<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Pendidikan Spiritual di Sekolah, Apa Kabar?</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 08:24:02 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Secret</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-69851</link>
		<dc:creator>Secret</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 10:12:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-69851</guid>
		<description>Bored!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bored!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sawali Tuhusetya</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-11538</link>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 13:29:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-11538</guid>
		<description>makasih kiriman artikelnya, pak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>makasih kiriman artikelnya, pak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-11478</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 00:32:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-11478</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

Strategi Pendidikan Milenium III
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? 

KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun - seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau  menonjolkan studi pustaka  di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras,  kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.
 
WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu,  Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. 

Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia  andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata.   Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi,  Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka. 

SUMBER  daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya. 

BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)</p>
<p>Strategi Pendidikan Milenium III<br />
(Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)<br />
Oleh: Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).</p>
<p>DALAM momentum peringatan Hari <a title="Pendidikan Nasional" href="http://sawali.info/tag/pendidikan-nasional/">Pendidikan Nasional</a>, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.</p>
<p>Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah? </p>
<p>KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan <a title="inovasi" href="http://sawali.info/tag/inovasi/">inovasi</a> merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).</p>
<p>Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.</p>
<p>Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun &#8211; seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?</p>
<p>Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian <a title="merdeka" href="http://sawali.info/tag/merdeka/">merdeka</a> dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (<a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a>) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk <a title="inovasi" href="http://sawali.info/tag/inovasi/">inovasi</a> sendiri. Contoh, <a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a> (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di <a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a> (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa <a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a> atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau  menonjolkan studi pustaka  di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras,  kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.</p>
<p>WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).</p>
<p>Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu,  Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang <a title="buku teks" href="http://sawali.info/tag/buku-teks/">buku teks</a>!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian. </p>
<p>Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia  andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata.   <a title="Sejarah" href="http://sawali.info/tag/sejarah/">Sejarah</a> mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi,  Isaac Newton membuat teleskop <a title="refleksi" href="http://sawali.info/category/refleksi/">refleksi</a> pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.</p>
<p>ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).</p>
<p>Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a>, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.</p>
<p>Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka. </p>
<p>SUMBER  daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).</p>
<p>Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya. </p>
<p>BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, <a target="_blank" title="email" href="http://sawali.info/tag/email/">email</a>: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kurt</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-10480</link>
		<dc:creator>kurt</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 06:33:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-10480</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Kebijakan dan kurikulum pendidikan kita belum memberikan ruang dan waktu yang cukup berarti untuk memberikan pencerahan spiritual siswa. Yang lebih memprihatinkan, guru sering terjebak pada situasi rutinitas pembelajaran yang kaku, monoton, dan menegangkan lewat sajian materi yang lebih mirip orang berkhotbah, indoktrinasi, dan “membunuh” penalaran siswa yang dikukuhkan lewat dogma-dogma dan mitos-mitos.&lt;/blockquote&gt;

..........&gt; ikut mengamini keprihatinan Pak Sawali

Gak usah risau pak masalah anak itu bawaan dari rumah kok, guru tidak sepenuhnya tanggung jawab dalam hal pendidikan keagamaan /moralitas. Karena secara teori guru sudah memberikan mata ajar dari kurikulum. 
Yang patut dihawatiri adalah pengaruh anak tak baik namun tidak sebaliknya... inilah sebenarnya tugas yang cukp berat.... :D

&lt;blockquote&gt;
wah, makasih banget tambahan infonya, mas kyai kurt :roll:&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kebijakan dan <a title="kurikulum pendidikan" href="http://sawali.info/tag/kurikulum-pendidikan/">kurikulum pendidikan</a> kita belum memberikan ruang dan waktu yang cukup berarti untuk memberikan pencerahan <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a> <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a>. Yang lebih memprihatinkan, <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> sering terjebak pada situasi rutinitas <a title="pembelajaran" href="http://sawali.info/tag/pembelajaran/">pembelajaran</a> yang kaku, monoton, dan menegangkan lewat sajian materi yang lebih mirip orang berkhotbah, <a title="indoktrinasi" href="http://sawali.info/tag/indoktrinasi/">indoktrinasi</a>, dan “membunuh” penalaran <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> yang dikukuhkan lewat dogma-dogma dan <a title="mitos" href="http://sawali.info/tag/mitos/">mitos</a>-<a title="mitos" href="http://sawali.info/tag/mitos/">mitos</a>.</p></blockquote>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;.&gt; ikut mengamini keprihatinan Pak Sawali</p>
<p>Gak usah risau pak masalah anak itu bawaan dari rumah kok, <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> tidak sepenuhnya tanggung jawab dalam hal pendidikan <a title="keagamaan" href="http://sawali.info/tag/keagamaan/">keagamaan</a> /moralitas. Karena secara teori <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> sudah memberikan mata ajar dari <a title="kurikulum" href="http://sawali.info/tag/kurikulum/">kurikulum</a>.<br />
Yang patut dihawatiri adalah pengaruh anak tak baik namun tidak sebaliknya&#8230; inilah sebenarnya tugas yang cukp berat&#8230;. <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote><p>
wah, makasih banget tambahan infonya, mas kyai kurt <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif' alt=':roll:' class='wp-smiley' /> </p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Arif</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2969</link>
		<dc:creator>Arif</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 02:35:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2969</guid>
		<description>Bahasannya berat. Nggak sanggup berkomentar. Tanda tangan prrsensi saja aahhh...

&lt;em&gt;Arif&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://www.widarto.net/2008/03/mari-peduli.html&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Mari Peduli&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bahasannya berat. Nggak sanggup berkomentar. Tanda tangan prrsensi saja aahhh&#8230;</p>
<p><em>Arif&#8217;s last <a target="_blank" title="blog" href="http://sawali.info/category/tentang-blog/">blog</a> post..<a href='http://www.widarto.net/2008/03/mari-peduli.html' rel="nofollow">Mari Peduli</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Juliach</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2967</link>
		<dc:creator>Juliach</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 14:41:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2967</guid>
		<description>sambungan:

contohnya: 
- Anak sudah males melanjutkan sekolah jika orang tua nunggak bayar SPP, karena Kepala Sekolah/guru nagih dengan marah-marah bahkan mengancam dia tidak naik kelas/lulus. Hal ini akan menjadi ketakutan yg tidak mendasar, yang akan terbawa ketika dia tumbuh dewasa.

Bisa juga ketakutan menjadi orang miskin timbul, sehingga dia tidak mau menjadi miskin. Dia akan melakukan apa saja sehingga dia tetap jaya.

- Anak akan bertanya, &quot;Mengapa aku harus jujur jika Presiden saja boleh korupsi?&quot;

- Beragama tetapi ada perang antar agama. Lah bukannya di pelajaran agama diajarkan kasih sayang? Pemerintah sendiri tidak bisa langsung meredakan konflik itu.

Ini hanya salah satu contoh dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

&lt;em&gt;Juliach&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://juliach.wordpress.com/2008/03/10/aku-jadi-takut/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Aku jadi takut&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sambungan:</p>
<p>contohnya:<br />
- Anak sudah males melanjutkan <a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a> jika orang tua nunggak bayar SPP, karena Kepala <a title="Sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">Sekolah</a>/<a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> nagih dengan marah-marah bahkan mengancam dia tidak naik kelas/lulus. Hal ini akan menjadi ketakutan yg tidak mendasar, yang akan terbawa ketika dia tumbuh dewasa.</p>
<p>Bisa juga ketakutan menjadi orang miskin timbul, sehingga dia tidak mau menjadi miskin. Dia akan melakukan apa saja sehingga dia tetap jaya.</p>
<p>- Anak akan bertanya, &#8220;Mengapa aku harus jujur jika Presiden saja boleh <a title="korupsi" href="http://sawali.info/tag/korupsi/">korupsi</a>?&#8221;</p>
<p>- Beragama tetapi ada <a title="perang" href="http://sawali.info/tag/perang/">perang</a> antar agama. Lah bukannya di pelajaran agama diajarkan kasih sayang? Pemerintah sendiri tidak bisa langsung meredakan konflik itu.</p>
<p>Ini hanya salah satu contoh dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.</p>
<p><em>Juliach&#8217;s last <a target="_blank" title="blog" href="http://sawali.info/category/tentang-blog/">blog</a> post..<a href='http://juliach.wordpress.com/2008/03/10/aku-jadi-takut/' rel="nofollow">Aku jadi takut</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Juliach</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2966</link>
		<dc:creator>Juliach</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 14:26:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2966</guid>
		<description>Di Perancis, tidak ada pendidikan agama di sekolah umum (negeri) karena sekolah ini laik. Tidak berarti kami hidup tanpa aturan dan tidak mempunyai rasa kemanusiaan.

Di sini anak dididik lebih manusiawi, sehingga anak pun tumbuh secara manusiawi pula.

Aku pikir anak jadi malah tambah bingung jika cekoki dengan pendidikan agama, pancasila dsb jika lingkupnya tidak ada contoh yang benar dan reel.

&lt;em&gt;Juliach&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://juliach.wordpress.com/2008/03/10/aku-jadi-takut/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Aku jadi takut&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di Perancis, tidak ada pendidikan agama di <a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a> umum (negeri) karena <a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a> ini laik. Tidak berarti kami hidup tanpa aturan dan tidak mempunyai rasa <a title="kemanusiaan" href="http://sawali.info/tag/kemanusiaan/">kemanusiaan</a>.</p>
<p>Di sini anak dididik lebih manusiawi, sehingga anak pun tumbuh secara manusiawi pula.</p>
<p>Aku pikir anak jadi malah tambah bingung jika cekoki dengan pendidikan agama, <a title="pancasila" href="http://sawali.info/tag/pancasila/">pancasila</a> dsb jika lingkupnya tidak ada contoh yang benar dan reel.</p>
<p><em>Juliach&#8217;s last <a target="_blank" title="blog" href="http://sawali.info/category/tentang-blog/">blog</a> post..<a href='http://juliach.wordpress.com/2008/03/10/aku-jadi-takut/' rel="nofollow">Aku jadi takut</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Santri Gundhul</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2867</link>
		<dc:creator>Santri Gundhul</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Mar 2008 17:09:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2867</guid>
		<description>Saya jadi teringat kejadian beberapa hari lalu, ketika saya nguber-uber KECOAK dengan sapu lidi, niat awalnya sih mau tak pateni tuh Kecoak. Tiba-tiba saja anak kecil saya yang masih TK kecil berteriak &quot; Jangan dibunuh yah...!!&quot; Kasihan, dia kan mau cari makan...??
Mak dheg...hati serasa TERSENTAK....!! Anak yang masih saya anggap INGUSAN ternyata telah memiliki BUDI PEKERTI LUHUR...ketimbang bapaknya ini.

Yah...anak yg kita anggap masih kecil, ternyata dalam DIRINYA telah memiliki &quot; WELAS ASIH &quot; yg begitu kuat, walaupun terhadap Hewan sekalipun.

Ternyata SPIRITUAL itu telah ada di dalam DIRI setiap manusia, Pak Sawali...Jadi peran Guru PITUDUH hanya tinggal membukakan KUNCI nya saja.
dan Agama malahan terkadang MERACUNI sang DIRI manusia, jika penerapan dan APLIKASINYA masih terbatas kULIT LUARNYA dan kaweruh yang ditanamkan masih seputar Teks book dan HAFALAN saja. Terlebih-lebih jika AGAMA itu sudah diberikan dalam bentuk &quot; DOKTRIN &quot; yang pada akhirnya AGAMA hanya akan menjadi DOGMA mengikat dan memperSEMPIT akal dan pikiran murid.

Ajaran perilaku &quot; Alam semesta &quot; kayaknya lebih mengena dan bisa MBALUNG SUMSUM pada diri murid untuk menjadikan KESADARAN berperilaku LUHUR dalam bersosialisai masyarakat dan kehidupan sosial. 

Agama sudah semestinya, di AJARKAN, di KENALKAN untuk mengembalikan Eksistensi manusia yang telah mewarisi 99 sifat Tuhan kan...?.

Nggelesod...memandangi si Kecilku..yah Guruku...yang telah mengajari aku tentang &quot; WELAS ASIH &quot; walau terhadap Hewan sekalipun...

ooo
yup, sepakat banget mas santri gundul. putra mas santri gundul sudah memberikan pelajaran yang sesungguhnya bagaimana kita mestu menerapkan nilai2 spiritual itu ke dalam kehidupan nyata. kalau nilai2 semacam itu disampaikan secara teoretis seringkali akan terjebak pada dogma yang pada akhirnya nilai2 spiritnya justru jadi kabur. </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya jadi teringat kejadian beberapa hari lalu, ketika saya nguber-uber KECOAK dengan sapu lidi, niat awalnya sih mau tak pateni tuh Kecoak. Tiba-tiba saja anak kecil saya yang masih TK kecil berteriak &#8221; Jangan dibunuh yah&#8230;!!&#8221; Kasihan, dia kan mau cari makan&#8230;??<br />
Mak dheg&#8230;hati serasa TERSENTAK&#8230;.!! Anak yang masih saya anggap INGUSAN ternyata telah memiliki <a title="BUDI PEKERTI" href="http://sawali.info/tag/budi-pekerti/">BUDI PEKERTI</a> LUHUR&#8230;ketimbang bapaknya ini.</p>
<p>Yah&#8230;anak yg kita anggap masih kecil, ternyata dalam DIRINYA telah memiliki &#8221; WELAS ASIH &#8221; yg begitu kuat, walaupun terhadap Hewan sekalipun.</p>
<p>Ternyata <a title="SPIRITUAL" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">SPIRITUAL</a> itu telah ada di dalam DIRI setiap manusia, Pak Sawali&#8230;Jadi peran <a title="Guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">Guru</a> PITUDUH hanya tinggal membukakan KUNCI nya saja.<br />
dan Agama malahan terkadang MERACUNI sang DIRI manusia, jika penerapan dan APLIKASINYA masih terbatas kULIT LUARNYA dan kaweruh yang ditanamkan masih seputar Teks book dan HAFALAN saja. Terlebih-lebih jika AGAMA itu sudah diberikan dalam bentuk &#8221; DOKTRIN &#8221; yang pada akhirnya AGAMA hanya akan menjadi DOGMA mengikat dan memperSEMPIT akal dan pikiran murid.</p>
<p>Ajaran perilaku &#8221; Alam semesta &#8221; kayaknya lebih mengena dan bisa MBALUNG SUMSUM pada diri murid untuk menjadikan KESADARAN berperilaku LUHUR dalam bersosialisai masyarakat dan <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a>. </p>
<p>Agama sudah semestinya, di AJARKAN, di KENALKAN untuk mengembalikan Eksistensi manusia yang telah mewarisi 99 sifat Tuhan kan&#8230;?.</p>
<p>Nggelesod&#8230;memandangi si Kecilku..yah Guruku&#8230;yang telah mengajari aku tentang &#8221; WELAS ASIH &#8221; walau terhadap Hewan sekalipun&#8230;</p>
<p>ooo<br />
yup, sepakat banget mas santri gundul. putra mas santri gundul sudah memberikan pelajaran yang sesungguhnya bagaimana kita mestu menerapkan nilai2 <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a> itu ke dalam <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> nyata. kalau nilai2 semacam itu disampaikan secara teoretis seringkali akan terjebak pada dogma yang pada akhirnya nilai2 spiritnya justru jadi kabur.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Robert Manurungaa</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2855</link>
		<dc:creator>Robert Manurungaa</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Mar 2008 10:00:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2855</guid>
		<description>Dalam prakteknya Pak, pendidikan spritual itu akan dianggap sama dengan pendidikan agama. Padahal, kalo nggak salah, spiritual itu fokusnya adalah mengenai pengalaman bersama dengan Tuhan ; sebaliknya agama adalah mengenai apa yang bisa kita pikirkan mengenai Tuhan. Tolong dikoreksi Pak Guru, yang jelas kedua hal itu bisa beda dan memang ada baiknya beda...sebab belon pernah kejadian orang berperang karena masalah spiritual. 

Salam Merdeka!

&lt;em&gt;Robert Manurungaa&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/03/09/desy-nonjok-cowok-di-krl/&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Desy Nonjok Cowok di KRL&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
yup, bener banget, bung robert. saya sepakat itu. memang perlu ada perbedaan antara pendidikan agama dan spiritual. menurutku, pendidikan agama merupakan salah satu cara untuk menanamkan nilai2 spiritual itu. salam merdeka juga bung!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam prakteknya Pak, pendidikan spritual itu akan dianggap sama dengan pendidikan agama. Padahal, kalo nggak salah, <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a> itu fokusnya adalah mengenai pengalaman bersama dengan Tuhan ; sebaliknya agama adalah mengenai apa yang bisa kita pikirkan mengenai Tuhan. Tolong dikoreksi Pak <a title="Guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">Guru</a>, yang jelas kedua hal itu bisa beda dan memang ada baiknya beda&#8230;sebab belon pernah kejadian orang berperang karena masalah <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a>. </p>
<p>Salam <a title="Merdeka" href="http://sawali.info/tag/merdeka/">Merdeka</a>!</p>
<p><em>Robert Manurungaa&#8217;s last <a target="_blank" title="blog" href="http://sawali.info/category/tentang-blog/">blog</a> post..<a href='http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/03/09/desy-nonjok-cowok-di-krl/' rel="nofollow">Desy Nonjok Cowok di KRL</a></em></p>
<p>ooo<br />
yup, bener banget, bung robert. saya sepakat itu. memang perlu ada perbedaan antara pendidikan agama dan <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a>. menurutku, pendidikan agama merupakan salah satu cara untuk menanamkan nilai2 <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a> itu. salam <a title="merdeka" href="http://sawali.info/tag/merdeka/">merdeka</a> juga bung!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dhodotes</title>
		<link>http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2836</link>
		<dc:creator>dhodotes</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 12:16:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/03/06/pendidikan-spiritual-di-sekolah-apa-kabar/#comment-2836</guid>
		<description>Salah satu sudut pandang yang agak keluar dari pokok bahasan ya, Kang.

Saya masih percaya guru2 senior masih ada yang memegang nilai2 yang Kang Sawali singgung. Mengapa saya punya keyakinan itu? Karena saya ngalamin nilai-nilai itu, setidaknya dulu begitu.

Mengapa makna luhur tulisan Kang Sawali sekarang sulit terwujud, sedangkan dulu masih bisa, yang terjadi mungkin begini, Kang.

1. Dulu, pendidik begaji rendah tidak begitu pusing dengan harga beras, telur, gula pasir, dll. Hal itu menghadirkan ketenangan batin, fokus dalam mendidik (*luas) anak didiknya, sehingga tidak hanya target materi pengajaran saja yang ingin dipenuhi, tetap sekaligus mental spiritual murid, sekalipun guru itu bukan guru agama. Tentunya masing2 dengan cara sendiri2.

2. Sekarang,...

Dari sudut pandang ini saja (ekonomi), muaranya ke kemampuan negara menjamin kesejahteraan, tidak hanya dari sisi fluktuasi gaji, tapi penyelarasannya dengan harga kebutuhan (pokok) di pasaran. Ujung2nya bisa jadi ke masalah korupsi juga yang mengurangi kemampuan negara pada thn anggaran berjalan berikutnya. 

