Senin, 24 November 2014

Thursday, 13 March 2008 (17:51) | Opini | 22074 pembaca | 52 komentar

Ketika Pak Gempur melakukan ajakan “provokatif” untuk menggempur kebijakan pemerintah yang hendak menjadikan tahun 2008 sebagai tahun politik lewat YM, tiba-tiba saja ingatan saya jatuh pada saudara-saudara kita yang bernasib tragis dan mengenaskan, bahkan berujung kematian. Ini sebuah fakta yang sulit kita bantah kebenarannya. Saat ini banyak saudara kita yang terpaksa harus makan nasi aking. Bahkan, ketika persediaan bahan makanan yang hanya layak dikonsumsi unggas itu habis, sang Malaikat Maut sudah siap untuk menjemput mereka ke alam barzah. Ironisnya, banyak pejabat kita yang sengaja membutakan matahati dan menulikan telinganuraninya. Mereka justru sibuk membangun negosiasi untuk membeli mobil dinas atau piknik ke luar negeri dengan dalih studi banding. Om Google sangat sensitif merekam berbagai peristiwa itu, sehingga kita dengan mudah dapat mengikutinya. Lihat saja di sini dan di sini.

Banyak pertanyaan yang bisa dikemukakan, mengapa sikap empati kita terhadap sesama seolah-olah sudah terkikis dari dinding hati dan nurani kita. Seiring dengan merebaknya pola dan gaya hidup materialistis, konsumtif, dan hedonistis, yang melanda masyarakat kita belakangan ini, diakui atau tidak, telah membikin perspektif kita terhadap nilai-nilai kemanusiaan menyempit. Kesibukan berurusan dengan gebyar duniawi, disadari atau tidak, telah membuat kita abai terhadap persoalan esensial yang menyangkut interaksi dan komunikasi sosial terhadap sesama. Jangankan mengurus nasib orang lain, mengurus diri sendiri saja masih payah? Mengapa kita mesti repot-repot merogoh uang recehan untuk gelandangan dan pengemis kalau mencari duwit haram saja sulit? Mengapa kita susah-payah membantu korban kecelakaan lalu lintas kalau pada akhirnya kita mesti repot-repot memberikan kesaksian di depan aparat yang berwenang? Kenapa kita mesti membebani diri mengurus anak-anak telantar dan yatim piatu kalau setiap pagi kita masih kerepotan memberikan uang saku untuk sekolah anak-anak kita?

Di mata dunia, sebenarnya bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dengan entitas kesetiakawanan sosial yang kental, tidak tega melihat sesamanya menderita. Kalau toh menderita, “harus” dirasakan bersama dengan tingkat kesadaran nurani yang tulus, bukan sesuatu yang dipaksakan dan direkayasa. Merasa senasib sepenanggungan dalam naungan “payung” kebesaran” religi, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. ltulah yang membuat bangsa lain menaruh hormat dan respek. Semangat “Tat twan Asi” (Aku adalah Engkau) –meminjam terminologi dalam ajaran Hindu–, telah mampu menahbiskan rasa setia kawan menjelma dan bernaung turba dalam dada bangsa kita, sehingga mampu hidup damai di tengah-tengah masyarakat multikultur.

Namun, merebaknya “doktrin” konsumtivisme, agaknya telah telanjur menjadi sebuah kelatahan seiring merebaknya pola hidup materialistik dan hedonistis, yang melanda masyarakat modern. Manusia modern, menurut Hembing Wijayakusuma telah melupakan satu dari dua sisi yang membentuk eksistensinya akibat keasyikan pada sisi yang lain. Kemajuan industri telah mengoptimalkan kekuatan mekanismenya, tetapi melemahkan kekuatan rohaninya. Manusia telah melengkapinya dengan alat-alat industri dan ilmu pengetahuan eksperimental dan telah meninggalkan hal-hal positif yang dibutuhkan bagi jiwanya. Akar-akar kerohanian sedang terbakar di tengah api hawa nafsu, keterasingan, kenistaan, dan ketidakseimbangan.

Pemahaman pola hidup yang salah semacam itu, disadari atau tidak, telah melumpuhkan kepekaan nurani dan moral serta religi. Sikap hidup instan telah melenyapkan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten, dan cermat, yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran telah tersulap menjadi sikap menerabas, pragmatis, dan serba cepat. Orang pun jadi semakin permisif terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak jujur di sekitarnya. Budaya suap, kolusi, nepotisme, atau manipulasi anggaran sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Untuk mengegolkan ambisi tidak jarang ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar menurut etika.

Kesibukan memburu gebyar materi untuk bisa memanjakan selera dan naluri konsumtifnya, membuat kepedulian terhadap sesama menjadi marginal. Jutaan saudara kita yang masih bergelut dengan lumpur kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan, luput dari perhatian. Fenomena tersebut jelas mengingkari makna kesetiakawanan sosial yang telah dibangun para founding fathers kita, mengotori kesucian darah jutaan rakyat yang telah menjadi “tumbal” bagi kemakmuran negeri ini.

Sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi di mata dunia, bagaimanapun harus memiliki good will (kemauan baik) untuk mengondisikan segala bentuk penyimpangan moral, agama, dan kemanusiaan, pada keagungan dan kebenaran etika yang sudah teruji oleh sejarah. Budaya kita pun kaya akan analogi hidup yang bervisi spiritual dan keagamaan. Jika kultur kita yang sarat nilai falsafinya itu kita gali terus, niscaya akan mampu menumbuhkan keharmonisan dan keseimbangan hidup, sehingga mampu mewujudkan paguyuban hidup sosial yang jauh dari sikap hipokrit, arogan, dan bar-bar.

Yang kita perlukan sekarang adalah bagaimana menumbuhsuburkan nilai-nilai empati itu dari generasi ke generasi. Secara naluriah, manusia membutuhkan pengakuan dan pengertian. Kedua kata inilah yang selama ini, disadari atau tidak, telah hilang dalam kamus kehidupan kita. Empati sangat membutuhkan kehadiran dua kosakata indah ini. Merebaknya berbagai praktik kekerasan dan vandalisme pun sebenarnya disebabkan oleh runtuhnya pilar pengakuan dan pengertian tadi. Kita makin tidak intens dalam mengakui keberadaan orang lain dan makin tidak apresiatif untuk mengerti keberadaan orang lain.

Sungguh, benar-benar sebuah tragedi kemanusiaan yang terpampang di atas panggung sosial negeri ini apabila banyak saudara kita yang mati kelaparan, justru pemerintah hendak mencanangkan tahun 2008 sebagai tahun politik; tahun warming up menuju pesta demokrasi 2009. Sekali lagi, kita disuguhi lakon-lakon absurd yang membuat dada kita makin terasa sesak.

Yup, meski hanya sebatas kata-kata dan retorika, mari kita sambut ajakan untuk mencanangkan 2008 sebagai Tahun Antikelaparan dan Gizi Buruk dengan cara memasang banner dan membuat postingan khusus. Semoga langkah kecil kita ini bisa memberikan bisikan “gaib” di telinga para pengambil keputusan untuk membangun kepedulian terhadap nasib saudara-saudara yang kurang beruntung. ***

Tulisan berjudul "Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita terhadap Sesama" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (13 March 2008 @ 17:51) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Keteladanan Rasulullah di Tengah Krisis Kepemimpinan Nasional (Tuesday, 14 January 2014, 377218 pembaca, 19 respon) Negeri ini agaknya tengah mengalami krisis kepemimpinan. Mereka yang tengah berada dalam lingkaran elite kekuasaan bukannya berjuang untuk...

Masihkah Elite Negeri ini Mendengar Suara Punakawan? (Sunday, 29 December 2013, 216537 pembaca, 10 respon) Punakawan bagi masyarakat Jawa sudah bukan lagi nama yang asing. Dalam setiap pakeliran wayang kulit, keempat tokoh ini selalu muncul, bahkan...

Budaya Politik dan Pesimisme Bangsa (Friday, 27 December 2013, 158767 pembaca, 3 respon) Menjelang akhir tahun 2013, optimisme bangsa kita masih “galau” –kalau tidak bisa dibilang pesimis– dalam menghadapi dinamika dan...

Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki (Saturday, 21 December 2013, 396081 pembaca, 12 respon) (Refleksi Hari Ibu Tahun 2013) Perempuan-Perempuan Perkasa Puisi Hartoyo Andangdjaja Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari...

Tragedi Cebongan dan Upaya Pembasmian Premanisme (Sunday, 7 April 2013, 176210 pembaca, 22 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Dugaan publik terhadap keterlibatan oknum Kopassus dalam Tragedi Cebongan (23 Maret 2013) akhirnya terbukti setelah tim...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

52 komentar pada "Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita terhadap Sesama"

  1. [...] Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita Terhadap Sesama → Mari Peduli → Peduli, Peduli Yuk Kita Peduli → Untuk Indonesia Dari Indonesia! → Mereka [...]

  2. @ all:
    terima kasih kepada teman-teman yang telah berkenan merespon kampanye ini. semoga saudara2 kita yang sedang menghadapi ancaman kelaparan bisa secepatnya tertangani.

    Sawali Tuhusetya’s last blog post..Istirahat Sejenak!

  3. [...] 7. Atas Nama Kemanusiaan 8. Stop Kelaparan [2] 9. Bandingkannn!!! 10. Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita Terhadap Sesama 11. Mari Peduli 12. Peduli, Peduli Yuk Kita Peduli 13. Untuk Indonesia Dari Indonesia! [...]

  4. [...] → Atas Nama Kemanusiaan → Aksi Nyata Anti Kelaparan → Stop Kelaparan → Miskin Lalu Mati → Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita Terhadap Sesama → Mari Peduli → Peduli, Peduli Yuk Kita Peduli → Untuk Indonesia Dari Indonesia! → Mereka [...]

  5. [...] bandingkannn stop-kelaparan materi stop-kelaparan-dan-gizi-buruk peduli-peduli-yuk-kita-peduli nasi-aking-dan-sirnanya-empati-kita-terhadap-sesama aku-puisi-kekinian-tanya mari-peduli.html http://www.zoelk.blogspot.com/ [...]

Leave a Reply