Dimensi Kehidupan Manusia dalam Teks Sastra
Sunday, 30 March 2008 (03:32) | 2,094 pembaca | 30 komentar
Hingga sekarang, agaknya belum ada definisi sastra yang benar-benar sahih dan memuaskan. Benarkah sastra bisa menjadi sarana yang tepat untuk menyampaikan ajaran? Benar jugakah kalau orang mendefinisikan bahwa sastra adalah tulisan yang indah dengan menggunakan bahasa sebagai medianya? Tidak salah jugakah kalau orang mengatakan bahwa sastra merupakan tafsir terhadap berbagai peristiwa hidup dan kehidupan manusia pada setiap peradaban?
Agaknya, sastra memang tidak perlu didefinisikan. Siapa pun mereka, berhak untuk menafsirkan sastra beserta pernik-perniknya sesuai dengan alur logika dan emosinya masing-masing. Dengan menabukan monotafsir tentang sastra, maka kehidupan dunia sastra justru akan makin berkembang, dinamis, dan luwes sesuai dengan gerak zaman yang memolanya. Meski demikian, ada satu hal yang –menurut hemat saya– menjadi sebuah brand dan ikon dunia sastra, yakni adanya dimensi kehidupan manusia. Bisa jadi apa yang dituturkan dalam teks sastra bukan manusia yang “berdarah dan berdaging” –khususnya pada “sekte” simbolik– tetapi esensi persoalan yang ingin diungkap berkelindan juga dengan kehidupan manusia itu sendiri.
Mampukah Sekolah Menjadi “Benteng” Utama Apresiasi Sastra?
Wednesday, 26 March 2008 (00:21) | 1,919 pembaca | 49 komentar
Rendahnya tingkat apresiasi masyarakat (publik) terhadap sastra hingga kini masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat dan pemerhati sastra. Acara baca puisi, cerpen atau teater, apalagi seminar/diskusi, sering luput dari perhatian publik; hanya dihadiri oleh beberapa gelintir orang saja. Keadaan semacam itu diperparah dengan rendahnya minat baca publik terhadap buku-buku sastra. Lihat saja di perpustakaan atau toko-toko buku. Buku-buku sastra hanya sekadar jadi pelengkap dan pajangan; dibiarkan terpuruk tak tersentuh.
Tidak heran jika Taufiq Ismail pernah mengatakan bahwa masyarakat kita telah dihinggapi gejala “rabun sastra”, sehingga gagal menikmati keindahan nilai yang terkandung dalam karya sastra. Padahal, dengan membaca karya sastra, pembaca akan memperoleh kegembiraan dan kepuasan batin berupa hiburan intelektual dan spiritual yang akan membuka ruang kesadarannya akan makna kebenaran hidup hakiki; menjadikan manusia yang berbudaya, yakni manusia yang responsif terhadap sikap arif dan luhur budi (Sumardjo dan Saini, 1994).
Gatutkaca Memburu Teroris
Sunday, 23 March 2008 (03:35) | 718 pembaca | 33 komentar
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Suasana sidang kabinet di Balai Paseban Negeri Hastina terasa tegang dan panas. Berkali-kali Prabu Duryudana menggebrak meja. Sorot matanya liar.
“Bagaimana tanggung jawab Sampeyan, Mahapatih Sengkuni? Masak ngurus pekerjaan sepele saja nggak becus!” cerocos Suryudana dengan nada tinggi.
“Maaf, Nanda Prabu, jangan cepat main tuduh di tengah sidang yang mulia ini. Tanya juga Penasihat Durna yang menolak operasi militer di Plongkowati. Coba kalau siasat saya tidak dijegal, Wahyu Cakraningrat pasti sudah ada di tangan kita! Nah, itu artinya, Penasihat Durna juga punya andil besar di balik kegagalan misi ini!” sahut Sengkuni membela diri.
“Betul, Kanda Prabu! Bapa Durna tak ubahnya musuh dalam selimut! Secara lahiriah berada di pihak kita, tapi hati dan jiwanya ada di pihak Pendawa!” sergah Dursasana disahut dengan anggukan dan bisik-bisik riuh para petinggi Kurawa yang lain. Suasana sidang pun berubah gaduh.
Banner Baru “Menolong Mereka yang Kelaparan”
Saturday, 22 March 2008 (06:42) | 67 pembaca | 23 komentar
Lewat contactr, Mas Gunawan Rudy mengirimkan pesan singkat berikut ini. Pak, saya sudah buatin banner baru. Sengaja dibuat ga suram dan lebih ceria. Mohon “dipopulerkan” (lewat postingan?) dan diberitahukan kepada yang lainnya ya pak. Berikut ini skrinsutnya. Ok, Mas Gun, terima kasih a.... (selanjutnya?)
Kopdar dan Sentuhan Nilai Kemanusiaan
Friday, 21 March 2008 (01:46) | 120 pembaca | 27 komentar
Apa yang akan terjadi kalau para bloger yang belum saling kenal tumpah di sebuah acara kopdar dadakan? Aha, inilah sebuah momentum unik yang terpotret di sebuah warung borju, kompleks kampus UNDIP, Semarang, pada Kamis siang, 20 Maret 2008. Tidak kurang dari 25 bloger hadir di sana. Suasana SDSA *halah* (sok dekat sok akrab) pun menjadi “senjata” ampuh untuk menghidupkan suasana. Teman-teman dari Komunitas Bloger Semarang (Loenpia) menggairahkan acara lewat gayanya yang khas Semarangan. Kocak, ceplas-ceplos, dan apa adanya, hehehehe :lol: Sambil menunggu kehadiran Mas Arif Widarto, sepulang menjenguk kedua orang tuanya di Sleman dan Mas Satria (dari Salatiga), Pak Gempur, Pak Tomy, Mas Goop, Gunawan Rudy, Andrew Anandhika Wijaya, Jumawa, dan saya sendiri asyik mengobral pergunjingan ngalor-ngidul dengan para tukang Loenpia itu.
Kopdar makin meriah setelah Mas Arif dan Mas Satria benar-benar datang, apalagi juga dihadiri Mbak Fany. Sayang, Mbak Hanna Fransisca ada acara mendadak sehingga batal hadir. Acara pun segera dibuka oleh salah seorang teman bloger dari Loenpia, terutama berkaitan dengan kampanye Tahun Antikelaparan dan Gizi Buruk yang pernah diluncurkan Pak Gempur. Kopdar pun berubah serius. Ada sentuhan nilai kemanusiaan yang tiba-tiba membuat acara kopdar berubah. Terbayang sosok Daeng Besse (Makassar) yang meregang nyawa akibat kelaparan. Juga wajah-wajah kecil tak berdosa yang terpaksa harus mengalami musibah gizi buruk yang tersebar di banyak daerah.
















