Sastrawan Masuk Sekolah: Sebuah Agenda yang Tertinggal

Kategori Sastra Oleh

Sastrawan Masuk Sekolah (SMS) yang dulu pernah gencar digelar oleh Yayasan Indonesia, Majalah Horison, dan Depdiknas, agaknya kini tak terdengar lagi gaungnya. Agenda yang pernah menghadirkan sastrawan papan atas semacam Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, atau Taufik Ikram Jamil di balik tembok sekolah itu kini seolah-olah sudah “tamat” riwayatnya. Apakah lantaran The Ford Foundation tak lagi turun tangan menjadi sponsornya? Entahlah!

Memang, agenda SMS pernah dikritik oleh Mursal Esten. Ia khawatir, agenda semacam itu bisa membuat para guru dan siswa lebih tertarik pada akting sang sastrawan ketimbang secara suntuk melakukan penjelajahan komunikasi imajinatif terhadap teks-teks sastra yang merupakan arus utama dalam kegiatan apresiasi. Dengan kata lain, kehadiran sastrawan ke sekolah justru hanya akan melahirkan apresiasi semu yang berujung pada pendangkalan dan pengerdilan nilai-nilai sastrawi. Para guru dan siswa cenderung menjadi snobis gaya baru yang mengagumi sastrawan tertentu secara berlebihan, naif, dan “membabi buta”, tanpa diimbangi dengan intensitas apresiasi yang sesungguhnya.

Kalau itu yang terjadi, bukankah SMS hanya akan menjadi ajang pameran bagi sastrawan tertentu guna mendapatkan pengukuhan, popularitas, dan legitimasi baru lewat institusi pendidikan?

Harus diakui, apresiasi sastra bukanlah pelajaran yang bisa dengan mudah “menghipnotis” siswa untuk menggemari teks-teks sastra. Pertama, pelajaran apresiasi sastra dianggap tidak prospektif dan menjanjikan masa depan, amat “miskin” nilai praktisnya jika dikaitkan dengan denyut kehidupan. Hal itu berbeda dengan pelajaran Fisika, Matematika, atau bahasa Inggris yang dianggap memiliki pertautan langsung dengan nilai-nilai praksis kehidupan dan masa depan. Tidak mengherankan jika hanya beberapa gelintir siswa yang memiliki “dunia panggilan” untuk bersikap serius, total, dan intens dalam mengapresiasi sastra.

Kedua, tidak semua guru sastra memiliki minat dan “talenta” sastra yang memadai. Alih-alih menyajikan teks-teks sastra secara menarik dan memikat bagi peserta didik, sekadar menafsirkan teks sastra untuk dirinya sendiri pun masih sering kedodoran. Akibatnya, proses pembelajaran apresiasi sastra berlangsung monoton, miskin kreativitas, sekadar mencekoki siswa dengan setumpuk teori model hafalan. Yang lebih memprihatinkan, pelajaran apresiasi sastra tak jarang dilewati begitu saja lantaran jarang diujikan dalam soal ulangan umum maupun ujian. Guru tidak mau bersikap konyol dengan menyajikan apresiasi sastra secara total dan serius kepada siswa didik kalau pada akhirnya nilai ujian nasional yang selama ini “didewa-dewakan” jadi merosot.

Ketiga, langkanya buku-buku teks sastra di sekolah. Sudah bukan rahasia lagi, “kemauan politik” pemerintah untuk membumikan sastra lewat dunia pendidikan masih amat minim. Diakui atau tidak, para birokrat masih punya basis asumsi klise bahwa sastra tidak memiliki kontribusi langsung terhadap pembangunan bangsa. Bahkan, tidak jarang yang memahami bahwa parodi dan kritik dalam teks sastra sebagai penghambat laju pembangunan, sehingga perlu dilakukan sensor ketat terhadap teks-teks sastra yang hendak diluncurkan ke sekolah. Tidak berlebihan jika pusat perbukuan amat jarang –lebih tepat dibilang langka– memasok buku-buku sastra mutakhir yang berbobot ke sekolah. Yang tersedia di perpustakaan sekolah hanyalah teks-teks sastra pendukung kebijakan penguasa yang tergolong “basi” dan ketinggalan zaman yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Akibatnya, wawasan dan “kecanggihan” sastra para guru dan siswa didik (nyaris) tak pernah bergeser dari kondisi stagnan.

***

Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju proses globalisasi yang ditandai dengan makin terbukanya persaingan di era pasar bebas, sastra justru menjadi penting dan urgen untuk disosialisasikan melalui institusi pendidikan. Karya sastra memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Dengan bekal apresiasi sastra yang memadai, para keluaran pendidikan diharapkan mampu bersaing pada era global secara arif, matang, dan dewasa. Dalam konteks demikian, sastra menjadi semakin penting, bukan saja lantaran sastra memiliki kontribusi besar dalam memperhalus budi, memperkaya batin dan dimensi hidup, melainkan juga lantaran telah masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Melalui pergulatan dan pertemuan intensif dengan teks-teks sastra, para siswa akan mendapatkan bekal pengetahuan yang mendalam tentang manusia, hidup, dan kehidupan, serta berbagai kompleksitas persoalan yang dihadapinya.

