Home | Antologi PBP, Budaya, Cerpen, Refleksi, Sastra, Tradisi | Gapit *)

Gapit *)

Saturday, 8 March 2008 (01:32) | 73 pembaca | 25 komentar | Print this Article

Cerpen: Sawali Tuhusetya

Darah Gopal berdesir. Hatinya panas. Daun telinganya perih seperti tersengat lebah. Bola matanya menyala liar seolah hendak membakar orang-orang yang duduk di sekitarnya. Dia berdiri, berkacak pinggang. Otot-ototnya yang kekar menegang. Orang-orang yang semula duduk santai sambil ngobrol ngalor-ngidul terhenyak. Mereka bertatapan sambil mencuri pandang ke wajah Gopal yang sangar. Rasa waswas menggantung di wajah mereka. Hening sejenak. Di dada mereka berkecamuk tanda tanya.

“Siapa yang bilang Pak Bandiyo mata keranjang, he? Siapa tadi yang bilang?” bentaknya sambil menatap tajam orang-orang yang dilanda waswas itu.

Sepi. Tak ada jawaban. Maklum, mereka tahu siapa Gopal. Lelaki keras dan kasar, bahkan terkesan brangasan. Jika amarahnya tersulut, dia akan berubah menjadi serigala. Brutal dan tidak punya pengampunan. Memukul, menempeleng, menendang, meludahi orang, menyikut, dan semacamnya. Sangatlah beralasan kalau orang-orang di sekitarnya memilih diam.

“Ayo! Siapa yang bilang tadi?” bentaknya lagi.

Hening. Gumam-guman lenyap. Hanya sesekali terdengar ranting kering pohon trembesi raksasa tua yang patah tersentuh angin. Amarah Gopal memuncak seperti hendak meledakkan ubun-ubun. Tiba-tiba saja tangan kanannya menarik dengan keras lengan Paijo.

“Siapa yang bilang tadi, Jo? Ayo, tunjukkan!”

Paijo geragapan. Wajahnya memucat. “Tttidak tahu, kang!”

“Sundal, kamu!”

Paijo didorong Gopal dengan kasar. Lelaki muda kurus itu terjengkang. Bola mata Gopal masih tampak liar menyala-nyala. Orang-orang makin dicekam rasa waswas, bahkan kini berubah menjadi ketakutan. Tak seorang pun berani menatap wajah Gopal.

“He, dengar semua! Pak Bandiyo itu orang baik, dermawan, dan suka menolong orang susah! Sampeyan jangan suka mencari-cari kejelekannya!” cerocos Gopal.

Entah kenapa, tiba-tiba saja nyala matanya meredup. Tak lagi tampak garang. Senyum pun sesekali mengembang dari bibirnya yang tebal. Orang-orang kaget. Mereka mendongak serentak dan mulai berani menatap wajahnya.

Gopal menatap wajah mereka dengan senyum, berupaya meraih simpati. Dia terus berupaya melakukan pembelaan terhadap pribadi Pak Bandiyo dengan silat lidah. Kedua tangannya sibuk memberikan isyarat untuk memperkuat barisan argumentasi yang meluncur dari mulutnya. Suasana beku pun mencair. Suara tawa membuncah bersambung-sambungan. Riuh.

Pohon trembesi tua raksasa yang kukuh menancap jantung desa bagaikan payung iblis yang melindungi perkampungan. Di bawah pohon tua itu –-konon berusia ratusan tahun– orang-orang kampung terbiasa mengusir kepenatan, melepaskan lelah sembari mengobral pergunjingan hingga larut malam, setelah seharian bergumul lumpur di sawah. Lebih-lebih setelah listrik masuk desa, mereka yang keranjingan judi menggelar arena hingga menjelang subuh. Tak seorang pun yang melarang, lantaran ada di antara aparat desa yang mabuk judi hingga tak sempat mengurus tugas-tugasnya.
***

Pembelaan Gopal terhadap Pak Bandiyo menjadi perbincangan hangat orang-orang kampung. Mereka heran, kenapa dia bisa berubah secepat itu? Bukankah dia pernah mengancam akan membunuh calon lurah itu lantaran berselingkuh dengan Sarikem, istrinya?

“Ah, Pak Bandiyo kan orang kaya. Apa pun bisa dibelinya. Gopal pasti sudah disuapnya, bahkan mungkin dibujuknya agar bersedia menjadi gapit!” seloroh kang Duladri berapi-api. Orang-orang yang nongkrong di perempatan jalan selepas Maghrib itu membelalakkan mata, mencoba memahami jalan pikiran Kang Duladri. Mereka tahu, Kang Duladri adalah orang kepercayaan Pak Rasipin, pensiunan guru agama SD yang turut meramaikan perebutan kursi kepala desa. Lelaki itu diserahi tugas menarik simpati penduduk menjelang pemilihan. Penduduk menyebutnya gapit. Tidaklah mengherankan jika setiap omongan Kang Duladri selalu menarik perhatian orang-orang.

“Wah, bisa gawat kalau sampai Gopal jadi gapit Pak Bandiyo! Penduduk pasti takut bila tidak memilihnya!” Sahut Paijo yang nyaris jadi korban kebringasan Gopal.

“Itu bisa saja terjadi! Tapi menurutku, itu hanya perangkap Gopal untuk menjerat dhuwit Pak Bandiyo. Dia memeras. Bila Pak Bandiyo menolak, dia mungkin akan mewujudkan ancamannya. Paling tidak, melaporkan kasus perselingkuhan itu kepada pihak yang berwajib!” kata Min Kecel serius.

Orang-orang mengangguk sambil merunut berdasarkan alur pikiran masing-masing. Perbincangan mereka makin hangat. Berbagai topik terlontar ditingkah analisis sepihak yang kadang diberi muatan emosi berlebihan, khas orang desa.
***

Dua orang sudah dipastikan menjadi calon lurah. Pak Bandiyo, juragan terkaya di desa, dan Pak Rasipin, pensiunan guru agama SD. Pertarungan memperbutkan kursi akan dimulai. Setiap calon sibuk memasang strategi.

Dalam menjalankan aksi pengumpulan massa, Pak Rasipin lebih banyak mengandalkan program. Melalui gapit-gapit-nya, termasuk Duladri, dia selalu menekankan arti penting calon pemimpin desa yang paham kebutuhan warga. Jalan-jalan desa, jembatan-jembatan yang rusak, dan perbaikan pelayanan administrasi kepada warga desa terangkum dalam programnya. Sebab, selama dipimpin Pak Rapani yang keranjingan judi, pembangunan desa itu macet total.

Pak Bandiyo mengumpulkan massa lewat andalan kekayaan. Dia mengerahkan para gapit-nya untuk menyuap penduduk. Dan ternyata, Gopal menilap sebagian uang yang seharusnya dibagikan kepada penduduk itu. Pak Bandiyo tak dapat berbuat apa-apa.

Ancaman Gopal tentu tak main-main,” pikirnya. Lagi pula, menggaet Gopal sebagai gapit dia anggap sebagai sukses tersendiri. Karena senang, dia menjanjikan sehektar sawah kepada lelaki itu jika dia berhasil menjadi orang nomor satu.

Gopal kian bersemangat memenangkan jagonya. Berbagai macam cara dia tempuh. Menyuap, merayu, menekan, mengancam, dan menakut-nakuti. Cara-cara yang tidak sehat itu tercium oleh Pak Rasipin. Dia memohon kebijakan pihak Muspika untuk menghentikan cara-cara yang tidak manusiawi itu. Namun, tampaknya dia tidak mendapatkan tanggapan. Pak Bandiyo dan para gapit-nya makin tenggelam dalam sihir kebohongan.

Pak Rasipin merasa terhina dan dilecehkan. Dia ingin membuktikan bahwa dia mampu berbuat melebihi Pak Bandiyo. Dia segera beraksi. Beberapa petak sawah dan ternak dia jual sebagai modal. Melalui para gapit, dia menyuap rakyat. Dia tak peduli lagi program-program. Yang penting, bagaimana cara memenangi perebutan kursi.

Desa kian memanas menjelang pemilihan. Para gapit antarkubu terlibat perseteruan sengit dalam memperebutkan massa. Adu fisik tak terelakkan. Gopal mengumbar kebringasan. Beberapa gapit Pak Rasipin, termasuk Duladri dan Paijo, babak-belur dihajar Gopal saat memasuki rumah seorang penduduk.

Kampung benar-benar tidak aman. Aparat keamanan dari Polsek dan Koramil turun tangan dan memberlakukan jam malam. Keadaan terkuasai dan terkendalikan. Namun, kejadian itu memberikan luka yang menyakitkan bagi para gapit.

Keberuntungan tampaknya memang belum berpihak pada Pak Rasipin. Sawah dan ternaknya ludes, dia pun gagal meraih jabatan. Pak Bandiyo duduk di kursi pemimpin desa itu. Gopal bersorak. Sehektar sawah menari-nari di pelupuk matanya.
***

Akan tetapi, siapa dapat menduga, sepekan setelah pelantikan, Pak Bandiyo bernasib tragis. Tubuhnya ditemukan sudah tak bernyawa dengan luka-luka menganga. Lehernya nyaris putus.

Desa gempar dan berkabung. Kasak-kusuk dan kecurigaan merebak. Penduduk sibuk menerka-nerka, siapa pembantai sadistis itu? Aparat keamanan turun tangan. Berhari-hari desa diubek-ubek untuk melacak sang pembunuh. Mungkinkah Gopal?

Masih samar, sesamar kesaksian pohon trembesi tua raksasa, betapa di desa yang sepi itu telah terjadi pembonsaian dan pengerdilan nilai-nilai kemanusiaan. ***

ooo

Keterangan :

Gapit: orang kepercayaan calon lurah (kepala desa).

Kategori: Antologi PBP, Budaya, Cerpen, Refleksi, Sastra, Tradisi | Tags: , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgKetika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh (Wednesday, 1 September 2010, 282 pembaca, 34 respon) Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang...
imgMenuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405 (Tuesday, 27 July 2010, 510 pembaca, 72 respon) Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah...
imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Gapit *)" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 8 March 2008 (01:32)) pada kategori Antologi PBP, Budaya, Cerpen, Refleksi, Sastra, Tradisi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

25 Responses to "Gapit *)"

  1. Farhan says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.8 Firefox 2.0.0.8 pada Windows XP Windows XP

    :idea: sungguh cerpen penggugah pikiran. manakala sebuah desa membutuhkan seorang pemimpin yang diidamkan warganya, bukannya didapat lurah yang sesuai dengan keinginana. malah calon lurah saring ribut. kok seperti kasus adiknya Jusuf Kalla ya pak?

    Farhan’s last blog post..MENGEJAR SORGA SEJAK DI DUNIA

    ooo
    saya malah ndak tahu adiknya pak yusuf kalla tuh sapa farhan? hehehehe :lol:

  2. Menggunakan Firefox 2.0.0.5 Firefox 2.0.0.5 pada Windows XP Windows XP

    gimana kalau disambung lagi…
    apalagi kalau ada kuis bagi pembacanya…
    wah seperti kasus penembakan ramos dan xanana ya?
    sapa bisa jawab? hayooo…

    sluman slumun slamet’s last blog post..Kota seribu mall?.

    ooo
    wew… bisa juga, pak slamet, main tebak2an ending cerita. pak slamet siap jadi sponsor tunggalnya, yak? hehehehe :lol:

  3. brainstorm says:
    Menggunakan Opera 9.23 Opera 9.23 pada Windows 2000 Windows 2000

    (+) : pesan moralnya cukup kental pak, cerpen ini refleksi kehidupan sehari-hari dinegara kita. intrik-intrik yang mewarnai kehidupan politik kekuasaan. sikap bisa berubah setiap saat, kawan adalah lawan dan ternyata lawan bisa berkawan.

    (-) : tapi sepertinya ada yang kurang dari fiksi ini, saya merasa kurang greget bacanya. apa mungkin karena suasana hati saya yang lagi mendung ya? tapi saya merasa cerpennya ini seperti cerita datar, bumbu konflik dan klimaksnya seperti kurang garam dan mengambang.

    ah maafkan saya yang sebenarnya ga ngerti apa2 ini pak guru. btw.. saya udah ga lemah syahwat lagi nih pak. :D

    brainstorm’s last blog post..Die another day

    ooo
    wew… makasih banget masukannya mas brain. cerpen ini memang cermin realitas yang terjadi dalam masyarakat sekitar. konfliknya pun sudah sering kita dengar dan saksikan. btw, syukurlah mas brain, selamat kembali ke dunia maya!

  4. peyek says:
    Menggunakan Firefox 2.0.0.12 Firefox 2.0.0.12 pada Windows XP Windows XP

    ternyata, kita hanyalah pengulang sejarah, dulu seperti itu dan sekarang dilakukan dengan lebih halus dan terorganisir, tapi tetep gapit!

    peyek’s last blog post..Ketahuilah Batas!

    ooo
    kayaknya begitu mas peyek. bahkan, sekarang malah makin cenderung vluger dan terbuka.

  5. Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    kenyataan pahit yang sering terjadi memanglah demikian. yang mengetahui masalah harus di bungkam. aku tak suka dunia politik dari dulu sampai sekarang. wong di desa saja bisa setragis itu. apalagi di kota ya. siap2 lebih tragis lagi, hehe. hebatnya lagi banyak yang berdalih kasus perampokan atau yang lain2. cerpennya bagus, Pak. Saluttt.

    Hanna Fransisca’s last blog post..Senja Merah

    ooo
    wew… dunia politik memang cenderung menciptakan machiavelli2 baru yang menghalalkan segala cara, mbak hanna. pilkades pun sering terjebak ke dalam situasi seperti itu. walah, cerpen biasa aja kok, mbak.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (99 queries: 1.117 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP