<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Mampukah Sekolah Menjadi &#8220;Benteng&#8221; Utama Apresiasi Sastra?</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 07:11:41 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: Forex Trading Alert</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-50207</link>
		<dc:creator>Forex Trading Alert</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 10:27:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-50207</guid>
		<description>Took me time to study all the comments, but I truly loved the post. It proved to be very useful to me and I&#039;m sure to all the commenters right here! It&#039;s always nice when you cannot only be informed, but additionally engaged! I&#039;m certain you had pleasure writing this article.</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/opera-1.png' title='Opera 9.64' class='' alt='Opera 9.64' /> <a href='http://www.opera.com/' title='Opera 9.64' rel='nofollow'>Opera 9.64</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>Took me time to study all the comments, but I truly loved the post. It proved to be very useful to me and I&#8217;m sure to all the commenters right here! It&#8217;s always nice when you cannot only be informed, but additionally engaged! I&#8217;m certain you had pleasure writing this article.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: drop ship suppliers</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-49847</link>
		<dc:creator>drop ship suppliers</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 04:59:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-49847</guid>
		<description>Seriously liked this one particular, maintain up the good writing!I&#039;ve been following your website for 2 days now and I should tell you I get tons benefits from your post. and now how do I subscribe to  your blog?</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/msie.png' title='Internet Explorer 7.0' class='' alt='Internet Explorer 7.0' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/products/winfamily/ie/default.mspx' title='Internet Explorer 7.0' rel='nofollow'>Internet Explorer 7.0</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>Seriously liked this one particular, maintain up the good writing!I&#8217;ve been following your website for 2 days now and I should tell you I get tons benefits from your post. and now how do I subscribe to  your blog?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-12071</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 11:35:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-12071</guid>
		<description>wah, idea yang bagus, mas love. ide semacam ini sebenarnya sudah ada juga dalam pikiran saya, sayangnya, hingga saat ini dukungan koneksi net di sekolah pada umumnya masih sangat kurang. ke depan, mudah2an ide semacam ini bisa terwujud. makasih banget masukannya, mas love.</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/netscape.png' title='Netscape Navigator 9.0.0.6' class='' alt='Netscape Navigator 9.0.0.6' /> <a href='http://netscape.aol.com/' title='Netscape Navigator 9.0.0.6' rel='nofollow'>Netscape Navigator 9.0.0.6</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>wah, idea yang bagus, mas love. ide semacam ini sebenarnya sudah ada juga dalam pikiran saya, sayangnya, hingga saat ini dukungan koneksi net di sekolah pada umumnya masih sangat kurang. ke depan, mudah2an ide semacam ini bisa terwujud. makasih banget masukannya, mas love.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: lovepassword</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-12036</link>
		<dc:creator>lovepassword</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 09:21:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-12036</guid>
		<description>Bagaimana bila kita masyarakatkan sastra melalui blog??? Blog mungkin lebih menarik bagi murid karena sifat interaktifnya. Untuk tahap awal usul saya : Anda wajibkan atau anda anjurkan murid anda ngeblog dulu, setidaknya seminggu/dua minggu sekali mereka harus nulis karangan untuk tugas. Tulisan ini anda nilai dan dnilai oleh rekan2nya melalui komentar tentu saja. Saya rasa akan lebih menggairahkan kalo ada interaksi. SALAM PAK SAWALI. :-?:d

&lt;abbr&gt;&lt;em&gt;Baca juga tulisan terbaru lovepassword berjudul &lt;a href=&quot;http://lovepassword.blogspot.com/2008/10/lupa-password-winforcer.html&quot;&gt;Lupa Password Winforce(r)&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/abbr&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/firefox.png' title='Firefox 3.0' class='' alt='Firefox 3.0' /> <a href='http://www.mozilla.org/' title='Firefox 3.0' rel='nofollow'>Firefox 3.0</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>Bagaimana bila kita masyarakatkan sastra melalui blog??? Blog mungkin lebih menarik bagi murid karena sifat interaktifnya. Untuk tahap awal usul saya : Anda wajibkan atau anda anjurkan murid anda ngeblog dulu, setidaknya seminggu/dua minggu sekali mereka harus nulis karangan untuk tugas. Tulisan ini anda nilai dan dnilai oleh rekan2nya melalui komentar tentu saja. Saya rasa akan lebih menggairahkan kalo ada interaksi. SALAM PAK SAWALI. :-?:d</p>
<p><abbr><em>Baca juga tulisan terbaru lovepassword berjudul <a href="http://lovepassword.blogspot.com/2008/10/lupa-password-winforcer.html">Lupa Password Winforce(r)</a></em></abbr></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: diorockout</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3255</link>
		<dc:creator>diorockout</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 06:25:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3255</guid>
		<description>mampu..

&lt;em&gt;diorockout&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://diorockout.blogspot.com/2008/04/apes-apes.html&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;APES – APES&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
mudah2an.</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/msie.png' title='Internet Explorer 7.0' class='' alt='Internet Explorer 7.0' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/products/winfamily/ie/default.mspx' title='Internet Explorer 7.0' rel='nofollow'>Internet Explorer 7.0</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>mampu..</p>
<p><em>diorockout&#8217;s last blog post..<a href='http://diorockout.blogspot.com/2008/04/apes-apes.html' rel="nofollow">APES – APES</a></em></p>
<p>ooo<br />
mudah2an.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zul ...</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3168</link>
		<dc:creator>Zul ...</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 15:42:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3168</guid>
		<description>Mas, aku punya resep buat itu.
Nih, baca aja esaiku:

(Agar pelajaran sastra tetap eksisi di sekolah, maka yang utama adalah jadikan) Guru sebagai Model Pembelajaran
Oleh Zulfaisal Putera*

 

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah karena sebagai guru kita tidak membuatnya menjadi mudah. Berbagai keluhan sementara guru-guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia adalah betapa lelahnya dalam membelajarkan sastra kepada siswa. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah lelah itu karena kemauan guru untuk membelajarkan sastra sangat kurang atau karena kemampuan guru itu sendiri yang sangat minim.?

Mari kita runut berapa faktor yang sering dijadikan alasan bagi guru agak ogah-ogahan membelajarkan sastra. Pertama, kurangnya buku-buku penunjang pembelajaran, seperti buku pegangan guru dan siswa; dan buku-buku karya sastra sebagai bahan bacaan siswa. Kedua, kurangnya pengetahuan guru terhadap materi pembelajaran sastra itu sendiri dibanding materi bahasa Indonesia. Ketiga, rendahnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran sastra di kelas.

Kalau kita perhatikan ketiga alasan tersebut secara seksama, tampaknya ada tiga pihak yang menjadi cikal penyebab, yaitu faktor sekolah - dalam hal ini perpustakaan, faktor guru, dan faktor siswa itu sendiri. Ketiga faktor ini memang merupakan satu kesatuan yang sudah sangat kita maklumi menjadi faktor penting dalam segala persoalan persekolahan. Jadi, terlalu naif kalau persoalan pembelajaran sastra ikut-ikutan menjadi beban bagi persoalan persekolahan secara umum.

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau guru tidak mau berusaha menjadi guru yang terbaik bagi siswa didiknya. Menjadi guru yang terbaik tidak harus sempurna sebagai guru. Paling tidak, seorang guru pembelajaran sastra harus betul-betul menjadi menjadi sosok yang dapat dijadikan motivasi bagi siswa. Motivasi untuk berpikir, bertutur, dan bertindak dalam memahami dan mengekspresikan dirinya di bidang sastra.

Mari kita kaji kembali apa tujuan pemelajaran sastra menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi. Secara umum disebutkan sebagai berikut:

1. siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.;

2. siswa mampu mengekspresikan dirinya dalam medium sastra; dan

3. siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Apa yang bisa kita, selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia, lakukan untuk mengantarkan siswa-siswa kita mencapai tujuan pemelajaran itu? Sepatutnya kita bisa belajar dari sosok seorang guru mata pelajaran lain di sekolah kita. Percaya atau tidak, guru olahraga adalah salah satu guru yang selalu menjadi model bagi siswa didiknya. Lihatlah ketika seorang guru olahraga ingin mengajarkan dan meminta siswanya lompat tinggi atau loncat jauh, maka guru tersebut memberi contoh bagaimana melakukan itu (dan tentunya guru tersebut melakukan lompat tinggi atau loncat jauh terlebih dahulu di hadapan siswa).

Percaya atau tidak, seorang guru pelajaran Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) haruslah mampu mempraktikan bagaimana menggunakan komputer, bagaimana berselancar di dunia maya, membuat e-mail, bahkan mendownload program-program melalui internet. Apalagi kalau kita melihat guru-guru bidang kesenian. Seperti seorang guru tari yang pastilah mampu menari. Seorang guru musik yang tentu pandai memainkan musik dan sekali-sekali menyanyi. Dan banyak contoh-contoh lainnya lagi yang menampakkan diri betapa guru harus menjadi model.

Sekarang bagaimana kita selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia? Bayangkanlah bagaimana kita memosisikan diri ketika siswa meminta kita mencontohkan bagaimana membuat puisi, bagaimana menulis cerpen, bagaimana meyusun sebuah karangan esai. Bayangkan juga bagaimana sikap kita ketika siswa kita memohon agar kita bisa mencontohkan bagaimana membaca puisi atau cerpen yang sebenarnya, bagaimana memerankan seorang tokoh dalam sebuah lakon drama. Dan rasakan juga ketika siswa ingin melihat bagaimana berpidato yang baik?

Kalau setelah membaca sejumlah pembayangan di atas kita sebagai guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia lantas memberikan tanggapan dengan pernyataan bahwa semua yang diminta siswa itu bisa dipenuhi dengan menghadirkan contoh melalui kaset, video, atau mendatangkan seorang sastrawan ke dalam kelas. Ini adalah pernyataan untuk menutupi kekurangan yang dimiliki guru sekaligus upaya mengambil jalan pintas. Memang bisa, tapi tidak baik bila menjadi biasa. Karena selamanya guru sangat ketergantungan.

Selama ini kita sering mendengar keluhan kurangnya, bahkan hampir tidak adanya fasilitas penunjang pembelajaran di sekolah - terutama sekolah-sekolah pinggiran dan pedesaan. Misalnya, tidak tersedianya tape recorder, vcd player (apalagi dvd player), apalagi LCD dengan perangkatnya. Kalau juga ada, muncul lagi masalah tidak adanya colokan listrik di kelas, atau malah terbatasnya persediaan listrik di sekolah. Bagaimana ingin merealisasi pernyataan di paragraf sebelumnya, kalau setelah itu tetap muncul keluhan masalah sarana.

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau kita tidak mau dan tidak mampu menjadi model dalam pembelajaran. Betapa menyenangkannya saat mengajar kalau kita dapat memenuhi harapan siswa. Ketika siswa ingin belajar menulis puisi, kita tunjukkan beberapa puisi kita. Ketika siswa ingin mengetahui bagaimana seluk beluk menulis cerpen, maka dengan rasa bangga kita perlihatkan cerpen yang pernah kita buat (bahkan pernah dimuat di media massa). Pun juga ketika siswa meminta kita membacakan puisi, cerpen, atau bahkan bermain peran, alangkah lebih terhormatnya kita mampu mencontohkan itu semua.

Apalagi kalau kita ingin menjadi guru yang bisa memompa prestasi siswa dalam bidang bahasa dan (khususnya) sastra dengan mengikutkan mereka dalam lomba-lomba penulisan atau pembacaan puisi atau cerpen. Tentu, dengan bangga kita bisa membagi pengalaman dan memberi kiat-kiat mengikuti kegiatan tersebut karena kita pernah mencoba ikut. Harapan siswa sebenarnya sangat sederhana bagaimana kita bisa menjadi guru utamanya dalam pembelajaran. Dan bukan televisi, internet, atau media massa.

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau kita tidak mau belajar dengan teman-teman guru bahasa dan (khususnya) sastra di sekolah dan tempat lain. Sudah teramat banyak teman-teman guru kita yang sudah betul-betul menjadi model di kelasnya. Selain aktif menjadi guru di sekolah, juga sebagai pribadi aktif dan intensif melakukan kegiatan tulis menulis dan berprestasi dalam bidang itu. Bisa disebut beberapa nama, seperti Bapak. Erwan Juhara, guru SMA 10 Bandung; Ibu Iis Wiati, guru SMA 5 Bogor; Ibu Dian Aksanti, guru SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo; Ibu Eulis Anggia Budiarti, dari SMA 1 Jayapura; atau si kembar Cahyono dari Jawa Tengah. Ada lagi Bapak Abel Tasman, di Pekan Baru dan Bpk. Jamal T. Suryanata di Batu Ampar, Kalimantan Selatan, yang sama-sama guru SD. Dan banyak lagi kalau mau disebut. 

Sesungguhnya mereka telah membuktikan keberhasilannya dalam pembelajaran sastra, bukan sekadar membelajarkan, tapi sekaligus menjadi model. Indikasi keberhasilan tersebut adalah mampunya siswa didik mereka mengeskpresikan dirinya dalam bidang sastra. Berkarya dan mempublikasikannya di media-media yang ada. Tentunya juga peningkatan prestasi akademiknya dalam bidang kognitif. Dan yang lebih membanggakan adalah karya dan prestasi guru itu sendiri dalam bidang sastra dan kepenulisan yang menyebar, baik tingkat lokal, maupun nasional.

Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau setelah membaca pengalaman guru ini kita selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia tetap tidak mau mengubah citra sebagai guru. Alangkah berdosanya kita kepada siswa-siswa kita kalau kita tidak bisa memegang amanat sebagai guru, seseorang yang patut digugu dan ditiru. Bagaimana bisa menjadi guru kalau sedikit pun yang ada dalam diri kita yang bisa ditiru oleh siswa. Sayang, kalau sebagai guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia belum menjadi model bagi materi pembelajaran kita sendiri.

Jadi, tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah!

&lt;em&gt;Zul ...&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://zulfaisalputera.wordpress.com/2008/03/28/efektivitas-ujicoba-ujian-nasional/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Efektivitas Ujicoba Ujian Nasional&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
wah, makasih banget tambahan infonya pak zul. *menjura hormat!*</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/msie.png' title='Internet Explorer 6.0' class='' alt='Internet Explorer 6.0' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/products/winfamily/ie/default.mspx' title='Internet Explorer 6.0' rel='nofollow'>Internet Explorer 6.0</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>Mas, aku punya resep buat itu.<br />
Nih, baca aja esaiku:</p>
<p>(Agar pelajaran sastra tetap eksisi di sekolah, maka yang utama adalah jadikan) Guru sebagai Model Pembelajaran<br />
Oleh Zulfaisal Putera*</p>
<p>Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah karena sebagai guru kita tidak membuatnya menjadi mudah. Berbagai keluhan sementara guru-guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia adalah betapa lelahnya dalam membelajarkan sastra kepada siswa. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah lelah itu karena kemauan guru untuk membelajarkan sastra sangat kurang atau karena kemampuan guru itu sendiri yang sangat minim.?</p>
<p>Mari kita runut berapa faktor yang sering dijadikan alasan bagi guru agak ogah-ogahan membelajarkan sastra. Pertama, kurangnya buku-buku penunjang pembelajaran, seperti buku pegangan guru dan siswa; dan buku-buku karya sastra sebagai bahan bacaan siswa. Kedua, kurangnya pengetahuan guru terhadap materi pembelajaran sastra itu sendiri dibanding materi bahasa Indonesia. Ketiga, rendahnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran sastra di kelas.</p>
<p>Kalau kita perhatikan ketiga alasan tersebut secara seksama, tampaknya ada tiga pihak yang menjadi cikal penyebab, yaitu faktor sekolah &#8211; dalam hal ini perpustakaan, faktor guru, dan faktor siswa itu sendiri. Ketiga faktor ini memang merupakan satu kesatuan yang sudah sangat kita maklumi menjadi faktor penting dalam segala persoalan persekolahan. Jadi, terlalu naif kalau persoalan pembelajaran sastra ikut-ikutan menjadi beban bagi persoalan persekolahan secara umum.</p>
<p>Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau guru tidak mau berusaha menjadi guru yang terbaik bagi siswa didiknya. Menjadi guru yang terbaik tidak harus sempurna sebagai guru. Paling tidak, seorang guru pembelajaran sastra harus betul-betul menjadi menjadi sosok yang dapat dijadikan motivasi bagi siswa. Motivasi untuk berpikir, bertutur, dan bertindak dalam memahami dan mengekspresikan dirinya di bidang sastra.</p>
<p>Mari kita kaji kembali apa tujuan pemelajaran sastra menurut Kurikulum Berbasis Kompetensi. Secara umum disebutkan sebagai berikut:</p>
<p>1. siswa mampu menikmati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.;</p>
<p>2. siswa mampu mengekspresikan dirinya dalam medium sastra; dan</p>
<p>3. siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.</p>
<p>Apa yang bisa kita, selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia, lakukan untuk mengantarkan siswa-siswa kita mencapai tujuan pemelajaran itu? Sepatutnya kita bisa belajar dari sosok seorang guru mata pelajaran lain di sekolah kita. Percaya atau tidak, guru olahraga adalah salah satu guru yang selalu menjadi model bagi siswa didiknya. Lihatlah ketika seorang guru olahraga ingin mengajarkan dan meminta siswanya lompat tinggi atau loncat jauh, maka guru tersebut memberi contoh bagaimana melakukan itu (dan tentunya guru tersebut melakukan lompat tinggi atau loncat jauh terlebih dahulu di hadapan siswa).</p>
<p>Percaya atau tidak, seorang guru pelajaran Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) haruslah mampu mempraktikan bagaimana menggunakan komputer, bagaimana berselancar di dunia maya, membuat e-mail, bahkan mendownload program-program melalui internet. Apalagi kalau kita melihat guru-guru bidang kesenian. Seperti seorang guru tari yang pastilah mampu menari. Seorang guru musik yang tentu pandai memainkan musik dan sekali-sekali menyanyi. Dan banyak contoh-contoh lainnya lagi yang menampakkan diri betapa guru harus menjadi model.</p>
<p>Sekarang bagaimana kita selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia? Bayangkanlah bagaimana kita memosisikan diri ketika siswa meminta kita mencontohkan bagaimana membuat puisi, bagaimana menulis cerpen, bagaimana meyusun sebuah karangan esai. Bayangkan juga bagaimana sikap kita ketika siswa kita memohon agar kita bisa mencontohkan bagaimana membaca puisi atau cerpen yang sebenarnya, bagaimana memerankan seorang tokoh dalam sebuah lakon drama. Dan rasakan juga ketika siswa ingin melihat bagaimana berpidato yang baik?</p>
<p>Kalau setelah membaca sejumlah pembayangan di atas kita sebagai guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia lantas memberikan tanggapan dengan pernyataan bahwa semua yang diminta siswa itu bisa dipenuhi dengan menghadirkan contoh melalui kaset, video, atau mendatangkan seorang sastrawan ke dalam kelas. Ini adalah pernyataan untuk menutupi kekurangan yang dimiliki guru sekaligus upaya mengambil jalan pintas. Memang bisa, tapi tidak baik bila menjadi biasa. Karena selamanya guru sangat ketergantungan.</p>
<p>Selama ini kita sering mendengar keluhan kurangnya, bahkan hampir tidak adanya fasilitas penunjang pembelajaran di sekolah &#8211; terutama sekolah-sekolah pinggiran dan pedesaan. Misalnya, tidak tersedianya tape recorder, vcd player (apalagi dvd player), apalagi LCD dengan perangkatnya. Kalau juga ada, muncul lagi masalah tidak adanya colokan listrik di kelas, atau malah terbatasnya persediaan listrik di sekolah. Bagaimana ingin merealisasi pernyataan di paragraf sebelumnya, kalau setelah itu tetap muncul keluhan masalah sarana.</p>
<p>Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau kita tidak mau dan tidak mampu menjadi model dalam pembelajaran. Betapa menyenangkannya saat mengajar kalau kita dapat memenuhi harapan siswa. Ketika siswa ingin belajar menulis puisi, kita tunjukkan beberapa puisi kita. Ketika siswa ingin mengetahui bagaimana seluk beluk menulis cerpen, maka dengan rasa bangga kita perlihatkan cerpen yang pernah kita buat (bahkan pernah dimuat di media massa). Pun juga ketika siswa meminta kita membacakan puisi, cerpen, atau bahkan bermain peran, alangkah lebih terhormatnya kita mampu mencontohkan itu semua.</p>
<p>Apalagi kalau kita ingin menjadi guru yang bisa memompa prestasi siswa dalam bidang bahasa dan (khususnya) sastra dengan mengikutkan mereka dalam lomba-lomba penulisan atau pembacaan puisi atau cerpen. Tentu, dengan bangga kita bisa membagi pengalaman dan memberi kiat-kiat mengikuti kegiatan tersebut karena kita pernah mencoba ikut. Harapan siswa sebenarnya sangat sederhana bagaimana kita bisa menjadi guru utamanya dalam pembelajaran. Dan bukan televisi, internet, atau media massa.</p>
<p>Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau kita tidak mau belajar dengan teman-teman guru bahasa dan (khususnya) sastra di sekolah dan tempat lain. Sudah teramat banyak teman-teman guru kita yang sudah betul-betul menjadi model di kelasnya. Selain aktif menjadi guru di sekolah, juga sebagai pribadi aktif dan intensif melakukan kegiatan tulis menulis dan berprestasi dalam bidang itu. Bisa disebut beberapa nama, seperti Bapak. Erwan Juhara, guru SMA 10 Bandung; Ibu Iis Wiati, guru SMA 5 Bogor; Ibu Dian Aksanti, guru SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo; Ibu Eulis Anggia Budiarti, dari SMA 1 Jayapura; atau si kembar Cahyono dari Jawa Tengah. Ada lagi Bapak Abel Tasman, di Pekan Baru dan Bpk. Jamal T. Suryanata di Batu Ampar, Kalimantan Selatan, yang sama-sama guru SD. Dan banyak lagi kalau mau disebut. </p>
<p>Sesungguhnya mereka telah membuktikan keberhasilannya dalam pembelajaran sastra, bukan sekadar membelajarkan, tapi sekaligus menjadi model. Indikasi keberhasilan tersebut adalah mampunya siswa didik mereka mengeskpresikan dirinya dalam bidang sastra. Berkarya dan mempublikasikannya di media-media yang ada. Tentunya juga peningkatan prestasi akademiknya dalam bidang kognitif. Dan yang lebih membanggakan adalah karya dan prestasi guru itu sendiri dalam bidang sastra dan kepenulisan yang menyebar, baik tingkat lokal, maupun nasional.</p>
<p>Tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah. Yang susah adalah kalau setelah membaca pengalaman guru ini kita selaku guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia tetap tidak mau mengubah citra sebagai guru. Alangkah berdosanya kita kepada siswa-siswa kita kalau kita tidak bisa memegang amanat sebagai guru, seseorang yang patut digugu dan ditiru. Bagaimana bisa menjadi guru kalau sedikit pun yang ada dalam diri kita yang bisa ditiru oleh siswa. Sayang, kalau sebagai guru bahasa dan (khususnya) sastra Indonesia belum menjadi model bagi materi pembelajaran kita sendiri.</p>
<p>Jadi, tidak ada yang susah dalam pembelajaran sastra di sekolah!</p>
<p><em>Zul &#8230;&#8217;s last blog post..<a href='http://zulfaisalputera.wordpress.com/2008/03/28/efektivitas-ujicoba-ujian-nasional/' rel="nofollow">Efektivitas Ujicoba Ujian Nasional</a></em></p>
<p>ooo<br />
wah, makasih banget tambahan infonya pak zul. *menjura hormat!*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hanna Fransisca</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3156</link>
		<dc:creator>Hanna Fransisca</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 02:27:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3156</guid>
		<description>:!: 

iseng ah...

&lt;em&gt;Hanna Fransisca&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://atapsenja.wordpress.com/2008/03/23/bening-sungaiku/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Bening Sungaiku&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
wew... rupanya mbak hanna suka iseng juga, yak, hehehehehe :smile:</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/msie.png' title='Internet Explorer 6.0' class='' alt='Internet Explorer 6.0' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/products/winfamily/ie/default.mspx' title='Internet Explorer 6.0' rel='nofollow'>Internet Explorer 6.0</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>:!: </p>
<p>iseng ah&#8230;</p>
<p><em>Hanna Fransisca&#8217;s last blog post..<a href='http://atapsenja.wordpress.com/2008/03/23/bening-sungaiku/' rel="nofollow">Bening Sungaiku</a></em></p>
<p>ooo<br />
wew&#8230; rupanya mbak hanna suka iseng juga, yak, hehehehehe :smile:</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dimensi Kehidupan Manusia dalam Teks Sastra &#124; Catatan Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3151</link>
		<dc:creator>Dimensi Kehidupan Manusia dalam Teks Sastra &#124; Catatan Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 20:32:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3151</guid>
		<description>[...] Mampukah Sekolah Menjadi &#8220;Benteng&#8221; Utama Apresiasi Sastra?  [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[ <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/trackback/wordpress.png' title='WordPress 2.3.3' class='' alt='WordPress 2.3.3' /> <a href='http://www.wordpress.org/' title='WordPress 2.3.3' rel='nofollow'>WordPress 2.3.3</a><p>[...] Mampukah Sekolah Menjadi &#8220;Benteng&#8221; Utama Apresiasi Sastra?  [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Santri Gundhul</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3149</link>
		<dc:creator>Santri Gundhul</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 16:12:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3149</guid>
		<description>Sebuah gagasan yang JEMPOLAN neh Pak,

Tapi gimana yah..klu Guru Bhs Indonesia ternyata juga minim dalam hal pengetahuan SASTRA Pak. He..he..sepertinya perlu pencanangan program khusus seperti Pelatihan dan TRAINING buat guru Bhs Indonesia kepada para sastrawan seperti si Burung Merak ( WS. Rendra dll ). Cuman massalahnya lagi-lagi masalah DANA...Lah Pemerintah ngurusin SEMBAKO yg cenderung melonjak dah PUYENG jeh Pak...apa yah sempat mikir masalah PELATIHAN buat Guru..??.

ooo
pelatihan buat guru banyak juga dilakukan kok, mas santri. yang jadi persoalan, efektif atau tidak kegiatan semacam itu. sepanjang benar2 bermanfaat bagi guru, saya kira diklat semacam itu penting juga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/firefox.png' title='Firefox 2.0.0.13' class='' alt='Firefox 2.0.0.13' /> <a href='http://www.mozilla.org/' title='Firefox 2.0.0.13' rel='nofollow'>Firefox 2.0.0.13</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>Sebuah gagasan yang JEMPOLAN neh Pak,</p>
<p>Tapi gimana yah..klu Guru Bhs Indonesia ternyata juga minim dalam hal pengetahuan SASTRA Pak. He..he..sepertinya perlu pencanangan program khusus seperti Pelatihan dan TRAINING buat guru Bhs Indonesia kepada para sastrawan seperti si Burung Merak ( WS. Rendra dll ). Cuman massalahnya lagi-lagi masalah DANA&#8230;Lah Pemerintah ngurusin SEMBAKO yg cenderung melonjak dah PUYENG jeh Pak&#8230;apa yah sempat mikir masalah PELATIHAN buat Guru..??.</p>
<p>ooo<br />
pelatihan buat guru banyak juga dilakukan kok, mas santri. yang jadi persoalan, efektif atau tidak kegiatan semacam itu. sepanjang benar2 bermanfaat bagi guru, saya kira diklat semacam itu penting juga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mezza</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3143</link>
		<dc:creator>Mezza</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 02:50:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/26/mampukah-sekolah-menjadi-benteng-utama-apresiasi-sastra/#comment-3143</guid>
		<description>Btw ... Themesnya ganti Ijo ya pak? Wahh sempat ga percaya .. kirain buta warna *hahaha*
Sepertinya ga cuma sastra aja pak yang kurang mengena di sekolah. kebanyakan mata pelajaran yang tidak hanya mengedepankan kognisi emang susah. Memang mudah mengajar matematika daripada apresiasi sastra, pelajaran seni budaya, dan sejenisnya,  halah .. sok tau ...  :?:

&lt;em&gt;Mezza&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://mezzalena.wordpress.com/2008/03/27/perjamuan-minum-kopi/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Perjamuan Minum Kopi&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
wew... mbah hibah ndak buta warna kok, hiks. :evil: memang bener theme-nya hijau kok *halah* btw, tentang kesulitan mengajar itu juga sangat tergantung dari keahlian masing2 orang kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[Menggunakan <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/net/firefox.png' title='Firefox 2.0.0.11' class='' alt='Firefox 2.0.0.11' /> <a href='http://www.mozilla.org/' title='Firefox 2.0.0.11' rel='nofollow'>Firefox 2.0.0.11</a> pada <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/wp-useragent/img/16/os/win-2.png' title='Windows XP' class='' alt='Windows XP' /> <a href='http://www.microsoft.com/windows/' title='Windows XP' rel='nofollow'>Windows XP</a><p>Btw &#8230; Themesnya ganti Ijo ya pak? Wahh sempat ga percaya .. kirain buta warna *hahaha*<br />
Sepertinya ga cuma sastra aja pak yang kurang mengena di sekolah. kebanyakan mata pelajaran yang tidak hanya mengedepankan kognisi emang susah. Memang mudah mengajar matematika daripada apresiasi sastra, pelajaran seni budaya, dan sejenisnya,  halah .. sok tau &#8230;  :?:</p>
<p><em>Mezza&#8217;s last blog post..<a href='http://mezzalena.wordpress.com/2008/03/27/perjamuan-minum-kopi/' rel="nofollow">Perjamuan Minum Kopi</a></em></p>
<p>ooo<br />
wew&#8230; mbah hibah ndak buta warna kok, hiks. :evil: memang bener theme-nya hijau kok *halah* btw, tentang kesulitan mengajar itu juga sangat tergantung dari keahlian masing2 orang kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
