Home | Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Sanggupkah Kaum Perempuan Membangun Fitrahnya?

Sanggupkah Kaum Perempuan Membangun Fitrahnya?

Tuesday, 1 April 2008 (04:20) | 1,931 pembaca | 38 komentar | Print this Article

Will Durant, seorang sejarawan kondang, pernah mengatakan, manusia di seluruh dunia akan menyaksikan revolusi besar mulai abad ke-20. Revolusi tersebut bukanlah revolusi ekonomi, politik, atau militer, melainkan kebangkitan peran kaum perempuan di segala bidang kehidupan. Hal senada juga pernah dilontarkan oleh pasangan futurolog tenar, Naisbitt dan Patricia Aburdene bahwa salah satu trend besar tahun 2000-an adalah kebangkitan peran kaum perempuan.

Agaknya, prediksi sejawaran dan futurolog tersebut bukan isapan jempol. Realitas menunjukkan, peran kaum perempuan saat ini makin menonjol di berbagai bidang kehidupan. Profesi sebagai ilmuwan, peneliti, wartawan, pengusaha, politikus, dan semacamnya sudah menjadi demikian akrab melekat pada sosok perempuan. Tidak mengherankan jika International Council Women mencatat bahwa kaum perempuan amat menentukan masa depan umat manusia.

Meski demikian, mitos patriarki tampaknya belum sepenuhnya terhapuskan. Dikotomi peran dan diskriminasi masih saja mencuat. Kaum laki-laki –kalau mau jujur– masih tampak “arogan” sehingga di sektor publik, sosok kaum perempuan masih sering dipandang sebelah mata. Kaum perempuan masih sering dipahami sebagai sosok yang lemah dan serba bergantung. Akibatnya, tenaga kerja perempuan di sektor publik seringkali hanya mendapat posisi “pengikut” ketimbang sebagai pengambil keputusan.

Marginalisasi peran kaum perempuan itu masih tampak jelas pada, pertama, penyingkiran kaum perempuan dari pekerjaan produktif. Kedua, pemusatan kaum perempuan pada pinggiran pasar tenaga kerja, baik sektor informal maupun formal. Ketiga, pemisahan kaum perempuan pada sektor-sektor tertentu. Keempat, pelebaran ketimpangan ekonomi antara kaum lelaki dan perempuan yang diindikasikan oleh perbedaan upah dan ketidakadilan dalam mengakses keuntungan dan fasilitas kerja, termasuk akses terhadap program-program pelatihan untuk pengembangan karier. Padahal, idealnya tenaga kerja perempuan di sektor publik, selain harus memperoleh perlindungan hukum secara memadai, juga harus memperoleh upah yang layak, serta perlakuan yang egaliter dan tidak diskriminatif. Dengan cara semacam itu, kemitrasejajaran antara lelaki dan perempuan akan terwujud.

Imbas selanjutnya, akan mampu menghapus pengotakan peran kaum perempuan, terwujudnya budaya profesionalisme di kalangan perempuan, dan potensi kaum perempuan akan teraktualisasikan, sehingga mereka mampu membangun fitrahnya. Selain sukses berumah tangga dan bermasyarakat, juga sukses menggelindingkan roda karier. Dengan kata lain, proses membangun fitrah kaum perempuan yang menempatkan fungsi, peran, dan kedudukan kaum perempuan dalam satu keutuhan dimensi jasmani dan rohani, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun sektor publik, menjadi sebuah agenda vital yang tak bisa ditawar-tawar lagi pada era peradaban global dan mondial ini.

Dalam konteks demikian, penghayatan kaum lelaki terhadap nilai fitrah kaum perempuan secara proporsional menjadi sebuah keniscayaan. Artinya, kaum lelaki harus mulai “berani” dan bersedia untuk mengakui bahwa di balik sosok kaum perempuan tersimpan potensi yang sama dan sederajat dengan kaum lelaki. Terlalu naif jika potensi kaum perempuan senantiasa dinafikan dan dikebiri. Perlu juga disadari bahwa proses membangun fitrah kaum perempuan merupakan upaya manusiawi untuk bisa menggapai kehidupan yang lebih merdeka, bermartabat, dan penuh sentuhan nilai kemanusiaan. Dengan demikian, tak perlu muncul kekhawatiran bahwa kaum perempuan hendak merebut “kekuasaan” yang selama ini didominasi oleh kaum lelaki.

***

Upaya membangun fitrah kaum perempuan memang bukan persoalan yang mudah. Masih begitu kuatnya akar budaya patriarki, tingkat pendidikan yang rendah, masih minimnya perangkat hukum yang mengatur hak-hak kaum perempuan, atau diskriminasi peran, merupakan beberapa kendala krusial yang perlu segera dicarikan solusinya.

Selain itu, pemahaman terhadap fitrah kaum perempuan selama ini masih mengacu pada konsep tradisional yang memosisikan kum perempuan sebatas pada tataran 3M (macak, masak, dan manak = mengatur rumah tangga, memasak, dan mengasuh anak). Pemahaman yang berlangsung dari generasi ke generasi semacam itu mengakibatkan kaum perempuan sulit beranjak dari kubangan tradisi, yang disadari atau tidak, justru “menodai” nilai fitrah kaum perempuan itu sendiri.

Meminjam pendekatan model Gender and Developmen (GAD), fitrah kaum perempuan pada dasarnya berkisar pada tiga ranah aktivitas, yakni aktivitas reproduksi –seperti melahirkan dan mengasuh anak, mengurus pekerjaan rumah tangga (termasuk melayani suami), aktivitas produksi –seperti pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan uang (sektor publik), dan aktivitas komunitas –seperti aktif dalam organisasi. Ini artinya, upaya membangun fitrah kaum perempuan sudah semestinya terfokus pada upaya pemberdayaan secara harmonis dari ketiga ranah aktivitas tersebut. Dengan bahasa lain bisa dikatakan bahwa fitrah kaum perempuan akan senantiasa “suci” dan terjaga manakala mereka berupaya meraih sukses hidup berumah tangga, bermasyarakat, sekaligus sukses berkarier, sehingga ketiga aktivitas tersebut mampu menjadikan pribadi kaum perempuan yang benar-benar utuh dan padu.

Persoalan tersebut penting dan relevan untuk dikemukakan, sebab seiring dengan derap peradaban global yang gencar menawarkan produk hedonisme, materialisme, dan konsumtivisme, kaum perempaun acapkali terbawa pada titik ekstrem yang mendorong mereka tak mau lagi mengemban aktivitas reproduksi. Kaum perempuan terlalu sibuk di panggung publik sehingga mereka menjadi demikian cuek dan masa bodoh terhadap segala macam urusan rumah tangga.

Jika kondisi semacam itu yang terjadi, ungkapan bahwa kaum perempuan amat menentukan masa depan umat manusia hanya akan menjadi slogan belaka. Sejarah telah mencatat bahwa kehidupan umat manusia diawali dari aktivitas reproduksi yang dilakukan oleh kaum perempuan.

Persoalannya sekarang, bagaimana agar kaum perempuan mampu membangun fitrahnya, bagaimana agar mereka tetap mampu melakukan aktivitas reproduksi dan komunitas di tengah-tengah aktivitas produksinya? Persoalan ini penting dijawab oleh kaum perempuan, sebab prediksi Will Durant atau Naisbitt tentu tak bermaksud untuk menihilkan peran kaum perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Nah, bagaimana? ***

ooo

Keterangan: Gambar diambil dari sini.

Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi | Tags: , , , , , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 282 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgKastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI (Wednesday, 9 June 2010, 737 pembaca, 97 respon) Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian....
imgPenafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna (Saturday, 22 May 2010, 560 pembaca, 106 respon) Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Sanggupkah Kaum Perempuan Membangun Fitrahnya?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Tuesday, 1 April 2008 (04:20)) pada kategori Budaya, Opini, Refleksi, Tradisi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

38 Responses to "Sanggupkah Kaum Perempuan Membangun Fitrahnya?"

  1. WordPress 2.7.1 WordPress 2.7.1

    [...] saja saya teringat pernyataan seorang sejarawan kondang, Will Durant, bahwa manusia di seluruh dunia akan menyaksikan revolusi besar mulai abad ke-20. [...]

  2. agung perdana says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    salam kenal bwt anda, ini knjungan pertama saya. saya baru saja mebaca artikel anda di atas. saya tertarik degan pandangan dari will durant, seorang sejarawan kondang pada paragraf awal di artikel anda yang mengatakan akan ada revolusi besar mulai pada abad 20 dimana ada kebangkitan peran kaum perempuan di segala bidang kehidupan. yang ingin saya tanyakan, adakah referensi yang memuat pandangan will durant tersbut, kalo ada judulnya apa dan pada halaman berapa pandangan will durant itu di muat? kebetulan saya ingin sekali mendalami bahasan tersebut, guna menunjang pembuatan artikel yang akan segera saya bwt. mohon tanggapan anda kirim aja pada alamat email saya. terima kasih.

    • Menggunakan Firefox 3.0.8 Firefox 3.0.8 pada Windows XP Windows XP

      wah, maaf banget, mas agung. ketika memosting tulisan di blog, selain menggunakan rujukan buku, seringkali saya memanfaatkan hasil browsing di internet. info ttg will durant bisa dilacak lebih lanjut melalu searching di google. kebetulan saja tulisan ini pernah juga dimuat di koran dan sudah lama banget. Kalau tidak salah saya menggunakan rujukan dari hasil penelitian seorang pengamat perempuan. sayang sekali, saya sudah lupa. saya cari-cari majalahnya juga terselip entah di mana? mohon maaf, mas agung. mungkin bisa dilacak lebih lanjut lewat google.

  3. Ratna says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.13 Firefox 2.0.0.13 pada Windows XP Windows XP

    Baca tulisan ini saya langsung liat kalender… Tanggal 21 April bukan yah? Hehe…
    Betul. Kalau perempuan sudah berada dalam tiga ranah aktivitas yang kesemuanya bisa dijalani dengan baik, kayaknya lengkap deh percaya dirinya. Orang kalau sudah percaya diri, biasanya bahagia. Dan bahagia itu menulari jiwa orang-orang sekitarnya. Itu yang saya rasa penting dari keberadaan seorang perempuan. Bisa membahagiakan diri dan lingkungannya. Be an inspiring :)

    Ratna’s last blog post..Menikah tanpa cinta??

    ooo
    wew… mbak ratna memang smart, hehehehe :lol: tahu bulan april, ingatan langsung melayang ke hari kartini, hehehehe :smile: yups, sepakat banget, mbak ratna. jika ketiga fitrah kaum perempuan itu bisa terwujud, kayaknya bangsa ini makin maju abis. bukankah negara dan bangsa itu juga tergantung pada kiprah kaum perempuan?

  4. Menggunakan Firefox 2.0 Firefox 2.0 pada Windows XP Windows XP

    Sanggupkah ? SANGGUP! Masalahnya, mau apa nggak. Jangan salah loh Pak Sawali, kemungkinan mayoritas perempuan merasa lebih nyaman dengan kedudukan dan peran yang sekarang–minus tindak kekerasan, pelecehan dan diskriminasi.

    Agak menyimpang dari teks, tapi masih relevan, zaman kita ini banyak sekali yang salah kaprah dan sulit membedakan kesetaraan dengan kesamaan. Setiap kali orang bicara kesetaraan, sebenarnya yang dimaksud adala kesamaan, dan itu identik dengan penyeragaman.

    kembali ke teks, kesetaraan yang salah kaprah itu malah lebih berbahaya buat perempuan. Segala ciri eksistensi mereka yang berbeda dengan pria akan dinafikan.

    Robert Manurung’s last blog post..Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (3)

  5. eNPe says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.2 Firefox 2.0.0.2 pada Windows XP Windows XP

    sebagai perempuan *ceileeee* ita merasa bisa bersaing dgn kaum adam. tapi tetap berusaha menjalani hidup sesuai kodratnya, masih beres2 rumah, bljr masak dll :mrgreen:

    eNPe’s last blog post..eNPe dapat kiriman buku dari Abah Ersis

    ooo
    yups, sepakat banget dengan bu ita. betapapun majunya kaum perempuan di sektor publik, kayaknya ndak bisa meninggalkan peran domestiknya juga.

  6. Menggunakan Firefox 2.0.0.13 Firefox 2.0.0.13 pada Windows XP Windows XP

    masalahnya kaum feminis menggunakan sejarah kelam perempuan di barat sebagai tonggak perjuangan mereka dan ini kemudian direproduksi di seantero jagad. padahal konsep gender merupakan sebuah bentuk pembedaan laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi budaya. so sangat berbeda dalam ruang dan waktu.
    pergeseran perempuan yang cenderung ke arah pekerjaan produktif merupakan sebuah konsekuensi logis dari tekanan ekonomi dan lingkungan. suatu kondisi ideal ketika perempuan mampu melaksanakan fungsi reproduksi dan produksi secara seimbang.
    ketika perempuan keluar dari ranah domestiknya untuk membantu sang suami mencari nafkah, relakah sang suami masuk ke ranah domestik untuk membantu sang istri pada fungsi reproduksi?
    –ah saya kok sok feminis hari ini, padahal cuman sarapan ketan–

    sluman slumun slamet’s last blog post..Benarkah Satpol PP adalah musuh wong cilik??

    ooo
    wah, opini yang luar biasa, pak slamet. selama kum perempuan bergerak, kayaknya banyak juga kaum lelaki yang ketar-ketir, hehehehe :lol: bisa jugakah suami-sitri saling bertukar peran untuk menjalankan fitrahnya? wah, kayaknya sulit juga, pak. kesetaraan dan pemberdayaan kaum perempuan agaknya lebih difokuskan pada upaya untuk mengakses peran di sektor publik (ranah komunitas), tetapi juga tetap menjalankan peran reprduksi dan produksinya. sanggupkah?

  7. moerz says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.1 Firefox 2.0.0.1 pada Windows XP Windows XP

    ahya…
    meski saya belum dewasa *hehehe..* saya sedikit mengerti …
    ohya jadi inget sebentar lagi ada temen sd yang mau nikah…

    moerz’s last blog post..Tiket Hitam Blogspherexpress

    ooo
    ngomong perempuan ndak harus nunggu hingga dewasa loh mas moerz. btw, dah ada juga temennya yang mau married, yak?

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (110 queries: 0.972 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP