Home | Bahasa, Budaya, Diksi, Opini, Pragmatik, Refleksi | Bersembunyi di Balik Jargon Eufemisme

Bersembunyi di Balik Jargon Eufemisme

Sunday, 9 March 2008 (20:36) | 1,145 pembaca | 40 komentar | Print this Article

Sebagai media komunikasi, bahasa sangat erat kaitannya dengan kultur dan kebiasaan penutur dalam melakukan interaksi sosial. Bahasa telah menjadi perekat komunikasi yang menyejarah dalam peradaban umat manusia dari generasi ke generasi. Bahkan, dalam perkembangannya bahasa telah menjadi sebuah ikon dan simbol status sosial penuturnya. Tak berlebihan apabila penutur alias pengguna bahasa berusaha mengekspresikan dan mengaktualisasikan jatidiri melalui bahasa yang sesuai dengan situasi kultural dan gaya tutur personalnya . “Bahasa menunjukkan bangsa”, begitulah “tamsil” yang sudah lama kita dengar dari nenek moyang kita.

Dalam konteks demikian, bahasa tak jarang digunakan untuk mengekspresikan sikap santun dan hormat sebagai bagian dari perilaku kulturalnya. Pernah mendengar tuturan, seperti: “Maaf, mohon izin ke belakang sebentar!”, atau “Lelaki itu berubah akal setelah istrinya meninggal”? Yups, idiom “ke belakang” atau “berubah akal” dalam konteks tuturan tersebut biasanya digunakan untuk menggantikan ungkapan yang konotasinya cenderung jorok dan kasar, seperti “ke WC” atau “gila”. Dengan menggunakan idiom-idiom semacam itu, tuturan akan terkesan menjadi lebih halus dan santun. Dalam situasi seperti itu, lawan tutur biasanya akan merespon, baik secara verbal maupun nonverbal, dengan sikap yang santun pula sebagai perwujudan sikap dalam relasi sosial. Itu artinya, berbahasa pada hakikatnya juga termasuk bagian dari aksi atau tindakan. Oleh karena itu, akronim NATO (No Action Talk Only): “Hanya ngomong doang tanpa bertindak!”, seperti yang sering kita dengar, dalam konteks kebahasaan, sebenarnya kurang tepat juga meskipun ditujukan kepada orang-orang yang hanya bisa berbicara.

Berbahasa tak jauh berbeda dengan tindakan memukul, mencubit, mencangkul, menghitung angka-angka, atau aksi-aksi yang lain. Yang berbeda hanya medianya. Aktivitas berbahasa juga melibatkan banyak organ dan syaraf otak sebelum berubah menjadi tindak tutur. Untuk mengucapkan idiom “ke belakang” atau “berubah akal” saja, seseorang harus me-retrieve atau memanggil ulang terhadap ribuan, bahkan jutaan kata, yang tersimpan dalam memorinya melalui proses yang panjang. Proses pemanggilan ulang terhadap idiom-idiom tertentu seringkali mengalami hambatan apabila seseorang sedang berada dalam kondisi jiwa dan batin yang tidak nyaman.

Nah, berkaitan dengan penggunaan idiom “ke belakang” atau “berubah akal” –sering disebut dengan majas eufemisme– untuk menyatakan sikap santun dan hormat, hal ini juga berkelindan dengan sikap hidup bangsa kita yang enggan berkonflik. Dengan menggunakan gaya eufemistik, hal-hal yang tabu atau hal-hal yang bisa membuat lawan tutur tersinggung bisa dihindari. Tak heran jika kita sudah demikian akrab dengan idiom-idiom semacam: “tunarungu” untuk menggantikan kata “tuli”, “tunawisma” untuk menggantikan “gelandangan”, atau “wanita tunasusila” untuk menggantikan kata “pelacur”. Disadari atau tidak, penggunaan idiom semacam itu akan memberikan nilai rasa yang lebih nyaman dan menenteramkan kepada pihak yang dituju ketimbang menggunakan kata-kata lugas dan vulger. Dengan cara demikian, konflik dan friksi dalam konteks relasi sosial pun bisa dihindari.

Namun, dalam perkembangannya, majas eufemisme telah mengalami reduksi dan kontaminasi penggunaan yang terlalu jauh dalam desain komunikasi yang dibangun oleh penguasa. Eufemisme tidak lagi digunakan untuk menyatakan nilai-nilai kesantunan, tetapi lebih dimanipulasi untuk kepentingan kekuasaan an sich. Jargon-jargon eufemisme pun bertaburan dalam setiap ranah komunikasi yang didesain oleh rezim beserta aparaturnya. Pada era Orde Baru, misalnya, kita demikian akrab dengan tuturan semacam: “Harga minyak disesuaikan untuk menjaga stabilitas anggaran”, “Pemerintah sedang mengupayakan bantuan pangan untuk rakyat desa tertinggal”, “Pencopet itu telah diamankan oleh pihak yang berwajib”, atau “Karyawan itu terpaksa dirumahkan karena telah melanggar peraturan”.

Persoalannya sekarang, apakah penggunaan kata “disesuaikan”, “desa tertinggal”, “diamankan”, atau “dirumahkan” dalam konteks kalimat semacam itu benar-benar sesuai dengan realitas yang sesungguhnya? Bisakah dibenarkan penggunaan kata “disesuaikan” kalau kenyataan yang terjadi justru kenaikan harga gila-gilaan? Masuk akalkah sebuah desa miskin yang rakyatnya kelaparan dikategorikan sebagai desa tertinggal? Benar-benar amankah seorang pencopet yang ditangkap oleh aparat yang berwajib kalau kenyataannya justru mengalami penyiksaan fisik hingga babak belur? Logiskah seorang karyawan yang dipecat tanpa diberi pesangon dihibur dengan menggunakan kata “dirumahkan”?

Agaknya, selama bertahun-tahun rakyat sudah dipertontonkan oleh permainan dan logika berbahasa yang salah kaprah oleh penguasa Orde Baru. Penggunaan eufemisme untuk menutup-nutupi kenyataan yang sesungguhnya, tak lebih sebuah pembohongan publik; topeng manipulasi sebagai kedok persembunyian akibat tidak adanya “kemauan politik” untuk melakukan sebuah perubahan. Rakyat dihibur dengan jargon-jargon eufemisme agar tidak banyak protes dan berulah macam-macam. Bahkan, bisa juga dikatakan sebagai perwujudan sikap hipokrit karena tak berdaya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi.

Seiring dengan pergantian rezim, apakah sang penguasa masa kini juga masih suka bermain-main dengan jargon-jargon eufemisme? Kalau benar demikian, jangan salahkan rakyat kalau pada akhirnya mereka juga latah menggunakan eufemisme dan tak segan-segan memanipulasi data atau melakukan kebohongan sebagai bentuk penghormatan terhadap rezim yang tengah berkuasa, hahahahaha ….. ***

ooo

Keterangan: gambar diambil dari sini.

Kategori: Bahasa, Budaya, Diksi, Opini, Pragmatik, Refleksi | Tags: , , , , , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 282 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgKastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI (Wednesday, 9 June 2010, 737 pembaca, 97 respon) Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian....
imgPenafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna (Saturday, 22 May 2010, 560 pembaca, 106 respon) Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang...
imgMembangun Karakter Bangsa melalui Festival dan Lomba Seni (Thursday, 29 April 2010, 756 pembaca, 47 respon) Tanggal 26-28 April 2010, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi juri dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa SD Tingkat Prov. Jawa Tengah Tahun 2010 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Dalam pandangan awam saya, festival dan lomba...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Bersembunyi di Balik Jargon Eufemisme" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 9 March 2008 (20:36)) pada kategori Bahasa, Budaya, Diksi, Opini, Pragmatik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

40 Responses to "Bersembunyi di Balik Jargon Eufemisme"

  1. WordPress 2.5 WordPress 2.5

    [...] Memaknai lirik nyang di atas, Carik’e pengen coba-coba taktaktiktuk, coba-coba berbahasa keren (*nyang tidak pake geli) meminimalisir eufemisme. [...]

  2. ariss_ says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.9 Firefox 2.0.0.9 pada Windows XP Windows XP

    Apa saja joega mesti menggoenakan eufemisme setiap berkomentar di blog ini ya? [hipokrit] >> predikat “mengerikan”…

    Salam,

    ooo
    wakakakakaka :smile: ndak harus pakek eufemisme, mas ariss, nanti saya malah tidak ngeh, hehehehehe :lol:

  3. waaaw says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    hiks….pa’guru aq kan cewe, qo dipanggil “mas” sih… :cry:,

    waaaw’s last blog post..wanita suka bola: suatu trik berkomunikasi dengan pria???

    ooo
    sorry banget mbak waaaw… ndak tahu kalo cewek, hiks.

  4. wa2 c' dodol says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Allow p’guru…lam KeNal n numPang comment ya.. :smile:

    saya jadi ingeT, bebrapa hari lalu nonton sebuah acara di salah satu stats tv..itu lho pa..lomba nyanyi anak2 biar bisa jd idola..(ckcckkk anaknya pa ibunya yg pengen ya.. :?: )nah,salah satu jurinya mengomentari satu anak kurang lebih begini:
    “kamu harus banyak senyum ya..jadi muka kamu “yang unik” itu…(he lupa). :grin:
    tp bagian yg lupa ga penting qo..saya hanya ingin mengomentari kata “muka kamu yg unik”…entah apa makna sebenarnya yang ingin disampaikan c juru itu tentang muka c anak (yang saya lihat, klo boleh blak2an c anak tu emang ga bisa dibilang cakep, item bgt, ya biasa az lah mukanya (he..maaf ya adek calon idola :smile: ))
    menurut saya c juri itu jg pake eufemisme..kata “unik” lebih terasa bagus daripada kata “jelek” dan “aneh”. Jd menurut saya lg nih pa..dalam situasi-situasi tertentu emang eufemisme sah-sah saja. gak kebayang kan kalo jurinya bilang” kamu tuh harus banyak senyum jadi muka kamu yang jelek…”, wah bisa-bisa c anak trauma n ga pede..hehe(berlebihan).

    wa2 c’ dodol’s last blog post..wanita suka bola: suatu trik berkomunikasi dengan pria???

    waaaw… bener juga tuh mas, sang komentator telah menggunakan majas eufemisme juga untuk menghaluskan ungkapan. selama digunakan secara tepat, eufemisme ok juga kok!

  5. WordPress 2.3.3 WordPress 2.3.3

    [...] postingan saya tentang Bersembunyi di Balik Jargon Eufemisme, saya terkesan dengan komentar Mas Rozy. Beliau saya kenal sebagai seorang bloger yang selalu [...]

  6. Menggunakan Firefox 3.0b3 Firefox 3.0b3 pada Windows XP Windows XP

    selagi jargon eufemisme tidak mengaburkan makna/arti sesungguhnya saya kira masih bisa kita terima. bukankah kita memang bangsa yang dikenal santun dan berbudaya. Istilah “blokosuto” kalau bisa dihindari hehehe…. :P

    Totok Sugianto’s last blog post..Biar Gak Gaptek, Rakit Sendiri PC Anda

    ooo
    eufemisme ndak salah digunakan kok mas totok, asalkan sesuai dengan konteksnya.

  7. WordPress 2.3.3 WordPress 2.3.3

    [...] Ironisnya, bapak presiden kita yang terhormat malah mencanangkan tahun ini sebagai tahun politik yang panas. Tahun depan mendidih yang mungkin juga meledak. Kegeraman ini memicu adrenalin untuk segera bertindak meski itu kecil. Peduli amat orang berkata NATO (No Action Talk Only), karena berdasarkan kyai saya, berbicara juga bagian dari bertindak. [...]

  8. Yari NK says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Waduh…… **halaah**-nya lupa!! Wakakakakak….. :lol:

    Yari NK’s last blog post..Asyiknya Belajar Geografi???

    ooo
    halah, bung yari masih suka pakai halah juga rupanya, wkakakakakakaka … :lol:

  9. Yari NK says:
    Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    Tapi sekarang banyak juga sih kata2 yang dulunya dianggap kasar tetapi sekarang sudah menjadi hal yang biasa (apalagi dalam Bahasa Inggris!!). Namun menurut saya eufemisme selain sebagai memperhalus bahasa juga terkadang berfungsi untuk ‘memperindah bahasa’, tapi cara memperhalus bahasa terutama dalam bahasa lisan sedikit berbeda dari bahasa tulisan. Betul nggak Pak Sawali?? Dalam bahasa lisan misalnya, untuk memperhalus bahasa terkadang orang sering menggunakan cara lain seperti mengeja huruf perhuruf atau membalikkan kata tersebut. Misalnya: “Eh, dia itu kan sebenarnya te-o-el-o-el” maksudnya adalah “Eh, dia itu kan sebenarnya tolol!” atau “eh, dia itu orangnya nggak berladom banget!!” maksudnya “eh, dia itu orangnya nggak bermodal banget!!”

    Rupanya dalam eufemisme orang juga butuh imajinasi dan kreativitas juga ya pak?? :mrgreen:

    Yari NK’s last blog post..Asyiknya Belajar Geografi???

    ooo
    yup, eufemisme itu sah2 saja digunakan kok bung yari, *halah* baik dalam bahasa lisan maupun tulis, asalkan sesuai dg konteknya.

  10. ridhocyber says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows Vista Windows Vista

    sampai sekarang saya tidak tau bahasa indonesia yang baik danbenar itu seperti apa! orang kadang menggunakan bahasa yang halus untuk kepentingan yang tidak baik, jadinya efeknya gak halus :d malah menyakitkan! begitu pula sebaliknya!

    ridhocyber’s last blog post..Menampilkan Google Adsense di dalam Blog

    ooo
    bahasa indonesia yang baik dan benar itu *halah sok tahu* mestinya disesuaikan dengan konteksnya, ridho. jadi, kalo berbicara dalam situasi resmi, ada baiknya kita menggunakan ragam bahasa remi, sebalinya, kalau situasinya sante, kita justru dianjurkan untuk menggunakan ragam bahasa tak resmi.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (112 queries: 1.019 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP