Top

Cukup Satu Malin Kundang Saja!

Tuesday, 27 May 2008 | 214 pembaca | 61 komentar
Kategori: Budaya, Opini, Refleksi

Baru saja kita menyaksikan sebuah adegan drama di atas panggung kehidupan sosial. Tragis dan ironis sekaligus. Tragis lantaran harus ada korban. Kaum muda kita, mahasiswa-mahasiswa yang gencar menyuarakan penolakan kenaikan BBM itu, ada yang harus tersungkur kena sasaran peluru aparat. Belum lagi terhitung yang luka-luka akibat bentrok terbuka. Ironis, lantaran bangsa ini telah kehilangan kearifan. Bangsa yang dulu pernah disanjung puji sebagai bangsa yang ramah dan santun telah berubah jadi bar-bar dan biadab terhadap sesamanya. Tapi sudahlah! Bangsa kita memang telah kebal terhadap luka dan derita. Luka-luka itu akan segera terlupakan. Ibu pertiwi pun tak sanggup lagi menitikkan air mata. Darah telah terkuras akibat luka yang terus menganga.... (Baca lanjutannya!)

Sastra Koran di Tengah Imaji Kekerasan

Monday, 26 May 2008 | 257 pembaca | 43 komentar
Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Sastra, Tradisi

Tradisi penulisan teks sastra lewat koran (sastra koran) sudah lama muncul. (Hampir) semua sastrawan kondang memanfaatkannya. Gerson Poyk, Abdul Hadi WM, Danarto, Seno Gumira Ajidarma, Gus Mus, Hamsad Rangkuti, atau Afrizal Malna –sekadar menyebut beberapa nama—adalah sederet tokoh yang dengan amat sadar ”menggauli” koran sebagai ”corong” kreativitasnya dalam berkesenian. Hampir mustahil seorang sastrawan bisa terangkat namanya secara otomatis tanpa harus bersentuhan dengan koran. Bahkan, bagi penerbit, sastra koran barangkali dijadikan sebagai ”barometer” untuk mengukur tingkat kapabilitas seorang sastrawan yang menginginkan karyanya diterbirkan sebagai buku. Itu artinya, koran, disadari atau tidak, memiliki andil besar dalam... (Baca lanjutannya!)