<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Dimensi Kehidupan Manusia dalam Teks Sastra</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 19:07:24 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: bie</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-34047</link>
		<dc:creator>bie</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 00:53:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-34047</guid>
		<description>kok g da yg sy cari.....:-?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kok g da yg sy cari&#8230;..<img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-10462</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 23:20:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-10462</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. 

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan  How you see others, How others see you dan How others see themselves adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). 

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. 

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Qinimain Zains last blog post..&lt;a href=&quot;http://scientist-strategist.blogspot.com/2007/10/strategi-revolusi_803.html&quot;&gt;Strategi  (R)Evolusi Sistem Ilmu Pengetahuan (+)&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)</p>
<p>Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V<br />
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)<br />
Oleh Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).</p>
<p>JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   </p>
<p>Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. </p>
<p>Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?</p>
<p>Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan &#8211; sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).</p>
<p>YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).</p>
<p>Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.</p>
<p>SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).</p>
<p>Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.</p>
<p>Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan  How you see others, How others see you dan How others see themselves adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). </p>
<p>Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.</p>
<p>SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).</p>
<p>Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  </p>
<p>Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      </p>
<p>Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. </p>
<p>SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
<p>Qinimain Zains last blog post..<a href="http://scientist-strategist.blogspot.com/2007/10/strategi-revolusi_803.html">Strategi  (R)Evolusi Sistem Ilmu Pengetahuan (+)</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: farhan</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-3224</link>
		<dc:creator>farhan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 07:52:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-3224</guid>
		<description>Menulis karya sastra adalah sebuah ungkapam isi hati dan perasaan. adakalanya seseorang menulis suatu karya sastra untuk mendapatkan kepuasan batin. tapi tak sedikit dari mereka yang ingin berbagi dengan kita dengan mendapatkan uang dari tulisan tersebut. oleh karena itu mana pilihan kita tentunya anda sendiri yang menentukan

&lt;em&gt;farhan&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://farhantaqwa.wordpress.com/2008/03/02/mengejar-sorga-sejak-di-dunia/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;MENGEJAR SORGA SEJAK DI DUNIA&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
loh kok mesti saya saya menentukan? piye toh, farhan, hehehehe :lol: postingan ini kan membahas ttg teks sastra, bukan semata2 persoalan cari dueit atau tidak, hehehehe :smile: ttg duwit, saya kira itu imbas dari sebuah apresiasi media, kok. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis karya sastra adalah sebuah ungkapam isi hati dan perasaan. adakalanya seseorang menulis suatu karya sastra untuk mendapatkan kepuasan batin. tapi tak sedikit dari mereka yang ingin berbagi dengan kita dengan mendapatkan uang dari tulisan tersebut. oleh karena itu mana pilihan kita tentunya anda sendiri yang menentukan</p>
<p><em>farhan&#8217;s last blog post..<a href='http://farhantaqwa.wordpress.com/2008/03/02/mengejar-sorga-sejak-di-dunia/' rel="nofollow">MENGEJAR SORGA SEJAK DI DUNIA</a></em></p>
<p>ooo<br />
loh kok mesti saya saya menentukan? piye toh, farhan, hehehehe :lol: postingan ini kan membahas ttg teks sastra, bukan semata2 persoalan cari dueit atau tidak, hehehehe :smile: ttg duwit, saya kira itu imbas dari sebuah apresiasi media, kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yari NK</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-3220</link>
		<dc:creator>Yari NK</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 06:14:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-3220</guid>
		<description>Oooh.... kalau menurut saya pak, mengapresiasi sastra itu yang penting mungkin bukan susah atau gampangnya, tapi memang ada sebagian orang yang hatinya tidak pernah tergetar pada saat ia membaca atau mendengar sebuah teks sastra seperti saya dulu. Orang2 seperti itulah yang nampaknya adalah orang yg sangat sulit untuk mengapresiasi sastra. Maklumlah yang membuat sastra itu terasa indah sebenarnya bukanlah otak tapi hati dan perasaan. Itu menurut saya lho! **halaah**  :mrgreen:

&lt;em&gt;Yari NK&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://spektrumku.wordpress.com/2008/04/02/selera-menonton-tv-masyarakat-kita-berubah/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Selera Menonton TV Masyarakat Kita Berubah??&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
hehehehe :smile: ada juga kok bung karya sastra yang menggunakan otak juga, tidak mlulu menggunakan emosi dan intuisi. kan ada juga tuh cerpen2 yang mengangkat tema2 pengetahuan sebagai background cerita. kalau mengebiri logika, sepertinya sulit menciptakan teks sastra yang menggunakan  setting tadi.
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Oooh&#8230;. kalau menurut saya pak, mengapresiasi sastra itu yang penting mungkin bukan susah atau gampangnya, tapi memang ada sebagian orang yang hatinya tidak pernah tergetar pada saat ia membaca atau mendengar sebuah teks sastra seperti saya dulu. Orang2 seperti itulah yang nampaknya adalah orang yg sangat sulit untuk mengapresiasi sastra. Maklumlah yang membuat sastra itu terasa indah sebenarnya bukanlah otak tapi hati dan perasaan. Itu menurut saya lho! **halaah**  :mrgreen:</p>
<p><em>Yari NK&#8217;s last blog post..<a href='http://spektrumku.wordpress.com/2008/04/02/selera-menonton-tv-masyarakat-kita-berubah/' rel="nofollow">Selera Menonton TV Masyarakat Kita Berubah??</a></em></p>
<p>ooo<br />
hehehehe :smile: ada juga kok bung karya sastra yang menggunakan otak juga, tidak mlulu menggunakan emosi dan intuisi. kan ada juga tuh cerpen2 yang mengangkat tema2 pengetahuan sebagai background cerita. kalau mengebiri logika, sepertinya sulit menciptakan teks sastra yang menggunakan  setting tadi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: gempur</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-3202</link>
		<dc:creator>gempur</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 09:03:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-3202</guid>
		<description>idiom sastra “Dulce et Utile” (menyenangkan dan berguna) saya sepakat dengannya.. berarti sastra memang bertendens gitu khan pak? tujuannya kahn menghibur dan berguna untuk membangun kemanusiaan yang lebih baik lagi. Lantas, jika sastra ditunggangi kepentingan ideologi tertentu dan untuk menguntungkan kepentingan manusia tertentu, apakah terkategori menyenangkan dan berguna bagi kemanusiaan secara universal? jika tidak! maka layakkah disebut sebagai sastra? jadi makin mumet saya?!


maaf! baru bisa mampir.. kesibukan telah menjadikan saya sulit blogwalking.. hehehehe...


&lt;em&gt;gempur&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://aghofur.com/rindu-ini-terbendung.html&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Rindu Ini Terbendung&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
yaps, saya juga sepakat idiom itu pak gempur, tapi kalau lantas diterjemahkan bahwa karya sastra lantas menjadi corong bagi ideologi tertentu, wah, agaknya saya kurang sependapat, pak, hehehehe :idea: apalagi kalau itu sudah menyangkut pada kepentingan kelompok tertentu. sejarah sastra kita pun agaknya pernah mengalami &quot;tragedi&quot; semacam itu ketika tengah terjadsi &quot;polemik kebudayaan&quot; pada sekitar tahun &#039;60-an *kalau tidak salah* bagaimanapun juga, teks sastra yang baik mesti mengangkat persoalan2 kemanusiaan secara universal.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>idiom sastra “Dulce et Utile” (menyenangkan dan berguna) saya sepakat dengannya.. berarti sastra memang bertendens gitu khan pak? tujuannya kahn menghibur dan berguna untuk membangun kemanusiaan yang lebih baik lagi. Lantas, jika sastra ditunggangi kepentingan ideologi tertentu dan untuk menguntungkan kepentingan manusia tertentu, apakah terkategori menyenangkan dan berguna bagi kemanusiaan secara universal? jika tidak! maka layakkah disebut sebagai sastra? jadi makin mumet saya?!</p>
<p>maaf! baru bisa mampir.. kesibukan telah menjadikan saya sulit blogwalking.. hehehehe&#8230;</p>
<p><em>gempur&#8217;s last blog post..<a href='http://aghofur.com/rindu-ini-terbendung.html' rel="nofollow">Rindu Ini Terbendung</a></em></p>
<p>ooo<br />
yaps, saya juga sepakat idiom itu pak gempur, tapi kalau lantas diterjemahkan bahwa karya sastra lantas menjadi corong bagi ideologi tertentu, wah, agaknya saya kurang sependapat, pak, hehehehe :idea: apalagi kalau itu sudah menyangkut pada kepentingan kelompok tertentu. sejarah sastra kita pun agaknya pernah mengalami &#8220;tragedi&#8221; semacam itu ketika tengah terjadsi &#8220;polemik kebudayaan&#8221; pada sekitar tahun &#8216;60-an *kalau tidak salah* bagaimanapun juga, teks sastra yang baik mesti mengangkat persoalan2 kemanusiaan secara universal.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sluman slumun slamet</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-3196</link>
		<dc:creator>sluman slumun slamet</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 03:57:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-3196</guid>
		<description>woo, gitu toh pak. idealisme penulis memang sangat dibutuhkan, apalagi ketika harus berhadapan dengan sebuah kata yang seringkali menjerumuskan &quot;pasar&quot;.
bukankah seharusnya sang sastrawan yang harus bisa mewujudkan pasar.

&lt;em&gt;sluman slumun slamet&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://www.slametwidodo.com/2008/04/01/data-seorang-siswa-sd-di-tahun-2030/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Data seorang siswa SD di tahun 2030 ?&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
yups, sastrawan memang perlu memiliki idealisme, pak slamet *lagi2 sok tahu* dan rata2 sastrawan memang begitu. meski demikian, banyak juga karya sastrawan yang mampu merebut pasar kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>woo, gitu toh pak. idealisme penulis memang sangat dibutuhkan, apalagi ketika harus berhadapan dengan sebuah kata yang seringkali menjerumuskan &#8220;pasar&#8221;.<br />
bukankah seharusnya sang sastrawan yang harus bisa mewujudkan pasar.</p>
<p><em>sluman slumun slamet&#8217;s last blog post..<a href='http://www.slametwidodo.com/2008/04/01/data-seorang-siswa-sd-di-tahun-2030/' rel="nofollow">Data seorang siswa SD di tahun 2030 ?</a></em></p>
<p>ooo<br />
yups, sastrawan memang perlu memiliki idealisme, pak slamet *lagi2 sok tahu* dan rata2 sastrawan memang begitu. meski demikian, banyak juga karya sastrawan yang mampu merebut pasar kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nazieb</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-3186</link>
		<dc:creator>Nazieb</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 09:58:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-3186</guid>
		<description>Aduh, semakin membaca tulisan ini saya kok semakin ngrasa saya ndak berbakat nulis sastra blas yah?  :roll:

ooo
wew... kenapa juga mas nazieb suka menghakimi diri sendiri, yak? kok tahu kalo mas nasieb ndak berbakat, hiks :mrgreen: bakat itu baru diketahui setelah seseorang melahirkan karya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh, semakin membaca tulisan ini saya kok semakin ngrasa saya ndak berbakat nulis sastra blas yah?  :roll:</p>
<p>ooo<br />
wew&#8230; kenapa juga mas nazieb suka menghakimi diri sendiri, yak? kok tahu kalo mas nasieb ndak berbakat, hiks :mrgreen: bakat itu baru diketahui setelah seseorang melahirkan karya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tukangkopi</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-3185</link>
		<dc:creator>tukangkopi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 08:35:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-3185</guid>
		<description>wow, makasih buat penjelasannya, Pak..  :smile:

ooo
walah, makasih juga mas yudis telah memberikan banyak info menarik pada postingan ini :smile:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wow, makasih buat penjelasannya, Pak..  :smile:</p>
<p>ooo<br />
walah, makasih juga mas yudis telah memberikan banyak info menarik pada postingan ini :smile:</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yari NK</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-3183</link>
		<dc:creator>Yari NK</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 05:19:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-3183</guid>
		<description>Saya dulu orang yang benar2 buta sastra dan tidak mau tahu apa2 tentang sastra, jangankan mengapresiasi, menikmati keindahannya saja saya tidak bisa, persis seperti berusaha untuk menikmati lukisan abstrak yang sampai sekarang saya tidak mengerti!

Namun saya menyadari bahwa segalanya bisa berubah, tergantung niat seseorang itu sendiri, walaupun apresiasi saya terhadap sastra belum sebesar apresiasi saya terhadap sains tapi apresiasi saya terhadap sastra mulai tumbuh.

