<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/rss2full.xsl" type="text/xsl" media="screen"?><?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css" type="text/css" media="screen"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0">

<channel>
	<title>Catatan Sawali Tuhusetya</title>
	
	<link>http://sawali.info</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 14:49:18 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>ind</language>
			<image><link>http://sawali.info</link><url>http://www.feedburner.com/fb/images/pub/fb_pwrd.gif</url><title>Catatan Sawali Tuhusetya</title></image><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/CatatanSawaliTuhusetya" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">1504048</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://www.feedburner.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Sebuah Kado Menjelang Hari Guru</title>
		<link>http://sawali.info/2008/11/17/sebuah-kado-menjelang-hari-guru/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/11/17/sebuah-kado-menjelang-hari-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 10:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[mengajar]]></category>

		<category><![CDATA[sertifikasi guru]]></category>

		<category><![CDATA[sertifikat pendidik]]></category>

		<category><![CDATA[tunjangan profesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1461</guid>
		<description><![CDATA[Sudah mengantongi sertifikat pendidik, tetapi belum menikmati tunjangan profesi? Pertanyaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Dari sekian puluh guru peserta uji sertifikasi susulan tahun 2007, bisa jadi sayalah satu-satunya guru bersertifikat pendidik yang belum menerima tunjangan 1 x gaji pokok itu. Kok tidak mengejutkan? Ya, karena berdasarkan infomasi yang saya terima, ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah mengantongi sertifikat pendidik, tetapi belum menikmati tunjangan profesi? Pertanyaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Dari sekian puluh guru peserta uji sertifikasi susulan tahun 2007, bisa jadi sayalah satu-satunya guru bersertifikat pendidik yang belum menerima tunjangan 1 x gaji pokok itu. Kok tidak mengejutkan? Ya, karena berdasarkan infomasi yang saya terima, ada juga beberapa rekan sejawat dari angkatan lain yang bernasib sama. Maklum saja, pemerintah mesti mengurusi sekian ribu berkas sehingga kemungkinan “human error” itu pasti ada.</p>
<p>Saya baru terkejut setelah mendengar informasi dari seorang teman yang bekerja di Bidang PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Dinas P dan K, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, melalui Ka TU sekolah, bahwa ada surat yang masuk ke Jakarta mengenai “reputasi” saya sebagai seorang guru. Dalam surat itu disebutkan bahwa saya sering tidak melaksanakan tugas mengajar.</p>
<p>Karena terkejut, Senin, 17 November 2008, saya segera ke Dinas P dan K untuk meminta informasi lebih lanjut. Ternyata informasi yang saya terima dari Ka TU sekolah itu benar adanya. Teman pegawai Dinas P dan K yang saat itu ke Jakarta, menjelaskan bahwa nama saya telah dicoret sebagai penerima tunjangan profesi karena dianggap tidak layak. Kok bisa, haks!</p>
<p>Secara panjang lebar, teman tadi menginformasikan bahwa memang ada surat yang isinya berupa laporan kalau saya sering tidak melaksanakan tugas mengajar. Waktu yang ada lebih banyak digunakan untuk mengisi kegiatan di luar sekolah. Itu pun tidak sesuai dengan latar belakang keilmuan yang saya miliki sebagai guru bahasa Indonesia.</p>
<p>Hemm …. Jarang melaksanakan tugas? Aduh, seumur-umur baru kali ini ada informasi semacam itu masuk ke telinga saya. Harus saya akui, memang saya pernah melaksanakan tugas di luar aktivitas sekolah, entah itu mengisi acara seminar, sarasehan, pelatihan, atau melaksanakan tugas-tugas saya sebagai Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs se-Kabupaten Kendal. Namun, saya masih memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap kompetensi siswa didik saya. Kalau toh harus meninggalkan tugas, saya masih menyempatkan diri untuk meninggalkan beberapa tugas kepada siswa sehingga mereka tetap bisa belajar mandiri sesuai dengan tugas dan petunjuk yang saya berikan.</p>
<p><img title="workshop ptk" src="http://sawali64.googlepages.com/workshop.jpg" alt="workshop" width="555" height="284" /><img title="workshop ptk2" src="http://sawali64.googlepages.com/workshop2.jpg" alt="wptk2" width="555" height="412" /><img title="sertifikasi" src="http://sawali64.googlepages.com/workshop3.jpg" alt="sertifikasi guru" width="555" height="303" /></p>
<p>Tugas luar itu juga bukan kehendak saya. Saya tidak pernah meminta. Semua tugas telah memiliki prosedur dan cara-cara profesional yang telah dianut oleh Dinas P dan K atau LPMP. Saya tidak akan pernah meninggalkan sekolah kalau tidak ada dasar penugasan dari instansi mana pun.</p>
<p>Tidak sesuai dengan disiplin keilmuan saya? Hemmm … seingat saya, memang pernah diminta mengisi pelatihan pembuatan blog untuk rekan-rekan sejawat di LPMP Jawa Tengah. Kalau memang itu yang dipersoalkan, tidak bolehkah guru Bahasa Indonesia seperti saya mengerti thethek-bengek dan dinamika dunia IT, termasuk blog? “Haram”-kah guru Bahasa Indonesia meng-upgrade diri dan mengembangkan wawasan IT demi kepentingan pembelajaran? Haruskah guru melulu menjadi “guru kurikulum”, yang semata-mata membatasi ruang kerjanya sebatas empat dinding ruang kelas? Tidak bolehkah guru menjadi “guru inspiratif” *maaf, bukan berarti saya termasuk guru inspiratif loh* yang mengilhami siswa didiknya terhadap dinamika dunia ilmu pengetahuan yang terus berubah dan berkembang sesuai dengan konteks zamannya?</p>
<p>Hemmm …. Saya jadi tidak mengerti apa maksud dan motif yang tersembunyi di balik tempurung kepala si pelapor. Dia paham benar tentang empat kompetensi guru: pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang diamanatkan oleh PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) atau tidak? Apakah guru yang hanya berkutat dengan tugas-tugas rutin di sekolah bisa menjadi jaminan bahwa mereka akan mampu mengantarkan siswa didik menuju peradaban yang cerah dan mencerdaskan?</p>
<p>Hemmm … Atau, jangan-jangan si pelapor hanya iseng? Kalau hanya sekadar iseng, mengapa mesti menempuh langkah yang tidak sehat dan ksatria, bahkan cenderung menjurus ke arah “pembunuhan karakter”? Atau, saya punya “musuh”? Aduh, sulit bagi saya untuk menjawabnya. Seumur-umur jadi guru, agaknya belum pernah saya menciptakan benih-benih konflik dan permusuhan. Kalau toh ada, biasanya saya mempunyai budaya “tabayun” *halah* dengan duduk satu meja untuk mencari solusinya. Kalau mengkritik memang saya akui, ya, dan itu bisa kena siapa saja yang tindakan-tindakannya saya anggap menyimpang.</p>
<p>Terlepas apa pun motifnya dan siapa si pelapor itu, saya bersyukur, teman saya yang bekerja di Dinas P dan K Kabupaten Kendal, telah melakukan klarifikasi dan “advokasi” terhadap kinerja saya selama ini sebagai guru. Terima kasih, teman. Bisa jadi “karakter” saya benar-benar akan terbunuh seandainya Sampeyan tidak melakukan langkah cerdas semacam itu. Semoga peristiwa semacam ini juga menjadi masukan bagi pihak Ditjen PMPTK agar tidak mudah percaya pada surat-surat laporan yang isinya bernada “pembunuhan karakter” sebelum melakukan klarifikasi lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait.</p>
<p>Peristiwa semacam ini juga saya maknai sebagai “kado” menjelang Hari Guru Nasional. Semoga si pelapor segera kembali “ke jalan yang benar”, kemudian sadar bahwa cara-cara licik, culas, tidak ksatria, dan sangat tidak cerdas semacam itu bisa membawa imbas yang kurang menguntungkan. Toh, serapat apa pun kebusukan dibungkus, suatu ketika pasti akan terbongkar juga. ***<br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Sunday, 16 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/16/refleksi-menjelang-hari-guru-2008/" title="Refleksi Menjelang Hari Guru 2008">Refleksi Menjelang Hari Guru 2008 (84)</a></li>
<li>Sunday, 13 January 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/01/13/kembali-ke-sekolah/" title="Kembali Ke Sekolah">Kembali Ke Sekolah (39)</a></li>
<li>Monday, 17 December 2007 &#8212; <a href="http://sawali.info/2007/12/17/guru-yang-dibenci-sekaligus-dirindukan/" title="Guru yang Dibenci Sekaligus Dirindukan">Guru yang Dibenci Sekaligus Dirindukan (14)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/11/17/sebuah-kado-menjelang-hari-guru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi Menjelang Hari Guru 2008</title>
		<link>http://sawali.info/2008/11/16/refleksi-menjelang-hari-guru-2008/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/11/16/refleksi-menjelang-hari-guru-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 17:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[hari guru nasional]]></category>

		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan nasional]]></category>

		<category><![CDATA[tunjangan profesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1458</guid>
		<description><![CDATA[Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam. Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kedaluwarsa. Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk
&#8230;..
Bolehkah kami bertanya, apakah artinya bertugas mulia, ketika kami hanya terpinggirkan, tanpa ditanya, tanpa disapa.
Di sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah, terbaca torehan darah kering.
Di sini berbaring seorang guru, semampu membaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam. Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kedaluwarsa. Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk</p>
<p>&#8230;..</p>
<p>Bolehkah kami bertanya, apakah artinya bertugas mulia, ketika kami hanya terpinggirkan, tanpa ditanya, tanpa disapa.</p>
<p>Di sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah, terbaca torehan darah kering.<br />
Di sini berbaring seorang guru, semampu membaca buku usang, sambil belajar menahan lapar, hidup sebulan dengan gaji sehari.<br />
Itulah nisan seorang guru tua yang terlupakan oleh sejarah.<br />
<strong> (Winarno Surahmat dalam apel HUT Ke-60 PGRI di Solo, Jawa Tengah)</strong></p></blockquote>
<p>Masih ingat penggalan lirik yang diucapkan dengan nada pilu oleh Winarno Surahmat tahun 2005 yang silam? Ya, ya, ya! Agaknya, lirik itulah yang membuat Wapres, Jusuf Kalla, tersentak.</p>
<blockquote><p>Saya yakin sekolah kita tidak seperti kandang ayam. Saya yakin banyak sekolah yang jauh lebih baik daripada itu. Gaji Anda memang belum cukup, tapi saya yakin bahwa gaji Anda tidak hanya cukup untuk hidup satu hari. Janganlah kita semua mengejek-ejek bangsa ini,&#8221; timpal Jusuf Kalla dengan mimik dan nada agak emosional, sebagaimana diberitakan <a title="sm" href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/28/nas01.htm" target="_blank">di sini</a>.</p></blockquote>
<p><img class="alignleft" title="tutwuri" src="http://sawali64.googlepages.com/tutwuridepdiknas.jpg" alt="logo" width="200" />Sekadar refleksi menjelang Hari Guru Nasional, 25 November 2008, ada baiknya kita buka kembali arsip peristiwa yang berada di dalam rak dunia pendidikan kita, terutama berkaitan dengan keberadaan guru yang diyakini banyak kalangan senantiasa berada di garda depan dalam pengembangan kualitas peradaban bangsa.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia, secara jujur harus diakui, menjadi guru bukanlah prioritas utama sebagai profesi hidup. Kalau dilakukan sebuah survey, bisa jadi profesi guru akan menempati urutan yang ke sekian. Kalau memang benar, hal itu tidak berlebihan, sebab apresiasi publik terhadap profesi guru belum sehebat dengan profesi lain yang lebih menjanjikan harapan hidup. Yang lebih ironis, sebagian mahasiswa yang masuk ke fakultas keguruan ditengarai lantaran “tersesat” setelah tak diterima di fakultas-fakultas favorit. Bahkan, konon, sebagian pelamar CPNS guru memiliki kualifikasi ijazah non-keguruan. Hanya lantaran memiliki akta IV di bidang keguruan, akhirnya mereka dinilai memenuhi syarat. Saya tidak tahu pasti, benar atau tidak tengara semacam itu, karena saya sendiri sejak kecil memang sudah bercita-cita menjadi guru, berkat sugesti yang begitu kuat dari guru-guru SD saya di sebuah kampung yang sunyi.</p>
<p><a title="hari guru 2005" href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/28/nas01.htm" target="_blank"><img class="alignleft" title="hari guru" src="http://sawali64.googlepages.com/hariguru.jpg" alt="2005" width="300" height="219" /></a>Meski demikian, saya tetap menaruh rasa hormat dan salut kepada rekan-rekan sejawat, terlepas apa pun latar belakang keilmuan mereka. Yang pasti, mereka telah siap mengemban amanat untuk bisa melepaskan anak-anak masa depan negeri ini dari kubangan keterbelakangan dan kebodohan. Di tengah minimnya apresiasi publik terhadap profesi guru, mereka tetap dituntut untuk tampil di depan memberikan teladan, di tengah membangkitkan prakarsa dan kehendak, dan di belakang mampu memberikan dorongan dan motivasi yang inspiratif sebagaimana tersirat dalam motto: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani”, yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara.</p>
<p>Memang bukan tugas yang ringan dan mudah untuk menekuni profesi sebagai guru. Selain mumpuni dalam menjalankan tugas-tugas institusi, mereka juga diharapkan mampu memiliki kepribadian terpuji sekaligus mampu bergaul secara sosial di tengah-tengah komunitas masyarakatnya. Mengingat demikian pentingnya keberadaan guru dalam membangun sebuah peradaban bangsa, sangat beralasan jika Kaisar Jepang pernah bertanya: ”Masih berapa guru yang tersisa di negeri ini?” pasca-peristiwa bom atom tahun 1945. Sang Kaisar justru tidak bertanya, berapa tentara yang tersisa. Agaknya, dia sangat mencemaskan kelanjutan masa depan Jepang seandainya negeri Matahari terbit yang sedang menghadapi masa-masa sulit semacam itu kehilangan figur seorang guru. Dengan kata lain, untuk mengumpulkan puing-puing peradaban Jepang yang hancur, guru dirangkul dan diposisikan secara terhormat dan bermartabat. Tak heran jika dalam perkembangannya kemudian, negeri Dai Nippon itu mampu menjadi salah satu “Macan Asia”, bahkan dunia.</p>
<p>Bagaimana dengan posisi guru di negeri kita? Dari sisi kesejahteraan, kehidupan guru memang sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Apalagi, janji dan pasal dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 (UU Guru dan Dosen) tentang tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok sudah terealisasi, kecuali guru yang bernasib kurang beruntung, termasuk saya; dapat sertifikat, tetapi tunjangan tidak cair-cair juga.</p>
<p>Meski demikian, apresiasi terhadap profesi guru tak hanya sebatas tunjangan finansial. Mereka juga membutuhkan rasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugas-tugas profesinya. Sungguh menyedihkan ketika banyak kejadian kekerasan yang masih saja menimpa para guru. Tak jarang, mereka harus menerima ancaman kekerasan dari siswa atau pihak orang tua murid, ketika sedang menjalankan tugas. “Pembidaban” semacam ini, apa pun motifnya, jelas keliru dan tak bisa ditolerir. Taruhlah guru bersalah dalam mengambil keputusan, karena mereka juga manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Namun, sungguh tidak adil kalau guru lantas harus diperlakukan kurang manusiawi melalui tindakan-tindakan konyol dan kurang beradab. Ini tidak lantas berarti, guru mesti dibiarkan berbuat semaunya, karena sudah ada kode etik yang mengikat mereka dalam menjalankan tugas-tugas profesionalismenya. Dalam konteks ini, sungguh relevan lirik pilu Winarno Surahmat: “Apakah artinya bertugas mulia, ketika kami hanya terpinggirkan, tanpa ditanya, tanpa disapa.”</p>
<p>Yang tidak kalah menyedihkan, masih saja ada upaya sistematis untuk membungkam suara kritis para guru. Mereka tak segan-segan kena semprit kalau ikut-ikutan melakukan kontrol terhadap berbagai bentuk penyimpangan yang terjadi, seperti menyuarakan kecurangan ujian nasional, memperjuangkan nasib rekan sejawat yang teraniaya, atau memobilisasi guru untuk kepentingan-kepentingan politis.</p>
<p>Pada sisi lain, para guru juga mesti melakukan refleksi dan otokritik. Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan, para guru juga harus berusaha meningkatkan kompetensi diri. Empat kompetensi guru, yakni kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial, sudah seharusnya tak hanya sekadar hafalan dan retorika belaka, tetapi benar-benar menyatu secara afektif dan mewujud dalam aksi nyata. Sungguh ironis jika rekan-rekan sejawat gencar berdemo menuntut kesejahteraan, tetapi justru mlempem setelah tuntutan mereka terpenuhi.</p>
<p>Nah, selamat melakukan refleksi rekan-rekan sejawat! ***<br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Monday, 17 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/17/sebuah-kado-menjelang-hari-guru/" title="Sebuah Kado Menjelang Hari Guru">Sebuah Kado Menjelang Hari Guru (131)</a></li>
<li>Wednesday, 12 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/12/situasi-chaos-di-negeri-kelelawar/" title="Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3)">Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3) (113)</a></li>
<li>Wednesday, 5 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/05/pemulung-dan-nilai-kepahlawanan-sejati/" title="Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati ">Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati  (200)</a></li>
<li>Monday, 3 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/03/temu-forum-komunikasi-fasilisator-pug-bidang-pendidikan/" title="Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan">Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan (78)</a></li>
<li>Sunday, 26 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/26/ontran-ontran-di-negeri-kelelawar/" title="Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2)">Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2) (125)</a></li>
<li>Monday, 20 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/20/pesona-uang-dan-kekuasaan/" title="Pesona Uang dan Kekuasaan">Pesona Uang dan Kekuasaan (172)</a></li>
<li>Thursday, 16 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/16/menagih-janji-politisi-di-negeri/" title="Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)">Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1) (161)</a></li>
<li>Tuesday, 14 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/14/menafsirkan-kembali-makna-pemuda/" title="Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan">Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan (119)</a></li>
<li>Friday, 26 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/26/refleksi-menjelang-lebaran/" title="Refleksi Menjelang Lebaran">Refleksi Menjelang Lebaran (99)</a></li>
<li>Saturday, 13 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/13/tayangan-tv-yang-bias-gender/" title="Tayangan TV yang Bias Gender">Tayangan TV yang Bias Gender (47)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/11/16/refleksi-menjelang-hari-guru-2008/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3)</title>
		<link>http://sawali.info/2008/11/12/situasi-chaos-di-negeri-kelelawar/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/11/12/situasi-chaos-di-negeri-kelelawar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 22:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>

		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>

		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<category><![CDATA[perubahan]]></category>

		<category><![CDATA[reformasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1447</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini merupakan lanjutan Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1) dan Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2). Silakan baca dulu!
Penculikan para aktivis telah memicu semangat kaum muda untuk menyuarakan suara-suara pemberontakan yang selama ini terbungkam. Semakin banyak aktivis yang digebug, semakin menambah daftar kaum muda yang berempati. Pintu-pintu kampus yang kokoh pun jebol. Para mahasiswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini merupakan lanjutan <a title="View this post, &quot;Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)&quot;" href="../2008/10/16/menagih-janji-politisi-di-negeri/">Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)</a> dan <a title="View this post, &quot;Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2)&quot;" href="../2008/10/26/ontran-ontran-di-negeri-kelelawar/">Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2)</a>. Silakan baca dulu!</p>
<p>Penculikan para aktivis telah memicu semangat kaum muda untuk menyuarakan suara-suara pemberontakan yang selama ini terbungkam. Semakin banyak aktivis yang digebug, semakin menambah daftar kaum muda yang berempati. Pintu-pintu kampus yang kokoh pun jebol. Para mahasiswa yang selama ini ditabukan terjun ke ranah politik praktis berduyun-duyun keluar kandang. Mereka lebur bersama para aktivis di luar tembok kampus untuk melakukan sebuah perubahan. Maka, gegap-gempitalah negeri Kelelawar. Jalan-jalan protokol di pusat kota selalu padat para pendemo. Saking padatnya, tak jelas lagi dibedakan, mana pendemo yang murni ingin melakukan perubahan dan mana pendemo yang ingin memancing di air keruh.</p>
<p><a title="kelelawar1" href="http://images.google.co.id/images?q=negeri%20kelelawar&amp;ie=UTF-8&amp;oe=utf-8&amp;rls=FlockInc.:en-US:official&amp;client=firefox&amp;um=1&amp;sa=N&amp;tab=wi" target="_blank"><img class="alignleft" title="kelelawar" src="http://sawali64.googlepages.com/kelelawar.jpg" alt="kel" width="376" height="304" /></a>Syahdan, rombongan kelelawar dari berbagai penjuru menumpuk di satu titik. Suaranya menggema hingga mampu menggetarkan pintu langit. Cericit kelelawar dengan warna tenor, bariton, dan bass, menyatu ke dalam sebuah orkestra yang menyayat pedih. Mereka berbondong-bondong menuju ke gedung wakil rakyat kelelawar yang bersebelahan dengan istana Ki Gedhe Padharane yang megah. Seperti dikomando oleh bisikan-bisikan gaib, mereka sontak menyerbu gedung wakil rakyat. Ada yang merobek kain gordyn, mencongkel jendela dengan gigi-giginya yang tajam, mengencingi pintu masuk, meludah di sembarang tempat, ada juga yang memekik-mekik dan memaki-maki. Sebagian rombongan meluncur menuju ke atap gedung wakil rakyat dengan tatapan wajah penuh amarah.</p>
<p>Di depan gedung wakil rakyat, ribuan kelelawar bergantian menyampaikan orasi. Berpidato berapi-api hingga mulut mereka berbusa.</p>
<p>“Sudah lebih dari tiga dekade, kita dipimpin oleh seorang tokoh korup kelas wahid. Namun, rupanya wakil-wakil rakyat kita yang terhormat tidak memiliki kepekaan dalam menangkap suara hati nurani rakyat. Mereka telah bersekongkol dan membangun sebuah kebulatan tekad untuk mengangkat dan memilih kembali Ki Gedhe Padharane sebagai pemimpin kita. Bagaimana, kawan-kawan? Haruskah kezaliman demi kezaliman terus kita biarkan hingga mewaris ke anak cucu?” teriak seekor kelelawar dengan mata merah saga melalui sebuah megaphone di sela-sela kerumunan pendemo yang sedang dilanda murka. Mereka tidak menyadari bahwa di berbagai sudut dan sisi gedung wakil rakyat yang (nyaris) tak terlihat oleh massa, telah siaga prajurit berpakaian preman yang cukup terlatih untuk memuntahkan timah panas. Hanya dengan sekali menarik pelatuk, mereka sanggup menghabisi nyawa para pendemo yang dianggap telah melakukan makar terhadap negara. Para pendemo tidak peduli, lebih tepatnya tidak tahu. Mereka terus meneriakkan yel-yel; melakukan perlawanan terhadap rezim Ki Gedhe Padharane yang dianggap telah menyengsarakan jutaan rakyat kelelawar.</p>
<p>“Kita lawan!” sahut seekor kelelawar berwajah pucat.</p>
<p>“Betuul! Rezim yang korup harus kita lawan!” sahut yang lain gegap gempita.</p>
<p>Dengan nada perih, seekor kelelawar melantunkan sebuah elegi yang menghanyutkan sekaligus menyedihkan.</p>
<blockquote><p>Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,<br />
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi<br />
berterang-terang curang susah dicari tandingan,<br />
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu<br />
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek<br />
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,<br />
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,<br />
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan<br />
peuyeum dipotong birokrasi<br />
lebih separuh masuk kantung jas safari,<br />
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,<br />
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,<br />
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,<br />
agar orangtua mereka bersenang hati,<br />
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum<br />
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas<br />
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,<br />
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan<br />
sandiwara yang opininya bersilang tak habis<br />
dan tak utus dilarang-larang,<br />
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata<br />
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,<br />
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,<br />
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,<br />
sekarang saja sementara mereka kalah,<br />
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka<br />
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,<br />
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia<br />
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,<br />
kabarnya dengan sepotong SK<br />
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,<br />
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,<br />
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,<br />
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,<br />
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,<br />
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat<br />
jadi pertunjukan teror penonton antarkota<br />
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita<br />
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan<br />
yang disetujui bersama &#8230;.<br />
(Dikutip dari puisi karya penyair Indonesia, Taufik Ismail: “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”)</p></blockquote>
<p>Suasana ibukota negeri kelelawar makin tak terkendali. Berjam-jam lamanya ribuan kelelawar mengepung dan menguasai istana wakil rakyat. Gedung megah yang biasa digunakan untuk menyusun rencana kongkalingkong dan persekongkolan itu jadi lumpuh dan tak berdaya. Para penghuninya sudah terbang entah ke mana. Mereka yang masih terjebak di dalam gedung tak memiliki keberanian untuk mengintip kejadian di luar sana, apalagi menampakkan muka.</p>
<p>Gerakan rakyat kelelawar dan para pendemo makin agresif. Dengan kuku dan taring yang tajam, mereka menggerogoti dinding-dinding gedung wakil rakyat. Sambil terus berteriak histeris, ribuan massa kelelawar yang menumpuk di atap gedung menghancurkan atap, lantas turun dengan tergesa-gesa. Dinding-dinding gedung jebol di sana-sini. Lantas, mereka beramai-ramai menyerbu ke dalam gedung sambil merusak benda-benda yang ditemukannya. Sebagian kelelawar mengacak-acak isi laci untuk mencari-cari dokumen kenegaraan.</p>
<p>Sementara itu, tumpukan massa kelelawar di luar gedung makin berjubel seperti baru saja diturunkan dari pintu langit. Mereka segera bergabung, lantas berbaur dengan suara dan teriakan yang sama.</p>
<p>Dalam suasana kacau dan chaos semacam itu, tiba-tiba terdengar letusan senjata api secara beruntun. Tak jelas dari arah mana peluru itu dikendalikan. Hanya dalam hitungan detik, empat kelelawar yang baru saja hendak terbang dari bubungan atap gedung wakil rakyat tersungkur. Jasadnya langsung menggelepar mencium bumi. Teriakan histeris spontan membahana seperti hendak merobak dinding langit. Gemanya mengangkasa hingga kabar tragis itu dengan cepat tersebar ke berbagai belahan dunia melalui koran, televisi, atau internet.</p>
<p>Tertembaknya empat kelelawar bukannya menyurutkan nyali para pendemo. Mereka justru makin terpicu nyalinya untuk secepatnya melakukan perubahan. Semangat mereka makin tumbuh berlipat-lipat ketika seorang tokoh demokrasi yang selama ini dianggap sebagai “klilip” oleh rezim Ki Gedhe Padharane ikut menyatakan keprihatinan dan ikut berbaur di tengah massa.</p>
<p>“Saudara-saudara, empat sahabat kita telah menjadi tumbal. Demi sebuah perubahan, mereka rela mengorbankan nyawanya. Sungguh, saya terharu melihat perjuangan sahabat-sahabat kita itu. Kita doakan, semoga arwah sahabat-sahabat kita yang telah menjadi tumbal itu diberikan kelapangan jalan menuju ke haribaan-Nya,” kata sang tokoh demokrasi dengan mata bekaca-kaca. Tiba-tiba saja suasana mendadak sunyi dan hening. Hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang samar-samar di kejauhan sana. Mereka tampak khusyu’ dan khidmat memanjatkan doa.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, suasana kembali onar. Cericit kelelawar kembali membahana dan bersahut-sahutan. Seperti dikomando, mereka menyalakan api, lantas dengan cepat membakar tumpukan kertas di depan pintu masuk gedung wakil rakyat. *** (Bersambung)<br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Monday, 20 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/20/pesona-uang-dan-kekuasaan/" title="Pesona Uang dan Kekuasaan">Pesona Uang dan Kekuasaan (172)</a></li>
<li>Thursday, 16 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/16/menagih-janji-politisi-di-negeri/" title="Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)">Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1) (161)</a></li>
<li>Saturday, 10 May 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/05/10/kesadaran-kolektif-yang-terkoyak/" title="Kesadaran Kolektif yang Terkoyak ">Kesadaran Kolektif yang Terkoyak  (41)</a></li>
<li>Sunday, 26 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/26/ontran-ontran-di-negeri-kelelawar/" title="Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2)">Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2) (125)</a></li>
<li>Saturday, 9 August 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/08/09/demokrasi-yang-sehat-kapan-terwujud/" title="Demokrasi yang Sehat: Kapan Terwujud?">Demokrasi yang Sehat: Kapan Terwujud? (49)</a></li>
<li>Monday, 12 May 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/05/12/tragedi-mei-1998-dan-runtuhnya/" title="Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita">Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita (65)</a></li>
<li>Tuesday, 29 April 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/04/29/pilkada-pasca-reformasi-quo-vadis/" title="Pilkada Pasca-Reformasi, Quo-Vadis?">Pilkada Pasca-Reformasi, Quo-Vadis? (34)</a></li>
<li>Sunday, 16 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/16/refleksi-menjelang-hari-guru-2008/" title="Refleksi Menjelang Hari Guru 2008">Refleksi Menjelang Hari Guru 2008 (84)</a></li>
<li>Wednesday, 5 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/05/pemulung-dan-nilai-kepahlawanan-sejati/" title="Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati ">Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati  (200)</a></li>
<li>Monday, 3 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/03/temu-forum-komunikasi-fasilisator-pug-bidang-pendidikan/" title="Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan">Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan (78)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/11/12/situasi-chaos-di-negeri-kelelawar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Domain Baru dengan Hosting Gratis</title>
		<link>http://sawali.info/2008/11/08/domain-baru-dengan-hosting-gratis/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/11/08/domain-baru-dengan-hosting-gratis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 15:25:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[edufiesta]]></category>

		<category><![CDATA[blogwalking]]></category>

		<category><![CDATA[domain]]></category>

		<category><![CDATA[hosting]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1441</guid>
		<description><![CDATA[ Ketika jalan-jalan ke rumah Mas Anangku, tiba-tiba saja saya tertarik untuk mengklik banner iklan yang dipasang di bar samping. Banner warna coklat tua itu bertuliskan: “Hosting Gratis 200 Mega untukmu Guru”. Wow … langsung saja saya menuju ke TKP. Aha, ternyata benar. Di TKP saya membaca sebuah postingan: “Hosting gratis untuk ‘pahlawan tanpa tanda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="hostgratis" href="http://deteksi.info/2008/10/hosting-gratis-untuk-pahlawan-tanpa-tanda-jasa/" target="_blank"> <img class="alignleft" src="http://deteksi.info/wp-content/uploads/2008/10/hosting-guru.jpg" alt="hostguru" /></a>Ketika jalan-jalan ke rumah Mas <a title="anangku" href="http://anangku.blogspot.com/" target="_blank">Anangku</a>, tiba-tiba saja saya tertarik untuk mengklik banner iklan yang dipasang di bar samping. Banner warna coklat tua itu bertuliskan: “Hosting Gratis 200 Mega untukmu Guru”. Wow … langsung saja saya menuju ke TKP. Aha, ternyata benar. Di TKP saya membaca sebuah postingan: “<a title="deteksi.info" href="http://deteksi.info/2008/10/hosting-gratis-untuk-pahlawan-tanpa-tanda-jasa/" target="_blank">Hosting gratis untuk ‘pahlawan tanpa tanda jasa’</a>”. Lewat kolom komentar, langsung saja saya menyatakan keinginan untuk bisa memanfaatkan fasilitas hosting gratis yang disediakan <a title="deteksi" href="http://deteksi.info/" target="_blank">deteksi. info</a>. Meski demikian, saya masih ragu juga untuk membeli domain, karena hosting gratis dengan kapasitas 200 mega tersebut hanya disediakan untuk 20 orang.</p>
<p>Saya pun jadi rajin berkunjung ke blog yang dikelola oleh Mas Budiono tersebut. Setelah mendapatkan jawaban bahwa hosting gratis tersebut masih tersedia, keesokan harinya saya langsung mencari domain. Sebenarnya saya ingin mencari domain berekstensi .net atau .com. Namun, agaknya domain tersebut sudah dipakai orang. Akhirnya, saya memutuskan membeli domain berekstensi .us, lengkapnya <a href="http://sawali.us" title="http://sawali.us" class="autohyperlink" target="_blank">sawali.us</a> seharga Rp80.000,00. Harga yang tidak terlalu mahal, meski buat seorang guru katrok seperti saya, hehehe …. Setelah melakukan konfirmasi transfer pembelian domain, saya segera kontak Mas Budiono via SMS dan email. Mungkin lantaran berekstensi .us, proses registrasinya membutuhkan waktu selama sehari.</p>
<p>Alhamdulillah, pada hari Jumat, 7 November 2008, ketika membuka email sepulang dari sekolah, ada informasi dari Mas Budiono bahwa domain sudah aktif, dilengkapi dengan username dan password cpanel-nya. Usai shalat Jumat, saya pun segera tenggelam dalam keasyikan menginstal engine wordpress. Maklum, ingin menggunakan drupal atau joomla, tetapi sama sekali masih sangat gaptek. Walhasil, dengan meng-klik fantastico, hanya dalam hitungan tak lebih dari dua menit, engine wordpress sudah terinstal.</p>
<p>Meski sudah mengelola domain sendiri, jujur saja saya belum pernah punya pengalaman membangun blog dari nol. Blog <a href="http://sawali.info" title="http://sawali.info" class="autohyperlink" target="_blank">sawali.info</a> pun lahir karena bantuan dari CS dapurhosting. Tak heran jika berkali-kali saya harus melakukan trial and error ketika meng-instal theme. Keasyikan mengoprek theme di blog baru membuat saya lupa menjenguk blog <a href="http://sawali.info" title="http://sawali.info" class="autohyperlink" target="_blank">sawali.info</a>. Mohon maaf jika belum sempat merespon komentar teman-teman atau melakukan blogwalking. Setelah berkali-kali mengoprek theme, akhirnya muncul tampilan blog <a href="http://sawali.us" title="http://sawali.us" class="autohyperlink" target="_blank">sawali.us</a> seperti berikut ini skrinsyutnya.</p>
<p style="text-align: center;"><a title="domain us" href="http://sawali.us/" target="_blank"><img class="aligncenter" title="domain" src="http://sawali64.googlepages.com/sawali.gif" alt="sawalius" width="580" height="669" /></a></p>
<p>Jika ada waktu, silakan berkunjung, teman-teman, hehehe … Mohon masukannya, baik dari sisi tampilan maupun isinya. Jujur saja, saya belum tahu, content apa yang tepat untuk dijejalkan pada blog berhosting 200 mega gratis 100% tersebut. Menentukan judulnya pun masih terkesan bombastis: “Mendaki Pelangi: Menatap Matahari”; terkesan kurang membumi, haks. Saya baru sebatas memanfaatkan peluang dan kesempatan. Meng-update blog satu saja masih keteteran, hiks.</p>
<p>Semoga layanan hosting gratis tersebut bisa menjadi pemicu semangat rekan-rekan sejawat untuk melakukan aktivitas ngeblog. Dunia pendidikan jelas makin dinamis dan berkembang dengan baik jika banyak guru yang mau memanfaatkan media maya ini untuk membangun semangat berbagi dan bersilaturahmi. Terima kasih atas layanan hosting gratisnya, Mas Budiono. Nah, rekan-rekan sejawat yang mau mendapatkan layanan hosting gratis, cepat-cepat mendaftar, mudah-mudahan masih ada. Keterangan selengkapnya, silakan baca di sini! ***<br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Friday, 11 April 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/04/11/bandwith-bandwith-bandwith/" title="Bandwith, Bandwith, Bandwith!">Bandwith, Bandwith, Bandwith! (22)</a></li>
<li>Monday, 24 December 2007 &#8212; <a href="http://sawali.info/2007/12/24/blog-ini-sempat-tewas/" title="Blog Ini Sempat Tewas">Blog Ini Sempat Tewas (6)</a></li>
<li>Thursday, 30 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/30/pertemuan-tak-terduga-dengan-mas/" title="Pertemuan Tak Terduga dengan Mas Andy MSE">Pertemuan Tak Terduga dengan Mas Andy MSE (118)</a></li>
<li>Wednesday, 29 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/29/pesta-bloger-untuk-apa-dan-siapa/" title="Pesta Bloger: untuk Apa dan Siapa?">Pesta Bloger: untuk Apa dan Siapa? (171)</a></li>
<li>Wednesday, 13 August 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/08/13/spam-karma-memang-sadis/" title="Spam Karma Memang Sadis!">Spam Karma Memang Sadis! (59)</a></li>
<li>Monday, 30 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/30/mengintip-dapur-blog-untuk/" title="Mengintip &#8220;Dapur&#8221; Blog untuk Menyentuh SEO">Mengintip &#8220;Dapur&#8221; Blog untuk Menyentuh SEO (57)</a></li>
<li>Thursday, 12 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/12/mengapa-statistik-blog-berada/" title="Mengapa Statistik Blog Berada di Titik Nol?">Mengapa Statistik Blog Berada di Titik Nol? (56)</a></li>
<li>Tuesday, 10 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/10/memanfaatkan-account-gmail-untuk/" title="Memanfaatkan Account Gmail untuk Berlangganan Postingan">Memanfaatkan Account Gmail untuk Berlangganan Postingan (34)</a></li>
<li>Friday, 6 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/06/pasang-surut-menyusuri-kompleks-blogosphere/" title="Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere">Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere (41)</a></li>
<li>Monday, 5 May 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/05/05/guru-ngeblog-apa-untungnya/" title="Guru Ngeblog: Apa Untungnya?">Guru Ngeblog: Apa Untungnya? (39)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/11/08/domain-baru-dengan-hosting-gratis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati</title>
		<link>http://sawali.info/2008/11/05/pemulung-dan-nilai-kepahlawanan-sejati/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/11/05/pemulung-dan-nilai-kepahlawanan-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 17:50:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>

		<category><![CDATA[kemanusiaan]]></category>

		<category><![CDATA[kepahlawanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1438</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa-peristiwa heroik ketika negeri ini memasuki masa-masa revolusi fisik, sejatinya merupakan fase historis yang bisa digunakan untuk mencerahkan ingatan kolektif bangsa bahwa negeri ini pernah memiliki pahlawan-pahlawan sejati. Secara ragawi, sosok pahlawan sejati yang terlibat dalam konflik dan pertempuran fisik bisa jadi memang sudah tidak ada. Roh, semangat, dan kesejatian nilai kepahlawanan mereka telah diabadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa-peristiwa heroik ketika negeri ini memasuki masa-masa revolusi fisik, sejatinya merupakan fase historis yang bisa digunakan untuk mencerahkan ingatan kolektif bangsa bahwa negeri ini pernah memiliki pahlawan-pahlawan sejati. Secara ragawi, sosok pahlawan sejati yang terlibat dalam konflik dan pertempuran fisik bisa jadi memang sudah tidak ada. Roh, semangat, dan kesejatian nilai kepahlawanan mereka telah diabadikan lewat buku-buku sejarah, museum, monumen, atau nama-nama jalan.</p>
<p>Meski demikian, tidak lantas berarti nilai-nilai kepahlawanan dengan sendirinya ikut terkubur ke dalam kubangan sejarah masa silam. Kesejatian nilai kepahlawanan bisa terus tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika dan konteks zamannya ke dalam bentuk dan wujud yang berbeda. Ini artinya, siapa pun memiliki “talenta” untuk menjadi pahlawan sejati melalui ranah perjuangan yang digelutinya. Pahlawan sejati bisa muncul dari kalangan politisi, penegak hukum, pejabat, pegawai rendahan, bahkan dari kalangan rakyat jelata sekalipun.</p>
<p><a title="pemulung" href="http://dalsono.googlepages.com/2.pemulung-01.jpg" target="_blank"><img class="alignleft" title="pemulung" src="http://sawali64.googlepages.com/pemulung-01.jpg" alt="pml" width="300" height="225" /></a>Cobalah tengok sejenak perjuangan seorang pemulung yang tak kenal lelah mengumpulkan puing-puing rupiah dari tong-tong sampah dan tempat-tempat kumuh. Mereka bergerak ketika semburat merah matahari pecah di ufuk timur hingga semburat jingga matahari tampak temaram di ufuk barat. Melalui barang-barang bekas yang memberat di punggung, para pemulung kembali ke markas. Lantas, mereka memilah-milah dan mengumpulkan serpihan-serpihan sampah sesuai dengan jenisnya, untuk selanjutnya dijual kepada para penadah.</p>
<p>Untuk mendapatkan rupiah, seorang pemulung mesti melewati beberapa fase perjuangan yang tidak ringan. Mereka mesti menghadapi stigma yang sudah lama ditimpakan oleh para petugas Tibum. Mereka telah dicitrakan sebagai sampah yang mesti disingkirkan. Berkali-kali, mereka harus berhadapan dengan barikade petugas Tibum yang telah diindoktrinasi lewat dogma-dogma ketertiban umum yang menyesatkan. Penggarukan, penggusuran, atau pemaksaan kehendak, sudah merupakan hal yang biasa mereka lakukan kepada orang-orang yang dianggap menyandang masalah sosial. Dengan beban keranjang dan senjata ”pulung” di tangan, para pemulung sering diangkut dengan cara paksa di atas mobil bak terbuka, seperti layaknya kerumunan babi yang barusan jadi korban jagal. Di markas petugas, mereka tak jarang ”diteror” dengan cara-cara fasis. Hujatan, sumpah serapah, dan sikap-sikap tak ramah lainnya seringkali dipertontonkan oleh bapak-bapak petugas yang tengah mempraktikkan kekonyolan-kekonyolan. Marah-marah tanpa memiliki kesanggupan untuk mencarikan solusi mata pencaharian yang lebih baik.</p>
<p><a title="pemulung2" href="http://arians.staff.ugm.ac.id/wordpress/2008/05/29/pemulung-masuk/" target="_blank"><img class="alignleft" title="pemulung1" src="http://sawali64.googlepages.com/pemulung.jpg" alt="pml" width="300" height="225" /></a>Tak hanya itu. Para pemulung juga harus menghadapi konstruksi sosial dan kultur masyarakat yang telah dihinggapi doktrin-doktrin materialisme dan hedonisme. Para pemulung sering dicitrakan sebagai “orang jahat” alias maling yang pantas dicurigai. Di jalan-jalan dan gang masuk kampung, misalnya, seringkali terpampang tulisan dengan huruf yang sangat mencolok: “PEMULUNG DILARANG MASUK!” dan sejenisnya. Dalam pemahaman awam saya, tulisan semacam itu tak lebih dari sebuah “pembiadaban” berdasarkan cara pandang pemikiran yang sempit dan nihil dari sentuhan nilai kemanusiaan. Mungkin ada beberapa pemulung yang “tersesat” sehingga punya keinginan untuk memiliki sesuatu yang tiba-tiba saja menggoda nafsu dan selera rendahnya. Namun, hal-hal yang bersifat kausistik semacam itu tak bisa dijadikan sebagai sebuah premis bahwa pemulung identik dengan maling.</p>
<p>Jadi pemulung bukanlah harapan dan cita-cita. Tak seorang pun yang menginginkan predikat semacam itu melekat pada dirinya. Namun, situasi kemiskinan struktural yang sudah demikian menggurita di negeri ini, disadari atau tidak, telah melahirkan terciptanya pemulung sebagai mata pencaharian baru. Jangan salahkan mereka jika kehadirannya terpaksa mengganggu kenyamanan pandangan mata para pemuja gaya hidup materialistis dan hedonis.</p>
<p>Para pemulung bisa jadi tak paham apa makna pahlawan yang sesungguhnya. Namun, secara riil, mereka telah mengaplikasikan nilai-nilai kepahlawanan sejati ke dalam setiap aliran darah, desahan napas, dan kucuran keringatnya. Mereka rela berkorban untuk direndahkan martabatnya tanpa punya pamrih untuk menggugatnya. Mereka rela diberi stigma sebagai maling tanpa punya pamrih untuk melakukan pemberontakan. Mereka juga merelakan dirinya dipanggang terik matahari demi memenuhi tuntutan perut sanak keluarganya. Sungguh kontras dengan perilaku koruptor yang sudah jelas-jelas terbukti mengemplang harta rakyat, tetapi masih menempuh berbagai cara untuk bisa lolos dari jeratan hukum.</p>
<p>Para pengambil kebijakan seharusnya memiliki kepekaan dalam menangani masalah-masalah sosial yang menghinggapi kaum dhuafa. Jangan gampang melakukan pembiadaban dan menempuh cara-cara fasis untuk menyingkirkan wong cilik yang sedang mencari peruntungan dan perbaikan nasib keluarganya jika tak sanggup memberikan jaminan penghidupan yang layak. Para pahlawan yang sudah berada di alam keabadian bisa jadi akan menangis dan merintih menyaksikan para petugas yang tak henti-hentinya melakukan teror, intimidasi, dan kekerasan terhadap sesamanya. Jangan sampai negeri ini jadi ”Malin Kundang” akibat ingatan kolektif bangsa yang sudah mulai melupakan kiprah para pahlawan sejati. ***<br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Tuesday, 11 March 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/03/11/revitalisasi-pendidikan-kemanusiaan/" title="Revitalisasi Pendidikan Kemanusiaan">Revitalisasi Pendidikan Kemanusiaan (32)</a></li>
<li>Sunday, 16 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/16/refleksi-menjelang-hari-guru-2008/" title="Refleksi Menjelang Hari Guru 2008">Refleksi Menjelang Hari Guru 2008 (84)</a></li>
<li>Wednesday, 12 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/12/situasi-chaos-di-negeri-kelelawar/" title="Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3)">Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3) (113)</a></li>
<li>Monday, 3 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/03/temu-forum-komunikasi-fasilisator-pug-bidang-pendidikan/" title="Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan">Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan (78)</a></li>
<li>Sunday, 26 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/26/ontran-ontran-di-negeri-kelelawar/" title="Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2)">Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2) (125)</a></li>
<li>Monday, 20 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/20/pesona-uang-dan-kekuasaan/" title="Pesona Uang dan Kekuasaan">Pesona Uang dan Kekuasaan (172)</a></li>
<li>Thursday, 16 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/16/menagih-janji-politisi-di-negeri/" title="Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)">Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1) (161)</a></li>
<li>Tuesday, 14 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/14/menafsirkan-kembali-makna-pemuda/" title="Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan">Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan (119)</a></li>
<li>Friday, 26 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/26/refleksi-menjelang-lebaran/" title="Refleksi Menjelang Lebaran">Refleksi Menjelang Lebaran (99)</a></li>
<li>Saturday, 13 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/13/tayangan-tv-yang-bias-gender/" title="Tayangan TV yang Bias Gender">Tayangan TV yang Bias Gender (47)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/11/05/pemulung-dan-nilai-kepahlawanan-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan</title>
		<link>http://sawali.info/2008/11/03/temu-forum-komunikasi-fasilisator-pug-bidang-pendidikan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/11/03/temu-forum-komunikasi-fasilisator-pug-bidang-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 23:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[gender]]></category>

		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>

		<category><![CDATA[kesetaraan gender]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1425</guid>
		<description><![CDATA[Bertempat di Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal Dan Informal (P2PNFI) Regional II Jawa Tengah, Jalan Diponegoro 250 Ungaran, Dinas Pendidikan Prov. Jawa Tengah menggelar Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan Prov. Jawa Tengah selama dua hari (1-2 November 2008). Menurut Panitia Penyelenggara (Dinas Pendidikan Prov. Jateng), tujuan diselenggarakannya Temu Forum tersebut, antara lain untuk: (1) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bertempat di <a title="P2PFNI" href="http://www.bpplsp-jateng.com/" target="_blank">Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal Dan Informal (P2PNFI) Regional II Jawa Tengah</a>, Jalan Diponegoro 250 Ungaran, Dinas Pendidikan Prov. Jawa Tengah menggelar Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan Prov. Jawa Tengah selama dua hari (1-2 November 2008). Menurut Panitia Penyelenggara (Dinas Pendidikan Prov. Jateng), tujuan diselenggarakannya Temu Forum tersebut, antara lain untuk: (1) menyamakan misi tentang kebijakan dan program PUG bidang pendidikan; (2) membangun komitmen dan kerjasama PUG bidang pendidikan; dan (3) membentuk Forum Komunikasi Fasilitator PUG bidang pendidikan.</p>
<p>Temu Forum diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai kabupaten/kota se-Jateng yang berasal dari unsur: pendidik (TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, dan PKBM), PSW/PSG, dan Pokja PUG dengan narasumber yang berasal dari Kepala Dinas Prov. Jateng, Kepala BP3-AKB Prov. Jateng, dan Tim Pokja Gender Pusat.</p>
<p><img title="pug1" src="http://sawali64.googlepages.com/pug.jpg" alt="PUG" width="600" height="198" /><img title="disk" src="http://sawali64.googlepages.com/pug2.jpg" alt="pug2" width="280" height="225" /><img title="diks3" src="http://sawali64.googlepages.com/pug4.jpg" alt="pug3" width="280" height="225" /><img title="diks6" src="http://sawali64.googlepages.com/pug5.jpg" alt="pug6" width="280" height="225" /><img title="disk1" src="http://sawali64.googlepages.com/pug1.jpg" alt="pug1" width="280" height="225" /></p>
<p>Sesuai dengan agenda, acara Temu Forum pada hari I diisi dengan diskusi dan curah pendapat tentang berbagai temuan dan pengalaman menarik dari para fasilitator untuk mengkaji lebih jauh tentang potensi dan hambatan implementasi PUG, untuk selanjutnya dirumuskan rekomendasi kepada pihak-pihak terkait agar pelaksanaan PUG berlangsung seperti yang diharapkan.</p>
<p>Selama diskusi berlangsung, para fasilitator sepakat bahwa dari sisi potensi, dunia pendidikan dinilai merupakan institusi yang strategis untuk menumbuhkembangkan PUG di kalangan siswa didik sejak dini. Melalui strategi pembelajaran yang mengintegrasikan kesetaraan dan keadilan gender (KKG), anak-anak masa depan negeri ini diharapkan menjadi generasi “sadar gender” sehingga mereka tidak lagi memperlakukan kaum perempuan sebagai makhluk kelas dua alias <em>kanca wingking</em>. Dalam perspektif yang lebih luas, kelak diharapkan tidak lagi muncul ketidakadilan gender, semacam pelabelan (stereotipe), subordinasi (penomorduaan), pemiskinan (marginalisasi), maupun beban ganda yang ditimpakan kepada kaum perempuan. Apalagi, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sangat memberikan peluang diintegrasikannya PUG ke dalam proses pembelajaran. Hal itu terbukti dengan dimasukkannya kesetaraan gender sebagai salah satu dari 12 unsur yang perlu diperhatikan sebagai acuan operasional dalam penyusunan kurikulum. Ini artinya, dukungan input, sumber daya manusia,  dan suprastruktur pendidikan sangat memberikan peluang diintegrasikannya PUG sebagai salah satu<em> entry-point</em> dalam dunia pembelajaran.</p>
<p>Meskipun demikian, bukan berarti PUG pendidikan bisa demikian mudah diaplikasikan dalam dunia pembelajaran. Masih banyak hambatan dan tantangan yang muncul dari berbagai sisi. Mengguritanya akar patriarki yang demikian kuat di tengah-tengah kehidupan masyarakat dinilai membuat isu-isu gender menjadi bias dan salah kaprah. Banyak kaum lelaki yang merasa khawatir bahwa gender akan membuat peran kaum lelaki menyempit. Bahkan, tak jarang yang berpandangan bahwa gender merupakan bentuk “perlawanan” kaum perempuan terhadap kodrat yang akan menyingkirkan peran kaum lelaki di sektor publik. Selain itu, dirasakan juga masih belum muncul adanya sentuhan politik, kebijakan, kelembagaan, atau informasi yang memberikan dukungan secara penuh, massif, dan simultan terhadap implementasi PUG pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Berdasarkan hasil diskusi, belum semua daerah memiliki peraturan daerah (Perda) yang secara langsung terkait dengan PUG sektor pendidikan. Hal ini berdampak terhadap penganggaran yang belum maksimal untuk pelaksanaan PUG Pendidikan. Program yang dirumuskan dari kebijakan pun belum mampu menuntaskan persoalan-persoalan pendidikan yang cenderung bias gender.<span lang="IN"> Padahal, berdasarkan <a title="permendagri" href="http://sawali.info/permendagri-no-15-tahun-2008/" target="_blank">Peraturan Menteri Dalam Negeri <strong>Nomor 15 tahun 2008</strong> tentang <strong>Pedoman umum </strong>Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah</a> (pasal 4) jelas tersurat bahwa Pemda berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan berperspektif gender yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD, Rencana Strategis SKPD, dan Rencana Kerja SKPD.</span></p>
<p>Dari sisi kelembagaan, lembaga yang dibentuk dinilai juga belum berfungsi secara optimal, sehingga pelaksanaan PUG sektor pendidikan belum terlaksana dengan baik. Demikian juga dalam hal akses informasi.  Pelaksanaan PUG pada tiap unit utama dan daerah dinilai belum terdokumentasi dan teradministrasikan secara lengkap. Yang lebih menyedihkan, pelaksanaan sosialisasi PUG pendidikan untuk para pejabat sebagian diwakilkan kepada staf di bawahnya yang kadang kala berganti-ganti, sehingga berdampak terhadap kebijakan pendidikan yang responsif gender.</p>
<p>Berkaitan dengan masih banyaknya hambatan dan tantangan implementasi PUG pendidikan, para fasilitator sepakat untuk merumuskan beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga para pejabat dan birokrat pendidikan. Mereka diharapkan memberikan dukungan penuh terhadap implementasi PUG pendidikan melalui program, kebijakan, dan anggaran Berperspektif Gender (<em>Gender budget</em>) yang adil dan proporsional. Yang tidak kalah penting, para pejabat perlu memberikan keteladanan dalam mengapresiasi nilai-nilai kesetaraan gender sehingga secara tidak langsung mampu memberikan pencitraan yang positif terhadap publik.</p>
<p>PUG sejatinya merupakan strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan gender menjadi satu dimensi integral dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan di daerah. Ketika dunia sudah masuk pada pusaran arus global, kesetaraan gender yang mengacu pada kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan, perlu terus-menerus disosialisasikan dan diimpelementasikan secara massif dan berkelanjutan agar tercipta harmoni kehidupan yang bebas dari ketidakadilan gender.</p>
<p>Dalam upaya memberikan kekuatan pendorong dan <em>pressure</em> agar implementasi PUG pendidikan berlangsung lancar dan kondusif, pada hari kedua, para fasilitator juga sepakat untuk membentuk Forum Komunikasi <em>Focal Point </em>Gender Bidang Pendidikan di tingkat kabupaten, eks karesidenan, dan provinsi. Setelah melalui voting yang demokratis, telah terpilih pengurus harian Forum Komunikasi <em>Focal Point </em>Gender Bidang Pendidikan di tingkat provinsi, antara lain: Ketua I: Sudarno (SMK 2 Kebumen); Ketua II: Sri Handayani (SD Denasri Kulon 01 Batang); Sekretaris I: F. Atok Dwiyono (SMP 2 Boyolali); Sekretaris II: Arti Luwarsih Lucia (YK PGRI Baran Ambarawa); Bendahara I: Mulyono (SMP 2 Pati); dan Bendahara II: Sarinem (SD 3 Boyolali).</p>
<p>Forum Komunikasi <em>Focal Point </em>memiliki beberapa fungsi strategis, di antaranya sebagai: (1) salah satu sumber informasi tentang konsep gender, PUG, KKG, dan program PP; (2) penggerak (perintis) terbentuknya jejaring PUG di lingkungan kerjanya; dan (3) pelaksana dari setiap kegiatan pembangunan yang responsif gender. Sejumlah tugas berat pun telah siap menghadangnya, yakni: (1) membantu proses pengambilan kebijakan pada ruang lingkup tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi) unit kerja untuk meminimalisir kesenjangan gender; (2) mendorong dan membantu instansi dalam mereview dan memperbaiki mandat, kebijakan, program, kegiatan, dan anggaran agar lebih berperspektif gender; (3) memfasilitasi pelaksanaan pelatihan dan membangun jejaring kerja PUG; (4) mengupayakan terselenggaranya Analisis Gender sebagai salah satu tahap dlm proses pembangunan mulai perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi; (5) menjabarkan dan menindaklanjuti kebijakan dan program yang ada dalam dokumen perencanaan; dan (6) aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Pokja PUG.</p>
<p>Untuk membangun  jejaring sosial yang lebih luas, forum juga telah menyepakati dibuatnya <em>milling list </em>dan web (blog) sebagai media penyebarluasan dan akses informasi terhadap berbagai program dan kegiatan yang akan, sedang, dan telah dilakukan oleh forum dalam melakukan aktivitas sosialisasi dan implemetasi PUG bidang pendidikan. Semoga dengan terbentuknya forum ini secara bertahap bisa ikut berkiprah dalam membangun konstruksi sosial dan kultur masyarakat yang responsif gender.  ***<br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Saturday, 13 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/13/tayangan-tv-yang-bias-gender/" title="Tayangan TV yang Bias Gender">Tayangan TV yang Bias Gender (47)</a></li>
<li>Sunday, 6 July 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/07/06/tak-ada-lagi-alasan-untuk-mengebiri/" title="Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra!">Tak Ada Lagi Alasan untuk Mengebiri Sastra! (63)</a></li>
<li>Thursday, 6 March 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/" title="Pendidikan Spiritual di Sekolah, Apa Kabar?">Pendidikan Spiritual di Sekolah, Apa Kabar? (44)</a></li>
<li>Sunday, 16 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/16/refleksi-menjelang-hari-guru-2008/" title="Refleksi Menjelang Hari Guru 2008">Refleksi Menjelang Hari Guru 2008 (84)</a></li>
<li>Wednesday, 12 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/12/situasi-chaos-di-negeri-kelelawar/" title="Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3)">Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3) (113)</a></li>
<li>Wednesday, 5 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/05/pemulung-dan-nilai-kepahlawanan-sejati/" title="Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati ">Pemulung dan Nilai Kepahlawanan Sejati  (200)</a></li>
<li>Sunday, 26 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/26/ontran-ontran-di-negeri-kelelawar/" title="Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2)">Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2) (125)</a></li>
<li>Monday, 20 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/20/pesona-uang-dan-kekuasaan/" title="Pesona Uang dan Kekuasaan">Pesona Uang dan Kekuasaan (172)</a></li>
<li>Thursday, 16 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/16/menagih-janji-politisi-di-negeri/" title="Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)">Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1) (161)</a></li>
<li>Tuesday, 14 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/14/menafsirkan-kembali-makna-pemuda/" title="Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan">Menafsirkan Kembali Makna Pemuda sebagai Aktor Perubahan (119)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/11/03/temu-forum-komunikasi-fasilisator-pug-bidang-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Paripurna Menggapai Kesejatian Diri</title>
		<link>http://sawali.info/2008/11/01/kecerdasan-paripurna-menggapai-kesejatian-diri/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/11/01/kecerdasan-paripurna-menggapai-kesejatian-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Nov 2008 02:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>

		<category><![CDATA[kesejatian hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1420</guid>
		<description><![CDATA[Daniel Goleman berhasil mengubah opini dunia. “Mitos” Intelektual Quotient (IQ) yang berabad-abad lamanya konon “dipuja” banyak orang lantaran dianggap sebagai penentu kesuksesan hidup, kini seakan-akan telah “runtuh”. Lewat tesisnya yang menggemparkan, Emotional Intelligence (EI) (dialihbahasakan oleh T. Hermaya, Gramedia Pustaka Utama: 1996), Goleman berhasil meyakinkan publik dunia bahwa EI justru memiliki peran yang jauh lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Daniel Goleman berhasil mengubah opini dunia. “Mitos” Intelektual Quotient (IQ) yang berabad-abad lamanya konon “dipuja” banyak orang lantaran dianggap sebagai penentu kesuksesan hidup, kini seakan-akan telah “runtuh”. Lewat tesisnya yang menggemparkan, Emotional Intelligence (EI) (dialihbahasakan oleh T. Hermaya, Gramedia Pustaka Utama: 1996), Goleman berhasil meyakinkan publik dunia bahwa EI justru memiliki peran yang jauh lebih penting ketimbang IQ.</p>
<p>Temuan Goleman ini, tampaknya mengilhami para pemikir dari berbagai belahan dunia untuk mengkaji ulang apa makna kecerdasan yang sesungguhnya. Di Indonesia, misalnya, Ary Ginanjar Agustian tampil lewat konsep ESQ (Emotional Spiritual Quotient)-nya. Menurut dia, ESQ merupakan konsep universal yang mampu mengantarkan seseorang pada “predikat yang memuaskan” bagi dirinya sendiri dan orang lain. ESQ pula yang dapat menghambat segala hal yang kontraproduktif terhadap kemajuan umat manusia.</p>
<p><a href="http://www.detiknews.com/read/2008/10/29/124502/1027808/10/syekh-puji" target="_blank"><img class="alignleft" title="syekh puji" src="http://sawali64.googlepages.com/syekh-dal.jpg" alt="syekh " width="221" height="285" /></a>Kini, ada pula konsep Kecerdasan Milyuner yang mengungkap tentang pentingnya mengembangkan kecerdasan Sepia (Spiritual, Emosional, Power, Intelektual, dan Aspirasi) secara seimbang sebagai “way of life” dalam upaya mewujudkan kebahagiaan hidup secara utuh dan “paripurna”. Konon, para milyuner memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang baik. Mereka adalah orang-orang yang tangguh, ulet, sabar, mampu mengendalikan diri, bermasyarakat dengan baik, memiliki keluarga harmonis, dan berbagai hal lain yang membuktikan bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional (EI) yang baik. Selain itu, mereka juga meyakini Tuhan sebagai sumber pemberi rizki sehingga kebanyakan dari mereka menyumbangkan penghasilan 10 persen atau lebih dari pendapatan kotor. Hal ini menunjukkan bahwa mereka juga memiliki tingkat kecerdasan Spiritual (SQ) yang baik.</p>
<p>Konon pula, para milyuner ternyata memiliki lebih dari sekadar IQ-EQ-SQ. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa para milyuner tidak hanya memiliki kecerdasan Intelektual, Emosional, dan Spiritual semata, tetapi juga memiliki dua kecerdasan yang lain, yakni kecerdasan Aspirasi (memiliki mimpi besar, tujuan yang jelas, teguh memegang impian) dan kecerdasan Power (mampu memanfaatkan kekuatan yang ada dalam dirinya maupun di sekelilingnya). Ini artinya, untuk meraih sukses hidup dibutuhkan pengembangan kecerdasan Sepia secara seimbang dan “paripurna”.</p>
<p>Dalam buku SEPIA: Kecerdasan Milyuner, Warisan yang Mencerahkan Keturunan Anda (Khairul Ummah, Dimitri Mahayana, Agus Nggermanto, September 2003), misalnya, dijelaskan bahwa Kecerdasan Sepia pada hakikatnya merupakan refleksi dari karakter (Aspirasi, Spiritual, Emosional) dan kompetensi (Intelektual, Power) manusia. Hubungan kelima kecerdasan tersebut dilambangkan dengan ikon Matahari Sepia. Di tengah bulatan matahari adalah keseimbangan karakter dan kompetensi yang dilambangkan dengan C-C (Character-Competence) dalam bentuk lingkaran Yin-Yang. Menurut penulis buku tersebut, kecerdasan spiritual merupakan kemampuan manusia untuk memberi makna atas apa yang ia alami dan jalani. SQ bukan sekadar agama (religi). Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh; bermakna di hadapan Tuhan. Wujud dari SQ adalah sikap moral yang dipandang luhur oleh sang pelaku., misalnya selalu beryukur atas karunia Tuhan, kemurahan hati yang tulus, kerendah-hatian untuk tidak cepat menilai terhadap sesuatu, atau berupaya mencari makna hidup.</p>
<p>Kecerdasan emosi (EI) merupakan kemampuan mendeteksi dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Sebagai tips bagi mereka yang ingin meningkatkan kecerdasan emosi, penulis memberikan kerangka kerja 4 P, yakni Peka, Peduli, Positif, dan Partisipatif. Pada bab ini juga dibeberkan tentang pentingnya kecerdasan ketangguhan &#8212; Adversity Quotient yang pernah diperkenalkan oleh Paul Stoltz – yaitu kemampuan seseorang untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hidup.</p>
<p>Power Intelligence (PI)? Hemm, PI sering ditafsirkan sebagai kemampuan mengelola semua potensi kekuatan, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan. Kemampuan yang utama ialah mengenali seluruh potensi dan menggunakannya untuk meraih tujuan. Dalam segala zaman, PI memegang peran yang sangat penting dalam mencapai kesuksesan. Pengelolaan kekuatan muncul dalam bentuk strategi, penciptaan peraturan, pemaksaan, negosiasi, intrik, persekutuan, pengelolaan informasi, energi, material, serta kekuatan binatang dan alam. Semakin mampu seorang manusia memanfaatkan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, semakin efisien dan efektif ia dalam mencapai tujuan. Erat kaitannya dengan PI adalah kecerdasan finansial (kecerdasan dalam mengelola masalah uang dan kekayaan) dan kecerdasan politik (kecerdasan mengambil keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan).</p>
<p>Tentang Kecerdasan Intelektual (IQ)? Istilah yang lebih dahulu lahir ini sering dipahami sebagai kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan belajar dan penciptaan. Orang yang cerdas mampu belajar dengan cepat dan mampu menciptakan sesuatu. IQ merupakan elemen yang sangat penting dari kompetensi manusia. Dengan pengelolaan yang baik atas bakat-bakat penciptaan yang dikaruniakan Tuhan, manusia dapat mewujudkan kebudayaannya.</p>
<p>Masih ada satu kecerdasan lagi, yakni Aspiration Intelligence (AI). AI merupakan kecerdasan manusia dalam mengenali dan mengelola keinginannya, sehingga mampu menjadi sumber daya gerak yang hebat. Orang-orang besar yang berhasil mendaki sampai puncak kontribusi, yang telah berhasil melewati berbagai rintangan adalah mereka yang tetap teguh dengan aspirasinya – Paul Stoltz menyebutnya sebagai Climber. Para Climber ini memiliki kecerdasan emosi yang hebat dan kesetiaan untuk tetap membela mimpi-mimpinya (kecerdasan aspirasi).</p>
<p>Agar sanggup menggapai kesejatian diri agaknya diperlukan kemampuan untuk mengelola kecerdasan Sepia secara simbang dan “paripurna”. Keseimbangan menjadi hal yang paling penting dalam kehidupan modern. Kehilangan salah satu elemen Yin-Yang ini akan menyebabkan bencana kegagalan. Ibarat mobil yang berjalan dengan mesin yang sangat kuat, berlari dengan kencang, tapi tiba-tiba sadar bahwa remnya blong, sehingga tidak dapat menghentikan laju mobil. Pedal gas tanpa pedal rem pastilah sebuah kekonyolan!</p>
<p>Berkaitan dengan konsep tersebut, bagaimana pendapat Sampeyan kalau ada seorang milyarder yang ingin mengawini gadis di bawah umur sebagaimana yang dilakukan seorang Syeikh yang menghebohkan itu? Apakah sang Syekh juga telah menerapkan konsep kecerdasan Sepia? Pernah dengar beritanya, kan? Kalau belum, silakan ketikkan kata kunci ”syekh puji” pada search engine, pasti Sampeyan akan ditunjukkan  berita-betita heboh tentang ”sensasi” yang dibuat oleh pengusaha yang bergerak di bidang kaligrafi dari kuningan di bawah PT Sinar Lendoh Terang itu. ***<br />
<h3>Random Posts</h3>
<ul class="related_post">
<li>Wednesday, 2 January 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/01/02/akankah-kurikulum-2004-berakhir-konyol/" title="Akankah Kurikulum 2004 Berakhir Konyol?">Akankah Kurikulum 2004 Berakhir Konyol? (0)</a></li>
<li>Sunday, 20 April 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/04/20/kartini-kartini-muda-jangan-terjebak-seremoninya/" title="Kartini-Kartini Muda: Jangan Terjebak Seremoninya!">Kartini-Kartini Muda: Jangan Terjebak Seremoninya! (25)</a></li>
<li>Thursday, 31 July 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/07/31/refleksi-menjelang-agustus-an/" title="Refleksi Menjelang Agustus-an">Refleksi Menjelang Agustus-an (45)</a></li>
<li>Thursday, 23 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/23/mengapa-guru-mesti-ngeblog/" title="Mengapa Guru Mesti Ngeblog?">Mengapa Guru Mesti Ngeblog? (124)</a></li>
<li>Thursday, 1 November 2007 &#8212; <a href="http://sawali.info/2007/11/01/bang-kempul-bergaya-selebritis-sebuah-refleksi/" title="Bang Kempul Bergaya Selebritis: Sebuah Refleksi">Bang Kempul Bergaya Selebritis: Sebuah Refleksi (4)</a></li>
<li>Friday, 6 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/06/pasang-surut-menyusuri-kompleks-blogosphere/" title="Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere">Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere (41)</a></li>
<li>Monday, 21 April 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/04/21/bloger-bersatu-untuk-hak-asasi-manusia/" title="Bloger Bersatu untuk Hak Asasi Manusia">Bloger Bersatu untuk Hak Asasi Manusia (37)</a></li>
<li>Friday, 26 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/26/refleksi-menjelang-lebaran/" title="Refleksi Menjelang Lebaran">Refleksi Menjelang Lebaran (99)</a></li>
<li>Tuesday, 1 January 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/01/01/sang-pembunuh/" title="Sang Pembunuh">Sang Pembunuh (1)</a></li>
<li>Monday, 14 January 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/01/14/dilema-peran-kaum-perempuan-pasca-jawa/" title="Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa">Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa (36)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/11/01/kecerdasan-paripurna-menggapai-kesejatian-diri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pertemuan Tak Terduga dengan Mas Andy MSE</title>
		<link>http://sawali.info/2008/10/30/pertemuan-tak-terduga-dengan-mas/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/10/30/pertemuan-tak-terduga-dengan-mas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 14:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[Kesetiakawanan sosial]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1414</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 30 Oktober 2008, sekitar pukul 13.30 WIB, secara tak terduga Tuhan mempertemukan saya dengan Mas Andy MSE, bloger kelahiran Boja, Kendal, yang kini bermukim di Solo, Jawa Tengah. Berawal ketika anak sulung saya yang baru saja pulang sekolah, menyampaikan informasi via HP bahwa Mas Andy dari Solo sedang menunggu di rumah. Mendengar nama Mas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 30 Oktober 2008, sekitar pukul 13.30 WIB, secara tak terduga Tuhan mempertemukan saya dengan <a href="http://andymse.soloraya.net/?page_id=117" target="_blank">Mas Andy MSE</a>, bloger kelahiran Boja, Kendal, yang kini bermukim di Solo, Jawa Tengah. Berawal ketika anak sulung saya yang baru saja pulang sekolah, menyampaikan informasi via HP bahwa Mas Andy dari Solo sedang menunggu di rumah. Mendengar nama Mas Andy, saya langsung minta izin kepada Panitia Review/Pengembangan SK/KD Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Kendal yang tengah menggelar sebuah pertemuan dan diskusi di Setda Kabupaten Kendal, untuk pulang lebih awal.  Maklum, sudah lama saya ingin bertemu langsung dengan aktivis Pusat Telaah dan Informasi Regional (<a href="http://pattiro.org/" target="_blank">PATTIRO</a>), sebuah NGO yang bertujuan untuk mendorong terwujudnya good governance dan mengembangkan partisipasi publik di Indonesia, khususnya pada level lokal itu. Wah, sebuah LSM yang bervisi kerakyatan dan berupaya membangun kesadaran publik tentang pentingnya pemerintahan yang bersih.</p>
<p><img title="skkd" src="http://sawali64.googlepages.com/andy5.jpg" alt="andy4" width="255" /><img title="narsis1" src="http://sawali64.googlepages.com/andy2.jpg" alt="andy1" width="255" /><img title="narsis2" src="http://sawali64.googlepages.com/andy3.jpg" alt="andy3" width="255" /><img title="na3rsis" src="http://sawali64.googlepages.com/andy4.jpg" alt="any3" width="255" /></p>
<p>Walhasil, saya spontan merangkulnya begitu bertemu dengan bloger kelahiran Boja, Kendal, 21 Agustus 1969 ini yang datang bersama Mas Solikhun, salah seorang aktivis Pattiro. Ada perasaan haru yang tiba-tiba menyelinap lewat pori-pori. Sambil ”tabur pesona” *halah* langsung saja saya mengajak mereka berdua ngobrol tentang berbagai macam hal, mulai aktivitas ngeblog, keluarga, pekerjaan, hingga soal remeh-temeh lainnya. Ngobrol dengan Mas Andy ternyata enak, santai, dan menyenangkan. Meski baru pertama kali bertemu, kesan yang muncul seperti sudah lama bersahabat akrab. Bisa jadi inilah salah satu manfaat blog. Dengan saling berkunjung dan meninggalkan jejak komentar, kita seperti dibawa ke dalam sebuah ruang dialog maya yang bisa dimanfaatkan untuk membangun aksi-aksi persahabatan, bertukar pikiran, atau sekadar mengenal profil dan aktivitas keseharian dari sahabat maya kita.</p>
<p>Saya juga tak menduga kalau Mas Andy bisa demikian mudah menemukan gubug saya hanya dengan membaca komentar yang saya tinggalkan di blognya. Aha, komentar ternyata bisa menjadi penunjuk jalan. Tak perlu repot-repot membuat peta, haks.</p>
<p>Dari obrolan yang tengah berlangsung, saya punya kesan kalau Mas Andy terbilang sosok yang bagus kecerdasan linguistiknya. Bahasanya mengalir lancar. Tidak salah kalau alumnus Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen, Universitas Diponegoro Semarang dan pernah mengenyam pendidikan di IAIN (Fak. Ushuludin) dan Pascasarjana ini menjadi seorang aktivis LSM yang harus banyak bersentuhan dan berkomunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat. Kecerdasan linguistik dengan dukungan basis keilmuan yang dimilikinya sudah menjadi modal yang lebih dari cukup bagi ayah tiga anak ini untuk membangun jejaring sosial dengan berbagai lapisan masyarakat. Yang membuat saya salut, Mas Andy ternyata juga membangun keluarga bloger. <a href="http://bunoor.blogspot.com/" target="_blank">Bu Noor</a>, istrinya yang memesona, dan dua anaknya, <a href="http://dxdiags.co.cc/" target="_blank">Diki</a> dan <a href="http://gajahgemblong.co.cc/" target="_blank">Nanin</a> yang imut dan menggemaskan, masing-masing telah memiliki sebuah blog. Ini artinya, mereka bisa intens membangun komunikasi dengan sesama anggota keluarga melalui dua ruang; ruang nyata dan ruang maya, yang bisa menumbuhkan suasana yang tampil beda.</p>
<p>Sayangnya, obrolan yang menarik itu terpaksa harus berakhir karena Mas Andy dan Mas Solikhun, mesti kembali ke markasnya, Sekolah Rakyat, di Limbangan, Kendal, untuk selanjutnya menuju ke Solo pada keesokan harinya. Saya hanya bisa melepasnya dengan iringan doa, semoga keselamatan, kesejahteraan, dan kesuksesan selalu menaungi Mas Andy dan keluarganya. Terima kasih, Mas Andy dan Mas Sholikun. Mohon maaf jika kami sekeluarga tidak bisa memberikan sambutan yang layak dan menyenangkan.</p>
<p>Dengan kedatangan Mas Andy, berarti sudah ada lima sahabat bloger yang telah berkenan menyambangi gubug saya setelah <a href="http://aghofur.com/" target="_blank">Pak Gempur</a>, <a href="http://unclegoop.com/" target="_blank">Mas Goop</a>, <a href="http://dhimas.web.id/cemacem/ilmu-lebih-mulia-daripada-harta-benda/" target="_blank">Mas Totz</a>, dan <a href="http://abeeayang.wordpress.com/" target="_blank">Abeeayang</a>. Ternyata, sungguh indah bisa menjalin persahabatan lewat dunia maya itu. ***<br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Saturday, 8 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/08/domain-baru-dengan-hosting-gratis/" title="Domain Baru dengan Hosting Gratis">Domain Baru dengan Hosting Gratis (163)</a></li>
<li>Wednesday, 29 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/29/pesta-bloger-untuk-apa-dan-siapa/" title="Pesta Bloger: untuk Apa dan Siapa?">Pesta Bloger: untuk Apa dan Siapa? (171)</a></li>
<li>Monday, 30 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/30/mengintip-dapur-blog-untuk/" title="Mengintip &#8220;Dapur&#8221; Blog untuk Menyentuh SEO">Mengintip &#8220;Dapur&#8221; Blog untuk Menyentuh SEO (57)</a></li>
<li>Thursday, 12 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/12/mengapa-statistik-blog-berada/" title="Mengapa Statistik Blog Berada di Titik Nol?">Mengapa Statistik Blog Berada di Titik Nol? (56)</a></li>
<li>Friday, 6 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/06/pasang-surut-menyusuri-kompleks-blogosphere/" title="Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere">Pasang Surut Menyusuri Kompleks Blogosphere (41)</a></li>
<li>Monday, 5 May 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/05/05/guru-ngeblog-apa-untungnya/" title="Guru Ngeblog: Apa Untungnya?">Guru Ngeblog: Apa Untungnya? (39)</a></li>
<li>Friday, 11 April 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/04/11/bandwith-bandwith-bandwith/" title="Bandwith, Bandwith, Bandwith!">Bandwith, Bandwith, Bandwith! (22)</a></li>
<li>Sunday, 30 March 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/" title="Dimensi Kehidupan Manusia dalam Teks Sastra">Dimensi Kehidupan Manusia dalam Teks Sastra (29)</a></li>
<li>Saturday, 22 March 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/03/22/banner-baru-%e2%80%9cmenolong-mereka-yang-kelaparan%e2%80%9d/" title="Banner Baru “Menolong Mereka yang Kelaparan”">Banner Baru “Menolong Mereka yang Kelaparan” (23)</a></li>
<li>Thursday, 13 March 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/03/13/nasi-aking-dan-sirnanya-empati-kita-terhadap-sesama/" title="Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita terhadap Sesama">Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita terhadap Sesama (49)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/10/30/pertemuan-tak-terduga-dengan-mas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Bloger: untuk Apa dan Siapa?</title>
		<link>http://sawali.info/2008/10/29/pesta-bloger-untuk-apa-dan-siapa/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/10/29/pesta-bloger-untuk-apa-dan-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 19:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[ngeblog]]></category>

		<category><![CDATA[pesta bloger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[Pesta Bloger 2007 telah menorehkan sejarah manis. Marwah bloger Indonesia diangkat ke permukaan dan diakui keberadaannya secara nasional. Hari bloger telah ditetapkan pada tanggal 27 Oktober bersamaan dengan Pesta Bloger 2007 yang mengusung tema: “Suara Baru Indonesia”. Jika tak ada aral melintang, Pesta Bloger tahun ini akan digelar pada hari Sabtu, 22 November 2008, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pesta Bloger 2007 telah menorehkan sejarah manis. Marwah bloger Indonesia diangkat ke permukaan dan diakui keberadaannya secara nasional. Hari bloger telah ditetapkan pada tanggal 27 Oktober bersamaan dengan Pesta Bloger 2007 yang mengusung tema: “Suara Baru Indonesia”. Jika tak ada aral melintang, Pesta Bloger tahun ini akan digelar pada hari Sabtu, 22 November 2008, di Gedung BPPT II, Jalan MH Thamrin no. 8, Jakarta Pusat, mulai pukul 10.00 WIB. Diharapkan sekitar 1.000 bloger dapat ikut berkiprah memeriahkan acara Temu Darat para bloger se-tanah air yang mengangkat tema ”blogging for society” (ngeblog untuk masyarakat) itu.</p>
<p><a href="http://pestablogger.com/logo-pesta-blogger/" target="_blank"><img class="alignleft" title="pestabloger" src="http://sawali64.googlepages.com/logo-pb08.png" alt="PB08" width="244" height="182" /></a>Hemmmm &#8230;. Pesta Bloger! Demikian pentingkah perhelatan itu digelar? Kalau memang itu dianggap penting, apa saja yang perlu diagendakan dan siapa sajakah sasarannya?</p>
<p>Dalam pemahaman awam saya, blog bukanlah sesuatu yang istimewa. Siapa pun bisa “menahbiskan” dirinya sebagai seorang bloger, asalkan memiliki sebuah akun. Prosedurnya juga tidak terlalu rumit. Tak perlu main suap dan yang jelas tak ada unsur KKN. Tak serumit ketika seseorang hendak melamar jadi PNS atau calon legislatif yang konon rela menghabiskan banyak duwit dan harus banyak-banyak membangun lobi. Ini artinya, blog merupakan media yang terbuka, bebas hambatan, tanpa terikat persyaratan-persyaratan biologis, dan sangat responsif gender. Dengan kata lain, blog menjadi hak setiap orang lintas-usia, suku, agama, ras, atau golongan. Siapa pun mereka, asalkan memiliki akses dan koneksi internet yang memadai bisa mulus meluncur ke kompleks blogosphere dan dengan sendirinya berhak menyandang predikat sebagai bloger.</p>
<p>Tak heran jika jumlah bloger terus bertambah. Menurut catatan <a href="http://http//www.kompas.com/kompas-cetak/0711/02/telkom/3966897.htm" target="_blank">Kompas</a>, pada Maret 2005 tercatat 7,8 juta blogger di seluruh dunia. Jumlah ini menjadi 14,7 juta pada Agustus 2005. Menurut BBC, setiap satu detik lahir satu blog baru. Diperkirakan jumlah blog saat ini sekitar 88 juta.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan jumlah bloger di negeri kita? Konon, pada tahun 2007, jumlahnya mencapai hitungan sekitar 130 ribu-an. Untuk tahun ini, jumlahnya jelas sudah makin bertambah banyak. Jika dikelola dengan baik, kehadiran bloger jelas akan memberikan nilai tambah buat bangsa dalam upaya membangun peradaban yang lebih santun, terhormat, dan bermartabat. Belum lagi, kalau diberdayakan secara ekonomi sebagaimana yang pernah digagas oleh Pak Sumintar tentang <a title="Permanent Link to Hadapi Krisis Ekonomi Global, Siapkan Sejuta Blogger Mandiri" rel="bookmark" href="http://www.sumintar.com/hadapi-krisis-ekonomi-global-siapkan-sejuta-blogger-mandiri.html">Hadapi Krisis Ekonomi Global, Siapkan Sejuta Blogger Mandiri.</a> Melalui bisnis online, bloger bisa memberikan kontribusi nyata untuk ikut mendongkrak devisa negara.</p>
<p>Namun, agaknya blog belum sepenuhnya menjadi media populis yang diminati banyak kalangan. Ada banyak alasan, mengapa dari sekitar 230-an juta penduduk negeri ini jumlah bloger masih di bawah angka 1 juta. Terbatasnya jaringan infrastruktur internet, gagap teknologi, atau tak bakat menulis, sering dijadikan sebagai alasan pembenar untuk tidak melakukan aktivitas ngeblog. Selain itu, banyak juga warga masyarakat, khususnya mereka yang secara finansial memiliki modal yang lebih dari cukup untuk melakukan aktivitas ngeblog, yang belum mengenal media maya ini. Sesekali, tanyalah kepada teman sekerja atau tetangga kita! Kenalkah mereka dengan istilah blog atau bloger? Tak usah mengelus dada atau menahan napas kalau kita mendapatkan jawaban yang mengecewakan.</p>
<p>Pertanyaan semacam ini perlu menjadi agenda khusus untuk dibahas dalam Pesta Bloger 2008 (PB 2008) yang notabene mengusung tema ”blogging for society”. Perlu ada upaya dan terobosan jitu agar masyarakat (khususnya kalangan kelas menengah) bisa “melek blog”. Media publik, baik cetak maupun elektronik, semacam koran, majalah, tabloid, radio, atau televisi, perlu dimanfaatkan seefektif mungkin untuk memperkenalkan blog kepada masyarakat luas. Jangan sampai PB 2008 terjebak menjadi sebuah pesta yang terkesan elitis dan inklusif yang hanya sekadar menjadi ajang tatap muka atau kangen-kangenan semata.</p>
<p>Lagi pula, penggunaan frasa “Pesta Bloger” agaknya juga menunjukkan sebuah perhelatan yang sarat dengan keglamoran dan hura-hura. Di tengah ancaman krisis global yang kini tengah mengintai, penggunaan istilah “pesta” agaknya juga bisa menimbulkan konotasi yang bernada miring. “Temu Bloger”, misalnya, bisa menjadi pilihan yang lebih tepat untuk menggantikannya. Frasa ini terkesan lebih populis dan jauh dari kesan hura-hura.</p>
<p>Yang tidak kalah penting untuk dibahas tentu saja upaya untuk mempertahankan kemerdekaan berekspresi bagi para bloger agar tetap eksis dalam menyampaikan pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif kepada publik sehingga menjadi media yang benar-benar mencerdaskan dan mencerahkan. Jangan sampai terjadi, gara-gara tulisannya di blog, seorang bloger harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Kemerdekaan berekspresi yang dimaksud tentu saja bukan kemerdekaan ”waton sulaya” yang menjadikan blog sebagai media untuk menyuarakan sentimen kesukuan, golongan, agama, atau ras.</p>
<p>Ini tidak lantas berarti bahwa saya ”alergi” terhadap PB 2008. Saya sangat menghargai dan mengapresiasi para penggagasnya dan teman-teman bloger yang terlibat di dalamnya. Saya juga sangat menghormati jerih payah dan kerja keras seluruh tim PB 2008 yang sudah demikian intens mengatur dan mempersiapkan segalanya, termasuk menjalin partner dan sponsorship untuk mendukung acara. Bahkan, konon Kedutaan Besar Amerika Serikat bersedia menjadi salah satu sponsor utama yang paling awal menyatakan komitmennya untuk mendukung PB 2008. Saya juga sangat percaya, figur semacam <a href="http://ndorokakung.com/" target="_blank">Ndorokakung</a> yang kebetulan didaulat menjadi Chairman Pesta Blogger 2008, memiliki pandangan visioner untuk menjadikan PB 2008 sebagai ajang yang eksklusif, terbuka, dan bersahabat. Meski demikian, perlu ada asupan pemikiran dan urun rembug dari berbagai kalangan bloger agar PB 2008 menjadi ikon dunia maya yang populis; menjadi ”magnet” yang memiliki daya pikat sehingga banyak kalangan yang tertarik untuk mengakrabinya.</p>
<p>Nah, selamat berpesta, semoga PB 2008 benar-benar menjadi perhelatan yang memberikan manfaat kepada para bloger dalam upaya ikut berkiprah membangun peradaban bangsa yang lebih santun, terhormat, dan bermartabat. ***<br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Saturday, 8 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/08/domain-baru-dengan-hosting-gratis/" title="Domain Baru dengan Hosting Gratis">Domain Baru dengan Hosting Gratis (163)</a></li>
<li>Thursday, 30 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/30/pertemuan-tak-terduga-dengan-mas/" title="Pertemuan Tak Terduga dengan Mas Andy MSE">Pertemuan Tak Terduga dengan Mas Andy MSE (118)</a></li>
<li>Friday, 24 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/24/terkena-kutukan-mbah-google/" title="Terkena Kutukan Mbah Google">Terkena Kutukan Mbah Google (176)</a></li>
<li>Thursday, 25 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/25/mengantisipasi-ulah-hacker-%e2%80%9chitam%e2%80%9d/" title="Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam”">Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam” (109)</a></li>
<li>Monday, 22 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/22/nofollow-free-plugin-yang-ramah/" title="Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung">Nofollow Free: Plugin yang Ramah kepada Pengunjung (123)</a></li>
<li>Saturday, 20 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/20/tag-award-antara-silaturahmi/" title="Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi">Tag Award: antara Silaturahmi dan Apresiasi (98)</a></li>
<li>Wednesday, 10 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/10/menguji-validitas-blog-berdasarkan/" title="Menguji Validitas Blog Berdasarkan Standar Web">Menguji Validitas Blog Berdasarkan Standar Web (70)</a></li>
<li>Friday, 25 July 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/07/25/dihajar-komentar-spam/" title="Dihajar Komentar SPAM">Dihajar Komentar SPAM (50)</a></li>
<li>Saturday, 5 July 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/07/05/bahasa-blog-antara-gaya-dan-kepentingan-2/" title="Bahasa Blog: Antara Gaya dan Kepentingan Ekspresi">Bahasa Blog: Antara Gaya dan Kepentingan Ekspresi (55)</a></li>
<li>Monday, 30 June 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/06/30/mengintip-dapur-blog-untuk/" title="Mengintip &#8220;Dapur&#8221; Blog untuk Menyentuh SEO">Mengintip &#8220;Dapur&#8221; Blog untuk Menyentuh SEO (57)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/10/29/pesta-bloger-untuk-apa-dan-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2)</title>
		<link>http://sawali.info/2008/10/26/ontran-ontran-di-negeri-kelelawar/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/10/26/ontran-ontran-di-negeri-kelelawar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 22:11:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>

		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>

		<category><![CDATA[kekuasaan]]></category>

		<category><![CDATA[pesta demokrasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=1392</guid>
		<description><![CDATA[*** Sebelum membaca kisah selengekan ini, sebaiknya baca dulu penggalan kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)! ***
Pelayanan publik yang kacau akibat proses rekruitmen pegawai yang salah urus membuat nasib bangsa kelelawar makin terpuruk. Para pejabat berpesta di puncak menara kekuasaan, sementara rakyat kelelawar di bawah sana menjerit dan terlunta-lunta. Kue kekuasaan hanya dinikmati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*** Sebelum membaca kisah <em>selengekan</em> ini, sebaiknya baca dulu penggalan kisah<a title="View this post, &quot;Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)&quot;" href="../2008/10/16/menagih-janji-politisi-di-negeri/"> Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)</a>! ***</p>
<p>Pelayanan publik yang kacau akibat proses rekruitmen pegawai yang salah urus membuat nasib bangsa kelelawar makin terpuruk. Para pejabat berpesta di puncak menara kekuasaan, sementara rakyat kelelawar di bawah sana menjerit dan terlunta-lunta. Kue kekuasaan hanya dinikmati oleh beberapa gelintir pejabat beserta para kroni dan kanca-kancanya. Tak perlu heran kalau setiap hari, mereka yang tengah memangku kekuasaan selalu kebanjiran upeti. Para kelelawar penjilat tak sungkan-sungkan mencium pantat atasannya. Jika perlu, kentut pun mereka kantongi sebagai aji-aji dan azimat agar mendapatkan bagian kue kekuasaan.</p>
<p>Yang lebih parah, kaum elite kelelawar bisa dengan mudah pamer kekayaan di tengah jutaan rakyat kelelawar yang kelaparan. Ke mana-mana menaburkan pesona senyum sambil mempertontonkan taring emasnya yang berkilat-kilat tertimpa cahaya lampu merkuri. Sungguh kontras dengan nasib jutaan kelelawar yang ompong giginya.</p>
<p>Ada seekor kelelawar yang cukup disegani. Para penduduk sering menyebut kelelawar berperut buncit dan berjidat licin ini sebagai Ki Gedhe Padharane. Dialah yang menguasai segenap lorong negeri kelelawar hingga ke sudut-sudut terpencil yang tak tercantum dalam peta. Para pengikutnya yang dikenal fanatik tersebar di berbagai lapis dan lini. Punya banyak spion dan mata-mata. Tak seekor pun kelelawar yang punya nyali untuk mengkritik kebijakan dan gaya kepemimpinannya yang dinilai arogan dan jumawa. Bisik-bisik dan cericit bernada miring akan cepat sampai ke telinga Ki Gedhe Padharane. Jika tak ingin digebug, semua kelelawar mesti tunduk pada semua selera dan keinginannya.</p>
<p>Di tengah singgasana kekuasaannya, Ki Gedhe Padharane selalu dikerumuni anak buahnya yang berlapis-lapis. Ada ring 1, ring 2, ring 3, dan seterusnya. Tak sembarang kelelawar bisa masuk menghadapnya sebelum melewati ring-ring yang dikelilingi prajurit kelelawar yang setia dan militan. Sementara itu, di lorong sebelahnya, ada sekawanan kelelawar yang seharusnya mampu menjadi kekuatan kontrol terhadap kebijakan Ki Gedhe Padharane. Mereka adalah wakil-wakil kelelawar di parlemen yang dipilih melalui sebuah “pesta” demokrasi yang sarat rekayasa.</p>
<p>Partai-partai kelelawar hanyalah sekadar asesoris untuk membuktikan pada dunia bahwa bangsa dan negeri kelelawar sangat menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Namun, sejatinya demokrasi di negeri kelelawar hanyalah demokrasi semu yang bertentangan secara diametral dengan prinsip kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan. Semua partai merupakan boneka buatan Ki Gedhe Padharane untuk melanggengkan kekuasaan. Dalam hal pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup bangsa kelelawar, para anggota parlemen itu selalu mendendangkan suara koor yang padu; mengikuti komando dan aba-aba Ki Gedhe Padharane. Beberapa hari kemudian, para wakil rakyat ini melintas di atas kerumunan rakyat kelelawar dengan pongah. Sesekali meludah dan berak di sembarang tempat hingga menimbulkan bau busuk.</p>
<p>Situasi semacam itu berlangsung bertahun-tahun lamanya. Rakyat kelelawar seperti berada di atas tungku kekuasaan Ki Gedhe Padharane yang panas. Namun, tak punya kesanggupan untuk bercericit, berteriak, apalagi melawannya. Mereka hanya bisa membisu menyaksikan kepongahan kelelawar berperut buncit, berjidat licin, dan bertaring emas itu. Dukungan dan kebulatan tekad untuk selalu memenangkan orde kekuasaan Ki Gedhe Padharane membuat kelelawar yang kepalanya sudah mulai penuh dengan uban itu makin tak sanggup melakukan kontrol diri. Dia terus tenggelam dalam keasyikan menumpuk harta melalui slogan pembangunan ekonomi dan daya saing bangsa. Anak-anak dan keturunannya dibiarkan memanjakan naluri hedonis dan konsumtifnya sesuka hati. Demikian juga anak buahnya yang berada di berbagai lapis dan lini. Mereka digelontor dengan berbagai kemudahan dan fasilitas serba mewah. Jika masih kurang, tawaran hutang luar negeri diembatnya juga untuk memuaskan nafsu kebuasan hatinya. Para pejabat birokrasi juga dibiarkan melakukan korupsi, manipulasi, atau me-mark-up anggaran, asalkan dia dapat upeti yang besar. Perilaku culas dan biadab merajalela. Penipuan berlangsung kasat mata, tapi (nyaris) tak tersentuh hukum, lantaran para penegak hukum sudah diindoktrinasi untuk menjadikan Ki Gedhe Padharane sebagai sumber dari segala sumber hukum.</p>
<p>Rakyat kelelawar makin tak berdaya. Kemiskinan benar-benar mencekik leher. Angka kematian melonjak drastis. Kelaparan dan busung lapar terjadi di seantero negeri. Namun, kaum elite negara yang seharusnya bertindak cekatan untuk mengulurkan bantuan seolah-olah menutup mata dan telinga terhadap derita bangsa kelelawar. Setiap hari selalu saja terdengar berita kematian. Kelelawar-kelelawar yang baru lahir jarang yang sanggup memperpanjang napasnya begitu menghirup udara di bumi kelelawar yang busuk dan pengap.</p>
<p>Atmosfer bumi kelelawar yang pengap dan busuk agaknya membuat darah bangsa kelelawar mendidih. Mereka sudah mulai muak dengan perilaku pejabat yang arogan dan wakil rakyat yang kehilangan kepekaan. Bahkan, mereka mulai berani melakukan kritik dan serangan terhadap Ki Gedhe Padharane yang dianggap sebagai diktator. Kelelawar-kelelawar yang kritis mulai keluar dari persembunyian, lantas terbang melintasi kerumunan bangsa kelelawar sambil menyebarkan kasak-kusuk.</p>
<p>Ki Gedhe Padharane agaknya mulai menangkap situasi yang kurang menguntungkan. Jika dibiarkan, bisa jadi akan mengancam singgasananya. Maka, dengan komando dan aba-aba yang masih ada dalam genggaman tangannya, dia segera memerintahkan anak buahnya untuk menggebug siapa pun kelelawar yang berani mengusik ketenangannya. Situasi pun makin memanas. Semakin banyak yang digebug, semakin bermunculan kelelawar-kelelawar kritis untuk melakukan perlawanan, meski harus menanggung risiko disingkirkan. Demo mulai marak. Kerumunan kelelawar untuk menuntut hak dan kebebasannya yang selama ini terpenjara terjadi di mana-mana. Sambil menenteng sehelai kertas yang dicontek dari puisi karya penyair negeri seberang, seekor kelelawar muda yang kurus dan pucat mendendangkan lirik yang penuh agitasi dan sarat perlawanan.</p>
<blockquote><p><strong>Peringatan</strong></p>
<blockquote><p>jika rakyat pergi<br />
ketika penguasa pidato<br />
kita harus hati-hati<br />
barangkali mereka putus asa</p></blockquote>
<blockquote><p>kalau rakyat sembunyi<br />
dan berbisik-bisik<br />
ketika membicarakan masalahnya sendiri<br />
penguasa harus waspada dan belajar mendengar</p></blockquote>
<blockquote><p>bila rakyat tidak berani mengeluh<br />
itu artinya sudah gawat<br />
dan bila omongan penguasa<br />
tidak boleh dibantah<br />
kebenaran pasti terancam</p></blockquote>
<blockquote><p>apabila usul ditolak tanpa ditimbang<br />
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan<br />
dituduh subversif dan mengganggu keamanan<br />
maka hanya ada satu kata: lawan!<br />
*** <strong>Wiji Thukul (1963)</strong> ***</p></blockquote>
</blockquote>
<p>Anak buah Ki Gedhe Padharane kebakaran jenggot. Kelelawar muda yang pucat dan kurus itu dinilai telah melakukan kegiatan subversi yang bisa membahayakan negara. Maka, dengan segenap kekuatan laskar kelelawar yang militan dan terlatih, mereka mengepung dan memburu kelelawar muda itu hingga ke lorong neraka sekalipun. *** <strong>(bersambung)</strong><br />
<h3>Tulisan Terkait:</h3>
<ul class="related_post">
<li>Monday, 20 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/20/pesona-uang-dan-kekuasaan/" title="Pesona Uang dan Kekuasaan">Pesona Uang dan Kekuasaan (172)</a></li>
<li>Saturday, 9 August 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/08/09/demokrasi-yang-sehat-kapan-terwujud/" title="Demokrasi yang Sehat: Kapan Terwujud?">Demokrasi yang Sehat: Kapan Terwujud? (49)</a></li>
<li>Tuesday, 29 April 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/04/29/pilkada-pasca-reformasi-quo-vadis/" title="Pilkada Pasca-Reformasi, Quo-Vadis?">Pilkada Pasca-Reformasi, Quo-Vadis? (34)</a></li>
<li>Thursday, 28 February 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/02/28/senja-kala-di-pancalaradya/" title="Senja Kala di Pancalaradya">Senja Kala di Pancalaradya (21)</a></li>
<li>Wednesday, 12 November 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/11/12/situasi-chaos-di-negeri-kelelawar/" title="Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3)">Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3) (113)</a></li>
<li>Thursday, 16 October 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/10/16/menagih-janji-politisi-di-negeri/" title="Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)">Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1) (161)</a></li>
<li>Wednesday, 17 September 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/09/17/membumikan-nilai-demokrasi-dari/" title="Membumikan Nilai Demokrasi dari Ruang Kelas">Membumikan Nilai Demokrasi dari Ruang Kelas (65)</a></li>
<li>Tuesday, 27 May 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/05/27/cukup-satu-malin-kundang-saja/" title="Cukup Satu Malin Kundang Saja!">Cukup Satu Malin Kundang Saja! (61)</a></li>
<li>Wednesday, 21 May 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/05/21/arogansi-tumenggung-wilmuna/" title="Arogansi Tumenggung Wilmuna">Arogansi Tumenggung Wilmuna (38)</a></li>
<li>Monday, 12 May 2008 &#8212; <a href="http://sawali.info/2008/05/12/tragedi-mei-1998-dan-runtuhnya/" title="Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita">Tragedi Mei 1998 dan Runtuhnya Basis Kemanusiawian Kita (65)</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/10/26/ontran-ontran-di-negeri-kelelawar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