---

Saya yakin banyak terdapat sudut pandang yang lain. Artinya masalah ini memang masalah serius yang tidak bisa dipikirkan dan diselesaikan hanya oleh satu-dua pihak yang berkompeten saja.

&lt;em&gt;dhodotes&#039;s last blog post..&lt;a href=&#039;http://nglarazzz.blogspot.com/2008/03/ikhlas-carike-bilang-blekok-benar.html&#039; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Ikhlas Carik&#039;e bilang, &quot;Blekok benar.&quot;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;

ooo
wah, setuju banget dengan pendapat carike. persoalan pendidikan memang perlu menjadi tanggung jawab semua pihak. penghasilan guru, memang ada pengaruhnya terhadap kinerja guru, meskipun kurang begitu signifikans. yang tidak kalah penting, memang perlu ada sinergi antara orang tua, guru, dan tokoh2 masyarakat dalam penanaman nilai2 spiritual kepada anak. ok, makasih banget pencerahannya carike, hehehehe :lol:  </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu sudut pandang yang agak keluar dari pokok bahasan ya, Kang.</p>
<p>Saya masih percaya guru2 senior masih ada yang memegang nilai2 yang Kang Sawali singgung. Mengapa saya punya keyakinan itu? Karena saya ngalamin nilai-nilai itu, setidaknya dulu begitu.</p>
<p>Mengapa makna luhur tulisan Kang Sawali sekarang sulit terwujud, sedangkan dulu masih bisa, yang terjadi mungkin begini, Kang.</p>
<p>1. Dulu, <a title="pendidik" href="http://sawali.info/tag/pendidik/">pendidik</a> begaji rendah tidak begitu pusing dengan harga beras, telur, gula pasir, dll. Hal itu menghadirkan ketenangan batin, fokus dalam <a title="mendidik" href="http://sawali.info/tag/mendidik/">mendidik</a> (*luas) anak didiknya, sehingga tidak hanya target materi <a title="pengajaran" href="http://sawali.info/tag/pengajaran/">pengajaran</a> saja yang ingin dipenuhi, tetap sekaligus mental <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a> murid, sekalipun <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> itu bukan <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> agama. Tentunya masing2 dengan cara sendiri2.</p>
<p>2. Sekarang,&#8230;</p>
<p>Dari sudut pandang ini saja (ekonomi), muaranya ke kemampuan negara menjamin kesejahteraan, tidak hanya dari sisi fluktuasi gaji, tapi penyelarasannya dengan harga kebutuhan (pokok) di pasaran. Ujung2nya bisa jadi ke masalah <a title="korupsi" href="http://sawali.info/tag/korupsi/">korupsi</a> juga yang mengurangi kemampuan negara pada thn anggaran berjalan berikutnya. </p>
<p>&#8212;</p>
<p>Saya yakin banyak terdapat sudut pandang yang lain. Artinya masalah ini memang masalah serius yang tidak bisa dipikirkan dan diselesaikan hanya oleh satu-dua pihak yang berkompeten saja.</p>
<p><em>dhodotes&#8217;s last <a target="_blank" title="blog" href="http://sawali.info/category/tentang-blog/">blog</a> post..<a href='http://nglarazzz.blogspot.com/2008/03/ikhlas-carike-bilang-blekok-benar.html' rel="nofollow">Ikhlas Carik&#8217;e bilang, &#8220;Blekok benar.&#8221;</a></em></p>
<p>ooo<br />
wah, setuju banget dengan pendapat carike. persoalan pendidikan memang perlu menjadi tanggung jawab semua pihak. penghasilan <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a>, memang ada pengaruhnya terhadap kinerja <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a>, meskipun kurang begitu signifikans. yang tidak kalah penting, memang perlu ada sinergi antara orang tua, <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a>, dan tokoh2 masyarakat dalam penanaman nilai2 <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a> kepada anak. ok, makasih banget pencerahannya carike, hehehehe <img src='http://sawali.info/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

