Home » Antologi PBP » Cerpen » Sastra » Santhet » 35897 views

Santhet

Kategori Antologi PBP/Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen: Sawali Tuhusetya

Kang Jolodot marah besar. Darahnya berdesir deras. Kabut duka menyumbat dadanya.

“Pasti ada yang nggak beres!” berangnya menyaksikan ayam jagonya dihantam telak lawannya. “Jagoku ini sudah tiga kali jawara! Mustahil, mustahil!” pekiknya. Kang Jolodot menjadi gusar. Batinnya menerawang jauh. Tenggorokannya panas. Sementara, matahari membakar bumi dengan dahsyat. Menambah beban arena semakin panas. Penonton sabung ayam jingkrak-jingkrak tanpa irama. Rasanya Kang Jolodot ingin menyumbat mulut mereka. Namun, kini benar-benar terpojok. Merasa asing.

“Hore, jago Kang Jolodot KO. Kena tanduk matanya!” teriak salah seorang penonton disambung kegaduhan lain yang bergemuruh. Penonton semakin merapat. Riuh tanpa kendali. Gemanya membubung ke angkasa.

“Ayo hantam terus biar mampus!” teriak yang lain memberi semangat pada Bagong, jago lawan Kang Jolodot. Suasana semakin kacau. Lelap dalam keonaran yang mahadahsyat.

“Stop, stop!” bentak Kang Jolodot menyeruak kerumunan penonton. Dengan berkacak pinggang di tengah arena, mata Kang Jolodot menyapu bersih keributan. Mendadak suasana menjadi sepi. Nyenyet. Mirip deru bara api disiram air. Senyap. Semua penonton merunduk. Mereka hanya saling mencuri pandang dengan yang lain. Suasana tetap hening. Hanya sesekali terdengar kepakan sayap Bagong tanda kemenangan. Jago Kang Jolodot babak belur, tak berdaya.

“Dengar semua! Aku akan bikin perhitungan dengan Bejo. Pemilik Bagong. Mana orangnya?” serunya memecah keheningan. Tak ada yang berani bersuara. Sebab, mereka tahu selama ini Kang Jolodot dikenal sebagai orang yang brutal. Mudah sekali mengayunkan bogem mentah bila kemarahan sudah mencapai puncaknya, walau tindakannya salah besar. Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh gempal berkelebat di tengah arena. Semua penonton terkejut. Bisikan lirih mulai terdengar. Akhirnya ribut dan suasana bergemuruh lagi.

Tanpa banyak latah, sebuah bogem mentah Kang Jolodot melayang telak ke pipi Bejo. Bejo terhuyung ke belakang beberapa langkah. Bejo mencoba bertahan. Dengan napas memburu, Bejo nekad melawan kebrutalan Kang Jolodot. Jadilah arena sabung ayam itu menjadi arena perkelahian seru.

Semua penonton menjadi miris bercampur takut. Mereka ada yang lari tunggang langgang. Takut dijadikan saksi. Ada yang lari mengendap-endap sambil terus mengawasi jalannya perkelahian. Kadang terdengar jeritan histeris melengking merembet perut bumi. Lalu, sirna. Perkelahian semakin dahsyat. Penonton buyar. Tak ada yang berani mendekat.

Tiba-tiba darah segar mblabar ke tanah. Anyir baunya. Sesosok tubuh menggelepar tak berdaya mencium tanah. Ternyata adalah Bejo. Bejo menjadi korban kebrutalan Kang Jolodot. Penonton yang masih sempat melihat kebringasan Kang Jolodot lari terbirit-birit ketakutan. Melihat lawannya lemas tak berdaya, Kang Jolodot pergi meninggalkan arena. Sementara, di tengah keperihannya menahan belulangnya yang terasa ngilu, Bejo sempat mengumpat dan mengancam Kang Jolodot.

“Bangsat! Tunggu pembalasanku!” pekiknya lirih nyaris tak terdengar. Dengan sisa tenaganya, Bejo berusaha mengangkat tubuhnya berdiri. Berulangkali dicoba, namun terasa berat. Seolah terhimpit beban bumi yang ganas. Matahari telah condong ke barat. Perkampungan desa yang terpencil itu semakin nyenyet. Semua rumah penduduk tertutup rapat-rapat. Hanya gumam-gumam pendek terkadang menghiasi rumah mereka di sela keheningan.

“Jolodot itu kalau belum disanthet belum kapok, kok!” ancam seseorang di sebuah rumah yang cukup besar.

“Jangan keras-keras lho, Kang, nanti terdengar tetangga!” sambung istrinya mengingatkan.

“Aku mau bikin perhitungan jarak jauh dengan dia. Seminggu yang lalu keponakanku dihajar habis-habisan di tengah sawah. Kini adik kandungku, Bejo!” sambungnya.

Kang! Aku mohon jangan lakukan itu! Bila ketahuan hukumannya berat,” pinta istrinya setengah melarang. Namun, suaminya tetap bersitegang.

“Jangan khawatir! Dengan uang semuanya akan beres!” jawabnya optimis. Kemudian, ngeloyor pergi.

“Mau ke mana, Kang?”

“Ke tempatnya Mbah Karmo!”

Kemudian, hilang ditelan senja. Dengan tekad yang bulat, ia pergi ke rumah Mbah Karmo penuh gairah. Di dalam hatinya menggumpal dendam yang pekat. Membunuh Jolodot dengan cara yang lain. Ia akan puas jika melihat Jolodot terkapar di tengah amben tak berdaya. Perutnya membengkak penuh bervariasi benda tajam. Mengorek isi perutnya.

***

Gubug itu sederhana. Agak kumuh. Terpencil dekat sungai. Jauh dari rumah penduduk. Di dalam gubug itu banyak dipajang batu-batu aneh sebesar telur angsa. Mengkilat. Berbagai keris terselip di dinding bambu dengan kukuh. Asap dupa tak henti-hentinya mengepul. Mengabut, menahan pandangan. Aroma gubug itu mistis. Suasananya hening. Hanya ceripuk air sungai sesekali terdengar mengalun. Gemericik.

Seorang kakek berambut putih duduk bersila di atas batu persegi, tepat di tengah ruangan gubug yang sempit itu. Pandang matanya ganas, walau tubuhnya telah keropos termakan usia. Kang Kitri duduk bersimpuh dengan hormat. Dengan hati-hati sekali, Kang Kitri menyampaikan maksudnya. Setelah mendengar pesan kakek tua itu Kang Kitri menyodorkan amplop. Kakek tua itu tersenyum puas.

“Ingat, Nak! Taburkan ramuan itu di seputar rumah Jolodot. Jangan sampai kepergok orang,” pesannya. Lalu, terkekeh menyambut kepulangan Kang Kitri.

Selama ini, kakek tua itu terkenal sebagai dukun yang ampuh. Namun, sayang ia menjadi kalap dengan kedudukannya. Orang kecil alias orang miskin tak mungkin bisa menjamah gubugnya. Terjerat uang. Namun, gubugnya tak pernah sepi tamu. Selalu mengalir. Apalagi, bagi mereka yang ingin minta ramalan nasib.

***

Pada hari-hari berikutnya, suasana desa normal kembali. Keceriaan sudah mulai menghias bapak-bapak tani yang pulang dari sawah. Anak gembala sibuk dengan cambuknya menggiring ternak. Segerombolan pemuda asyik mengobrol di gardu. Berita perkelahian sudah tak menarik lagi bagi mereka. Obrolannya di seputar hasil sawahnya yang akhir-akhir ini merosot total dihiasi dengan rerasan terhadap pamong desa mereka yang dianggap kurang bijak dalam mengendalikan laju pembangunan.

“Musim kali ini baru benci dengan desa kita,” ujar Parjo yang dikenal sebagai pemuda yang rajin. “Semua hasil tani anjlog,” lanjutnya.

“Ya, memang lagi nasib desa ini,” sambung temannya.

”Terima sajalah. Itu memang sudah garis Tuhan. Asal kita mau berusaha tak mungkin kelaparan,” sela yang lain lagi. Perbincangan mereka semakin hangat.

“Aku ini heran. Desa dari dulu kok ajeg. Bahkan semakin bobrok. Apalagi kalau musim hujan seperti ini, nggak bakalan bisa nonton teve,” seloroh seorang pemuda yang sedari tadi sibuk mengepulkan asap rokoknya. “Pamong desa kita kok ya nggak bergerak, ya? Padahal desa lain sudah maju, lho!” tambahnya sambil membuang sisa rokoknya.

“Jangan menyinggung soal itu. Kalau nanti terdengar orangnya, kita nggak bakalan dikasih tanda tangan kalau mau boro ke kota,” sergah Parjo. Mendadak perbincangan mereka dikejutkan oleh berita kematian Kang Jolodot. Suasana senja itu benar-benar menghinggapi penduduk desa menjadi takut. Gerombolan pemuda tadi kabur menuju rumahnya masing-masing.

Sementara, di pojok desa agak jauh terdengar samar-samar suara tangis yang menyayat hati. Meraung-raung, mengabarkan kematian ke seluruh penjuru alam. Semua penduduk terkesima. Terpaku mendengar raungan tangis yang mampu merobek-robek nurani manusiawi.

Keesokan harinya berita baru tersiar. Kang Jolodot mati disanthet orang. Para penduduk sibuk menerka pelakunya. Dengan sikap kemasyarakatan yang telah sejak lama mereka lakukan, maka mereka melaporkan kematian kepada Pak Lurah. Namun, ternyata Pak Lurah yang diharapkan mampu menjernihkan suasana pergi ke kota. Ujung pangkal kejadiannya pun akhirnya kacau. Melihat kekacauan itu Kang Kitri merasa puas. Dendamnya terkabul dengan sempurna.

“Tak mungkin ada orang yang bisa menggugat. Orang yang tahu kejadian ini kubungkam dengan uang,” katanya kepada sang istri. Istrinya hanya diam. Walau sebenarnya hatinya berotak. Muak dengan cara suaminya yang keji.

Hanya sebagian kecil penduduk desa itu yang mau berkabung ke rumah Kang Jolodot. Entah! Ini yang membuat hati istrinya benar-benar terpukul.

“Oalah, Kang. Sampeyan mati dengan cara yang mengerikan. Tetapi tetangga kita seolah memandang kita sebagai musuh,” teriak istri Kang Jolodot di tengah raungan tangisnya yang dahsyat. Pelayat yang sebagian besar kakek-kakek hanya bisa membujuknya agar bencana yang menimpanya itu diterima dengan hati yang tabah. Namun, istri Kang Jolodot tak menghiraukannya. Ada bisikan ajaib yang merangsak nyalinya untuk bunuh diri. Ia mencoba menahan sekuat-kuatnya. Namun, ia tak mampu.

“Kang Jolodot, aku tak tahan menerima bencana ini. Aku ingin menyusulmu, Kang!” katanya lirih. Lemah. Seolah ia sudah bertekad bunuh diri. Tekadnya menggumpal dalam dadanya yang pengap. Ia merasa memiliki kewajiban moral yang mutlak harus dilakukan. Kewajiban seorang istri yang loyal terhadap suami.

Tiba-tiba ia menjerit histeris diikuti dengan tubuhnya yang rebah di sisi suaminya. Para pelayat semakin terguncang batinnya. Tak tahu harus berbuat apa. Di sebuah rumah terdapat dua kematian yang berbeda. ***

ooo

Keterangan:

Cerpen ini merupakan karya saya yang pertama kali dimuat di koran Wawasan, 2 Maret 1988

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

28 Comments

  1. Mabosway rotate sites and mobile sports login connections – There are lots of online gambling agent sites
    scattered upon the internet. Each of these sites has offers and features provided, including the
    types of gambling games available. Many online gambling sites lonesome have enough money 1 to 3 types of games and certainly
    have excellent games they offer.

    Mabosway.com is an online gambling agent site that offers not unaided 1 or 3 types of gambling
    games but 7 engaging types of gambling games that you can play.
    This proves that Mabosway is the most unqualified betting site that offers
    not unaided online soccer gambling, but Casino, Poker, Toto 4D,
    Bola Tangkas, Fish Hunter and online cockfighting gambling.
    This site is known as Mabosway Indonesia for members who arrive from Indonesia.

    Various types of online gambling games are sufficiently supported by the maximum
    utility from Mabosway.com. One of them is the Customer sustain feature
    which is 24 hours standby to foster layer and withdrawal transactions for members.
    How to register is in addition to simple to do, especially for beginner bettors
    who are starting to bet for the first time.

    How to Apply for Mabosway

    How to register mabosway is enormously easy for unknown people who want
    to start playing online gambling. You deserted have to click the
    colleague NOW button on the house page which will go directly to the registration form page.

    After successfully registering you will acquire a user ID as an identity
    in the game. After everything is done, you are officially allied and become a member.

    After you officially become a aficionado you are offered to choose the type of online gambling game that you can play.
    Here are 5 types of favorite online gambling games that you
    can perform at Mabosway.com.

  2. belong to to the perfect Mabosway sports betting exchange by registering
    – Are you looking for an carefree and additional experience in the world of online gambling?
    You have come to the right place, because here you can link us, the best and most trusted gambling site agent in Indonesia!

    We are honored to be clever to allow the best servants
    to members who are always faithful to trust us and create us a
    gambling partner. Therefore, we have prepared various types of fun and popular
    games such as Mabosway sports betting, casino,
    lottery, and others.

    Not forlorn that, there are in addition to many promos that we will find the money for and of course it is all aimed at the improvement of the
    members. every the facilities that are pleasing for you
    as soon as you become a zealot here. Here are some of our advantages
    more than extra sites:

    The mass and invalidation process is fast and accurate
    Members’ personal data and identities are always secure and will not leak to additional parties
    Mabosway login, one user ID that can be used for various types of games
    Customer staff who are always ready to put up to you 24/7
    Unlimited Bonuses and Promos
    The best assist supported by years of experience has made
    Mabosway always trusted by its members and earned the title as the best gambling
    site agent in Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Antologi PBP

Gapit *)

Cerpen: Sawali Tuhusetya Darah Gopal berdesir. Hatinya panas. Daun telinganya perih seperti

Dhawangan

Cerpen: Sawali Tuhusetya Ketakutan dan kecemasan menggerayangi wajah setiap penduduk. Tak seorang

Marto Klawung

Untuk ke sekian kalinya, Marto Klawung kembali mengamuk. Sorot matanya liar, ganas,

Perempuan Bergaun Putih

Cerpen: Sawali Tuhusetya Bulan sepotong semangka menggantung di bibir langit yang berkabut.

Penjara

Cerpen: Sawali Tuhusetya Pelupuk mata Badrun mengerjap-ngerjap seperti klilipan. Berat dan pedas.
Go to Top