Home » Wayang » Elegi Pasca-Perang » 502275 views

Elegi Pasca-Perang

Kategori Wayang Oleh

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya

Sisa perang dahsyat masih menyengat. Bau bangkai busuk dan anyir menebar ke segala penjuru; diterbangkan angin dan mengabarkan berita maut lewat jaringan internet, televisi, koran, dan majalah. Dunia gempar. Para penonton dan pembaca di seluruh lapis dunia terharu. Para pengamat hanya bisa mengangkat bahu sambil bilang, “Dunia telah memasuki era bar-bar. Nyawa manusia tak lebih berharga daripada nyawa binatang.”

Peperangan, dalam fase zaman yang paling purba sekalipun, telah menafikan dan mengebiri nilai kemanusiaan. Ambisi, nafsu, dan keserakahan telah membungkus manusia bertemperamen iblis. Kebiadaban menjadi alternatif jitu dalam memuaskan kebuasan hati. Batas antara kebenaran dan kemunafikan menjadi kabur.

Lihatlah padang Kurusetra! Betapa kegersangan di sana menjadi saksi sejarah kebiadaban perang. Gedung-gedung hangus, pepohonan tumbang, rumah-rumah penduduk porak-poranda, dinding-dinding tempat ibadah bolong-bolong tertembus peluru. Bumi pekat oleh darah. langit gelap berkabut asap mesiu. Anak-anak menjerit. Ibu-ibu limbung meratapi kepergian sang suami. Air mata dan darah larut dalam gelombang duka.

Di tepi sebuah kolam renang –salah satu kawasan kantong zona bebas perang– seorang lelaki kekar mendesah. Pikirannya kusut. Ulu hatinya bagai dipukul-pukul godam. Matanya nanap. Berulang-ulang, mulutnya mendesis.

Betapa kini lelaki itu merasakan kesepian yang menyontak-nyontak. Tiada kawan dan sanak-saudara. Dunia bagaikan gugusan jelaga yang gelap-pekat. Dan ia seolah mengarunginya sendirian. Lagu yang sanggup ia senandungkan hanyalah sebuah elegi yang menusuk-nusuk nurani, “Betapa malang nasibku …”

“Ah, ternyata benar kata Paman Widura. Perang akan memakan korban dan darah Bharata sendiri,” desah lelaki kekar itu di bawah siraman terik matahari yang menyengat ubun-ubun.

Dialah Duryudana, rezim diktator Hastina yang serakah dengan impian-impiannya mengangkangi bumi Amarta sebagai imperiumnya. Bayangan kekuasaan yang pernah digenggamnya menggoyang-goyang benaknya. Betapa ia telah bertindak bodoh, permisif, dengan membiarkan para pendukungnya menjilat-jilat pantatnya.

Mereka memang tak pernah konfrontatif, selalu “yes” terhadap segala kebijakannya. Tak ada kritik. Tak ada umpan balik, termasuk ketika ia memutuskan untuk perang. Ah, ternyata justru menjebaknya dalam kubangan penderitaan yang tak berujung.

Tak kuat menahan terik matahari, Duryudana dengan cepat amblas ke kolam renang. Sejuk, dapat melupakan sementara beban yang menindih pikiran kusutnya. Ia tak menyadari kalau sedari tadi ada beberapa pasang mata yang mengintai gerak-geriknya. Mereka adalah para eksponen Pendawa dengan penasihat perangnya, Kresna.

Duryudana tersentak ketika kepalanya mendongak. Di semua tepi dan sudut kolam telah berdiri sosok yang amat dikenalnya.

“Oh, Sang Raja! Mengapa Sampeyan mesti ngumpet di sini?” tanya Yudistira sinis. Duryudana gelagapan. Wajahnya pucat. “Oh, kasihan, kasihan! Maksud hati mau ngumpet, apa daya tempat sudah terkepung!”

“Yudistira keparat! Saya bukannya mau ngumpet, tapi refreshing, tahu?” jawab Duryudana sembari mengucak-ucak bola matanya.

“Ayo Duryudana, tunjukkan arogansimu seperti ketika dengan pongahnya Sampeyan membuat onar di Balai Sigala-gala, melecehkan seorang perempuan dengan menelanjangi Mbak Drupadi, atau pada saat membuang kami di rimba Afrika!” cocor Bima dengan logat berat.

Sindiran-sindiran pedas meluncur. Duryudana terpojok. Penyesalan terpancar dari sorot matanya yang nanar.

“Diktator macam Sampeyan ndak perelu dikasih hidup!” sergah Nakula yang berwajah hispanic seperti Oscar De La Hoya itu.

“Baik, silakan kalian maju bersama, termasuk penasihat kalian yang licik itu!”

“Oh, bukan watak Pendawa main kroyok seperti Kurawa membantai beramai-ramai terhadap Abimanyu!” seloroh Kresna. “Sekarang pilih saja di antara mereka berlima. Satu saja!”

Duryudana diam sejurus. Tiba-tiba bola matanya menatap Bima yang tegar dan perkasa. Bima tanggap. Dengan cekatan, digelandangnya tangan Duryudana. Dalam sekejap, mereka telah terlinat duel sengit. Ronde demi ronde berlangsung. Adu pukulan beri,bang. Di bawah terik matahari, kedua wayang yang mirip petinju itu semakin bernafsu meng-KO lawan. Peluh membanjiri tubuh mereka.

Mendadak, terdengar deru lembut sebuah mobil. Kresna, Yudistira, Harjuna, Nakula, dan Sadewa menoleh serentak. Seorang lelaki separo baya berparas kharismatik turun dari mobil. Ternyata adalah Baladewa, kakak Kresna yang selama perang panas Bharatayudha berlangsung direkayasa Kresna agar tak terlihat dalam peperangan dengan memberikan kesempatan berlibur ke luar negeri.

Baladewa tersenyum. Ia begitu terpesona melihat kelincahan foot work dan body weaving yang (nyaris) sempurna. Maklum, kedua sosok yang terlibat dalam duel itu adalah bekas asuhan almarhum Durna yang bertangan dingin. Duel terus berlangsung seru. Namun, posisi mereka masih fifty-fifty. Melihat posisi demikian, Kresna membisiki Harjuna agar membewri isyarat kepada Bima untuk memukul telak paha kiri lawannya. Bima merespon cepat. Dengan gerakan indah sembari merunduk, tangan kanan Bima yang kokoh segera menghantam kuat paha kiri Duryudana. Duryudana terhuyung. Dengan gerakan kilat, Bima segera mencocor tubuh dan kepala Duryudana. Tak ayal lagi, tubuh Duryudana terkapar mencium tepi kolam renang. KO.

Melihat kejadian itu, Baladewa murka.

“Hai, Bima! Tinju macam apa itu memukul bagian bawah perut! Tidak fairplay! Kamu bisa di-skors Badan Tinju Perwayangan, tahu?” sungut wayang kharismatik itu. Matanya tajam menatap Bima.

Bima gusar ketika dengan cepat Baladewa mengeluarkan senapan dari dalam mobilnya. Untung saja Kresna berhasil menyerobotnya.

“Sudahlah, Mas! Selama ini para Pendawa tak berkutik akibat sikap diktator Duryudana! Biarlah Bima melenyapkan kediktatoran itu bersama mampusnya Duryudana!” rajuk Kresna. Baladewa manggut-manggut, mencoba meredamkan amarah.

Sementara itu, di bibir kolam, tubuh Duryudana terkapar loyo. Pandangan matanya kabur. Ia pun tak sanggup lagi bersenandung elegi kehancuran ketika sepasang matanya terkatup rapat selama-lamanya. Mampus! Tubuh sang diktator itu bagaikan onggokan gedebog psang yang nglumpruk. ***

oOo

Keterangan: gambar dicomot dari sini.

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

20 Comments

  1. Plekencog waru dhoyong (ini mah punya Narada), beruntung idola ulun mboya melu brontoyudo joyobinangun. Antasena lan Wisanggeni mokswa sakdurunge perang saka palilahe sang hyang wenang. Jadilah kejujuran dan ketegasan sikap mereka tak terkotori oleh darah yang mengalir oleh perang itu

    Ki Bodronoyo’s last blog post..Pasetran Gandamayit

    ooo
    wew… mas nudee mengidolakan antaseno dan wisanggeni? wah! keturunan pendawa ini memang dikenal sakti, hehehehe 😆 mereka juga sangat fair, meski dinilai sering berlaku tidak santun terhadap orang tua karena bahasanya selalu ngoko, hehehehe 😆

  2. ..dan akhirnya kebaikan mengalahkan kebatilan cuman kok caranya pake nglanggar aturan ya Pak…?? mukul di bawah pinggang dalam tinju kan dilarang… Baladewa-nya sendiri yg jadi wasit jga gak konsisten dgn peraturan… dan bahkan si Kresna malah mendukung “pelanggaran” yg dilakukan Bima… Apa untuk menumpas kejahatan… segala macam cara (itu) di-halal-kan ya Pak..??

    ooo
    wah, itulah kenyataan yang terjadi dalam jagad pakeliran, bung serdadu. bisa jadi itu juga menggambarkan realitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. utk mencapai tujuan seringkali orang orang harus berperilaku ala machiavelli yang menghalalkan segala cara. wah, repot juga!

  3. Mas…ane nggak komentar, cuma senyum-senyum sambil baca cerita sampeyan. Cerita ini mengungkap politik praktis ya, pokoke pukul aja. Btw, judulnya mengingatkan pada lagunya Mas Katon (elegi luka hati). Makasih Mas

    ooo
    elegi luka hati? wah, saya kurang begitu firendly dg lagu2nya katon, mas adi, hehehe 🙂 btw, setiap kali mau masuk ke blog mas adi kok selalu harus lewat open dns, yak? apa karena ini berkaitan dg broadband langganan saya?

  4. Baladewa pada lakon itu didaulat menjadi wasit dalam duel Brotoseno melawan Duryudana. Baladewa dipilih menjadi wasit karena dia terkenal sebagai sosok yang tegas dan adil. Sikapnya hitam-putih. Baladewa pun tidak pernah mau menerima suap baik yang hanya Rp4juta maupun Rp600juta. Sungguh ironis dengan wasit-wasit sepakbola kita yang masih bisa disuap.

    Bagian paha kiri Duryudana memang titik lemahnya. Seluruh tubuh Duryudana kebal terhadap semua senjata karena disinari oleh pancaran mata ibunya yang selalu menutup matanya yang telah bersumpah untuk itu. Karena Duryudana malu maka bagian kemaluannya ditutup dengan daun sehingga tidak ikut kebal. Itulah yang kemudian menjadi penyebab kekalahannya pada duel maut terakhir dengan Bima.

    Kematian Duryudana melengkapi kematian Kurawa. 100 orang Kurawa tumpes bles sementara Pandawa tetap utuh 5 orang: Puntadewa, Wrekudara, Janaka, Nakula dan Sadewa. Namun, pihak Pandawa bukannya tanpa korban. Abimanyu putra Arjuna tewas dikeroyok Kurawa. Gatotkaca tewas terkena rudal stringer yang dilepaskan Karna.

    Perang, di manapun, akan meninggalkan korban dipihak yang menang maupun yang kalah.

    arif’s last blog post..Gambar Bugil Artis

    ooo
    analisis yang mengagumkan. mas arif pasti sangat paham dunia pewayangan deh. hampir semua lakon kayaknya bener2 dikuasai mas arif. salut! begitulah mas arif gambaran realitas dalam jagad pakeliran yang bisa jadi juga kontekstual dg kenyataan objektif yang ada di tengah2 kehidupan masyarakat kita saat ini.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Wayang

TEROR DI NEGERI WIRATHA

Dalang: Sawali Tuhusetya Akibat kebencian Kurawa yang telah mengilusumsum melalui aksi tipu
Go to Top