Memang, dimensi yang paling berkontribusi dalam tumbuhnya apresiasi sastra dalam diri saya adalah aspek manusia(wi)nya, di dalam sastra selain melibatkan otak juga melibatkan perasaan dan hati atau emosi, sesuatu yang mungkin akan sukar didapat di dunia sains. Dan terkadang saya sadar manusia bukanlah terdiri dari otak saja, unsur hati, perasaan dan emosional sangatlah penting bagi manusia, yang membuat manusia itu seperti manusia yang kita kenal sekarang! **halaah** :D

&lt;em&gt;Yari NK&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://spektrumku.wordpress.com/2008/03/30/islam-dihina-geert-wilders-pede-aja-lagi/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Islam Dihina Geert Wilders?? Pede Aja Lagi!!!&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
wew... *halah*-nya pasti tak pernah lupa nih, bung yari :smile: yaps, saya kira pendapat bung yari sangat tepat. sastra memang tidak melulu melibatkan aktivitas otak, tetapi juga hati dan emosi. meski demikian, tidak lantas berarti bahwa mengapresiasi teks sastra itu merupakan hal yang sulit loh. itu hanya karena faktor minat dan kebiasaan aja kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dulu orang yang benar2 buta sastra dan tidak mau tahu apa2 tentang sastra, jangankan mengapresiasi, menikmati keindahannya saja saya tidak bisa, persis seperti berusaha untuk menikmati lukisan abstrak yang sampai sekarang saya tidak mengerti!</p>
<p>Namun saya menyadari bahwa segalanya bisa berubah, tergantung niat seseorang itu sendiri, walaupun apresiasi saya terhadap sastra belum sebesar apresiasi saya terhadap sains tapi apresiasi saya terhadap sastra mulai tumbuh.</p>
<p>Memang, dimensi yang paling berkontribusi dalam tumbuhnya apresiasi sastra dalam diri saya adalah aspek manusia(wi)nya, di dalam sastra selain melibatkan otak juga melibatkan perasaan dan hati atau emosi, sesuatu yang mungkin akan sukar didapat di dunia sains. Dan terkadang saya sadar manusia bukanlah terdiri dari otak saja, unsur hati, perasaan dan emosional sangatlah penting bagi manusia, yang membuat manusia itu seperti manusia yang kita kenal sekarang! **halaah** <img src='http://sawali.info/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><em>Yari NK&#8217;s last blog post..<a href='http://spektrumku.wordpress.com/2008/03/30/islam-dihina-geert-wilders-pede-aja-lagi/' rel="nofollow">Islam Dihina Geert Wilders?? Pede Aja Lagi!!!</a></em></p>
<p>ooo<br />
wew&#8230; *halah*-nya pasti tak pernah lupa nih, bung yari :smile: yaps, saya kira pendapat bung yari sangat tepat. sastra memang tidak melulu melibatkan aktivitas otak, tetapi juga hati dan emosi. meski demikian, tidak lantas berarti bahwa mengapresiasi teks sastra itu merupakan hal yang sulit loh. itu hanya karena faktor minat dan kebiasaan aja kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hanna Fransisca</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/comment-page-3/#comment-3182</link>
		<dc:creator>Hanna Fransisca</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 04:59:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/30/dimensi-kehidupan-manusia-dalam-teks-sastra/#comment-3182</guid>
		<description>Yups...
makasih Pak Sawali dan Mas Yudis.
aku belajar banyak hari ini dari sini. senang deh. semakin banyak kita berdiskusi semakin banyak yang kita dapat.


-salam menulis ya-

&lt;em&gt;Hanna Fransisca&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://atapsenja.wordpress.com/2008/03/23/bening-sungaiku/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Bening Sungaiku&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
makasih juga mbak hanna. pendapat mbak hanna telah ikut memperkaya wawasan saya ttg sastra. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yups&#8230;<br />
makasih Pak Sawali dan Mas Yudis.<br />
aku belajar banyak hari ini dari sini. senang deh. semakin banyak kita berdiskusi semakin banyak yang kita dapat.</p>
<p>-salam menulis ya-</p>
<p><em>Hanna Fransisca&#8217;s last blog post..<a href='http://atapsenja.wordpress.com/2008/03/23/bening-sungaiku/' rel="nofollow">Bening Sungaiku</a></em></p>
<p>ooo<br />
makasih juga mbak hanna. pendapat mbak hanna telah ikut memperkaya wawasan saya ttg sastra.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
