Home » Wayang » Elegi Pasca-Perang » 500008 views

Elegi Pasca-Perang

Kategori Wayang Oleh

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya

Sisa perang dahsyat masih menyengat. Bau bangkai busuk dan anyir menebar ke segala penjuru; diterbangkan angin dan mengabarkan berita maut lewat jaringan internet, televisi, koran, dan majalah. Dunia gempar. Para penonton dan pembaca di seluruh lapis dunia terharu. Para pengamat hanya bisa mengangkat bahu sambil bilang, “Dunia telah memasuki era bar-bar. Nyawa manusia tak lebih berharga daripada nyawa binatang.”

Peperangan, dalam fase zaman yang paling purba sekalipun, telah menafikan dan mengebiri nilai kemanusiaan. Ambisi, nafsu, dan keserakahan telah membungkus manusia bertemperamen iblis. Kebiadaban menjadi alternatif jitu dalam memuaskan kebuasan hati. Batas antara kebenaran dan kemunafikan menjadi kabur.

Lihatlah padang Kurusetra! Betapa kegersangan di sana menjadi saksi sejarah kebiadaban perang. Gedung-gedung hangus, pepohonan tumbang, rumah-rumah penduduk porak-poranda, dinding-dinding tempat ibadah bolong-bolong tertembus peluru. Bumi pekat oleh darah. langit gelap berkabut asap mesiu. Anak-anak menjerit. Ibu-ibu limbung meratapi kepergian sang suami. Air mata dan darah larut dalam gelombang duka.

Di tepi sebuah kolam renang –salah satu kawasan kantong zona bebas perang– seorang lelaki kekar mendesah. Pikirannya kusut. Ulu hatinya bagai dipukul-pukul godam. Matanya nanap. Berulang-ulang, mulutnya mendesis.

Betapa kini lelaki itu merasakan kesepian yang menyontak-nyontak. Tiada kawan dan sanak-saudara. Dunia bagaikan gugusan jelaga yang gelap-pekat. Dan ia seolah mengarunginya sendirian. Lagu yang sanggup ia senandungkan hanyalah sebuah elegi yang menusuk-nusuk nurani, “Betapa malang nasibku …”

“Ah, ternyata benar kata Paman Widura. Perang akan memakan korban dan darah Bharata sendiri,” desah lelaki kekar itu di bawah siraman terik matahari yang menyengat ubun-ubun.

Dialah Duryudana, rezim diktator Hastina yang serakah dengan impian-impiannya mengangkangi bumi Amarta sebagai imperiumnya. Bayangan kekuasaan yang pernah digenggamnya menggoyang-goyang benaknya. Betapa ia telah bertindak bodoh, permisif, dengan membiarkan para pendukungnya menjilat-jilat pantatnya.

Mereka memang tak pernah konfrontatif, selalu “yes” terhadap segala kebijakannya. Tak ada kritik. Tak ada umpan balik, termasuk ketika ia memutuskan untuk perang. Ah, ternyata justru menjebaknya dalam kubangan penderitaan yang tak berujung.

Tak kuat menahan terik matahari, Duryudana dengan cepat amblas ke kolam renang. Sejuk, dapat melupakan sementara beban yang menindih pikiran kusutnya. Ia tak menyadari kalau sedari tadi ada beberapa pasang mata yang mengintai gerak-geriknya. Mereka adalah para eksponen Pendawa dengan penasihat perangnya, Kresna.

Duryudana tersentak ketika kepalanya mendongak. Di semua tepi dan sudut kolam telah berdiri sosok yang amat dikenalnya.

“Oh, Sang Raja! Mengapa Sampeyan mesti ngumpet di sini?” tanya Yudistira sinis. Duryudana gelagapan. Wajahnya pucat. “Oh, kasihan, kasihan! Maksud hati mau ngumpet, apa daya tempat sudah terkepung!”

“Yudistira keparat! Saya bukannya mau ngumpet, tapi refreshing, tahu?” jawab Duryudana sembari mengucak-ucak bola matanya.

“Ayo Duryudana, tunjukkan arogansimu seperti ketika dengan pongahnya Sampeyan membuat onar di Balai Sigala-gala, melecehkan seorang perempuan dengan menelanjangi Mbak Drupadi, atau pada saat membuang kami di rimba Afrika!” cocor Bima dengan logat berat.

Sindiran-sindiran pedas meluncur. Duryudana terpojok. Penyesalan terpancar dari sorot matanya yang nanar.

“Diktator macam Sampeyan ndak perelu dikasih hidup!” sergah Nakula yang berwajah hispanic seperti Oscar De La Hoya itu.

“Baik, silakan kalian maju bersama, termasuk penasihat kalian yang licik itu!”

“Oh, bukan watak Pendawa main kroyok seperti Kurawa membantai beramai-ramai terhadap Abimanyu!” seloroh Kresna. “Sekarang pilih saja di antara mereka berlima. Satu saja!”

Duryudana diam sejurus. Tiba-tiba bola matanya menatap Bima yang tegar dan perkasa. Bima tanggap. Dengan cekatan, digelandangnya tangan Duryudana. Dalam sekejap, mereka telah terlinat duel sengit. Ronde demi ronde berlangsung. Adu pukulan beri,bang. Di bawah terik matahari, kedua wayang yang mirip petinju itu semakin bernafsu meng-KO lawan. Peluh membanjiri tubuh mereka.

Mendadak, terdengar deru lembut sebuah mobil. Kresna, Yudistira, Harjuna, Nakula, dan Sadewa menoleh serentak. Seorang lelaki separo baya berparas kharismatik turun dari mobil. Ternyata adalah Baladewa, kakak Kresna yang selama perang panas Bharatayudha berlangsung direkayasa Kresna agar tak terlihat dalam peperangan dengan memberikan kesempatan berlibur ke luar negeri.

Baladewa tersenyum. Ia begitu terpesona melihat kelincahan foot work dan body weaving yang (nyaris) sempurna. Maklum, kedua sosok yang terlibat dalam duel itu adalah bekas asuhan almarhum Durna yang bertangan dingin. Duel terus berlangsung seru. Namun, posisi mereka masih fifty-fifty. Melihat posisi demikian, Kresna membisiki Harjuna agar membewri isyarat kepada Bima untuk memukul telak paha kiri lawannya. Bima merespon cepat. Dengan gerakan indah sembari merunduk, tangan kanan Bima yang kokoh segera menghantam kuat paha kiri Duryudana. Duryudana terhuyung. Dengan gerakan kilat, Bima segera mencocor tubuh dan kepala Duryudana. Tak ayal lagi, tubuh Duryudana terkapar mencium tepi kolam renang. KO.

Melihat kejadian itu, Baladewa murka.

“Hai, Bima! Tinju macam apa itu memukul bagian bawah perut! Tidak fairplay! Kamu bisa di-skors Badan Tinju Perwayangan, tahu?” sungut wayang kharismatik itu. Matanya tajam menatap Bima.

Bima gusar ketika dengan cepat Baladewa mengeluarkan senapan dari dalam mobilnya. Untung saja Kresna berhasil menyerobotnya.

“Sudahlah, Mas! Selama ini para Pendawa tak berkutik akibat sikap diktator Duryudana! Biarlah Bima melenyapkan kediktatoran itu bersama mampusnya Duryudana!” rajuk Kresna. Baladewa manggut-manggut, mencoba meredamkan amarah.

Sementara itu, di bibir kolam, tubuh Duryudana terkapar loyo. Pandangan matanya kabur. Ia pun tak sanggup lagi bersenandung elegi kehancuran ketika sepasang matanya terkatup rapat selama-lamanya. Mampus! Tubuh sang diktator itu bagaikan onggokan gedebog psang yang nglumpruk. ***

oOo

Keterangan: gambar dicomot dari sini.

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

20 Comments

  1. Wah pak sawali ini hebat.. bisa disandingkan dengan ki manteb sudarsono..
    Luar biasa pak, sebuah kritikan yang sangat mengena tentunya bagi duryudono-duryudono yang hari ini masih berusaha mengahalalkan segala cara untuk menjaga ke-eksistensian ke-duryudonoan-nya πŸ™‚

    azaxs’s last blog post..Jangan Main Instan!

    ooo
    wakakakakaka πŸ™‚ mas azaxs ini ada2 saja. walah, lakon ini kan hanya sekadar wayangan komtempore, mas. siapa pun bisa melakukannya. beda dg pak mantep, selain konon harus memiliki bakat juga mesti ditunjang dg latihan serius dan tak kenal lelah. sedangkan, “wayang mbeling” di sini sekadar media utk melontarkan kritik sambil guyon, mas, hehehehe πŸ’‘

  2. Ki, yen saumpomo ulun melu-melu ndongeng soal wayang, nopo panjenengan nayogyani? ampun dipun anggep dados saingan lho πŸ™‚

    Ki Bodronoyo’s last blog post..Pasetran Gandamayit

    ooo
    kenapa nggak, mas nudee. aku malah dadi seneng entuk panglipur saka sedulur ana manca negara naging tasih nduweni kawigaten marang budayane dhewe, hehehehe πŸ˜† aku malah wis kangen kepingin ndang maca postingane, hehehehe πŸ˜†

  3. akhirnya baca kisah wayang lagi, neh. baladewa keren habis dengan mobilnya, hehe.

    saya sekarang malah tertarik dengan gambar-gambar wayangnya, pak. kalau tidak keberatan kapan-kapan gambar-gambar wayang itu diberi nama. misalnya gambar Bima yang hidungnya agak panjang dan lancip dengan rambutnya yang gimana gitu… hehe. di atas ada tiga gambar tokoh wayang. sayangnya, saya yang awam dalam dunia perwayangan tidak mengenal gambar siapa gerangan. tiba-tiba saya menjadi tertarik dengan gambar-gambar itu.

    manusia memang serakah ya, pak. contohnya saya ini, hehe. setelah membaca ceritanya malah ingin mengenal wajah tokoh2nya. pada hari jum’at kemarin saya sempat singgah di desa Wonosari. Nah, di sana ada kesenian wayang. sayangnya, saya tidak mengerti apa yang diceritakan karena dialog2nya menggunakan bahasa jawa semua dan saya tidak mengenali wajah-wajah tokoh2 wayang itu. yang saya nikmati ya suara gamelan dan musiknya saja. hik… padahal menarik banget kalau bisa mengenali tokoh2 itu dari hidungnya, rambutnya, bla… bla…

    _salam_

    Hanna Fransisca’s last blog post..Jalinan Kasih2

    ooo
    ke wonosari gunung kidulkah, mbak hanna? hehehehe πŸ˜† ttg gambar wayang, lain kali insyaallah saya beri nama di bawahnya, mbak. itu bukan serakah kok, hehehehe πŸ’‘ utk gambar di post ini yang paling atas adalah duryudana, berikutya keluarga pendawa, dan yang terakhir baladewa, hehehe πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Wayang

TEROR DI NEGERI WIRATHA

Dalang: Sawali Tuhusetya Akibat kebencian Kurawa yang telah mengilusumsum melalui aksi tipu
Go to Top