Untuk membedah kompleksnya nilai-nilai estetika dan dimensi hidup yang terkandung dalam teks sastra jelas bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan pemahaman dan penghayatan secara serius dan total lewat pembimbingan apresiasi secara intensif; bukan sekadar digelembungkan lewat slogan dan retorika.

Nah, ketika guru sastra mulai gencar dipertanyakan kapabilitasnya dan dianggap tak berdaya dalam melakukan sosialisasi dan apresiasi sastra kepada siswa didik, apa salahnya menghadirkan sastrawan ke sekolah untuk memberikan “sugesti” dan “injeksi” agar muncul gairah apresiasi baru dalam proses pembelajaran sastra. Ini artinya, agenda SMS perlu dimaknai sebagai bagian dari upaya untuk ikut menjawab kegelisahan dan kegagapan guru sastra di sekolah yang dinilai “miskin” kreativitas dan kurang “canggih” dalam menyajikan apresiasi sastra, sehingga tingkat apresiasi sastra peserta didik berada pada titik yang rendah.

***

Kekhawatiran bahwa SMS hanya akan menyesatkan apresiasi sastra siswa lantaran hanya memunculkan kekaguman pada “keaktoran” sastrawan ketimbang pada teks sastranya, memang sah-sah saja apabila tidak diimbangi dengan kreativitas sang sastrawan dalam meluncurkan teks-teks sastra berbobot yang mengalir dari tangannya. Kehadiran mereka tak lebih dari seorang selebritis yang menaburkan mimpi keglamoran bagi penggemar dan pengagumnya. Namun, sepanjang kepiawaian sang sastrawan dalam berakting disempurnakan lewat kiprah dan gairah bersastra yang tak henti-hentinya mengalir, kehadiran mereka justru akan mampu menjadi “oase” bersejarah di tengah kegersangan apresiasi sastra yang sudah lama dirasakan oleh dunia pendidikan.

Jelas, yang dibutuhkan bukan sastrwan yang semata-mata pandai berakting mengartikulasikan teks-teks sastra di depan guru dan siswa didik, melainkan mereka yang mampu mengomunikasikan nilai estetika dan ide-ide cemerlang yang terpancar dari teks-teks sastra secara cerdas sehingga mampu memberikan imaji positif sekaligus mampu membebaskan mitos sastra sebagai dunia kaum pengkhayal yang miskin kontribusinya terhadap gerak dan dinamika peradaban.

Lewat kehadiran sastrawan ke sekolah, teks-teks sastra yang selama ini berada di puncak keterasingan bisa membumi dan tersosialisasikan secara intensif di bangku sekolah. Harapannya, teks sastra tidak hanya sekadar dipahami sebagai sebuah produk budaya, tetapi juga sebagai sebuah kenikmatan rohaniah yang mencerahkan.

Persoalannya sekarang, kenapa para sastrawan lokal –yang tak kalah hebatnya dengan sastrawan ibukota– dan sekolah-sekolah yang ada di daerah belum juga tergugah untuk membangun jaringan mutualistis yang identik dengan SMS? Sudah bukan saatnya lagi sekolah menjadi “tempurung” ilmu pengetahuan yang tabu dimasuki sumber-sumber belajar dari luar. Justru sebaliknya, sekolah harus benar-benar memosisikan diri sebagai basis pendidikan nilai, menggambarkan diorama masyarakat mini yang lentur dan terbuka terhadap segala tantangan dan perubahan konstruktif dalam mempersiapkan peserta didik memasuki kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Demikian juga sang sastrawan. Mereka diharapkan tidak hanya sekadar melahirkan teks sastra, tetapi juga dituntut untuk mengomunikasikan kepada publik, termasuk lewat agenda SMS.

Sampeyan punya cara lain? ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

44 Comments

  1. jaman saya sekolah, pembelajaran sastra amat minim, makanya saya paling ga suka sama yg berbau sastra itu. dulu!

    cuma baru-baru ini setelah akses bebas ke berbagai sumber, saya mulai jatuh cinta.
    boleh juga sms itu menjajah sekolah lagi.

    tan’s last blog post..tag-novee award-sekarung paket

    ooo
    wew… syukurlah. btw, postingan mas tan ttg sastra juga oke banget, kok. saya suka membacanya.

  2. Menarik bener, Kang Sawali. Sasaran juga optimal dengan sms ntu. Ya guru, murid, sastrawannya, juga simultansi sastra ma kehidupan.

    Cara lain Carik’e? Lha Carik’e juga gak tek mudheng tentang sastra. Tapi topik ini menarik Kang. Ya saya minta ijin juga untuk ngelink ini ke postingan blog Carik’e ya, Kang. Nuwun sebelumnya (*sok yakin kalo diijinkan)

    dhodotes’s last blog post..Cruising seks Carik’e. finally?

    ooo
    silakan saja kang dhodotes. matur nuwun juga, yak!

  3. yang penting pengadaan buku dan media untuk memuat karya-karya saatra. Kalau kita terlalu mengharap dari sastrawan yang turun ke sekolah, aku malah kuatir hasilnya hanya reproduksi…percuma!

    Robert Manurung’s last blog post..Sitor Situmorang, Sisingamangaraja XII & Tele

    ooo
    yup, sepakat juga bung robert. meski demikian, untuk membagkitkan minat siswa terhadap sastra, agenda sms perlu juga dilakukan. juga untuk membantu guru dalam meningkatkan proses apresiasi siswa terhadap sastra.

  4. Apa kabar, Mas!
    Boleh koreksi dikit?
    Setahu saya Gerakan Sastra Majalah Sastra Horison yang di backup Yayasan Ford Foundation bukan bernama SMS, tetapi SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya. Kegiatan ini dirintis oleh Pak Taufik Ismail dengan tujuan lebih mendekatkan sastrawan dan karya sastranya kepada siswa. Gerakan ini satu paket dengan disisipkannya suplemen Kaki Langit di Majalah Sastra Horison. Di samping itu ada kegiatan tahunan (masih berlangsung sampai sekarang) yaitu Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) dan Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) antarguru Bahasa Indonesia SMA sederajat. Trus, guru-guru diundang untuk mengikuti diklat Menulis, Membaca, dan Apresiasi Sastra (MMAS) dan Lokakarya Sastra Indonesia dan Daerah. Kegiatan SBSB telah berhasil mendekat karya sastra kepada siswa di SMA dan SMP. Apalagi dengan dilatihnya guru-guru Bahasa Indonesia tersebut untuk mampu menulis, membaca, dan apresiasi sastra, yang telah banyak menciptakan guru-guru beprestasi dalam tulis menulis (diklat ini tiap tahun 2 angkatan, tiap angkatannya sekitar 100 orang).

    Menurut hematku, Taufik Ismail dan SBSB telah melakukan langkah terbaik dalam mengenalkan dan mendekatkan sastrawan dan karya sastranya pada siswa, yang selama ini belum pernah dilakukan oleh sastrawan manapun secara nasional. Jika ada beberapa pengamat atau sastrawan memberikan komentar minor, itu karena mereka tak bisa berbuat seperti itu dan tidak diajak Taufik untuk mengelola dan meramaikan kegiatan. Banyak sastrawan terlibat dalam SBSB. dari sekelas Rendra sampai Jamal T. Suryanata (sastrawan daerah).

    Sebenarnya kita harus salut kepada mereka yang telah bekerja dan berusaha untuk lebih mengenalkan sastra sebagai pelajaran dan keahlian. Taufik bukan hanya berbuat sampai di situ, Kurikulum SMP dab SMA yang sekarang memberi ruang lebih untuk materi sastra pada pelajaran Bahasa Indonesia dan kewajiban membaca 15 buku sastra selama SMP atau SMA adalah hasil pendekatan, usulan, dan campur tangan Taufik dan teman-teman.

    Ford Foundation sekarang sudah habis kontraknya. SBSB diambil alih dan diteruskan oleh Diknas Pusat dan dilaksanakan terbatas. Banjarmasin tahun ini akan kembali jadi tuan rumah. Sementara kegiatan LMCP, LMKS, MMAS, dan Lokakarya masih tetap berlangsung karena sejak dulu bekerjasama dengan Diknas.

    Tugas kita sekarang adalah memelihara dan meneruskan.
    Jika tidak bisa berbuat, beri mereka tempat untuk berjuang.

    Selamat bersastra dengan cerdas dan independen.

    Tabik!

    Zulfaisal Putera’s last blog post..Nonton Film Ayat-Ayat Cinta Bareng Siswa : Sebuah Pembelajaran

    ooo
    alhamdulillah, sehat pak zul. apa yang pak zul sampaikan itu benar adanya. istilah sms saya gunakan utk lebih memudahkan penamaan agenda untuk menindaklanjuti SBSB itu. sayangnya agenda sbsb ndak sampai bergaung di daerah. ok, makasih infonya pak zul.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Sastra

Membalas Cerita Ombak

MEMBALAS CERITA OMBAK Ali Syamsudin Arsi Kata-kata ombak: ( 1 ) “Ya
Go to Top