bukan Asal Kopies

    makasih, mas waterbomm. kalau kebetulan mas imam baca, mas imam boleh menafsirkan ending menurut versi mas imam, kok, hehehehe :roll:

  8. Zul ... says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Jika Kurnia Effenndi saja telah menunjukkan takzimnya kepada karya Pak Sawali, apalagi aku.

    Untuk teman-teman Banjarmasin dan sekitarnya yang ingin baca kbuku PBP karya Pak Sawali, bisa hubungi aku. Aku punya satu eksemplar, giliran aja bacanya! He he he

    Tabik!

    Zul …s last blog post..Seminar Nasional ‘Taufiq Ismail : 55 Tahun dalam Sastra Indonesia’ : Auditorium Perpustakaan Nasional Jakarta, 17 Mei 2008.

    waduh, biasa saja kok, pak zul. saya masih harus banyak belajar menulis cerpen pak zul. jujur saja, saya juga mengakui cerpen2 yang terkumpul dalam PBP itu masih banyak kekurangannya, pak. waduh, sayang kalau di banjarmasin cuma ada satu kumcer itu, ya, pak :roll:

  9. azaxs says:
    Menggunakan Opera 9.23 Opera 9.23 pada Windows XP Windows XP

    Wah.. luar biasa! pak sawali hebat.. saya kudu berguru ke jenengan pak… :idea: :idea:

    Btw pripun kalo saya mo beli bukunya?

    waduh, mas azaxs, jangan berlebihan, dong. jadi malu nih! btw, sampai sekarang bukunya belum terkirim juga. mudah2an sdh ada di toko buku, mas :roll:

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (116 queries: 1.106 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP